
Pagi ini Ramon di suguhkan dengan wajah istrinya yang selalu di tekuk sedari tadi. Pasalnya hari ini Ramon akan bertemu dengan Sofi. Bayangan yang tidak-tidak sudah berseliweran di benak ibu hamil itu. Rasa kesal sedih dan cemburu ia rasakan saat ini. Sasa menumpahkan kekesalannya pada makanan yang ada di depannya. Dia tidak berhenti memakan cemilan yang di siapkan para pelayan dari tadi.
Apalagi jenis makanan yang rasa cokelat semuanya ada, mulai dari cake puding kue-kue dan segala macamnya. Sasa lebih mempedulikan makanannya dari pada penampilannya suaminya saat ini.
Biasanya setiap pagi ia akan menyiapkan segala sesuatunya untuk Ramon namun hari ini dia tidak mau menyiapkan itu semua. Biar saja Ramon terlihat tidak tampan hari ini begitu pikirnya.
"Sayang kau tidak mau memilihkan baju untukku?" tanya Ramon.
"Gak mau pilih aja sendiri " jawab Sasa dengan mulut penuh makanan. Mulut kecilnya dari tadi tidak berhenti mengunyah.
"Biasanya kau selalu memilihkannya untuku" ucap Ramon sambil memandang istrinya yang tampak acuh..
"Hari ini mas Ramen mau ketemuan sama sapi pirang jadi Sasa ga mau liat suami Sasa keliatan ganteng di mata perempuan lain, jadi terserah mas Ramen mau pakai baju apa" jawabnya masih acuh.
"Ahh begitu ya, rupanya istriku yang cantik ini sedang cemburu... " bujuk Ramon sambil mengecup pipi Sasa.
"Udah tahu cemburu dasar ga peka punya suami teh... " ketus Sasa.
"Baiklah... tidak masalah hari ini aku pakai baju pilihanku sendiri saja... " ucap Ramon tersenyum
"Jangan pake baju warna merah nanti di seruduk sama sapi... "ucap Sasa.
"Okee....baiklah sayang" jawab Ramon tertawa melihat kelakuan istrinya yang sedang cemburu.
Tak selang berapa lama, Ramon sudah siap walaupun wajahnya masih terlihat lebam tapi tetap saja wajah suaminya ini terlihat tampan. Membuat hati Sasa semakin tidak rela saja, tapi bagaimana lagi demi menghukum sapi itu Sasa harus rela melihat suaminya pura-pura berkencan dengan mantan kekasihnya.
"Ma Ramen... " panggilnya manja
__ADS_1
"Kenapa? "jawab Ramon sambil memasang dasinya.
"Nanti jangan terlalu deket sama sapi ya, takut nanti suami Sasa di cium Sasa gak rela... " Ramon tersenyum dan mendekati Sasa yang sedang duduk memangku toples makanan yang tidak mau ia lepas dari tadi.
"Tidak akan sayang, kau tidak perlu khawatir cintaku hanya untukmu. Aku begini pun untuk melindungimu... " Ramon mengecup kening Sasa dengan lama.
"Peluk dulu ya.... "
"Tentu.... " Ramon menarik tubuh kecil itu dan mendekapnya dengan sayang.
*
*
Siang ini Ramon dengan Sofi sedang berada di apartement Sasa dengan di temani Ivan. Terlihat sekali dengan jelas jika Sofi sangat tidak menyukai keberadaan Ivan, namun Ivan sama sekali tidak Peduli. Dia sudah gemas melihat kelakuan Sofi, apa lagi dia sengaja memakai pakaian yang kurang bahan untuk menggoda Ramon. Dia pikir Ramon akan tergoda, yang ada Ramon malah semakin jijik melihatnya.
"Dia sudah berubah Ivan... " meyakinkan hatinya pada Sintia.
"Sayang kenapa dia selalu ikut kemana kamu pergi" ucap Sofi sambil bergelayut manja pada Ramon, membuat Ramon jengah saja.
"Dia asistentku, tentu di harus ijut denganku... "ucap Ramon.
"Tapi aku tidak nyaman ada dia di sini" jawabnya sambil meraba-raba dada bidang Ramon.
"Anggap saja dia tidak ada... " jawab Ramon sambil membetulkan posisi duduknya. Namun Sofi malah mencebikan bibirnya.
"Ramon tidak bisakah kau membagi waktumu lebih banyak denganku" ucapnya sambil mendayu-dayu.
__ADS_1
"Aku ingin seperti itu tapi tidak bisa, kau tahu kan kalau Sasa baru pulang dari rumah sakit ada yang menyerangnya... " ucap Ramon.
"Biarkan saja dia, bukankah banyak pelayan di sana" jawab Sofi tidak terima Ramon lebih memperhatikan Sasa.
"Masalahnya mamah memintaku untuk menjaganya, padahal biarkan saja gadis itu. Aku senang dia terluka, akhirnya ada orang yang mewakiliku untuk Menyukainya. Kau tahu selama ini aku gemas dengan kelakuannya... " Ucap Ramon
"Terlalu gemas hingga aku ingin bercocok tanam dengannya setiap hari" gumam Ramon dalam hati.
Sofi tertawa puas tiba-tiba, Ramon mengernyit heran padanya. "Kenapa kau tertawa? "tanya Ramon
"Kau tahu Ramon aku juga senang melihat gadis kampungan itu terluka, akulah yang sudah membuatnya terluka malam itu... "
Deg
Ramon mengepalkan tangannya, ternyata benar dugaannya jika Sofilah yang melukai Sasa.
"Benarkah memangnya apa yang kau lakukan padanya ?"tanya Ramon menahan geram
"Aku memberikannya hadiah bangkai kucing, juga melemparnya dengan batu . Sengaja aku mencari batu yang runcing agar dia terluka parah. Sayangnya lukanya tidak terlalu parah, bagaimana jika nanti aku melukainya lebih dari ini ya.... " ucap Sofi sambil tersenyum santai.Ramon berpikir bagaimana seorang perempuan yang sudah melukai orang lain tersenyum dengan santainya.
Dan parahnya orang yang ia lukai adalah orang yang sangat di cintai oleh Ramon. Lihat saja Ramon tidak akan tinggal diam.
"Tunggu pembalasanku Sofi... " geram Ramon
*
*
__ADS_1
Sumbangin like sama komenya ya, juga hadiah sama vote nya buat penambah imun mimin update 😘😘😘