Me Vs Love (Jodoh Yang Tertukar)

Me Vs Love (Jodoh Yang Tertukar)
Bab 76


__ADS_3

Pesta pernikahan Ivan kini sudah selesai, para tamu sudah pulang begitu pun para tamu istimewa Ivan yaitu makhluk - makhluk aneh beserta pasangannya yang sudah terkontaminasi virus menyebalkan yang menguji kesabaran.


Sintia langsung di bawa oleh Ivan ke apartementnya, karena Ivan tidak ingin malam pertamanya di recoki oleh ibunya yang kepo. Yang sejak tadi tak berhenti mengucap syukur karena anaknya sudah laku dan menikah. Astaga sebegitunya pandangan tentang Ivan di mata ibunya sendiri. Yang selalu di sangka bujang lapuk yang tidak laku. Padahal Ivan adalah pria yang masih muda dan tampan serta karier yang cemerlang. Banyak wanita yang mendekatinya, hanya memang belum ada yang mampu menggetarkan hatinya.


Kini mereka berdua sudah sampai di apartement Ivan, sedari perjalanan Sintia banyak berpikir jika ia harus menyiapkan mental yang kuat jika berinteraksi dengan para istri ajaib 4R di tambah istri Stevan Sera. Namun setidaknya Danisa dan Siena masih terlihat normal di mata Sintia.


Melihat Sintia melamun Ivan pun bertanya kepada wanita yang beberapa jam lalu telah sah menjadi istrinya itu.


"Apa yang kau pikirkan? kau mau terus berdiri seperti itu sampai pagi? "tanya Ivan


"Oh.. i-iya maaf, tadi aku sedang memikirkan sesuatu" jawab Sintia.


"Kau tidak perlu khawatir aku tidak akan menyentuhmu jika kau belum siap... " ucap Ivan


"A-apa...? "tanya Sintia


"Kau tenang saja gagang gayungku tidak akan menancab di lahanmu untuk sekarang, jadi kau bisa tenang. Aku mengerti kita belum lama mengenal.Jadi kita bisa mulai saling mengenal dulu sekarang" ucap Ivan santai sambil membuka pakaiannya yang membuatnya tidak nyaman sedari tadi.


"Oh iya tidak masalah, aku mengerti. Jadi dimana kamarku?" tanya Sintia yang mengira jika Ivan tidak mau sekamar dengannya.


"Untuk kamar kita satu kamar saja, hitung - hitung perkenalan" ucap Ivan, Sintia pun mengangguk mengerti. Ivan pun kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dari tadi.


"Ivan... "panggil Sintia


"ya... " langkah Ivan terhenti dan menoleh sambil memegang gagang pintu kamar madi.


"Aku sudah berubah, aku tidak mencintai Revan lagi dan akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu" ucap Sintia serius


"Emm, aku tahu. Aku mandi dulu "ucap Ivan

__ADS_1


"Iya... " jawan Sintia


*


*


*


Di kediaman Adyatama


"Mas Ramon...." panggil Sasa


"Istriku ternyata sedang normal, dia memanggil namaku dengan benar" gumam Ramon dalam hati


"Apa sayang.... "jawab Ramon, sambil memeluk tubuh kecil Sasa dan mendekapnya ke dalam pelukannya yang hangat.


"Kau ini sedang lapar, tapi malah menggodaku" jawab Ramon.


"Boleh ga? "rengek Sasa


"Tidak boleh, kasihan anaku nanti kepedasan di dalam sana" ucap Ramon.


"Pelit... "


"Minta yang lain.... "Ucap Ramon sambil menutup matanya dan merasakan sentuhan Sasa yang lembut.


"Kalo gitu minta......? " Sasa terlihat berpikir sebelum mengucapkannya, dalam hati Ramon berdoa semoga permintaan istrinya tidak menyulitkannya.


"Emmmm Sasa minta cilok.... " ucapnya.

__ADS_1


"Malam-malam begini siapa yang jualan cilok Sasako" ucap Ramon mencubit pipi Sasa dengan gemas.


"Ada di kulkas, tadi siang di bikinin sama pelayan " ucap Sasa, Para pelayan sengaja membuat makanan kesukaan istri majikannya itu karena setiap kali makanan itu harus ada di rumah.


"Baiklah, ayo kita ke bawah... " ajak Ramon.


"Ayo siap bos... " ucap Sasa membuat Ramon menjadi gemas.


*


*


*


Malam-malam Ramon membuatkan makanan kemauan istrinya, karena Sasa melarang Ramon membangunkan pelayan. Kasihan mereka sudah lelah seharian dan malam-malam di bangunkan hanya untuk merebus cilok.


"Di kantor semua orang menghormatiku, tapi di rumah aku di suruh merebus cilok oleh istriku" gumam Ramon


"Yang ikhlas atuh masakya, jangan sambil ngedumel" ucap Sasa.


"Aku ikhlas sayang.... ikhlaaasss sekali memasak cilok untuk istriku yang cantik ini" ucap Ramon memaksakan senyumnya.


"Senyumnya jelek jangan di paksain... "


Ramon hanya geleng-geleng kepala saja, "jangan dijawab Ramon jika tidak mau urusannya jadi panjang "


Tak lama makanan bulat berbahan dasar tapioka itu sudah siap untuk istrinya. Ramon merasa heran kenapa istrinya suka sekali makanan itu, apalagi di campur dengan kaki ayam dan tulang ayam.


"Aku bisa membelikannya daging yang banyak, kenapa yang ia makan hanya tulangnya saja... " Ramon bergumam dalam hati melihat Sasa begitu lahapnya memakan makanan itu. Sedangkan Ramon hanya jadi penonton saja, karena melihat istrinya makan membuat ia menjadi kenyang.

__ADS_1


__ADS_2