
Setelah mendapat bukti bahwa Sofi lah yang sudah mencelakai Sasa, Ramon dan Ivan bergegas pergi dengan alasan banyak pekerjaan di kantor. Namun yang sebenarnya Ramon sudah jengah dengan sikap Sofi yang agresif. Meskipun awalnya menolak namun akhirnya Sofi mengijinkan Ramon untuk pergi.
Kini Ramon dan Ivan sudah ada di dalam mobil, mereka langsung bergegas pergi dari apartement itu.
"Ivan kau sudah mendapatkan buktinya? "tanya Ramon
"Sudah pak... " jawab Ivan, karena sebenarnya sejak masuk ke apartement Sofi Ivan merekam kegiatan mereka di sana. Tentu saja itu untuk mendapatkan bukti bahwa Sofilah yang sudah melukai Sasa. Dan kini semua bukti itu sudah di dapat, akhirnya sandiwara ini berakhir juga.
Bukan tidak sanggup langsung menjebloskan Sofi, tapi akan lebih mudah jika ada bukti yang kuat bukan. Karena dengan adanya bukti kuat maka Sofi pun tidak akan bisa mengelak.
Ramon dan Ivan dengan segera pergi ke kantor lagi namun setelah mengantarkan Ramon ke kantor. Ivan langsung pergi untuk mengurus penyeretan Sofi.
*
*
Setelah kepergian Ramon Sofi merasa kesepian dan akhirnya ia menelepon Rio untuk mengusir rasa bosannya.
(Hallo cantik ada apa? )tanya Rio di seberang sana
"Kemarilah aku sedang bosan..." ucap Sofi dengan sangat lembut dan mendayu-dayu.
(Baiklah sayang, tunggu saja sekarang aku akan pergi menemuimu) jawab Rio dengan semangat. Bagaimana tidak semangat jika setiap kali pertemuannya dengan Sofi ia selalu mendapatkan tambahan imun tubuhnya.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak lama, Rio kini sudah sampai di apartemen Sofi, karena jarak kantornya dengan apartement Sofi itu lumayan dekat. Dengan tidak sabar Rio langsung memagut Sofi dengan rakusnya dan melakukan apa yang ia ingin lakukan sedari tadi. Dan terjadilah hal yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan.
Setelah sekian lama mereka memadu kasih, akhirnya mereka kini selesai dengan kegiatan mereka berdua. Nafas mereka masih tidak beraturan akibat aktivitas yang barusan mereka lakukan. Sofi mendekat dan memeluk Rio nafasnya masih terlihat naik turun, Sofi mengelus dada bidang Rio dengan tersenyum.
"Terima kasih, kau memang selalu mengerti apa yang aku mau" ucap Sofi
"Sama-sama sayang, hubungi aku jika kau menginginkannya" jawab Rio sambil membelai rambut pirang Sofi.
__ADS_1
"Tapi sepertinya untuk nanti aku tidak akan mempunyai waktu banyak untukmu" ucap Sofi yang masih betah dalam pelukan Rio.
"Kenapa? "
"Karena aku sudah kembali pada Ramon... " jawab Sofi dengan tersenyum senang.
"Apa... benarkah? bagaimana bisa? "tanya Rio penasaran
"Tentu saja bisa, dia masih sangat mencintaiku" jawab Sofi dengan percaya diri
"Benarkah? kenapa aku merasa ragu? "
"Hey, kau hanya tidak senang aku kembali padanya kan? goda Sofi
"Entahlah, aku hanya merasa ganjil saja" .
"Sudahlah kau terlalu banyak berpikir Rio, yang terpenting aku akan selalu ada untukmu"
"Benar, yang terpenting kau harus bisa membagi waktumu untuku " ucap Rio.
tong
tong
"Ada tamu, siapa? "tanya Rio
"Mana aku tahu..." Sofi mengangkat bahu acuh
"Bukalah... "
"Baiklah, aku akan memakai pakaianku dulu "
__ADS_1
Tak berselang lama Sofi pun membuka pintu apartementnya, namun ia terkejut saat melihat ada beberapa aparat dan juga orang yang Sofi lihat dari penampilannya adalah seorang pengacara. sofi mengernyit heran melihat kedatangan mereka.
"Mau mencari siapa? "tanya Sofi
"Maaf nona Sofi anda kami tangkap dengan tuduhan melakukan penyerangan terhadap nona Sasa istri dari tuan Ramon Adyatama" ucap polisi itu.
"Enak saja kalian menuduhku sembarangan, memangnya kalian punya buktinya jika aku yang sudah melukai gadis kampung itu...!!! " jawab Sofi tidak terima
"Buktinya ada padaku..." tiba-tiba Ivan ada di sana dan memperlihatkan rekaman pengakuan Sofi kepada Ramon yang telah melukai Sasa malam itu.
"Dasar asistent kurang aj*r....berani-beraninya kau...!!! aku akan memberi tahu Ramon tentang kau yang sudah memfitnahku...!! "
"Bukti sudah ada dan kau masih bilang ini fitnah, dimana otakmu yang bodoh itu nona? dan asal kau tahu saja, jika tuan Ramonlah yang memintaku untuk mengurus penangkapanmu.... " jawab Ivan
"Apa... dasar pembohong...!!!"
"Sudahlah bicara denganmu hanya membuang waktuku saja, cepat tangkap wanita ini... " perintah Ivan kepada polisi yang sudah di bawa Ivan tadi.
"Baik tuan.... " Polisi itu pun langsung membawa Sofi namun Sofi memberontak.
"Tunggu ada apa ini? " Rio datang menghampiri mereka karena mendengar ada keributan sejak tadi.
"Rio.... Rio kau harus menolongku "ucap Sasa yang masih dalam pegangan polisi.
"Sebenarnya ada apa ini? " tanya Rio merasa aneh
"Kekasihmu sudah melukai istri bosku, dan kini ia harus mempertanggung jawabkan semuanya" jawab Ivan sambil menatap tidak suka pada pria hidung belang di hadapannya.
"Apa.... "Rio terkejut sekaligus takut karena ia juga terlibat
"Rio kau harus menolongku... "ucap Sofi memelas
__ADS_1
"Maaf Sofi aku tidak ikut campur dengan masalahmu " jawab Rio acuh
"Apa... " Sofi menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Kekasih gelapnya sama sekali tidak peduli padanya. Padahal dialah yang merencanakan dan memberi ide untuk melukai Sasa. Namun sekarang dengan mudahnya ia menolak permintaan dari Sofi yang berharap membantunya dan menolongnya dari penangkapan ini