
A Abon kenapa ?penyakit jantungnya kumat lagi?"ucap Salsa panik menghampiri Ramon sambil ikut memegang dada Ramon.
"Astaga....." jantung Ramon semakin berdetak tidak normal karena Salsa sangat dekat.
"Sasako menjauhlah " pinta Ramon karena detak jantungnya yang sudah semakin tidak normal saja.
"Iiihh A Abon Sasa teh pengen nolongin A Abon kenapa malah nyuruh Sasa pergi " ucapnya dengan nada sedih, membuat Ramon menjadi merasa bersalah.
"B-bukan begitu maksudku Sasako, ahh bagaimana aku mengatakan nya padamu" ucap Ramon yang sebenarnya dia merasa bahagia bila dekat dengan Sasa tapi posisinya membuat Ramon jadi serba salah. Ramon tidak mungkin mengungkapkan perasaanya kepada Sasa, karena yang Ramon tahu Salsa sangat lah mencintai Bagas dan dua bulan lagi cinta mereka akan bersatu, kenapa Ramon semakin menjadi tidak rela jika mengingat hal itu.
"Terus apa atuh, kenapa semuanya kaya ga suka sama Sasa. Sasa jadi tambah sedih karena A Abon juga ga suka sama Sasa " ucapnya dengan wajah yang sangat menyedihkan, hingga matanya sudah terlihat berkaca-kaca membuat Ramon semakin merasa bersalah.
"Kemarilah mendekat " ajak Ramon sambil menepuk kasurnya agar Salsa duduk di sana. Sasa pun akhirnya mendekat lagi kepada Ramon setelah sebelumnya ia menjauh.
"Kenapa kau bersedih, apa ada masalah? " tanya Ramon yang merasa Salsa sedang ada masalah. Tidak mungkin ia tersinggung dengan ucapan Ramon kan? Salsa tidak sesensitif itu menurut Ramon.
"Sasa boleh cerita ga A Abon " ucap Salsa
"Tentu saja " jawab Ramon, Ramon pun penasaran apa yang akan di ceritakan oleh gadis micin ini.
"Tadi pas lagi jalan-jalan sama Yura, Bira sama Anggi, Yura bilang kalo A Bagas udah unboxing Siena setengahnya. Sasa teh sakit hati dengernya A Abon, Sasa yang tiap hari ngebayangin A Bagas terus Sasa teh bakal di halalin sama A Bagas. Eh A Bagas nya malah. udah unboxing Siena, Sasa teh kan jadi sedih" ucapnya sambil menangis, entah kenapa hal buruk dan menyakitkan untuk Salsa menjadi hal yang sangat baik untuk Ramon. "Kenapa aku senang gadis micin ini sakit hati, astaga kenapa aku jadi orang yang sangat jahat " gumam Ramon dalam hati.
Karena merasa tidak tega melihat Salsa menangis Ramon pun menariknya ke dalam pelukannya yang hangat dan menenangkan. Salsa menagis sepuasnya di pelukan Ramon dan Ramon mendekap nya dengan sayang. Ramon megusap rambut Salsa dan mengelus punggung kecilnya yang sedang bergetar karena menangis.
Di hadapan teman-temannya Salsa berusaha tegar dan menahan air matanya agar jangan sampai menetes. Namun di hadapan Ramon Salsa tidak bisa menyembunyikan kerapuhan hatinya. Salsa menagis tersedu-sedu hingga Ramon bisa merasakan kesedihannya Salsa.
__ADS_1
Setelah puas menagis di dada Ramon, Salsa mengangkat wajahnya melihat Ramon dan melepaskan pelukannya. Ramon melihat wajah gadis cantik ini sangatlah kacau, mata sembab dan hidung kecilnya yang terlihat sangat merah hingga terlihat sangat lucu.
Ramon menghapus air mata Salsa "jangan menagis lagi, dan jangan bersedih mungkin semua sudah takdir Tuhan, mungkin Tuhan sedang menyiapkan laki-laki yang lebih baik darinya" ucap Bagas menasihati
"Contohnya aku ini " gumam Ramon dalam hati, karena belum berani mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.
Salsa mengangguk mengerti, mencoba mengikhlaskan Bagas yang mungkin memang bukan jodohnya.
"A Abon makan dulu, Salsa mah ga laper " ucap Salsa mengingatkan Ramon yang menunjukkan waktu sudah saatnya makan malam dan nyonya Sekar pasti sedang menunggunya.
