Married With Romeo

Married With Romeo
USG


__ADS_3

Suasana pagi itu begitu mencekam. Baik Cassie dan Romeo, satu pun tidak ada yang ingin bicara. Cassie bahkan tidak ingin memandang wajah suaminya. Sejak tadi dia hanya mengacak-acak piringnya dengan tidak berminat.


"Tuan, selamat ya.. Bibi ikut senang mendengar kabar baik ini." Bibi mencoba mencairkan suasana karena dia merasakan ketegangan pada pasangan suami istri itu.


"Ya." ucap Romeo singkat.


Cassie mendorong kursinya tiba-tiba hingga menimbulkan suara berderit yang memekikkan telinga.


"Bi, Cassie mau ke atas."


"Tapi, Non belum makan.."


Cassie tetap melangkah pergi. Tapi belum sampai tangga, Cassie merasakan perutnya sakit.


"Non, kenapa non?" Bibi berlari menghampiri Cassie dan merangkul pinggangnya.


"Sakit, Bi."


"Ayo, duduk dulu, non." Bibi memapah Cassie kembali.


"Bi, di sofa saja." Pinta Cassie sambil menunjuk kursi di ruang tengah. Dia tidak ingin kembali ke meja makan, karena Romeo masih ada di sana. Romeo tidak melepaskan pandangannya dari Cassie. Ada rasa sedikit khawatir ketika Cassie memegangi perutnya.


"Bibi bikin teh hangat dulu ya, non. Dan ambilkan makan untuk Non Cassie."


Bibi beranjak pergi. Dia meninggalkan Cassie.


"Kenapa orang hamil rasanya tidak enak seperti ini." keluh Cassie sambil memegangi perutnya.


"Aku pergi ke kantor dulu." ucap Romeo yang sudah berada di samping istrinya. Cassie melengos dan tidak menjawab Romeo.


"Nun.. come here..." panggil Cassie. Anjing kecil itu segera mendekat. Cassie mengambil Nun, dan meletakan Nun di pangkuannya. Dia lebih baik bermain bersama Nun daripada mengurusi Romeo.


"Pagi Cassie.." suara itu mengejutkan semua orang. Jo melenggang masuk dengan santainya dengan membawa sekotak es krim.


"Jooo..akhirnya kamu datang juga." ekspresi Cassie berubah 180°. Cassie bisa tersenyum lebar ketika Jo menghampirinya.


"Siapa yang mengijinkan mu masuk?" sela Romeo di tengah pertemuan mereka.


"Aku yang ijinkan dia masuk. Aku butuh teman saat ini. Kalau tidak, aku bisa gila." protes Cassie cepat.


Akhirnya Cassie bersuara, tapi tetap menyakitkan hati orang yang mendengarnya, termasuk Jo.


Jo sangat prihatin dengan apa yang Cassie alami. Dia sedang hamil dan bersama itu, Cassie memergoki Romeo berselingkuh. Romeo benar-benar keterlaluan.

__ADS_1


"Kamu urusi saja selingkuhan mu." lanjut Cassie dengan nada sinis.


Romeo memandang kedua orang di depannya dengan ekspresi yang sulit di jelaskan. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan Cassie, mengingat Cassie sedang sakit.


"Bi, nanti dokter akan datang dan melakukan USG di sini. Tolong kabari jika terjadi sesuatu." pesan Romeo saat berpapasan dengan Bibi yang membawa sarapan Cassie.


Bibi hanya mengangguk mengiyakan Romeo. Orang kaya memang luar biasa. Mereka bisa melakukan apapun yang di luar akal sehat. Membawa alat USG ke rumah?


"Bi,," panggil Cassie.


Bibi tersadar. Dia buru-buru menghampiri Cassie dan juga Jo yang sedang berbincang di ruang tengah.


"Non, apa masih sakit?" tanya Bibi khawatir.


"Enggak Bi." Cassie mengambil Teh yang di bawa Bibi dan segera meminumnya.


"Biar aku saja yang menyuapi Cassie, Bi." Jo meminta piring berisi nasi goreng kesukaan Cassie.


Setelah Bibi kembali ke dapur, Jo mulai pembicaraannya pada Cassie.


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan pada Romeo?" tanya Jo sambil menyuapi Cassie.


"Aku bingung, Jo." jawab Cassie lesu. Semalaman dia berpikir keras, tapi tampaknya tidak ada jalan keluar. Segala pilihan Cassie akan sulit.


"Cassie! Kamu jangan sembarangan bicara." Jo mentoyor kepala Cassie.


