
Cassie segera turun dari mobil dan berjalan kaki ke rumah Dimas untuk melayangkan protes. Dimas menangkap sinyal kurang bagus dari ekspresi putrinya itu. Dugaan Dimas benar, karena begitu Cassie datang, Cassie langsung membawa Dimas ke ruang kerjanya supaya para pembantu dan pengawal mereka tidak ada yang mendengar.
"Dad, batalkan soal memberikan aset pada Romeo sekarang juga." teriak Cassie. Cassie biasanya tidak pernah berteriak pada Dimas, tapi kali ini Cassie sudah kehabisan kesabaran.
"Cassie, ada apa ini? Kenapa harus dibatalkan? Bukankah Romeo suamimu sendiri? Kalau perusahaan Dad jadi milik Romeo, itu artinya akan jadi milikmu juga." Dimas memberi penjelasan yang masuk akal untuk Cassie.
"Dad, masalahnya bukan seperti itu." Tapi..Romeo itu punya niat jahat pada keluarga kita." Cassie akhirnya mengeluarkan semua rahasia yang selama ini dia simpan.
"Niat jahat apa?"
"Romeo ingin menguasai perusahaan kita untuk kepentingannya sendiri."
"Ya memang." jawab Dimas santai.
"Lho, kenapa malah jadi didukung, Dad?" tanya Cassie bingung.
"Tenang dulu, sayang. Duduk dulu di sini." Dimas mengajak Cassie untuk duduk di sofa.
Cassie menurut. Mereka berdua duduk di sofa dengan jarak yang cukup dekat. Dimas menggenggam tangan Cassie supaya Cassie bisa lebih tenang.
"Jadi, perusahaan Romeo memang sedang collapse waktu Dad menemuinya." Dimas memulai ceritanya. "Dad sengaja menyuruh dia mengurus perusahaan, supaya Romeo bisa gunakan dana dari perusahaan Dad untuk membantu perusahaannya." jelas Dimas.
"Dad,," Cassie tidak percaya dengan cerita Dimas.
Jadi, Dimas yang membantu Romeo melancarkan rencananya selama ini? Cassie merasa begitu bodoh. Dia mati-matian menyembunyikan persoalan Romeo dari Dimas karena takut Dimas akan shock dan akhirnya sakit. Tapi, realitanya justru berbanding terbaik dengan apa yang dipikirkan.
"Sayangnya, Dad menahannya terlalu lama. Perusahaan Romeo sudah bangkrut." sesal Dimas.
__ADS_1
"Bangkrut?"
"Ya,, Nasib Romeo begitu malang." "Dia sudah kehilangan semuanya. Keluarga dan juga perusahaannya." Dimas menarik nafas panjang. Dia prihatin dengan menantunya itu.
"Memangnya, Romeo tidak punya keluarga lain?" Cassie mulai tertarik ketika Dimas menyebutkan tentang keluarga Romeo. Selama ini dia tidak pernah bertanya tentang keluarga Romeo, dan sebaliknya, Romeo tidak pernah bercerita tentang keluarganya pada Cassie.
"Yang Dad tau, dia punya kembaran, tapi kembarannya sudah meninggal karena kecelakaan."
"Astaga, Dad." Cassie tiba-tiba berdiri. Bulu kuduknya semua merinding. Segala peristiwa yang terjadi dengan Romeo kembali muncul dan berputar dalam otaknya.
"Cass, kamu kenapa?"
"Dad, nanti Cassie jelaskan." Cassie mengambil langkah seribu sampai lupa berpamitan pada Dimas. Dia sudah tidak sabar untuk pergi ke rumahnya dan menemui Romeo.
*
*
*
Saat ini Romano sedang bertelanjang dada. Cassie mendekat perlahan sambil mengamati dada suaminya. Dia meraba tepat pada bekas luka Romano sambil mengamati ekspresinya.
"Cass, apa yang kamu lakukan?" Romano yang mulai risih dengan tingkah Cassie segera menangkap tangan Cassie dengan harapan Cassie bisa berhenti. Tapi, Cassie justru makin nekat. Dia mendorong Romano sampai Romano terjatuh ke ranjang. Cassie lalu menangkap wajah Romano dengan kedua tangan mungilnya. Dia bergerak begitu cepat sampai berani menempelkan bibirnya pada bibir Romano. Untung saja Romano sigap. Dia menutup mulutnya dengan tangan tepat saat Cassie akan menciumnya, sehingga Cassie hanya mengenai punggung tangannya saja.
"Cass, kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?" tanya Romano tergagap. "Apa kamu marah karena Dad mengalihkan semua aset padaku?"
"Itu tidak masalah, Romeo." Cassie memberikan penekanan pada kata 'Romeo'. "Yang jadi masalahnya adalah, kita sudah lama tidak melakukan hubungan suami istri seperti seharusnya." bisik Cassie.
__ADS_1
Romano bergidik ngeri. Dia baru pernah melihat Cassie seagresif ini. Romano menghindar dari Cassie sebisa mungkin. Mereka sampai berguling-guling di ranjang.
"Cassie, berhenti." Setelah Cassie kehabisan tenaga, Romano baru bisa memutarkan keadaan. Kini dia bisa menahan tangan Cassie, dan mencengkeram nya di atas ranjang, supaya Cassie tidak bisa melawan lagi.
"Kenapa? Bukankah kamu suka melakukan itu? Kenapa sekarang menghindar?" tanya Cassie sinis.
"Aku.." Romano bingung untuk menjelaskan pada Cassie.
"Katakan, di mana sebenarnya Romeo berada."
Romano melepaskan cengkeramannya. Dia menatap Cassie dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Apa maksud ucapan Cassie tadi? Kenapa Cassie bisa tau jika dia bukan Romeo?
"Kamu bicara apa, Cass? Aku ini Romeo." ucap Romano terbata.
"Tolong, aku mohon, katakan di mana suamiku?" ucap Cassie memelas.
Romano berdiri. Dia menatap Cassie yang sudah menangis dengan perasaan yang campur aduk.
"Romeo sakit kanker dan dia sedang berada di Amerika sekarang."
Deg.
Dugaan Cassie selama ini benar. Pantas saja luka pada dada mereka bentuknya berbeda. Pantas saja waktu pemeriksaan kemarin, dokter bilang Romeo baik-baik saja. Lalu, yang tadi Cassie lihat sedang memeluk Sunny itu berarti bukan Romeo. Dan bagaimana dengan Fani, Ana?
Cassie bangun dari ranjang. Dia hendak menggapai Romano, tapi Cassie merasakan kepalanya berputar. Dia sepertinya tidak sanggup untuk menerima kenyataan mengenai semua hal tentang Romeo.
'BRUK' Cassie pingsan tepat di depan Romano.
__ADS_1