
Sesuai saran Jo, pagi ini Cassie memutuskan untuk bicara pada Dimas soal keresahannya. Cassie mengambil kesempatan saat Romeo sudah berangkat bekerja supaya Romeo tidak banyak bertanya.
Cassie merasakan kedamaian, begitu dia bertemu dengan Siska dan Dimas. Dan seperti kebiasaan mereka bertiga, kini mereka duduk bersama di ruang tengah sambil menikmati snack ringan.
"Bagaimana, apa kamu betah di rumah baru?" Tanya Siska sambil mengusap rambut anak kesayangannya itu.
"Enggak, mom.."
"Lho, kenapa?" Tanya Dimas curiga.
"Karena di sana tidak ada Mom and Daddy." Kata Cassie manja.
"Ya ampun Cass,, kamu sudah menikah, tapi seperti anak umur 5 tahun." Siska terkekeh saat Cassie memeluk Dimas dengan manja. "Suami mu bisa cemburu melihat mu pelukan setiap saat dengan Dad." Lanjut Siska.
"Dia tidak akan cemburu, Mom." Ucap Cassie yakin.
Cassie mengurai pelukannya dari Dimas. Dia harus bicara pada Dimas sebelum semuanya terlambat. Tapi, Cassie harus mulai darimana?
"Dad, apa Cassie boleh tanya sesuatu?"
"Ya, sayang.. Tanya apa?" Dimas menyesap teh chamomile nya sambil memandang Cassie.
"Kenapa Dad memilih Romeo yang jadi suami Cassie?"
"Jawabannya gampang, karena Romeo itu orang yang pantas bersanding dengan kamu." "Kamu lihat sendiri kan, dia sangat perhatian pada mu. Dia juga ganteng dan tidak memalukan jika di bawa kondangan."
"Daaaad... Cassie serius." "Apa Dad benar-benar percaya pada Romeo?"
"Tentu saja.. Dad juga sangat terbantu dengan adanya Romeo. Kamu tahu sayang? Baru satu hari bekerja, hasilnya begitu baik." Dimas memuji menantunya dengan bangga.
"Dad tidak curiga ada udang di balik bakwan?" Cassie mencoba memberi kode Dad nya.
"Cassie sayang, Dad kenal dengan orang tua Romeo. Jadi, tidak mungkin dia seperti itu." Dimas tau Cassie mengkhawatirkan dirinya. Ternyata setelah menikah, anaknya bisa makin dewasa.
"Kalau begitu, Dad ceritakan asal usul Romeo." Pinta Cassie.
Dimas menarik nafas panjang. Mau tidak mau dia juga harus menceritakan tentang bagaimana awal mula perjodohan ini terjadi.
__ADS_1
"Romeo itu anak teman Daddy. Teman Dad pesan untuk bantu membimbing Romeo jika dia sudah meninggal. Sayangnya, Dad tidak bisa memenuhi permintaannya. Dad baru bertemu Romeo 2 tahun ini."
"Lho, kenapa jadi di nikahkan dengan Cassie?" sela Cassie tidak terima.
"Itu namanya sambil menyelam minum air."
"Daaaad.. ini ga masuk akal. Dad kenapa ga cerita dari awal sih?"
"Cassie... percaya sama Daddy. Romeo itu yang terbaik untuk kamu." Dimas mengelus punggung anaknya.
"Tapi, Dad.. Romeo itu.."
"Belajar lah mencintai Romeo. Dad tau, pasti sulit.. tapi, kita ga akan tau apa yang terjadi ke depan, kan? Dad sudah tidak muda lagi. Dad bisa meninggal sewaktu-waktu." jelas Dimas dengan suara lesu. Ya, dia tentu tidak ingin jika nanti dia meninggal dan kehidupan Cassie malah berantakan karena tidak memiliki suami yang tepat.
