
Di ruangan serba putih dengan aroma obat yang sangat menusuk hidung, di sana Sasa mulai membuka matanya. Dia mengerjapkan matanya dan menyesuaikan cahaya di sana.
Sasa memegang kepalanya dan mulai mengingat-ingat kembali kenapa ia bisa terbaring di sana. Kepingan ingatannya mulai muncul, Sasa mulai ingat jika suaminya Ramon tadi sedang mengungkapkan cinta kepada Sofi mantan kekasihnya, Sasa juga ingat jika tadi ia melihat suaminya tengah di pukuli oleh Bagas.
"Mas Ramon..... " panggil Sasa sambil menangis tersedu-sedu dan terdengar menyayat hati.
"Sasa sayang aku di sini...." Ramon menghampiri istrinya walau ia berjalan dengan tertatih-tatih karena seluruh tubuhnya terasa sakit akibat pukulan Bagas dan juga Regan.
Ramon langsung menghampiri Sasa dan memeluknya, namun tubuh kecil itu memberontak. Sasa merasa jijik jika mengingat suaminya sedang mengungkapkan cintanya pada sapi betina itu.
"Sayang dengarkan aku dulu..." Ramon mengeratkan pelukannya kepada Sasa.
"Jangan menangis dengarkan penjelasanku dulu" ucap Ramon membelai sayang Sasa, Sasa mulai tidak memberontak lagi. Sakit di tubuh Ramon sudah tidak di rasa lagi yang ia pedulikan saat ini adalah hati istrinya.
Ramon tidak ingin kesalah pahaman ini berlanjut dia tidak sanggup melihat banyak air mata yang keluar dari mata indah istrinya. Sungguh sakit hatinya melihat Sasa terluka seperti ini.
"Sasa sayang dengarkan aku, aku sangat mencintaimu aku tidak mungkin mengkhianatimu" ucap Ramon
"Jangan bohong buktinya, mas Ramon tadi bilang cinta sama sapi betina itu " jawab Sasa sambil menangis sesegukan di pelukan Ramon.
"Aku hanya berpura-pura saja sayang, karena aku sedang menyelidiki sesuatu " ucap Ramon, kemudian Ramon pun menceritakan semuanya kepada Sasa tentang rencananya terhadap Sofi, tidak lebih untuk membawa Sofi ke ranah hukum. Karena sampai saat ini belum ada bukti kuat untuk menyeretnya. Karena jika Sofi terus di biarkan bebas maka besar kemungkinan ia akan melukai Sasa lagi. Dan Ramon tidak mau itu sampai terjadi lagi kepada Sasa.
"Sekarang kau paham kan sayang?" tanya Ramon, Sasa pun mengangguk
"Sasa paham, tapi Sasa ga suka mas Ramon pegang-pegang sapi itu, awas aja kalo sampe tergoda sama dia karena buah dadanya yang segede kelapa itu" ucap Sasa Ramon hanya tertawa menanggapinya.
"Aku sama sekali tidak tertarik, hanya punyamu saja yang selalu membuatku tergoda "
"Bohong...."
"Benar sayang, sekarang saja aku ingin melihatnya...."
"Dasar kingkong mesum..." Ramon dan Sasa pun tertawa.
"Sasa.... " panggil Bira, mendengar suara sepupunya ia langsung menengok dan melepaskan pelukannya dari Ramon.
"Bira, kok di sini...? " tanya Sasa merasa heran.
"Tadi mas Bagas ngabarin Bira, katanya kamu masuk rumah sakit. Bira khawatir sama kamu" ucap Bira
"Sasa gak apa-apa kok Bira, ini cuma salah paham aja... " ucap Sasa. Bira pun mengerti karena sudah mendengar penjelasan dari Ivan tadi.
__ADS_1
"Iya tapi tetep aja Bira khawatir sama kamu"
"Kau sudah baikan....? "tanya Regan yang datang menyusul Bira ke ruangan dimana Sasa di rawat.
"Iya... Sasa udah baikan kok, alhamdulillah suami Sasa ga kepincut beneran sama sapi pirang itu"
"Iya kita udah tahu semuanya kok... "
"Tapi kasian suami Sasa yang ganteng mukanya jadi jelek gara-gara A Bagas... "ucapnya
"Hey kenapa kau jadi menyalahkan aku... " jawab Bagas tidak terima
"Kan A Bagas yang mukulnya juga.... "jawab Sasa polos
"Tidak sengaja....lupakan saja lagi pula dia itu laki-laki harusnya luka seperti itu tidak masalah untuknya" jawab si asistent pelit santai.
"Tidak masalah kepalamu... "kesal Ivan
"Lalu aku harus bagaimana, aku tidak punya mesin waktu,aku bukan sun go kong yang punya kotak pandora yang bisa jalan-jalan ke masa lalu...." jawab Bagas
"Sudahlah kalian sangat berisik.... " ucap Regan
"Aku mau makan siang, kau pikir sedang apa jika seseorang ada di restoran mau berendam air hangat dengan bubble gum... "jawab si pelit menyebalkan.
"Harusnya aku tidak bertanya..." gumam Ramon.
"Bicara dengannya akan membuatku punya penyakit jantung, karena harus menahan emosi setiap hari..." ucap Ivan.
"Ya sudah aku pulang dulu, istriku pasti saat ini sedang menunggu kepulangan suaminya yang tampan dan rupawan... ".ucap Bagas percaya diri membuat semua orang berdecih mendengarnya.
"Tunggu.... " ucap Ramon
"Ada apa? "tanya Bagas, Ramon pun menghampiri Bagas dan langsung memukulnya.
Bughh....
Bagas yang tidak siap langsung jatuh terjungkal... Setelah memukul Bagas, Ramon tertawa.
"Sekarang istrimu akan melihat wajah suaminya yang jelek... " ucap Ramon
"Rasakan.... " ucap Ivan
__ADS_1
"Hey.... berani sekali kau memukul wajah tampanku... "kesal Bagas.
Yang lainnya hanya tertawa melihat Bagas kesal.
*
*
Bagas pulang kerja lebih awal karena kejadian tadi, Bagas meminta ijin. Untung saja pekerjaan di kantor sedang tidak banyak.
Bagas langsung masuk ke apartementnya dan Siena menyambutnya dengan tersenyum senang. Namun Siena melihat ada luka memar di pipi Bagas dan juga mulutnya yang robek sedikit.
Bayi Kingkong itu ternyata memukul Bagas dengan keras. Mungkin dia balas dendam karena di hajar habis-habisan oleh Bagas.
"Bagas kenapa wajahmu? " tanya Siena khawatir dan memegang pipi Bagas.
"Aku di pukul oleh bayi Kingkong,menyebalkan..."
"Ramon maksudmu? "
"Iya siapa lagi.... "
"Kenapa dia sampai memukulmu hingga seperti ini?" tanya Siena penuh selidik
"Karena Sasako.... "jawab Bagas sambil duduk di sofa di ikuti oleh Siena.
"Apa.....Bagas apa kau masih mencintai Sasa?"tanya Bagas
"Hah.... " Bagas terbengong mendengar ucapan Siena.
"Ramon memukulmu karena kau mencoba mendekati Sasa lagi..." wajah Siena sudah berkaca-kaca memandang Bagas.Satu kedipan saja cairan hangat itu akan meleleh di pipi mulus Siena
"Astaga....."
*
*
Hadeuuhhh sekarang malah induk pokemon salah paham 😑
Sawerannya di tunggu ya 💃😚😚
__ADS_1