
Romano pergi ke Jepang untuk menemui saudara kembarnya setelah Dimas memintanya untuk tinggal di sana sementara waktu. Entah apa yang dikatakan Reno sampai Dimas memaksanya untuk segera pergi ke Jepang. Tapi yang jelas, itu membuat Romano kesal. Dimas menutup akses wakil CEO dan Romano hanya dapat menjadi manager di hotel mereka di Jepang. Dia tidak bisa menyentuh data perusahaan karena Romano di minta fokus untuk mengawasi bawahan mereka saja.
Belum sampai di situ kesialan Romano. Saat ini, dia harus menghadapi saudara kembarnya yang pasti akan marah jika mendengar apa yang terjadi.
Romano menarik nafas panjang sebelum menarik pintu kamar Romeo.
Romeo yang sedang membaca buku cukup terkejut mendapati adiknya yang babak belur muncul di depannya. Sebelum dia bicara, Romeo sudah mencium bau yang kurang enak.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Romano sambil menarik kursi untuk duduk di samping Romeo.
"Masih harus kemo."
Romano memandang wajah Reno yang tampak pucat pasi. Badan Reno juga terlihat lebih kurus dari biasanya. Sebenarnya, Romano tidak tega menyampaikan berita ini. Tapi, Romano tidak punya pilihan lain.
"Mulai sekarang, aku akan menemani mu."
"Aku tidak perlu di temani. Aku akan kembali ketika Cassie melahirkan."
"Rom, Sorry.." Romano mencoba menyusun kata-kata dalam otaknya supaya Romeo tidak meledak. "Aku baru saja di usir oleh Reno karena ketahuan pergi ke kamar dengan Stefani."
"Romano Smith!" bentak Romeo dengan nada tinggi. "Aku hanya minta kamu gantikan aku sampai aku sembuh. Tapi apa yang kamu lakukan?!" Romeo tampak tidak terima dengan apa yang di katakan Romano.
Melihat Romano berciuman saja Cassie begitu murka. Apalagi melihat Romano membawa perempuan lain ke rumah, bahkan ke kamarnya.
__ADS_1
"Itu salah paham, aku tidak melakukan apapun dengan Fani." Romano membela dirinya.
"Tetap saja. Yang dia tau, aku yang selingkuh." ucap Romeo sedikit putus asa. Pupus sudah harapan Romeo untuk menemui Cassie dan menemani wanita itu di rumah sakit.
"Coba kamu bicara pada Reno. Siapa tau dia akan berbaik hati dan berubah pikiran." saran Romano.
"Sudahlah. Kamu cari saja apartemen dan istirahat." Romeo memejamkan matanya dan tidak ingin melihat Romano karena dia masih kesal. "Tinggalkan handphone ku di meja." Perintah Romeo tanpa membuka matanya.
Romeo pikir, menyuruh Romano adalah langkah yang tepat. Tapi, Lagi-lagi dia harus mengalami kemalangan karena adiknya yang begitu ceroboh.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Romeo kembali membuka matanya. Dia segera mengambil handphone nya, lalu menelepon Cassie.
1x, 2x, 5x, 10x sampai 20x mencoba, Cassie tetap tidak mau mengangkat telepon dari Romeo. Wanita itu pasti sudah marah besar.
Cass, aku memang salah dan keterlaluan. Aku sangat khawatir pada mu sekarang. Tolong angkat telepon ku sebentar saja.
Romeo memandangi ponselnya, menunggu pesan itu di baca oleh Cassie.
*
*
*
__ADS_1
Sudah seminggu sejak Romano menemuinya di Jepang, Romeo seperti kehilangan semangatnya. Dia setiap hari menelepon dan memberi pesan pada Cassie, tapi wanita itu hanya membaca dan tidak membalasnya. Keadaan Romeo sendiri juga semakin drop karena dia memikirkan Cassie dan juga Baby nya sendiri yang entah bagaimana keadaannya.
Cass, jangan lupa makan dan minum vitamin.
Cass, aku sangat merindukanmu.
Cass, tolong kabari aku tentang keadaanmu.
Cass, ijinkan aku untuk bicara padamu sebentar saja.
Cass, aku mohon bicaralah padaku sebelum semua terlambat.
Romeo membaca satu persatu pesan yang dia kirim kepada Cassie. Yang terakhir dia begitu frustasi karena dia merasa umurnya tidak akan lama lagi.
Ponsel Romeo berdering tanda pesan masuk. Romeo segera melihatnya, tapi harapannya langsung pupus ketika membaca layar ponsel.
Y.
Itu balasan dari Cassie. Hanya satu kata saja.
Romeo mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimanapun juga, dia harus menemani Cassie untuk melahirkan. Meski nanti dia harus membawa infus atau di hajar Reno, Romeo akan melewati ini demi Cassie.
"Tunggu aku, Cass.."
__ADS_1