
Rosa pulang dengan hati yang dongkol, dirinya yang sangat cantik jelita menurutnya itu tidak ada menarik-menariknya di mata Bagas. Sungguh jahat sekali pria itu. Dia bilang jika gigi Rosa kena hama makanya di pagari, apa ia tidak tahu manfaat behel yang ia pakai, bahkan ia memasangnya dengan harga termahal. Tapi mengingat Bagas tidak menyukai gadis berpagar, maka ia memutuskan untuk melepasnya saja. Mungkin jika ia melepasnya Bagas akan tertarik padanya, dan masalah dadanya yang kurang besar itu bukan hal yang sulit bagi Rosa untuk mengubahnya. Uangnya sangat banyak hal yang mudah untuknya jika ingin terlihat cantik seperti Siena.
Meskipun sebenarnya Siena itu cantik alami, bahkan tanpa make up pun wajahnya tetap terlihat sangat cantik. Memang sial sekali hidupnya, ia bahkan tidak bisa bersaing dengan saudara angkatnya yang selalu ia anggap sebgai rivalnya itu.
Setelah kepergian Rosa, Siena sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Dia tertawa terpingkal-pingkal mendengar kata-kata yang di lontarkan Bagas kepadanya memang tidak manusiawi dan sangat menyebalkan. Hanya Siena yang mampu meluluhkan hati Bagas dan juga hanya Siena perempuan yang mempunyai stok kesabaran yang luar biasa untuk menghadapi manusia seperti Bagas.
"Sayang kamu sudah baikan? " tanya Bagas
"Iya lumayan... " jawab Siena setelah berhenti tertawanya. Bagas langsung menarik Siena ke dalam pelukannya yang hangat dan membuat Siena merasa sangat nyaman saat berada dalam pelukan sang suami.
"Aku sangat khawatir padamu, makanya aku meminta ijin pada pak Regan supaya bisa pulang lebih awal karena aku sangat mengkhawatirkanmu " ucap bagas sangat lembut dan penuh kasih kepada Siena. Siena tentu merasa terharu dengan perhatian suaminya. Karena setahu Siena Bagas adalah orang yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Tapi saat ini ia rela meninggalkan pekerjaannya yang tidak pernah habis hanya untuk dirinya.
"Terima kasih kau sudah mengkhawatirkanku" ucap Siena dengan tulus. Siena sangat menikmati pelukan Bagas namun lain halnya dengan Bagas yang tangannya sudah menyibakan tank top Siena hingga semakin terlihat bahu putih dan mulus itu.
__ADS_1
Bagas mendaratkan ciumannya di sana, ciumannya naik ke leher jenjang Siena dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana. Dan kemudian mencium bibir Siena yang sangat menggoda. Lama mereka bertukar saliva saling menggigit namun terasa sangat lembut di bibir mereka berdua.
Tangan Bagas yang nakal pun sudah mendaki gunung kesukanaanya dan memainkan sesuatu yang ada di sana. Sentuhan Bagas sangat di sukai oleh Siena, Membuat Siena merasa ingin lagi dan lagi di sentuh oleh Bagas. Seolah Bagas tahu semua kelemahan Siena.
Tidak mungkin melakukannya di sofa Bagas menggendong Siena ala bridal ke kamarnya dan melanjutkan kegiatan panas mereka siang itu. Kegiatan berbagi peluh pun tak bisa di hindarkan dan mereka berdua sangat menikmatinya.
Beberapa kali Bagas melakukan pelepasan seolah ia merasa belum puas saja, namun melihat istrinya yang kelelahan ia pun menjadi tidak tega dan menyudahi kegiatan bercocok tanam siang itu.
Setelah menyudahi kegiatan panas mereka, kini Siena dan Bagas pun membersihkan diri. Badan Siena terasa remuk, kepalanya juga semakin pusing. Apalagi sedari pagi tidak ada makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya membuatnya semakin lemas saja. Karena jangankan untuk makan mencium aromanya saja sudah membuat Siena kelimpungan dan merasskan mual yang amat sangat.
Namun saat melangkahkan kakinya Siena seperti sudah tidak kuat menopang beban tubuhnya, pandagannya pun kini berkunang-kunang suara-suara terdengar sangat jauh hingga akhirnya ia tidak kuat dan melihat semua pandangannya terasa gelap.
Brukk....
__ADS_1
Bagas melihat Siena terjatuh dan pingsan, istrinya tidak sadarkan diri membuat Bagas sangat panik dan langsung mengangkat tubuh Siena ke atas kasur dan segera menyelimuti tubuhnya yang hanya berbalut handuk saja. Bagas menepuk -nepuk pipi Siena berharap istrinya segera sadar.
"Siena.... Siena bangunlah sayang kau kenapa? " tanya Bagas dengan sangat panik. Siena bergeming dia hanya diam saja dan tidak merespon Bagas.
"Sudah ku duga ia tidak baik-baik saja " gumam Bagas. Dengan segera Bagas menelepon dokter untuk memeriksanya. Namun tanpa sengaja Bagas melihat pemandangan indah di depannya. Buah Ranum itu tampak mengintip malu-malu kepada Bagas. Hampir saja Bagas tergoda dan melahap lagi buah ranum yang indah itu, untung saja kesadarannya penuh saat ini. Hingga ia segera mengambil pakaian Siena dan segera memakaikannya sebelum dokter itu datang.
"Jangan nakal Maxy, istriku sedang tidak sadar sekarang " ucap Bagas kepada gagang sapuya yang tiba-tiba bangun lagi gara-gara melihat tubuh indah Siena.
*
*
*
__ADS_1
Like, komen dan kasih hadiah dong buat mimin supaya novel ini bisa terus upadate. 😘