"Joooo.. jangan kurang ajar pada ibu hamil." omel Cassie dengan kesal.


"Cass. Itu bukan solusi. Coba pikirkan cara yang baik."


"Sudahlah, aku ingin makan dulu supaya bisa berpikir."


*


*


*


Percakapan Jo-Cassie terpaksa terputus karena seorang dokter datang membawa peralatan untuk memeriksa Cassie.


"Halo, nona Cassie. Saya Dokter Mega, saya yang akan membantu nona selama masa kehamilan anda." Dokter Mega mengulurkan tangan, yang segera disambut oleh Cassie. "Saya akan letakkan peralatan ini dulu di kamar tamu. Jika sudah siap, kita akan mulai USG nya.


Cassie membiarkan dokter itu dan satu orang perawat berjalan mondar mandir ke kamar tamu. Dia masih melanjutkan makan paginya, kali ini makan es krim yang di bawa oleh Jo.

__ADS_1


"Non, semua sudah siap." Bibi menemui Cassie beberapa menit kemudian.


Cassie berdiri dibantu oleh Jo. Jo memegangi pergelangan Cassie seperti sedang menuntun orang jompo. Cassie tidak mau protes, karena saat ini dia begitu berdebar dan takut untuk melakukan pemeriksaan.


Ruangan kamar tamu itu kini sudah di sulap menjadi klinik dadakan. Jo cukup kagum dengan apa yang Romeo lakukan. Apakah memang suami Cassie itu selingkuh? Kenapa dia tampaknya justru begitu perhatian pada Cassie?


Cassie tiduran di ranjang, sedangkan Jo berdiri di dekat Cassie.


"Bagaimana perasaan mu, nona Cassie?" Dokter Mega mengajak Cassie bicara supaya Cassie tidak tegang.


"Suram, dok." jawab Cassie keceplosan.


"Hah? Maksudnya?" Dokter Mega menghentikan kegiatannya dan menengok ke arah Cassie.


"Maksudnya, apakah gambarnya nanti akan suram, Dok?"


"Ooo,, tenang saja.. ini alat 4D..jadi bisa jelas terlihat. Suami mu orang yang royal. Dia membelikan alat ini dan menaruhnya di sini supaya kamu tidak perlu repot antri ke rumah sakit." jelas Dokter Mega sambil memandang ke arah Jo.


Jo menunjuk dirinya sendiri dengan wajah innocent. Apakah Dokter Mega mengira jika Jo adalah suami Cassie?


Dokter Mega mulai mengoleskan Gel pada perut Cassie. Dia lalu mengambil transducer dan mulai menggerakkan di sekitar perut Cassie.


"Lihat, yang itu janin nona." Dokter Mega menunjuk ke monitor.


Cassie menatap monitor tanpa berkedip. Rasanya sulit dipercaya jika dia sedang hamil. Janin itu begitu kecil. Tiba-tiba Cassie merasa sedih melihatnya. "Cukup, Dok." ucap Cassie dengan suara tercekat. Dia menahan tangan Dokter Mega supaya tidak menyentuh perutnya lagi.


"Baik, nona." Dokter Mega berhenti karena perintah dari Cassie. Dia sedikit bingung, kenapa Cassie tampak sedih. Padahal semua pasangan akan senang jika melihat janin di perut mereka. Bahkan mereka langsung meng upload gambarnya di media sosial.


"Tuan Romeo, kondisi janin istri anda memang lemah, tapi jangan khawatir. Pastikan istri anda rutin minum vitamin, dan jaga supaya dia tidak stress, karena itu berpengaruh pada tumbuh kembang janin. Juga, jangan biarkan nona Cassie bekerja berat dulu." Pesan Dokter Mega pada pria di dekat Cassie.


"Terima kasih, Dok. Tapi, saya bukan suaminya, saya hanya temannya."


Dokter Mega melongo. Dia tidak pernah melihat Romeo, jadi dia pikir Jo adalah suami Cassie yang meneleponnya tadi.


"Maaf, nona saya tidak tau."


"Tidak apa-apa dokter. Kapan Aku bisa USG berikutnya?"


"Di trimester kedua, nona. Nanti saya kabari lagi."


Cassie menangguk. Dia memberi kode pada Jo untuk mengantar Dokter Mega keluar.


"Apa yang harus aku lakukan, baby?" Cassie kembali mengusap perutnya. Dia begitu sedih ketika melihat monitor tadi. Apakah Baby nya nanti akan dibesarkan tanpa sosok ayah, atau apakah Cassie harus tetap bersama Romeo meskipun dia benci pria itu?

__ADS_1


__ADS_2