
Pintu ruangan terbuka. Bibi masuk dengan banyak makanan di tangannya. Dia meletakkan itu di nakas, lalu menengok Cassie yang sedang menggendong Baby Sean.
"Selamat ya non... anak anda lucu sekali.. mirip sekali dengan Daddy nya." kata Bibi saat mengamati Sean dari dekat. "Maaf bibi lama, tadi macet sekali non. Ada kecelakaan."
"Tidak apa-apa Bi.. semua aman kok.." Cassie tersenyum pada Bibi.
"Oh iya non, tadi Bibi ketemu Tuan Romeo di bawah. Dia suruh Bibi bawa makanan ini." Bibi menunjuk makanan yang dia letakkan tadi.
"Romeo nya mana Bi?"
"Eeem.. itu.. anu.."
"Apa sih Bi?"
"Tuan tadi sedang bersama dengan perempuan yang tempo lalu di ajak ke rumah." Bibi menunduk lesu. Dia sempat melihat rekaman yang ditunjukkan CCTV, jadi dia bisa mengenali Fani.
"Ooo.." Cassie hanya ber-oh saja. Dia meminta suster untuk membawa Baby Sean yang sudah tertidur kembali ke tempatnya.
"Non, anda baik-baik saja?" tanya Bibi yang khawatir karena Cassie tampak biasa saja mendengar Romeo bersama selingkuhannya.
Ceklek.
Pintu terbuka. Romeo masuk sambil menyeret Fani. Dia membawa Fani ke hadapan Cassie.
Ekspresi Cassie langsung berubah ketika wanita itu masuk. Tetap saja, meskipun Cassie pasrah pada hubungannya dengan Romeo, rasanya dia emosi setiap kali mengingat bagaimana mereka berdua ada di kamarnya. Bayangan itu kembali terlintas dalam benak Cassie.
"Ngapain kamu bawa dia ke sini? Apa kamu sengaja?" tuduh Cassie yang tidak berpaling menatap Fani.
"Aku minta maaf, Cassie." ucap Fani lirih.
"Maaf? Setelah apa yang kamu lakukan?" "Kamu sudah menghancurkan rumah tangga ku dengan Romeo. Apa kamu tidak bisa cari pria lain di luar sana? Kenapa kamu harus selingkuh dengan suami ku?" oceh Cassie.
__ADS_1
"Iya, aku sadar kalau aku salah."
"Bagus lah. Tolong jangan mengganggu suami ku lagi untuk sementara waktu. Aku dan Romeo baru saja punya anak. Kami tidak mau kalau anak kami ini terlantar karena Romeo lebih memilih bersamamu."
Fani terdiam saja. Dia bingung kenapa semua orang memanggil Romano dengan Romeo. Apakah Romano mengaku bernama Romeo jika di depan mereka? Dan ucapan Cassie baru saja di luar rencana Fani dan pria yang menariknya tadi.
Romeo menyuruh Fani untuk minta maaf dan berjanji untuk menjauhi keluarga mereka. Tapi, Belum sempat Fani bicara itu, Cassie sudah lebih dulu mengatakannya.
"Iya, aku tidak akan mengganggu kalian lagi." "Aku akan pergi ke Australia, jadi kamu tidak perlu khawatir." Fani menggenggam tangan Cassie.
Cassie mengangguk pelan, lalu dengan cepat menarik tangannya.
"Aku pergi dulu." Fani menghela nafas panjang. Kisah cinta nya bersama Romano kandas sudah. Pria itu ternyata memang mencintai istrinya. Dia bahkan rela memberikan uang miliaran supaya Fani mau pindah ke negeri lain. Ya, Romeo baru saja memberikan uang sebesar 5 miliar untuk menyingkirkan Fani dari hadapan Cassie. Dia juga sudah menyewa orang untuk mengawasi Fani supaya dia tidak kembali ke Indonesia.
Seperginya Fani, kini mereka hanya bertiga di dalam ruangan. Bibi yang paham dengan kode dari Romeo, segera keluar dari kamar dengan alasan ingin melihat Baby Sean lagi di ruang perawatan anak.
"Aku suapi kamu." ucap Romeo sambil membuka makanan yang dia beli.
Romeo membiarkan Cassie makan, sementara dia duduk di samping Cassie. Dia begitu senang karena tadi Cassie mengatakan pada Fani untuk jangan mengganggu hubungan mereka. Itu artinya Cassie masih memiliki sedikit perasaan pada Romeo.
"Kenapa melihat ku terus?" protes Cassie yang merasa risih karena Romeo melihatnya tanpa berkedip.
"Aku baru sadar kalau kamu itu sangat suka makan." Romeo mengusap bibir Cassie yang belepotan dengan ibu jarinya. "Pelan-pelan makannya, Cass."
"Ya, aku sangat suka makan, tapi kamu hanya bikinkan aku mie instan, dan bukan steak." sindir Cassie.
"Indomie? Steak?" Romeo bingung dengan apa yang Cassie ucapkan.
"Rom, jangan pura-pura bodoh." "Kamu bikin kan aku mie, tapi kamu berikan perempuan itu steak." ucap Cassie cukup keras.
Romeo menahan tawanya. Jadi istrinya cemburu hanya karena mie instan? Romano sungguh keterlaluan.
__ADS_1
"Perempuan itu sudah pergi. Dan aku janji dia tidak akan pernah kembali lagi." kata Romeo yakin.
Cassie diam saja. Dia sedikit lega karena Romeo sudah menyingkirkan Fani. Tapi, dia belum sepenuhnya percaya pada pria itu.
"Aku ingin minum, Rom. Tolong ambilkan itu." Cassie menunjuk gelas yang ada di nakas.
Romeo mengambil air putih itu, lalu memberikan nya pada Cassie. Tapi, karena tangan Cassie licin terkena saos, akhirnya gelas itu merosot dan membasahi baju Cassie.
"Rooom.. gimana sih.. basah kan?" protes Cassie. Padahal ini kesalahan Cassie, tapi yang namanya perempuan pasti tidak mau disalahkan.
"Ya sudah, aku ganti baju nya." Romeo membuka kancing baju Cassie satu persatu. Cassie masih mengomel, tapi sambil memandang wajah Romeo yang berada di dekatnya.
"Jangan pandangi aku seperti itu, Cassie."
"Non, Cass.." ucapan Bibi terhenti ketika melihat Romeo yang tampak bermesraan dengan Cassie.
"Bi.. ini tidak seperti yang bibi lihat. Romeo menumpahkan air ke baju ku, jadi dia mengganti.."
'Cup' Romeo mengecup bibir Cassie yang sangat cerewet sejak tadi. Tindakan Romeo itu segera membuat Cassie diam seribu bahasa.
"Aduh, so sweet nya.. kayak drama Korea aja nih." Bibi cekikikan menyaksikan adegan di depannya.
"Ambilkan baju untuk Cassie, bi." Romeo menaruh pakaian Cassie ke kursi, dan menerima pakaian yang di berikan oleh Bibi.
"Rom, biar bibi yang gantikan."
"Jangan cerewet atau kamu mau aku cium lagi?"
Cassie mengangguk, tapi sedetik kemudian dia menggeleng.
Romeo tersenyum kecil karena Cassie salah tingkah. Dia juga segera memakaikan baju pada Cassie, supaya otaknya tidak bertraveling melihat Cassie terlalu lama.
__ADS_1