Married With Romeo

Married With Romeo
Hubungan yang membaik


__ADS_3

6 bulan berlalu begitu cepat. Romeo semakin sering berinteraksi dengan Baby Sean. Dia bahkan pulang kantor lebih cepat, sengaja untuk bisa bermain dengan anaknya yang makin gemuk dan chubby.


Hubungannya dengan Cassie juga semakin membaik. Setiap pagi, Romeo selalu memberikan morning kiss untuk Cassie. Dia seolah lupa dengan segala masalah kehidupannya, yaitu penyakit dan juga misinya bersama dengan Juna.


Ya, sampai saat ini Juna tidak memberikan laporan apapun. Juna memang sudah bekerja sama dengan keluarga Wilson, tapi Juna masih belum bisa mendekati keluarga itu karena dia juga sibuk mengurus hal yang lain. Tapi, Romeo tetap bersabar menunggu hasil dari Juna, sembari dia mengurus anak dan istrinya.


Pagi ini, seperti biasa, Romeo turun dengan pakaian rapi. Dia menghampiri Cassie yang sedang menggendong Sean sambil menyusuinya.


Pemandangan yang sungguh luar biasa. Semakin hari, Romeo semakin menyukai Cassie. Cassie sudah berubah menjadi lebih dewasa dan tidak manja seperti waktu pertama kali mereka bertemu.


"Pagi, sayang." sapa Romeo sembari mencium bibir Cassie. "Pagi, boy." Romeo tidak lupa juga mencium pipi Sean.


"Sarapan dulu, sayang." Ingat Cassie.


Romeo menatap jam tangannya. Dia sudah terlambat, tapi Cassie terus memandanginya sehingga Romeo menyerah. Romeo memakan sup krimnya dengan sedikit terburu-buru.


"Apa kamu sudah makan juga, Cass?" tanya Romeo saat teringat istrinya. Piring Cassie masih utuh dan tidak tersentuh.


"Nanti saja. Biar Sean kenyang dulu."


Romeo berdiri dari bangku, dan membawa serta mangkuk sup nya.


"Aku suapi kamu saja." ucap Romeo sambil menyodorkan sendok makanan pada Cassie.


"Apaan sih Rom." Cassie menolak karena Romeo tidak biasa bersikap romantis seperti itu.


"Cepat makan, atau aku akan salurkan makanan ini dari mulut ke mulut." ancam Romeo.


Akhirnya Cassie mau tidak mau membuka mulutnya.


"Ya ampun, pagi-pagi udah ada drama korea nih." Bibi lewat sambil tertawa cekikikan. "Dulu aja nolak di suruh adegan mesra, sekarang selalu kelihatan mesra di manapun." imbuhnya.

__ADS_1


Romeo tidak peduli dengan ucapan atau sindiran dari Bibi. Dia hanya ingin Cassie menghabiskan makanan yang dia berikan.


"Done. Anak pintar." Romeo menyerahkan mangkuk yang sudah kosong pada Bibi. Dia sedikit mengelap mulut Cassie yang belepotan, lalu sekali lagi mengecup kening Cassie.


"Aku berangkat dulu, sayang." "Malam ini aku akan pulang cepat."


"Bye, Daddy.. kerja yang rajin ya.." Cassie membuat suaranya menjadi anak kecil.


Bibi sekali lagi hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah majikannya yang makin hari makin mesra saja.


"Kalau seperti ini terus, Baby Sean bisa cepat punya adik." bisik Bibi pada Cassie yang masih menatap kepergian Romeo.


"No.." "Satu saja cukup Bi." Cassie bergidik jika mengingat bagaimana dia menjalani 9 bulan yang melelahkan, operasi yang cukup seram, dan juga bergadang tiap pagi untuk mengurus anak. Dia bisa kurus kering jika mengulangi hal itu satu kali lagi. Lagipula Cassie tidak pernah berhubungan lagi dengan Romeo. Suaminya begitu menjaga jarak dan dia cukup puas hanya dengan mencium dan memeluk Cassie saja saat malam hari. Meskipun sudah beberapa kali Romeo hampir kebablasan, tapi dia segera sadar dan berpindah tidur di sofa.


"Tapi, Bibi senang melihat kalian seperti sekarang." ucap Bibi tulus.


