
Sebulan sudah Romeo pergi. Awalnya Cassie begitu senang. Dia bebas melakukan yang dia inginkan. Cassie bahkan berada di rumah Sebastian, dan selama kesehariannya Cassie hanya tiduran di kamar tanpa melakukan apapun. Dimas sungguh memanjakan calon cucunya itu.
Tapi meskipun begitu, lama-kelamaan Cassie tetap merasa ada yang kurang. Setiap malam Cassie selalu terbangun. Dia merasa ingin bertemu dengan Romeo. Bayi di dalam perutnya ini memang sangat menginginkan Daddy nya. Jika sudah seperti itu, Cassie hanya bisa mengelus perutnya sendiri sambil memandang foto pernikahan nya dengan Romeo yang terpajang di dinding kamar.
"Non, ada Pak Jo di bawah." Bibi membuka pintu kamar Cassie setelah mengetuk nya 3x. Cassie segera membuka selimutnya, lalu dia mengikuti Bibi untuk turun ke bawah.
"Jo, ngapain kamu di sini?"
"Jadi aku di usir nih?" Jo berdiri dan hendak pergi, tapi Cassie menahan tangan Jo.
"Aku yang hamil, kenapa jadi kamu yang sensitif." protes Cassie.
"Ya, seharusnya pertanyaan mu yang di ganti." omel Jo balik.
Sebulan ini Jo jarang mengunjungi Cassie karena sibuk dengan pekerjaannya. Sejak Tiffany pergi meninggalkan Juna, Juna jadi workaholic. Jo bahkan sering ketiduran di sofa ruangan Juna. (Baca Pilihan CEO Tampan untuk kisah Tiffany-Juna). Hari ini pun Jo pergi ke rumah Sebastian untuk menemani Juna yang ingin meeting bersama Dimas di taman. Jadi, daripada Jo bengong, Jo meminta Bibi untuk memanggilkan Cassie di kamar.
"Jo, apakah kita bisa keluar jalan-jalan sambil menunggu Juna? Aku ingin sekali makan bakmi yang ada di mall." rengek Cassie. Dia memandang Jo dengan pose memelas.
"Itu permintaan anaknya, atau ibu nya?"
"2 nya dong." Cassie meringis untuk menghilangkan rasa malunya.
"Bicaralah pada Juna kalau kamu berani."
"Yaaaah..."
Tampak ekspresi kecewa di wajah Cassie. Semua orang tidak mengijinkan Cassie untuk pergi. Mereka sama saja pelitnya dengan Romeo.
"Kita grab saja ya.. Cepat pilih nona cantik." Jo menyodorkan ponselnya ke depan wajah Cassie.
Meskipun kesal, Cassie merebut ponsel Jo dan memilih menu yang dia inginkan.
"Cassie, apakah Romeo menelepon mu?" tanya Jo hati-hati. Dia tidak ingin merusak mood Cassie yang sedang baik.
"Jangan sebut nama itu lagi, Jo." Cassie berusaha tidak mempedulikan Jo dan tetap memilih. Tapi karena Jo menyebut nama Romeo, yang bereaksi justru Baby nya. Perut Cassie sedikit kram. Selama ini Romeo memang tidak pernah menghubunginya. Jangankan menelepon, pergi ke Jepang pun Romeo tidak berpamitan pada Cassie. Cassie tidak tahu kapan tepatnya pria itu pergi. Yang Cassie ingat, ketika bangun, Cassie sudah berada di ranjang Romeo, dan pria itu sudah tidak ada di manapun.
"Pilihkan saja, Jo. Yang enak." Cassie mengembalikan ponsel Jo. Dia kini sibuk mengusap perutnya dengan pelan-pelan. Ini baru 3 bulan, tapi Cassie sudah merasa tidak karuan. Ada saja keluhan yang dia rasakan tiap hari.
__ADS_1
"Sorry, Cass.. aku penasaran saja dengan kelanjutan pernikahan mu." ucap Jo jujur. Dia belum mendengar kelanjutan kisah Cassie-Romeo.Terakhir Jo hanya mendengar jika Romeo berselingkuh dengan perempuan bernama Fani.
"Tenang saja Jo, aku sudah membuat rencana."
"Wah, ternyata otak mu bisa digunakan untuk berpikir juga." Puji Jo sekaligus menyindir Cassie.
Cassie mengerucutkan bibirnya. Seperti yang Cassie pikirkan, ini bukan solusi terbaik. Cassie harus bertahan pada situasi sulit. Dia harus memikirkan perasaan Dimas-Siska juga baby nya.
"Aku akan bercerai setelah anak ini berumur 2 tahun, Jo." aku Cassie sambil tertunduk lesu.
"What?" teriak Jo.
Cassie langsung membungkam mulut Jo dengan tangannya karena suara Jo menggema di ruangan. "Ssst.. jangan keras-keras.. nanti ada yang dengar."
Jo melepaskan paksa tangan Cassie dengan paksa. "Tangan mu bau ikan asin."
Cassie mencium tangannya bolak balik. Benar kata Jo. Tadi dia baru saja makan ikan asin dan sayur lodeh. Pasti bau nya masih menempel.