"Kenapa kau tidak makan, jangan siksa hatimu karena pria itu Sasa, kau mengerti " ucap Ramon
" Iya, nanti Sasa makan. sekarang mah Sasa cape mau tidur, Sasa ga mau mamah liat wajah Sasa yang sembab kaya gini kan malu, nanti mamah nyangkanya Sasa di marahin sama A Abon lagi "
"Baiklah, tidur dan istirahatlah " ucap Ramon Sasa pun mengangguk karena sebenarnya dia juga merasa lelah. Setelah menyelimuti Salsa Ramon pun pergi ke bawah untuk makan malam bersama nyonya Sekar.
Nyonya Sekar yang melihat Ramon turun sendiri bertanya keberadaan Salsa, kenapa dia tidak turun bersama Ramon untuk makan malam.
"Sasa dimana Ramon ?" tanya nyonya Sekar
"Sasa tidur mah, katanya dia sangat lelah " jawab Ramon.
"Ah iya, dia pasti sangat kelelahan. Mamah harap pernikahan kalian langgeng Ramon. Mamah sangat menyukainya. Dia gadis yang masih polos dan juga sangat cantik" ucap nyonya Sekar. Ramon hanya terdiam mendengar ucapan mamahnya, Ramon masih bingung harus berkata apa. Karena dia juga menginginkan hal yang sama. Namun Ramon belum berani mengatakannya sebelum perasaannya jelas antara Sasa dan dirinya. Ramon tidak ingin memberikan harapan palsu kepada ibunya. Ramon takut mamahnya kecewa jika semuanya tidak berjalan seperti yang keinginannya.
Setelah selesai makan malam Ramon kembali ke kamarnya karena ingin melihat Salsa. Setelah sampai di kamarnya Ramon melihat Salsa tengah tertidur lelap. Wajah cantiknya terlihat merah mungkin karena dia habis menangis.
__ADS_1
Ramon membelai wajah cantik Salsa dan ia pun ikut merebahkan diri di pinggir Salsa dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ramon membelai wajah cantik istrinya kemudian tangannya terhenti di bibir Salsa yang sangat menggodanya.
Karena tidak tahan akhirnya Ramon mengecup bibir mungil itu, dan sedikit menyesapnya. Rasanya sangat manis hingga Ramon ingin lagi dan lagi.
Perbuatan Ramon itu membangunkan Salsa yang sedang tertidur, Salsa, melihat dan merasakan Ramon tengah menciumnya.
Namun Salsa tidak marah, ia hanya tersenyum kepada Ramon. "A Abon ngapain?" tanya Salsa.
"Menciummu.... apa boleh? " tanya Ramon dengan suara yang serak. Salsa pun menganggukan kepalanya. Entah Sasa tersadar atau tidak dengan respon dan ucapannya Ramon tidak peduli. Yang ia ingin kan adalah merasai bibir yang sangat menggoda itu.
Ramon pun langsung mecium Salsa dengan lembut membenamkan bibir nya ke dalam bibir Salsa. Hingga ciuman itu berlangsung lama. Mereka terus bertukar saliva seperti orang yang sedang kehausan mereka tidak bisa berhenti.
Ciuman Ramon kini turun ke tengkuk dan leher jenjang Salsa yang sangat menggoda untuk di jelajahi. Hingga Ramon terus mencium dan memberi gigitan-gigitan kecil disana. Membuat Salsa geli dan merasakan sensasi yang lain dalam tubuhnya.
Hingga tangan Ramon pun berhenti di dua benda keramat Salsa. Salsa sempat tersentak dan terkejut namun ingatannya tentang Bagas yang menyentuh Siena akhirnya membiarkan Ramon untuk menyentuhnya walau dari luar saja.
Tapi seperti nya menyentuh dari luar kurang puas bagi Ramon, hingga akhirnya tangan Ramon menyusup ke dalam dress mini milik Salsa. Hingga sentuhanya berada di puncak nya benda keramat itu dan Ramon memainkannya membuat Salsa menggelinjang karena merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, sebuah rasa baru yang begitu nikmat untuk di rasakan.
Ramon masih belum puas, hingga mengangkat dress Salsa dan melemparnya hingga kini di tubuh Salsa hanya tinggal segitiga pengaman dan kacamata pelindungnya.
"Oh astaga ini adalah pemandangan yang sangat indah....." gumam Ramon
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Lanjut besok lagi ahh ngantuk πππ mana. dong like sama hadiah nya udah double up nihh ππ
__ADS_1