
Ivan merasa terkejut mendengar pernikahannya akan di gelar lusa esok. Ibunya benar-benar sudah tidak sabar ingin punya menantu dan ingin punya cucu dasar memang, apa ibunya tidak berpikir jika ingin mempunyai cucu itu anaknya yang tampan ini harus berproses dulu dengan istrinya nanti.
"Apa itu tidak terlalu cepat? "tanya Ivan
"Menurutku biasa saja.... "jawab Sintia santai
"Sepertinya kau sudah tidak sabar untuk menikah?" tanya Ivan
"Usiaku sudah cukup matang untuk menikah, apa lagi yang di tunggu" Sintia mengangkat bahunya
"Kita sama-sama tidak saling mencintai, apa menurutmu pernikahan ini akan berjalan mulus?" Ivan terlihat ragu, namun Sintia malah menarik nafas kasar
"Belajarlah dari orang-orang di sekitarmu, bukankah awal mereka menikah tanpa cinta bahkan bos mu juga" ucap Sintia
"Ahh iya, untung saja kau wanita normal. Jika kau seperti salah satu istri 4R aku tidak akan sanggup. Mentalku terlalu lemah menghadapi istri seperti itu" ucap Ivan, Sintia malah tertawa melihat ekspresi Ivan.
"Kau takut pada para istri absurd itu...?" tanya Sintia di sela-sela tawanya.
"Tentu saja, bagaimana hidupku kedepannya jika mempunyai istri seperti itu. Seperti sedang mengasuh anak gadis saja" ucap Ivan, Sintia hanya geleng-geleng kepala saja melihat Ivan.
*
*
Sasa dan Ramon kini sudah berada di rumah, beruntung Sasa tidak perlu dirawat di rumah sakit karena Sasa hanya shock saja. Kini mereka berdua tengah saling berpelukan di atas kasurnya. Meskipun tubuh Ramon terasa sakit semua, namun bisa memeluk istrinya sudah menjadi obat paling mujarab untuknya.
"Mas Ramon mukanya masih sakit ya?" tanya Sasa sambil memegang wajah Ramon perlahan tapi Ramon tetap meringis.
"Iya sayang ini masih sakit "jawab Ramon tersenyum
"Kasian banget suami Sasa yang ganteng, jadi jelek begini" ucap Sasa
"Nanti aku akan tampan lagi, luka-luka ini nanti akan sembuh"
Cup
Ramon mengecup bibir manis Sasa, Sasa malu-malu di buatnya. Kini wajahnya malah memerah, Ramon menjadi gemas melihat wajah istrinya itu.
__ADS_1
"Kenapa kau tersipu seperti itu heemm... " Ramon mencubit pipi Sasa.
"Sasa jatuh cinta lagi sama mas Ramen... "
"Ramon.... Sasako... " Sasa malah tertawa saja melihat suaminya. Ramon pun mendaratkan ciumannya lagi pada Sasa, ciuman kali ini sangat dalam dan terasa sangat lembut. Ramon menarik tubuh mungil Sasa untuk lebih mendekat lagi. Sepertinya adegan main kuda-kudaan akan segera di mulai tapi...
Drrtttt.... drrrttt.....
Ponsel Ramon bergetar, ternyata ada panggilan masuk. Ramon melepaskan ciumannya dari Sasa dan melihat ponselnya takut ada panggilan penting. Namun nama yang tertera di sana adalah panggilan dar Sofi. Ramon berdecak sebal melihatnya. Apalagi panggilan itu tidak mau berhenti.
"Aduh dasar sapi gangguin aja... " ucap Sasa mengerucutkan bibirnya.
"Sebentar sayang, aku akan mengangkatnya dulu supaya dia tidak curiga "jawab Ramon.
"Angkatnya di sini aja, biar Sasa bisa denger itu sapi mau ngomong apa. Awas aja kalo kalian macem-macem, Sasa bakalan kabur bawa atm mas Ramen... " ancam Sasa.
"Dasar micin membawa satu atm ku tidak akan membuatku bangkrut... "gumam Ramon dalam hati.
Ramon pun menggeser icon berwarna hijau di ponselnya dan mengangkat panggilan dari Sofi.
(Hallo Ramon kenapa kau lama sekali menjawab panggilan dari ku) terdengar suara Sofi merajuk membuat wajah Sasa terlihat geram. Sasa semakin mempererat pelukannya di tubuh kekar suaminya.
"Tadi ada istriku, jika aku mengangkat panggilanmu di depannya pasti dia akan curiga padaku" jawab Ramon, Ramon menahan tawanya karena melihat wajah cemburu Sasa yang menggemaskan.
(Oh aku mengerti, bagaimana keadaanmu sekarang sayang... ) tanyanya dengan suara mendayu-dayu. Membuat Sasa pura-pura mual ingin muntah.
"Ada apa kau meneleponku Sofi...?" tanya Ramon
(Aku merindukanmu sayaang... bisa kau kemari dan temui aku...) pintanya dengan suara manja.
"Arrgghhh..... " teriak Ramon karena tangannya di gigit oleh Sasa
(Ramon kenapa kau berteriak....) Sofi bertanya panik mendengar Ramon berteriak
"Tidak apa-apa, tadi ada cicak iya ada cicak menggigitku aku jadi terkejut... " ucap Ramon dan melihat Sasa sudah melotot karena di sebut cicak).
(Oh, jadi bagaimana bisa kah kau kesini...) pinta Sofi dengan suaranya semanis mungkin.
__ADS_1
"Sepertinya tidak bisa Sofi, aku sedang terluka sekarang kau tahu kan tadi bagaimana asistent pelit itu menghajarku "ucap Ramon
(Iya dia sangat kejam, baiklah tidak apa-apa kita bertemu besok saja ya...)
"Iya.... "
(I love you Ramon... )
Ramon langsung menutup panggilannya, namun Sofi berdecak sebal karena Ramon yang tidak membalas ucapan cintanya. Tapi itu tidak masalah untuk Sofi yang terpenting Ramon kembali ke pelukannya sekarang.
"Mesra banget...." ucap Sasa jutek
"Pura-pura sayang...." bujuk Ramon
"Tapi Sasa cemburu...."
"Aku hanya mencintaimu...." Sasa mencebikan bibirnya.
Melihat istrinya merajuk Ramon langsung mengungkungnya, Sasa mencoba mendorong tubuh besar Ramon dari atas tubuhnya, tapi Ramon malah semakin menggodanya.
"Pergi sana Sasa lagi marah sama anak kingkong"
"Tidak mau anak Kingkong yang tampan ini sedang ingin bercinta..." ucap Ramon sambil tersenyum menggoda
"Ga mau sana, Sasa mau emmmppttt....... "
Ramon langsung membungkam bibir mungil itu dengan bibirnya. Ramon menciumi Sasa dengan rakus karena ia sudah merasa gemas dari tadi.
Merasakan sentuhan suaminya akhirnya Sasa pasrah juga. Tidak ada gunanya melawan, nikmati saja . Ritual bercocok tanam pun terjadi malam ini.
*
*
*
Minta like sama komennya dong, biar mimin semangat updatenya 😘😘
__ADS_1