Me Vs Love (Jodoh Yang Tertukar)

Me Vs Love (Jodoh Yang Tertukar)
Bab 77


__ADS_3

Sudah dua bulan pernikan Ivan dan Sintia, tapi masih belum ada kemajuan apapun. Mereka memang tidur dalam satu ranjang dan satu selimut, tapi hanya sebatas tidur saja tidak ada kemajuan apa pun.


Sebenarnya Sintia sama sekali tidak merasa keberatan jika Ivan meminta hak nya, namun pria itu malah terlihat biasa saja. Ivan pria yang terlalu lurus dia lebih kaku dari Bagas si asistent pelit yang sudah berhibernasi menjadi asistent mesum. Ivan ini jangan kan mesum, melihat Sintia penuh nafsu saja tidak, Sintia merasa kecewa. Sungguh Sintia merasa tidak di butuhkan oleh Ivan, dan itu membuatnya berkecil hati.


Seperti biasa setelah pulang dari kantor Ivan langsung mandi dan setelah itu makan lalu kerja lagi sangat membosankan. Jika dulu Sintia selalu bersikap genit dan ganjen pada Revan tapi entah kenapa jika dengan Ivan ia merasa tidak berani bersikap seperti itu. Entahlah, apa mungkin karena sudah tobat Sintia jadi merasa malu jika bersikap seperti itu.


Saat Ivan sedang mandi terdengar bunyi ponsel Ivan berdering. Sintia melihatnya dan ternyata itu panggilan dari Ramon. Sintia tidak berani mengangkatnya jadi ia memutuskan untuk memanggil Ivan saja.


"Ivan.... ada telepon !!"ucap Sintia sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Siapa....!!!" teriak Ivan


"Ramon.... "


"Angkat saja dan bilang aku sedang mandi... "


"Baiklah..." Sintia pun langsung mengangkat panggilan dari Ramon itu.


"Hallo... " ucap Sintia.


"Hallo...eh ternyata mba Sinti pengantin baru. Gimana kabarnya?" terdengar suara cempreng dari Sasako. Mendengar suara makhluk micin Sintia langsung melihat ke arah ponselnya takut Sintia salah baca. Tapi benar nama yang tertera di ponsel adalah nama Ramon. Sudahlah Sasako kan istrinya Ramon pikir Sintia.


"Kabarku baik... "jawab Sintia


"Aihh lemes banget suaranya, abis bercocok tanam ya..?" tanya Sasa


"A-apa bercocok tanam? "tanya Sintia

__ADS_1


"Iya bercocok tanam, main kikuk-kikuk masa gak tahu"goda Sasa, makhluk micin ini lupa maksud utamanya menelepon Ivan.


"Tidak, aku tidak melakukannya dengan Ivan" jawab Sintia, maksud Sintia adalah ia barusan tidak melakukan hal itu dengan Ivan karena Sasa bertanya kenapa suaranya lemas. Namun yang di tangkap oleh otak Sasako yang sebesar butiran micin adalah jika Sintia tidak pernah bercocok tanam dengan Ivan.


"Astagfirullah mba Sinti belum di oprek-oprek sama mas Ivan? "tanya Sasa ucapnya dengan mulut kecilnya yang minim akhlak itu.


"A-apa...? "tanya Sintia


"Mba Sinti belum pernah kikuk-kikuk sama mas Ivan?"tanya Sasa lagi.


"B-belum " jawab Sintia yang berpikir darimana Sasako tahu jika dirinya tidak pernah melakukan praktek cara berkembang biak dengan Ivan. Jika saja Sasa melihat, wajah Sintia sudah terlihat seperti kepiting rebus yang siap di masak. Baru kali ini Sintia merasa malu, bahkan sangat malu dengan sebuah pertanyaan.


"Ck.... ck... ck... gimana mas Ivan teh, jangan-jangan gak normal lagi. Atau mungkin mas Ivan itu Homring? "tanya Sasa


"Homring, apa itu.? "tanya Sintia


"Mana aku tahu, itu kan kata-katamu "jawab Sintia


"Kudet ah gak gaul... " jawab Sasa sambil menggaruk kepalanya.


"Terserah, aku pusing bicara denganmu"ucap Sintia


"Ishhh... ishhh jangan marah atuh, mau tahu ga gimanna caranya supaya kita tahu mas Ivan itu homring atau bukan?'


"Bagaimana caranya? "tanya Sintia penasaran, karena suaminya selama ini seperti sama sekali tidak pernah tertarik padanya.


"Gampang banget itu mah.... " jawab Sasa

__ADS_1


"Bagaimana, cepat beri tahu aku..." ucap Sintia mulai gemas dan tidak sabar.


"Pegang aja gagang sapunya, berdiri apa enggak kalau berdiri normal kalau gagang sapunya cuma tiduran berarti gak normal " ucap Sasa


"A-apa, benarkah begitu caranya? " Sintia meyakinkan


"Iya, coba aja kalo gak percaya..." ucap Sasa, Sintia terlihat berpikir. Sangat aneh memang wanita sepintar Sintia harus mendengarkan saran konyol dari istri bos suaminya itu.


Ceklek...


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, terlihat Ivan keluar kamar mandi dengan memakai pakaian santainya.Namun justru Ivan terlihat lebih tampan dengan pakaian seperti itu. Jika biasanya Sintia melihat Ivan dengan pandangan biasa. Namun kini pandangan Sintia tampak menyelidik pada Ivan.


Merasa tatapan istrinya agak lain, membuat Ivan merasa heran apalagi Ivan melihat Sintia dengan masih memegang ponselnya dan menempelkannya di telinga tanda panggilan masih berlangsung.


"Pak Ramon menanyakan apa? "tanya Ivan


Namun Sintia tidak menjawab malah pandangannya menuju ke arah gagang sapu milik Ivan. Melihat istrinya terus melihat ke arah sana Ivan dengan refleks menutup pisang importnya dengan tangannya.


"Apa benar harus di pegang dulu? "gumam Sintia dalam hati sambil terus memandang ke arah gagang sapu Ivan.


"Kenapa dia terus melihat pisangku...?"


*


*


*

__ADS_1


Aihh di pegang ga ya sama Sintia pisang. importnya mas Ivan πŸ˜†πŸ˜†takutnya nanti gagang sapu mas Ivan di pake ngulek pecel sama Sintia 😝😜


__ADS_2