
Ramon dan Sasa sudah sampai di rumah sakit untuk di periksa kandungan. Ramon sangat semangat untuk pemeriksaan pertama kandungan istrinya itu. Ia sudah tidak sabar ingin melihat calon anaknya.
Mereka berdua di persilahkan masuk oleh dokter itu dengan sangat ramah. "Mari tuan muda dan nona muda " ucap dokter itu, Sasa tersenyum sambil berbisik kepada suaminya.
"Dokternya lucu ya, kalo di desa Sasa itu di panggil neng Sasa semenjak nikah sama mas Ramen Sasa teh di panggil nona muda terus" ucapnya perlahan. Ramon hanya menanggapi ucapan istrinya dengan mencubit hidungnya dengan gemas.
"Jangan banyak bicara atau kau akan lembur malam ini" ucap Ramon
"Siap lembur bos..." jawab Sasa.
"Astaga aku lupa jika istriku ini mesum" gumam Ramon geleng-geleng kepala. Mereka berdua duduk berhadapan dengan dokter itu.
"Maaf nona kalau boleh saya tahu, kapan terakhir anda datang bulan? " tanya dokter itu.
"Kapan ya Sasa lupa "jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan menyuruhnya untuk mengingat sesuatu, otaknya tidak akan sanggup" ucap Ramon yang mengetahui kemampuan otak istrinya yang di bawah rata-rata.
"Oh tidak apa-apa jika anda lupa, mari saya akan periksa anda nona " ucap dokter itu dengan tersenyum ramah. Dokter itu merasa pasangan suami istri ini sangatlah unik. Istrinya kurang pintar untung saja suaminya pengertian walau terlihat dari wajahnya dia sedang menahan gemas kepada istrinya.
Saat ini Sasa tengah di baringkan di tempat yang sudah di sediakan oleh dokter dan terpampang jelas layar monitor di depannya. Dokter itu lalu mengoleskan gel yang terasa dingin saat di oleskan di perut Sasa yang masih terlihat ramping itu.
Setelah itu ia menempelkan alat yang ia gerak-gerakan dan terlihatlah benda kecil di sana. Yaitu calon anak Ramon dan juga Sasa.
"Anda bisa lihat kan nona dan tuan muda, benda kecil itu adalah calon anak kalian " ucap dokter itu, Ramon merasa takjub dengan pemandangan di depannya. Ada rasa haru di hatinya jika ia akan mendapatkan seorang anak yang selalu ia impikan.
"Dokter itu anak Sasa lagi ngapain ?" tanya Sasa
Baru saja dokter itu akan menjawab namun langsung terpotong oleh ucapan Ramon. "Dia sedang main bola di sana " ucap Ramon, mendengar jawaban suaminya Sasa malah tertawa.
"Masa iya bayi segede gitu udah bisa main bola, beli bolanya dimana coba" jawab Sasa. Ramon hanya menghela nafas kasar mendengar ucapan istrinya. Lagi pula memangnya apa yang akan di lakukan janin sebesar itu, ada-ada saja pertanyaan Sasako ini. Dokter itu hanya menahan senyum saja melihat interaksi mereka berdua.
Setelah selesai pemeriksaan, dokter itu pun memberikan resep kepada Sasa dan Ramon dan memberitahukan jadwal pemeriksaannya lagi kepada mereka. Setelah itu pun mereka langsung pulang.
__ADS_1
Saat menuju perjalanan pulang ke rumah Sasa meminta Ramon membelikan susu ibu hamil untuknya. Ramon pun setuju dan meminta Ivan untuk mampir berbelanja dulu. Dan tentu saja pria jomblo yang tersisa satu ini langsung merasa merana karena akan menemani pasangan minim akhlak yang tidak tahu tempat saat mereka akan bermesraan.
Tibalah mereka di pusat perbelanjaan, Sasa langsung mencari tempat dimana susu ibu hamil, di ikuti oleh Ramon dan Ivan di belakangnya.
"Mas Ramen di sini..." ucap Sasa sambil setengah berlari yang membuat Ramon panik dan langsung mengejarnya.
"Sasako kau itu sedang hamil jangan lari-lari" tegur Ramon.
"Iya maaf Sasa teh lupa..." ucap Sasa merasa menyesal.Ramon langsung tersenyum melihat ekspresi istrinya yang merasa bersalah .