"Sorry..Baby ingin makanan Indonesia." Cassie meringis lagi.
"Jangan gunakan Baby mu untuk jadi alasan, Cass.."
"Cass.. aku akan selalu berdoa semoga ada keajaiban sehingga Romeo bertobat dan akhirnya kalian tidak perlu bercerai." Jo menengadahkan kedua tangannya ke atas.
"Doa mu tidak akan terjawab." Tiba-tiba Juna muncul dan bergabung bersama mereka.
"Juna!" pekik Cassie terkejut. Dia memang setipe dengan Romeo, yang seperti hantu saja. Tiba-tiba bisa muncul tanpa suara.
"Kenapa bercerai dengan Romeo?" tanya Juna dengan tatapan tajam.
"Jun.. jangan bicara pada, Dad.. aku mohon.." Cassie memasang wajah memelas pada Juna.
"Aku perlu tahu alasannya, Cassie. Cepat katakan." paksa Juna.
Cassie akhirnya menceritakan kisahnya dengan Romeo pada Juna. Dia bercerita jika Romeo selingkuh dengan wanita bernama Fani, juga tentang Rencana Romeo yang ingin harta keluarga Sebastian saja.
"Cass, Romeo itu setipe dengan ku. Apa kamu pernah terpikirkan jika dia mendekati wanita itu hanya bagian dari rencananya saja?" ucap Juna dengan mode serius.
__ADS_1
"Jun.. Jangan samakan kisah mu dengan kisah mereka." omel Jo. "Cass, jangan dengarkan Juna. Pikirannya sedang kacau karena kesalahan nya sendiri." Jo beralih menasehati Cassie.
"Memang kenapa kamu, Jun?"
"Dia menyembunyikan Megan, saudara kembarnya dari orang-orang termasuk pacarnya sendiri. Akhirnya pacarnya kabur ke America karena cemburu dengan hubungan Juna-Megan." Jo tertawa menceritakan kebodohan bos nya sendiri.
"Kamu punya saudara kembar, Jun?" Cassie tampak tidak percaya. Dan tadi dia bilang, saudara kembarnya adalah Megan alias artis papan atas itu? Ini sungguh plot twist karena mereka tidak mirip sama sekali.
"Sudah lah. Aku bicara soal Romeo, kenapa kalian malah membahas kehidupan ku." kata Juna kesal.
"Ya, lalu apa hubungan nya dengan Romeo selingkuh? Tetap saja dia selingkuh dan aku tidak akan memaafkan orang itu."
"Cass.. itu semua keputusan mu dan Romeo. Aku tidak akan ikut campur. " Apa Reno tau hal ini?" tanya Juna penasaran.
Cassie menggeleng. Reno bisa mencincang habis si Romeo, jika Cassie menceritakan soal ini.
"Oke.. Oke.. cukup bicaranya. Sekarang kita makan bakmi saja dulu." Jo berlari ke depan untuk mengambil pesanannya yang baru saja datang. Dia kembali dengan 5 porsi bakmi goreng di tangannya.
"Jo, banyak sekali.." Cassie membuka satu persatu pesanan Jo. Mata Cassie berbinar saking senangnya dengan makanan yang ada di depan matanya.
"Kenapa Cass, kok cuma di liatin aja?" tanya Jo heran. "Apa kamu tidak suka?"
"Bukan, Jo.. tapi..." Cassie beralih menatap Juna. "Aku ingin melihat Juna yang makan bakmi ini."
"Ooooo.. gampang.. Makan, Jun." Jo menyerahkan sumpit pada Juna.
"Jangan pakai sumpit. Tapi pakai tangan saja."
Juna melotot. "Sorry, aku ga akan makan pakai tangan." tolak Juna mentah-mentah.
"Jun, kalau tidak mau, aku akan bilang ke Dad atau Reno untuk batalkan bisnis kalian." ancam Cassie.
"Jun, kamu harus kasian pada ibu hamil yang di tinggal suaminya." Jo ikut-ikutan membujuk Juna.
Juna menatap sinis asisten dan adik sohibnya itu. Cassie yang sudah biasa dengan tatapan tajam Romeo justru tampak senang melihat Juna kesal.
"Kalau bukan anak Om Dimas, aku ga akan pernah melakukan hal bodoh ini." Juna mengambil styrofoam yang di sodorkan pada Cassie dan mulai memakan dengan tangan.
__ADS_1
Itu membuat Cassie tersenyum senang. Dia sebenarnya tidak nyidam itu, hanya mengerjai Juna saja. Jo yang melihat bos nya menuruti Cassie juga tertawa puas. Dia bahkan mengambil ponsel untuk merekam bos nya.
'Rasain.. emang nya enak? kenapa malah mendukung orang yang selingkuh.' batin Cassie sambil tersenyum jahil. Ya, Juna mengatakan hal yang konyol. Mana mungkin Romeo mendekati perempuan lain hanya untuk sebuah misi saja. Atau plot twist nya, Romeo punya kembaran dan yang Cassie lihat adalah kembarannya. Itu hal yang mustahil. Tetap saja yang Cassie lihat di Mall adalah sosok Romeo Smith.