
Romeo bangun pagi, dan dia meninggalkan Cassie tanpa berpamitan padanya. Dia harus menyelesaikan satu persatu masalahnya dengan cepat, sebelum kesehatannya kembali memburuk.
Dia dan Juna setuju untuk bicara di kamar hotel karena tempat itu adalah satu-satunya tempat yang aman dan bebas dari CCTV dan orang yang menyadap pembicaraan mereka.
Romeo lebih dulu masuk. Dia menunggu Juna sambil membuka data yang sudah dia kumpulkan.
Keluarga Wilson menjalin kerjasama dengan Keluarga Sebastian beberapa tahun ini. Mereka begitu tertarik untuk menambah saham lagi di perusahaan mertua Romeo. Tapi, mertuanya belum mengambil keputusan. Karena itu, Romeo bekerja keras untuk memajukan perusahaan Dimas supaya Keluarga Wilson semakin penasaran. Dan saat mereka bertemu, Romeo bisa muncul sebagai pemilik perusahaan Sebastian. Sementara itu, Romano bertugas untuk menarik para investor dari perusahaan Keluarga Wilson dan mengalihkannya pada Keluarga Sebastian.
Itu rencana awal Romeo dan Romano. Tapi, setelah kejadian salah paham Cassie yang mengira Romeo selingkuh di tambah penyakit Romeo yang cukup parah, akhirnya Romeo memutuskan untuk mencari bantuan dari orang yang bisa dia andalkan, yaitu Juna Liem.
Juna hari ini datang sendiri, tanpa di temani Jo. Juna tau ini adalah pembicaraan serius dan pribadi, jadi dia tidak ingin Jo tau. Apalagi Jo dekat dengan istri Romeo.
"Jadi, kamu ingin aku melakukan apa?" tanya Juna to the point.
"Mendekati Keluarga itu dan mencari tau tentang kecelakaan Daddy ku."
"Tapi,, apa yang akan kamu lakukan jika bukan mereka penyebab kecelakaan Mr.Smith?"
"Aku akan memberikan perusahaanku untukmu." tantang Romeo.
"Deal." Juna dengan cepat setuju pada Romeo. "Tapi, aku juga punya satu permintaan seandainya ini berhasil." imbuh Juna.
Romeo diam mencoba membaca ekspresi Juna. Seorang Juna Liem ingin meminta sesuatu?
"Jangan bercerai dengan Cassie."
"Itu sulit." Romeo menarik nafas panjang. Jika tidak bercerai pun, maut akan segera memisahkan mereka. "Aku saat ini sedang dalam pengobatan." curhat Romeo.
"Maksudmu?"
"Ya, aku sakit kanker. Jadi, aku memang menjaga jarak dengan Cassie."
Juna terperangah. Dia menatap Romeo dengan pandangan tidak percaya. "Sorry, Rom.."
__ADS_1
"No problem. Tidak perlu mengasihani ku. Justru aku ingin meminta sekretaris mu untuk menjaga Cassie jika aku tidak ada."
"Maksudmu, Jo?" " Kenapa tidak Romano saja?"
"Kamu juga tau Romano masih hidup?"
"Tentu saja."
"Kamu memang hebat, Juna Liem." puji Romeo. Selama ini kasus kecelakaan Romano membuat namanya hilang bak ditelan bumi. Kalau Juna menyadari Romano masih hidup, berarti Juna bukan orang sembarangan.
"Kenapa Romano menghilang?" tanya Juna kepo. Padahal ini bukan bagian Juna. Juna hanya penasaran saja dengan cerita saudara kembar itu.
"Dulu dia dipaksa untuk menikah dengan Ana Wilson. Lalu, Romano berakhir kecelakaan dan memutuskan menghilang sampai sekarang." jelas Romeo dengan wajah datar.
"Wah, ternyata keluarga kalian begitu dekat." Juna terkekeh. Dia tidak menyangka jika kembaran Romeo sempat dijodohkan dengan anak bungsu keluarga Wilson.