"Lain kali hati-hati" ucap Ramon sambil mengelus rambut Sasa dengan lembut.
Sasa pun melanjutkan memilih susu mana yang akan dia beli. "Mas liat mendingan yang mana rasa coklat atau rasa vanilla? " tanya Sasa.
"Terserah kau saja mau yang mana, atau beli dua-duanya saja agar kau tidak bosan nanti" jawab Ramon
"Ya udah, Sasa beli dua-duanya aja ya... " Ramon pun mengangguk menanggapinya. Sasa membeli beberapa kotak susu ibu hamil dan juga makanan ringan serta buah-buahan. Tapi sepertinya itu belum cukup karena ia membeli makanan yang lainnya.
Hingga Ramon dan Ivan saling pandang dan menghembuskan nafas kasar. "Jika kau nanti sudah menikah kau juga akan sepertiku Ivan " ucap Ramon.
"Jika kau ingin membeli sesuatu, beli saja " ucap Ramon
"Ahh.. baik pak" jawab Ivan senang karena belanjaanya akan dibayar oleh Ramon. Ivan pun segera mencari barang yang akan dia beli hingga ia tidak sengaja menabrak seseorang.
Brukk....
"Maaf nona.... " ucap Ivan merasa bersalah.
"Apa kau tidak punya mata.. "kesal perempuan itu yang belanjaannya berantakan gara-gara tertabrak Ivan.
"Saya kan sudah minta maaf..." ucap Ivan sambil membantu membereskan belajanjaan perempuan itu.
"Dasar menyebalkan " perempuan itu terus saja menggerutu kesal kepada Ivan.
__ADS_1
"Benda apa ini? " gumam Ivan sambil memegang beberapa bungkusan yang terlihat seperti roti bersayap. Sangat aneh menurut Ivan, ia tidak pernah melihat roti bersayap sebelumnya dan merasa sangat lucu hingga tanpa ia sadari Ivan tertawa sambil memegang benda itu. Gadis itu melihat Ivan tertawa sambil memegang benda kebutuhan bulanannya dan langsung merebutnya.
"Dasar tidak sopan..." ucapnya sambil merebut benda itu kemudian berdiri. Ivan yang tidak mengerti kenapa gadis ini marah hanya mengusap tengkuknya.
"Jangan pernah memegang benda itu lagi, itu tidak sopan... " kesalnya.
"M-maaf nona tapi saya tidak bermaksud begitu" ucap Ivan merasa tidak enak. Saat keheningan terjadi antara mereka berdua muncullah Sasako.
"Mas Ivan di cari-cari teh malah di sini, lagi kenalan ya..." goda Sasa yang menghampirinya dan di ikuti oleh Ramon dari belakang dengan wajah yang datar.
"Kami tidak berkenalan.... " ucap mereka berdua berbarengan.
"Wiihh kompaknya.... " ucap Sasa sambil tertawa cekikikan.
"Ehh... astagfirullah kamu tukang pecel itu kan ya" ucap Sasa yang mengenali Sintia yang sering di sebut tukang pecel oleh anak-anak pokemon.
"Apa...!!! enak saja kau gadis kecil, apa kau masih bersaudara dengan istrinya Regan menyebalkan itu?" tanya Sintia.
"Iya, aku teh Salsa yang cantik jelita sepupunya Sabira " jawab Sasa yang membuat Ramon memutar bola mata malas mendengar namanya di tambahi dengan cantik jelita.
"Sebenarnya istriku lahir di planet mana?" gumam Ramon dalam hati.
"Pantas saja kalian sama-sama makhluk aneh.. " ucap Sintia
"Jangan menghina istriku... " ucap Ramon menatap tajam Sintia hingga membuat Sintia merasa takut.
"Ayo kita pergi...." ajak Ramon pada Sasa dan merangkulnya dengan posesif.
"Wleekkk.... " Sasa menjulurkan lidahnya pada Sintia.
"Awas kau....!!!" kesal Sintia
"Astaga jadi nona, kau ini seorang penjual pecel...??" tanya Ivan geleng - geleng kepala melihat penampilan Sintia yang terlihat cantik dan seksi yang ternyata seorang penjual pecel.
__ADS_1
"Apa kau bilang....!!!"