
Setelah selesai berbicara dengan Ivan, Ramon pun kembali ke kamarnya, namun Ramon tidak melihat ada istrinya di sana. Ramon khawatir dan mencari Sasa, takut jika istrinya yang tidak pintar itu tertipu lagi dan terluka. Dengan segera Ramon keluar kamar lagi dan ke lantai bawah untuk mencari Sasa. Sambil bertanya ke semua pelayan yang ia temui.
Namun tidak ada satu pelayan pun yang melihatnya, membuat Ramon menjadi geram dan berteriak marah. "Apa tidak ada satu pun dari kalian yang melihat istriku....!!! " Ramon berteriak dengan kesal.
"Mas Ramon kenapa sihh teriak-teriak, kasian kan mereka di marahi.... " ucap Sasa yang tiba-tiba ada di belakangnya dengan membawa beberapa snack dan cemilan untuknya.
"Astaga.... Sasa kau membuatku sangat khawatir" Ramon dengan segera menghampiri dan memeluk Sasa.
" Sasa laper tapi buburnya belum mateng, ya udah Sasa bawa makanan ini semua biat Sasa makan" jawabnya.
"Lain kali kau beri tahu aku dulu, jika mau keluar kamar aku khawatir padamu" ucap Ramon masih sambil memeluk Sasa. Betapa bahagianya Sasa mendapat suami yang sangat menyayangi dan mencintainya.
"Iya maaf, kan tadi mas Ramen lagi ngobrol sama mas Ivan" jawabnya polos
"Ramon Sasa... ahh kambuh lagi penyakitmu" Ramon berdecak sebal
"Itu panggilan sayang tahu... " jawabya sambil memasukan snack ke mulutnya.
"Panggilan sayangmu aneh..."
Ramon hanya melihat Sasa dengan tersenyum saja, melihat bibir kecil istrinya yang tidak bisa berhenti mengunyah sejak kehamilannya. Jika teman-temannya mengalamu sulit makan berbanding terbalik dengan Sasa yang ingin terus makan.
*
*
*
Di perusahaan Maheswara
__ADS_1
Bagas sedang sibuk bekerja dengan Regan, akhir-akhir ini Bagas sedang di sibukan dengan proyek baru Regan yang sangat menyita waktunya. Namun walau begitu Bagas tetap bersemangat bekerja karena kini ia sudah mempunyai istri, juga kini istri kesayangannya tengah hamil. Makin semangat saja, asistent pelit ini bekerja untuk membahagiakan istrinya yang cantik itu.
Sebenarnya papanya Siena meminta Bagas untuk mengelola perusahaannya, namun Bagas menolak karena ia ingin mandiri dan tidak mau bergantung pada orang tua Siena. Gajinya bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya kelak. Apalagi Regan bos yang sangat royal, Bagas akan selalu mendapat bonus setiap bulannya dengan nilai nol yang banyak di belakang angkanya.
tok
tok
tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar pintu
"Masuk.... "ucap Bagas karena Regan sedang mengerjakan pekerjaannya di sana. Kanebo kering itu mana mau peduli ada yang datang kalau bukan ratu ubur-ubur yang datang menemuinya.
"Ada apa? " tanya Bagas pada sekretaris Regan di sana.
"Ada yang ingin bertemu dengan anda pak..." ucap Sekretaris itu
"Namanya Rossa pak.... " ucap sekretaris itu
"Rossa, mau apa gadis berpagar itu menemuiku" gumam Bagas.
"Hey asistent pelit, apa dia penggemarmu? "tanya Regan
"B-bukan pak, dia adik iparku... "jawab Bagas sambil bangun dan hendak menemui Rossa.Karena ia tidak mau bos kanebonya yang selalu kepo itu bertanya lebih lanjut padaya.
"Dimana dia? " tanya Bagas
"Mari pak...." sekretaris itu langsung membawa Bagas untuk menemui Rossa si gadis berpagar.
__ADS_1
Terlihat Rossa sedang menunggu Bagas di ruangan yang khusus di sediakan untuk menerima para tamu di sana. Rossa langsung mengeluarkan senyuman mautnya kepada Bagas. Namun apa peduli asistent pelit itu, dia hanya menatapnya dengan wajah datar saja. Membuat nyali Rossa agak menciut melihat wajah Bagas.
"Mau apa kau kemari? "tanya Bagas
"Mau menemuimu apa lagi... " Rossa berbicara dengan sangat lembut, namun asistent pelit itu malah bergidik. Sebenarnya Rossa gadis yang cantik, namun secantik apapun tidak akan mudah menggoyahkan cinta Bagas pada Siena.
"Aku sedang sibuk...."jawab Bagas acuh, melihat sikap Bagas yang cuek tidak membuat Rossa menyerah. Gadis tidak tahu malu itu masih memperlihatkan semyumanya yang manis walau hatinya kini terasa pahit.
"Aku ingin mengajakmu makan siang Bagas..." ajak Rossa
"Aku tidak lapar... "
"Kalau begitu, bisa kita bertemu setelah kau pulang bekerja... "
"Aku sibuk...."
"Oh astaga kenapa dia susah sekali di rayu sihh.. " gumam Rossa dalam hati
"Sudahlah pulang sana, aku sedang sibuk jika kau kesini hanya untuk memperlihatkan pagar mu yang sudah kau bongkar, aku sudah melihatnya dan aku tidak tertarik "ucap Bagas, Rossa pun langsung melongo dengan ucapan Bagas. Memang benar Rossa sudah membongkar pagar giginya, tapi bukan itu maksud Rossa menemuinya.
Setidaknya puji lah sedikit penampilannya yang sekarang, Rossa bahkan rela menghabiskan dana yang besar untuk menarik hati Bagas. Namun itu sepertinya percuma saja, rasanya itu sangat sulit bagi Rossa.
"T-tapi.... "
"Pulang sana, aku sibuk..... "ucap Bagas sambil pergi meninggalkan Rossa di sana sendirian.
"Oh ya ampun, kenapa dia tidak terpesona sedikit pun padaku, menyebalkan " gumam Sasa dalam hati sambil menghentak-hentakan kakinya karena kesal.
*
__ADS_1
*