"Makasi juga karena Bibi sangat memperhatikan Cassie dan juga Sean."


"Pagi, Cassie.. Pagi cucu Grandpa.." tiba-tiba Dimas muncul dan masuk tanpa permisi. Dimas langsung menghampiri Baby Sean yang masih di gendong oleh Cassie.


"Dad.. kenapa pagi-pagi ke sini? Nanti siang juga Cassie akan bawa Baby Sean ke sebelah."


" Terlalu lama, Cass. Dad sangat kangen dengan cucu Dad yang tampan ini."


"Ya sudah, gantian Dad yang gendong." Cassie memberikan Baby Sean kepada Dimas.


Dimas begitu senang. Dia sampai lupa tujuannya yang ingin mengatakan bahwa Romeo 3 hari lagi akan pergi lagi ke Jepang.


*


*

__ADS_1


*


Cassie terkejut ketika baru keluar dari kamar Baby Sean. Romeo sudah tiduran di ranjang tanpa membuka jas dan sepatunya. Wajah Romeo juga tampak sedikit pucat.


"Sayang, apa kamu lelah?" Cassie membantu Romeo melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Dia lalu menarik tangan Romeo supaya pria itu bangun.


Romeo pasrah saja ketika Cassie menariknya. Dia duduk di pinggir ranjang, sementara Cassie melepaskan jas dan kemejanya.


"Kamu harus makan yang banyak, Rom. Karena kamu makin kurus saja." ucap Cassie yang memperhatikan perubahan Romeo. "Apa kamu sakit? Kamu juga sedikit pucat." Dia memegang dahi Romeo. Tapi tidak panas.


"Sayang, aku baik-baik saja." dengan satu gerakan, Romeo meraih pinggang ramping Cassie, lalu menarik wanita itu ke pangkuannya. "Boleh kah malam ini aku meminta jatahku?" bisik Romeo dengan lembut.


Jantung Cassie berdetak dengan cepat. Dia tidak memberontak lagi ketika Romeo sudah membaringkan dia di ranjang. Cassie menatap Romeo yang kini sudah berada di atasnya dengan penuh kebahagiaan. Sudah lama sekali, yaitu sejak awal pernikahan mereka, Romeo tidak menyentuhnya.


"Aku mencintai mu, Romeo Smith. Kamu selalu bisa membuatku tergila-gila." ucap Cassie tanpa sadar. Dia juga lebih dulu memulai dengan mencium Romeo.


Mendapat lampu hijau, Romeo tentu tidak akan melewatkan kesempatan ini.


Setelah melakukannya, Cassie tertidur pulas. Romeo membenarkan selimut Cassie untuk menutupi tubuhnya yang polos. Sementara itu, Romeo berjalan ke toilet. Dia sudah menahan ini sejak tadi.


'Uhuk uhuk' Dar*h segar keluar bersamaan dengan dahak di wastafel. Romeo segera menyiram itu, lalu membilas mulutnya beberapa kali dengan air mengalir.


Romeo memandang dirinya di cermin. Akhir-akhir ini dadanya memang sesak. Dan batuk dar*h ini bukan yang pertama dialami Romeo. Jadi, dia tahu persis apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.


"Rom, kenapa?" Cassie muncul di depan pintu kamar mandi. Dia terbangun karena mendengar suara batuk yang cukup keras.


"Sayang, kamu sengaja menggodaku ya?" Romeo memandang Cassie tanpa berkedip. Dia lalu menggendong Cassie yang masih polos kembali ke ranjang.


"Apakah kamu menyembunyikan sesuatu lagi dariku, Rom?" tanya Cassie yang kini mengalungkan tangannya pada leher Romeo.


"Kenapa kamu bilang seperti itu?"

__ADS_1


"Aku hanya takut kamu pergi lagi." "Aku dan Sean membutuhkanmu."


Romeo kembali menghujani Cassie dengan ciuman tanpa menjawab pertanyaan Cassie. Mereka kembali melakukannya karena sebentar lagi Romeo harus kembali ke Jepang. Ini mungkin akan jadi yang terakhir Romeo bermesraan bersama Cassie. Dia tidak tau apa yang selanjutnya akan terjadi nanti.


__ADS_2