
Bagas dan Siena memutuskan untuk pulang karena mereka tidak bisa berlama-lama di sana, karena Regan sekarang sedang membutuhkan bantuan dari Bagas. Begitu pun dengan Siena, Bagas tidak bisa meninggalkan istrinya di luar sendirian tanpa pengawasanya, apalagi saat ini Siena sedang hamil.
Ramon sama sekali tidak keberatan karena ia juga ingin berdua dengan Sasa saja. Nyonya Sekar pun harus pergi ke luar kota sekarang karena hari ini adalah pernikahan kerabatnya. Harusnya Sasa dan Ramon hari ini datang, namun melihat kondisi Sasa tidak mungkin jika mereka akan datang. Maka dari itu hanya nyonya Sekar saja yang berangkat sebagai perwakilan keluarga. Tidak enak jika salah satu dari mereka tidak ada satu pun yang datang kesana.
Kini di ruangan itu hanya ada Sasa dan Ramon saja, Ramon kini sedang menyuapi Sasa makan karena ia merasa lapar katanya. Jika sebagian orang hamil akan merasa pusing dan mual juga tidak mau makan. Berbanding terbalik dengan Sasa yang selalu merasa terus lapar sejak ia hamil.
Tapi Ramon merasa senang jika istrinya tidak mengalami kesulitan makan, jadi dia tidak terlalu khawatir kepada istrinya.
"Mas Ramon.... " panggil Sasa
"Apa...?"
"Sasa mau makan rujak dong kayanya enak banget, mas Ramon mau beliin ga? " ucap Sasa dengan wajah memelas membuat Ramon tidak tega saja.
"Baiklah mau makan rujak apa?" tanya Ramon
"Rujak durian...." jawab Sasa
"Apa....astaga Sasa bagaimana rasanya rujak durian mendengarnya saja aku ingin muntah" ucap Ramon sambil bergidik membayangkan makan durian yang di campur dengan bumbu rujak.
"Rasanya pasti aneh lah mas, gimana sihh... " ucap Sasa
"Kalau tahu rasanya pasti aneh, kenapa kau malah mau makan itu Sasako" ucap Ramon merasa aneh geleng-geleng kepala.
"Sasa mau makan rujak buah mas Ramon, yang suka di jual di pinggir-pinggir jalan itu lohh, masa mas Ramon ga tahu... "
"Tapi itu tidak higeinis Sasako... pasti terkena debu jalanan, aku tidak mau kau memakan makanan yang berdebu" ucap Ramon menasihati.
"Terus gimana, Sasa ga boleh makan rujak gitu. Padahal ini anaknya mas Ramon lohh yang mau. Mas Ramon pelit punya uang banyak tapi tidak mau berbagi sama istri" ucap Sasa merajuk kesal.
__ADS_1
"Oh astaga....sepertinya istriku over dosis micin. Dia bilang aku pelit, atmnya bahkan sangat gemuk karena transferanku selama ini" gumam Ramon dalam hati.
"Baiklah aku akan meminta pelayan di rumah saja untuk membuatkannya untukmu" ucap Ramon dan mengambil ponselnya untuk menghubungi orang rumah.
Mendengar akan di buatkan rujak tentu saja ibu hamil yang sedang sakit ini merasa senang. "Sekalian bikinin Sasa cake coklat yang manis dan lembut ya... " pintanya, Ramon pun mengangguk dan langsung bicara pada orang rumah untuk membuatkannya sekalian permintaan istri tercintanya.
"Sudah.... kita tinggal menunggu saja" ucap Ramon membuat Sasa tersenyum senang.
"Mas Ramon mau di cium sama Sasa ga? " anggap saja itu hadiah untuk suaminya yang mau mengabulkan keinginannya.
"Mau sekali sayang...." ucap Ramon sambil menghampiri Sasa dan Sasa pun langsung mencium Ramon membuat hati Ramon merasa senang.
"Mas Ramon Sasa kapan bisa pulang? "
"Nanti aku tanyakan pada dokter ya... " Sasa pun mengangguk.
"Sasa ga betah di sini, Sasa kaya orang sakit aja di sini" ucapnya menyebalkan
"Istriku memang sangat aneh... " gumam Ramon dalam hati.
*
*
*
Ivan hari ini di sibukan dengan mencari siapa pelaku yang sudah melukai istri bosnya itu, sedari tadi Ivan bolak-balik mengecek cctv di rumah itu untuk mencari petunjuk tapi Ivan sama sekali tidak menemukan petunjuk di sana.
Ivan kemudian keluar rumah dan mencari sesuatu, yang mungkin bisa ia jadikan petunjuk di sana. Ivan melihat ke semua arah dan ternyata memang taman samping lah yang memudahkan pelaku itu untuk melempar batu kepada Sasa. Pantas saja hadiah palsu itu di letakan di sana agar memudahkan aksinya.
__ADS_1
Pandangan Ivan mengarah ke arah rumah yang berseberangan dengan rumah Ramon, di rumah besar itu pasti ada cctv. Ivan mencoba datang kesana dan berharap mendapatkan petunjuk. Beruntung pemilik rumah berbaik hati mau memperlihatkan rekaman cctv rumahnya.
Dan benar saja dari arah rumah itu terlihat siapa yang menaruh bungkusan hadiah mengerikan itu. Ternyata benar dugaan Ivan jika pelakunya adalah orang yang sudah mengetahui seluk beluk rumah Ramon. Karena pekerjaan itu di lakukan dengan sangat rapi dan teratur.
Ivan pun mengcopy video itu dari pemilik rumah di sana sebagai bukti kuat untuk membongkar pelakunya nanti. Ivan pun mengucapkan banyak terima kasih kepada pemilik rumah yang berada di seberang rumah Ramon.
*
*
*
Setelah selesai mengcopy video itu, Ivan kembali ke rumah Ramon dan mengumpulkan semua pelayan di sana.
Kini semua pelayan sudah berkumpul di sana, dan Ivan sudah menunggu di ruang tengah yang luas di rumah itu. Para pelayan semua berdiri karena merasa bingung mengapa mereka semua di minta berkumpul di sana.
"Kalian tahu kenapa kalian semua aku minta untuk berkumpul di sini....??! tanya Ivan dengan sangat tegas menatap tajam semua para pelayan di sana.
Mereka semua menggelengkan kepalanya sambil terus berbisik-bisik karena penasaran ada apa sebenarnya.
"Aku ingin salah satu diantara kalian mengaku siapa yang sudah membantu pelaku yang sudah membuat nona Sasa terluka.... jawab....!!!" tanya Ivan dengan sangat marah.
Tidak ada yang mau mengaku diantara mereka semua, para pelayan hanya diam menunduk saja tidak ada yang berani melihat ke arah Ivan yang terlihat menyeramkan saat sedang marah.
"Aku punya bukti kuat, aku hanya ingin salah satu dari kalian mengaku saja. Jika kalian yang merasa sudah membantu penjahat itu ayo mengaku. Jika kalian tidak ada yang mau mengaku, aku sendiri yang akan menyeret kalian ke kantor polisi sekarang juga..!!!"
*
*
__ADS_1
*
Udah up tiga bab nihh, saweran like ya mana dong 💃💃😘😘