
Indonesia
Begitu menginjakkan kaki di Indonesia, Romeo segera menemui Dimas, Siska dan juga Reno. Dia ingin meminta maaf pada mertua dan kakak iparnya, setelah kesalahpahaman yang terjadi selama ini. Dia juga ingin menjelaskan pada mereka jika Romano masih hidup.
"Dad,,Mom,, Romeo minta maaf sekali lagi." Romeo menutup ceritanya dengan meminta maaf pada Dimas dan Siksa yang tampak shock mendengar seluruh pengakuan Romeo. Mereka tidak tau bahwa selama ini rumah tangga Cassie dengan Romeo tidak harmonis karena masalah internal saudara kembar itu.
"Ren, aku tidak pernah selingkuh. Yang kamu lihat itu adalah saudara kembarku. Dan aku minta maaf atas nama Romano. Dia memang sembarangan." Romeo menghadap Reno yang reaksinya juga tidak kalah terkejutnya dengan Dimas-Siska.
"Romeo, tapi kamu benar sudah tidak apa-apa?" Siska meraih tangan Romeo sambil menatap menantunya dengan wajah sendu.
"Romeo sudah sembuh, Mom. Terimakasih karena sudah menanyakan keadaan Romeo." Romeo memeluk Siska. Dia begitu beruntung karena memiliki mertua yang baik seperti Siska dan Dimas.
"Rom, kamu jangan sungkan untuk minta tolong pada kami. Kamu juga anak kami, jadi tolong libatkan kami jika kamu ada masalah." pesan Dimas sambil menepuk pundak Romeo.
"Aku juga minta maaf, Rom karena sudah menuduh mu dan menghajar mu." sela Reno yang menyesal atas segala perbuatannya pada Romeo.
"Tidak masalah, Ren. Yang kamu hajar itu adikku." ucap Romeo dengan entengnya.
Mendengar ucapan Romeo itu, satu ruangan itu tertawa. Sifat Cassie pasti sudah menular pada Romeo. Dia jadi tidak terlalu kaku seperti dulu dan sekarang Romeo bisa bercanda juga.
Dimas bersyukur karena masalah ini bisa selesai dengan baik. Dia memang tidak salah untuk memilih Romeo sebagai suami Cassie dan sekaligus untuk menjadi penerus keluarga Sebastian.
"Sayang, apa sudah selesai maaf-maafan nya? Aku ingin bertemu dengan Sean." Cassie bergelayut manja pada lengan Romeo.
"Ya, ayo kita menemui anak kita. Aku sudah kangen padanya."
__ADS_1
"Mom, Dad..Kami pergi dulu." Romeo beranjak dari kursinya dengan Cassie yang masih menempel padanya.
"Cassie, ingat. Romeo sedang pemulihan. Kamu jangan membuat dia kerepotan." Siska memperingatkan Cassie karena dia tau betul apa yang Cassie inginkan.
"Iya, mom. Mom cerewet sekali.." Cassie menggandeng Romeo untuk segera pergi dari rumah Sebastian.
Dimas dan Siska menggelengkan kepala melihat Cassie yang begitu manja pada Romeo.
*
*
*
Bibi, Sunny dan Sean sudah menunggu mereka di balik pintu.
Romeo memandang sekeliling rumahnya dengan perasaan lega. Dia sudah sempat berpikir tidak akan bisa kembali lagi ke rumah ini. Percaya atau tidak, Romeo merindukan rumah dengan interior ungu putih yang diubah desainnya oleh Reno.
Fokus Romeo lalu segera teralihkan ketika mendengar Sean menangis.
"Hey, My Boy. Jagoan Daddy.." Romeo mengambil Sean dari gendongan Sunny. Romeo menepuk punggung Sean pelan, lalu mencium anaknya yang lucu itu. Dan ajaibnya Sean langsung berhenti menangis.
"Kamu pasti kangen dengan Daddy." Romeo bermonolog sendiri. Dia juga mengangkat Sean tinggi-tinggi sehingga Sean tertawa kegirangan.
"Rom, nanti jatuh." Cassie cemas ketika Romeo mengangkat Sean seolah olah akan menerbangkannya.
__ADS_1
"Aku bisa menggendong kamu dan Sean sekaligus. Tenang saja." Romeo kembali memeluk Sean setelah puas bermain dengan anaknya.
"Ingat kata dokter, Rom. Ayo kita istirahat saja." Ingat Cassie.
"Terimakasih Cassie Sebastian, karena sudah merawat Sean selama aku tidak ada." Ucap Romeo seraya mencium pipi Cassie. "Aku begitu menyayangi kalian."
"Sudah, cepat berikan pada Sunny. Kamu baru saja menempuh perjalanan jauh dan harus istirahat. Nanti setelah istirahat, kamu baru main lagi dengan Sean."
Romeo menuruti Cassie. Dia menyerahkan Sean pada wanita yang menatapnya dengan pandangan nanar seperti ingin menangis.
"Ayo, aku bantu kamu berjalan." Cassie merangkul kan tangan Romeo ke pundaknya.
Tapi tanpa diduga, Romeo malah membawa Cassie ke dalam gendongannya.
"Rom, turunkan aku." teriak Cassie.
Romeo bukannya mendengar, dia malah senang sekali karena Cassie kesal. Dia tidak peduli jika wanita itu memberontak. Meskipun badannya belum pulih, tapi tetap saja tenaga Cassie tidak ada apa-apanya.
Sementara itu, Bibi dan Sunny masih berdiri di depan pintu sambil menyaksikan kemesraan Romeo-Cassie yang sudah naik ke atas.
"Mereka begitu serasi." ucap Bibi penuh arti. "Kamu jangan menggangu mereka lagi, Sun." "Bibi yakin, kamu pasti akan bertemu pria baik yang mau menerima kamu apa adanya,, tapi bukan Tuan Romeo." Bibi meninggalkan Sunny ke dapur.
'Kenapa rasanya seperti ini?' batin Sunny sambil memegangi dadanya yang sakit. Dia senang bisa melihat Romeo kembali, tapi Romeo seperti tidak menganggapnya ada. Dan.. Romeo seolah ingin menunjukkan kemesraannya dengan Cassie. Apakah ini tandanya Sunny harus mundur?
'Aku harus menemui dan bicara padanya.' Sunny menarik nafas dalam sambil menghapus air matanya sebelum Bibi melihat dan akhirnya mengomel lagi.
__ADS_1