"Sayang sekali Ana meninggal. Kalau tidak, sepertinya hidup kalian bisa di jadikan sinetron. Kembaranku menikah dengan keluarga yang mencelakai ayahku." ejek Juna.
"Jun, semoga kamu menyelesaikan ini dengan cepat." ucap Romeo setelah dia berpikir cukup lama.
"Ya, tentu saja. Nanti aku akan hubungi kamu lagi." Juna memperbaiki posisi duduknya dan mencondongkan badannya ke arah Romeo.
"Tolong, kamu pikirkan lagi soal Cassie. Jangan sampai kamu menyesal karena kamu tidak sempat memberitahu Cassie jika kamu mencintainya." pesan Juna.
*
*
*
Ketika Romeo sampai rumah, dia mendapati Cassie sudah tertidur. Ini baru jam 7 malam, tapi Cassie tertidur begitu lelap. Pasti Cassie kelelahan karena bergadang mengurus Sean yang tiap 3 jam sekali menangis. Romeo membuka connecting door. Dia dengan hati-hati menengok ke arah box bayi. Sean sedang tertidur lelap seperti Cassie. Romeo mengamati Sean dengan teliti. Bayi itu begitu mungil dan lucu. Ada perpaduan antara Romeo dan Cassie di sana.
"Sean.. Daddy minta maaf karena Daddy harus menjaga jarak denganmu." "Daddy takut, kalau nanti Daddy tidak rela meninggalkanmu dan Mommy." Romeo bersuara lirih supaya Sean tidak bangun. "Apa yang harus Daddy lakukan, Sean?"
__ADS_1
"Rom.." panggil Cassie.
Romeo gelagapan. Dia berbalik dan tidak sengaja malah menginjak sebuah mainan karet bergambar bebek yang mengeluarkan suara nyaring.
Suara berisik itu jelas saja membuat Baby Sean menangis.
"Kamu sih.. nangis kan.." omel Cassie. Dia menengok ke arah box, lalu berganti memandang Romeo. "Kamu harus bertanggung jawab. Aku lelah dan ingin tidur."
"Aku? Memang aku punya asi?" Romeo tampak kebingungan dengan pernyataan Cassie.
"Dia bukan lapar." jawab Cassie santai.
"Bagaimana kamu bisa tau?"
"Aku ini ibunya. Jadi aku tau jenis-jenis tangisannya." aku Cassie dengan bangga. Padahal, Cassie baru saja menyusui Sean setengah jam yang lalu, jadi tentu saja dia tau kalau Sean bukan minta susu. "Cepat gendong dia."
"Aku tidak bisa, Cass."
Cassie membantu Romeo dengan mengambil Sean dari box. Dia lalu mengajari Romeo untuk memposisikan tangannya supaya bisa menggendong Sean dengan benar.
"Sudah.. kamu goyang saja pelan-pelan." Cassie memberikan instruksi sambil menahan tawanya.
Ya, saat ini Romeo menggendong Sean dengan sangat kaku. Dia juga tidak seperti Reno atau Dimas yang begitu ekspresif saat berinteraksi dengan Sean. Wajah Romeo saat ini tegang dan bagaikan kanebo kering. Tapi meski begitu, ajaibnya Sean berhenti menangis.
"Good boy..Kamu memang pintar seperti Daddy." Ucap Romeo lega.
"Tapi jangan selingkuh seperti Daddy." sindir Cassie.
"Cass, jangan mulai.."
"Yaaaa...oke, sorry.." Cassie mundur beberapa langkah untuk menyaksikan pemandangan Romeo yang pertama kali menggendong Baby Sean.
'Rom.. jangan berubah lagi..aku senang kamu bisa seperti ini. Aku janji, akan mempertimbangkan untuk tidak bercerai jika kamu bisa menunjukkan menjadi suami yang baik.' batin Cassie.
__ADS_1