Married With Romeo

Married With Romeo
Mulai tumbuh


__ADS_3

Setelah peristiwa itu, Romeo benar-benar menjaga jarak dengan Cassie. Dia juga menghindari Cassie dengan berangkat lebih pagi dan pulang juga larut malam. Tapi, karena Cassie sudah bertekad untuk menjalankan misi nya, dia begitu memperhatikan Romeo. Meskipun mereka tidak pernah bertemu lagi, Cassie rajin mengirimkan pesan supaya suaminya tidak lupa makan, atau hanya sekedar mengirim semangat dengan emoticon cium dan hati. Selain itu, Cassie juga rutin menunggu Romeo setiap malam sampai ketiduran di sofa.


Malam ini seperti biasa, Romeo pulang jam 1 pagi. Dia melihat Cassie tertidur begitu pulas di sofa.


"Aku tidak akan peduli pada mu." Seperti biasa, Romeo melewati Cassie begitu saja dan tidak mempedulikannya.


Dia sudah bertekad untuk tidak bersikap baik pada Cassie lagi. Lagipula Romeo sudah lelah mengurus hotel seharian ini. Pria itu hanya ingin mandi dan beristirahat tanpa mengurusi istrinya yang aneh itu.


Romeo mandi dengan cepat. Dia lalu merebahkan diri di ranjang king size nya yang nyaman.


"Akhirnya bisa istirahat juga.."


Romeo baru saja memejamkan mata beberapa jam, tapi dia tiba-tiba kembali terbangun. Dia mengintip dengan satu matanya ke arah jam di ponsel. Jam 3 pagi. Romeo menyingkirkan selimutnya, lalu dia beranjak turun ke bawah.


Cassie masih tertidur di sofa. Romeo berjongkok di depan Cassie untuk meneliti wajah Cassie yang tampak sedikit pucat itu. "Menyusahkan saja."


Romeo berencana menggendong Cassie naik ke kamar. Tapi, sewaktu memegang tangan Cassie, Romeo merasakan ada yang tidak beres. Tangan Cassie begitu dingin seperti mayat. Dia mengecek bagian yang lain, dan sama saja. Sepertinya Cassie sakit.


Akhirnya, tanpa buang waktu, Romeo menggendong Cassie menuju kamar nya. Dia merebahkan Cassie hati-hati di ranjang.

__ADS_1


"Dingin.." igau Cassie.


Romeo mematikan AC di kamarnya. Dia naik ke ranjang, lalu memeluk wanita yang badannya masih dingin itu. Tidak lupa dia menarik selimut supaya badan Cassie bisa segera hangat.


"Dia sungguh merepotkan. Pasti dia sakit karena setiap hari tidur di sofa." komplain Romeo.


Ya, Romeo hanya dapat menghangatkan tubuh Cassie dengan selimut dan juga tubuhnya sendiri. Ini jam 3 pagi. Dokter tidak akan mau pergi ke sini, dan Bibi juga pasti masih tidur.


"Cassie..Astaga.." Romeo hanya bisa pasrah saat Cassie mempererat pelukannya. Ini yang Romeo takutkan. Sekali dia berbuat baik pada Cassie, Cassie akan membuat nya kewalahan. Dengan memeluk seperti ini saja bisa membuat Romeo panas dingin.


*


*


*


"Romeo? Apakah ini nyata?" Cassie memegang dada bidang Romeo yang terhalang kaos tipis. Cassie juga memandang Romeo dengan jarak yang dekat, sampai dia bisa merasakan hembusan nafas pria itu. Tapi, Tiba-tiba Romeo membuka matanya.


"Aaaaaaa" Cassie mendorong tubuh Romeo dengan kuat sampai Romeo terjatuh ke bawah. Dia terkejut karena Romeo tiba-tiba bangun.

__ADS_1


"Rom,kamu kenapa kamu di kamar ku?"kata Cassie sambil menarik selimutnya. Padahal Cassie masih menggunakan piyama lengkap seperti kemarin. Ini hanya akal-akalan Cassie saja supaya Romeo tidak curiga jika dia sedang menatapnya.


Romeo berdiri sambil mengusap pantatnya yang sakit. "Ini kamar ku."


Cassie melihat ke sekeliling. Benar juga kata Romeo. Ini adalah kamar Romeo karena Cassie tidak melihat Boneka beruangnya.


"Maaf, seperti nya aku salah masuk kamar." Cassie turun dari ranjang. Dia tidak tau kenapa bisa berada di kamar Romeo. Apakah pria itu yang membawanya? Lagipula tidak mungkin Cassie masuk ke kamar Romeo karena kamar ini hanya dapat di buka dengan sidik jari Romeo.


"Sebentar." Romeo menarik Cassie untuk mendekat. Dia mengecek dahi Cassie, juga tangannya yang kemarin begitu dingin seperti mayat.


"Ini aneh." Romeo melepaskan kembali tangan Cassie. Dia lalu pergi ke kamar mandi dan membiarkan wanita itu di sana.


Semalam, Cassie tampak pucat dan sakit. Tapi sekarang tubuhnya sudah normal. Padahal Romeo berencana untuk memanggilkan dokter. Ternyata bukan sikap Cassie saja yang aneh, tapi tubuhnya juga aneh.


"Aku, aneh? Kamu yang aneh." ucap Cassie kesal. Romeo tidak pernah melihat pengorbanan Cassie. Dia begitu diam dan sangat cuek belakangan ini. Tapi, mengetahui fakta bahwa Romeo menggendongnya ke kamar, itu membuat Cassie cukup senang. Artinya dengan cara lebih bermartabat, Romeo bisa sedikit peduli padanya.


Cassie berjalan ke walk in closet. Dia mengambilkan kemeja, jas, jam tangan, sabuk dan sepatu untuk Romeo. Setelah komplit, Cassie meletakkan di ranjang, supaya Romeo tidak perlu repot mencari lagi.


"Yah, lupa kan." Cassie menyadari kebodohannya sendiri ketika baru saja keluar dari pintu kamar Romeo. Dia seharusnya membuka ponsel, laptop atau dokumen di meja kerja Romeo, bukannya malah menyiapkan pakaian pria itu. Ini semua karena Cassie terlalu mendalami akting untuk jadi istri yang baik, jadi dia sampai lupa tujuannya.

__ADS_1


"Cassie, kamu sudah gila. Ketika ada kesempatan, kamu malah melewatkannya." Cassie bicara pada dirinya sendiri.


Entah sejak kapan, perasaan itu mulai tumbuh. Memang benci dan cinta beda tipis. Tanpa sadar, Cassie sekarang sering merindukan Romeo. Dia sudah berusaha mengenyahkan bayangan Romeo dalam benaknya, tapi justru sebaliknya, dia malah semakin memikirkan pria itu.


__ADS_2