
Romeo tidak dapat berkonsentrasi hari ini. Semua gara-gara perubahan sikap Cassie yang begitu drastis. Mustahil jika Cassie tidak sedang merencanakan sesuatu. Sejak pertama menikah, Cassie juga sudah berupaya menjebak dirinya.
Ponsel Romeo berdering membuyarkan lamunan pria itu.
RS Calling..
"Halo, kamu sudah cari tau siapa itu, Jo?" tanya Romeo begitu dia mengangkat teleponnya. "Dia sekretaris Juna Liem?" "Ya, dia datang pada acara pernikahan ku bersama dengan Reno." "Apalagi yang kamu tau tentang dia?" "Oke, kirimkan saja file nya."
Romeo mematikan teleponnya. Dia segera mengecek email masuk yang memberikan informasi tentang Jonathan Wijaya, alias Sohib Cassie alias pria yang cukup dekat dengan Cassie. Tidak ada hal yang menarik dari pria itu. Dan dari foto-foto Jo, Romeo menyimpulkan jika Jo memang hobi sekali olahraga ekstrim dan dia sangat jago bela diri. Jo tentu bisa mengenal Cassie dari Juna. Tapi, Cassie baru dekat dengan Jo setelah Dimas mengatakan jika akan menjodohkan Cassie dengan dirinya. Informasi ini begitu lengkap, sehingga Romeo bisa tahu sedekat apa hubungan Cassie dengan Jo.
"Apa kamu pikir kamu bisa membodohi aku, Jo?" ucap Romeo sambil menatap foto Jo. Romeo yakin pasti perubahan sikap Cassie ini berhubungan dengan Jo.
"Rom,, Dad mengajak mu makan siang." Tiba-tiba Reno datang melenggang masuk tanpa mengetuk pintu.
Romeo segera mematikan komputernya. Dia berdiri, dan tanpa banyak bicara hanya mengikuti kakak iparnya itu pergi ke lantai atas hotel.
"Kapan kamu ajak Cassie ke rumah ku?" Reno menagih janji Romeo tempo lalu. Sebenarnya dia bicara seperti itu karena tidak ada bahan pembicaraan dengan Romeo.
"Aku masih sibuk mengurus Hotel ini." jawab Romeo singkat.
"Kamu betul-betul bekerja keras, adik ipar." puji Reno. Pantas saja Dimas sangat menyukai Romeo. Romeo begitu rajin, tidak seperti dirinya.
"Biasa saja."
__ADS_1
Pintu lift terbuka. Romeo berjalan keluar lebih dulu meninggalkan Reno.
'Wah, dia lebih parah dari Juna.' batin Reno yang masih shock dengan jawaban dan ekspresi Romeo yang tampak sangat menyebalkan.
Dimas sudah menunggu anak angkat dan menantunya sambil menikmati cerahnya langit kota Jakarta. Romeo duduk di samping kiri Dimas, sedangkan Reno duduk di sebelah kanannya.
"Halo boys.. kalian lama sekali." Dimas tersenyum pada mereka berdua.
"Sudah untung Reno mau datang, Dad." Reno menjawab dengan ogah-ogahan.
"Reno, Dad tidak minta di temani setiap saat, kan?"
"Yaa.. yaa.. sudah lah.. kita makan saja." Seperti biasa, Reno yang tidak terlalu dekat dengan Dimas, harus menghindari perdebatan dengan cara mengalihkan perhatian untuk segera makan.
"Bukan nya, 2 hari lalu Dad baru saja bertemu dengan Cassie?"
"Maksudnya, apakah Cassie sudah ada tanda-tanda hamil?" Dimas memperjelas ucapannya.
Romeo menelan ludah. Dia sudah tidak berniat untuk makan karena mendengar perkataan konyol Dimas ini.
"Emm.. seperti nya belum." jawab Romeo kikuk.
'Jangan sampai dia hamil. Karena nanti akan jadi lebih rumit.' batinnya.
__ADS_1
"Semoga kalian cepat memiliki anak sebelum Dad meninggal."
"Dad!" Reno menghempaskan sendok dan garpu yang di pegangnya sehingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. "Jangan bicara seperti itu." komplain Reno.
"Romeo akan berusaha, Dad."
"Ya, cepatlah mendapat momongan, karena pria tua ini sedang mengancam mu." Reno mengambil lagi sendoknya dan mulai makan kembali.
Romeo tersenyum kaku. Dia begitu canggung dengan situasinya sekarang. Di rumah, Romeo harus menghadapi Cassie yang suka bertingkah impulsif dan aneh. Sedangkan di kantor, dia juga harus menghadapi mertua dan kakak iparnya yang begitu berisik. Semua anggota keluarga Sebastian membuat Romeo pusing.
Romeo lebih dulu menyelesaikan makannya, karena dia makan tanpa banyak bicara. Sementara, Reno dan Dimas masih makan sambil berbincang-bincang mengenai bisnis mereka. Romeo mengambil ponselnya di meja dan membuka CCTV untuk menunggu mertua dan iparnya menyelesaikan makan siang mereka. Dia ingin tahu apakah Cassie benar ada di rumah atau apakah Jo kembali berkunjung ke rumahnya? Mata Romeo menjelajahi satu persatu CCTV yang dia pasang di tiap sudut ruangan.
Pandangan Romeo tertuju pada sesosok wanita dengan bikini yang sedang berjemur di kursi kolam renang kayu di rumah mereka.
"Sial." Romeo berteriak tanpa sadar, membuat Dimas dan Jo kompak menengok ke arahnya.
"Ada masalah, Rom?" tanya Dimas panik.
Wajah Romeo saat ini seperti serigala yang akan melahap mangsanya. Dia begitu kesal menatap ponselnya sendiri.
"Dad, aku harus pergi sebentar. Terima kasih makan siangnya."
Romeo mendorong kursinya, membungkuk pada Dimas dan Reno, lalu dia pergi dengan langkah gontai. Dia harus bicara pada Cassie saat ini juga. Cassie sudah sangat meresahkan dan mencurigakan.
__ADS_1