"Dad,,, jangan bicara seperti itu." Cassie memeluk Dimas lagi. Dia mengurungkan niat untuk bicara tentang Romeo karena Dimas tampak begitu mengandalkan Romeo.
"Juga, cepat berikan cucu laki-laki untuk Dad."
"Kalau berhasil, apakah Cassie boleh bercerai?" Cassie iseng mencoba bertanya pada Dimas.
Dimas menjitak kepala Cassie.
"Kenapa bercerai? Dad sudah bilang, belajar dulu mencintai nya. Cinta itu akan tumbuh seiring waktu." "Lagipula, dasar untuk bercerai adalah perselingkuhan. Kamu tidak boleh sembarangan untuk main kawin cerai begitu."
"Dad, namanya juga tanya. Dad kan cuma ingin penerus keluarga." ucap Cassie jujur.
"Cassie, Dad ingin kamu bahagia juga."
'Dad, seandainya Dad tau kalau aku tidak bahagia dengan Romeo.' batin Cassie.
*
*
*
Seperti kemarin, setelah pulang kerja, Romeo masuk ke dalam kamar Cassie. Kali ini Cassie belum tidur dan sedang menonton film.
__ADS_1
Romeo merebut remote di tangan Cassie, lalu mematikan televisi yang sedang di tonton oleh Cassie.
"Kamu bicara apa sama Dad?" tanya Romeo dengan sengit.
"Apa sih? Pulang-pulang malah marah gak jelas." Cassie tampak melengos dan tidak mempedulikan Romeo.
"Cassie, aku sedang bicara."
"Aku lelah, mau tidur."
"Cassie Sebastian!" Romeo memegang dagu Cassie dengan satu tangannya, lalu menghadapkan wajah Cassie supaya dia menatapnya. "Aku tidak suka sikap mu seperti ini."
"Aku, tanya sekali lagi, apa yang kamu bicarakan dengan Dad?"
"Aku tidak bicara apa-apa." ucap Cassie tanpa perasaan takut.
Romeo tersenyum licik. Wanita di depannya itu begitu mengesalkan. Romeo segera mencium bibir Cassie dengan kasar.
Cassie terkejut. Dia mendorong tubuh Romeo sekuat tenaga. Tapi, itu tidak ada gunanya. Romeo baru selesai ketika dia sudah menjelajahi bibir Cassie.
"Itu sebagai hukuman supaya kamu menjaga mulut mu di depan Dad."
Cassie mengelap bibirnya dengan punggung tangan. Dia melayangkan tatapan penuh kebencian pada Romeo.
"Sampai kapan pun aku akan membenci mu, Romeo Smith." teriak Cassie.
"Itu bagus. Aku juga tidak akan mencintai mu, nona." "Dan tolong gunakan otak mu. Jika kamu terus mengadu pada Dad, Dad bisa stress lalu dia bisa sakit. Apakah kamu ingin Daddy tersayang mu itu sakit karena kamu ingin bercerai?"
"Itu..." Cassie tidak dapat menjawab.
Romeo menyalakan lagi televisi di kamar Cassie. Dia lalu pergi tanpa banyak bicara pada wanita yang masih terdiam itu.
Sesampainya di kamarnya sendiri, Romeo langsung merebahkan badan di ranjang. Dia mengendurkan dasinya sambil menatap langit-langit kamar.
Dia marah kepada Cassie bukan tanpa alasan. Tadi siang, Dimas menceritakan keluh kesah Cassie, termasuk perkataan Cassie yang ingin bercerai setelah mereka memiliki anak. Untung saja Romeo bisa meyakinkan mertuanya jika Cassie memang belum bisa menerima dirinya sepenuhnya.
"Cassie memang antimainstream." ucap Romeo pada dirinya sendiri. Sebenarnya, Romeo tidak ingin mencium paksa Cassie. Dia melakukan itu supaya Cassie tidak banyak bicara lagi pada Dimas, setidaknya sampai Dimas mengalihkan jabatannya pada Romeo.
__ADS_1