Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
13. Akhiri saja


__ADS_3

Sampai di meja makan, di sana sudah ada Nyonya Belinda dan seorang pria yang masih berusia muda. Melihat itu, Hajar mendengus kesal mengingat tempo hari Bryan mencuri ciumannya, padahal mereka sudah mantan.


"Selamat malam Tuan" sapa Bryan.


"Hm"Chandra menatap tajam wajah Bryan, sambil menurunkan Hajar dari gendongannya. Dan Bryan langsung menunduk.


"Selamat malam Nona Hajar" sapa Bryan lagi.Namun Hajar tidak membalas sapaannya.


Setelah Chandra duduk di kursi yang biasa ia duduki. Hajar langsung berinisiatif menyiapkan makanan ke piring Chandra dan bergantian mengisi piring Nyonya Belinda. Seperti janjinya, ia akan menjadi istri dan menantu yang baik.


"Trimakasih sayang" Nyonya Belinda mengulas senyumnya dan mengusap bahu Hajar.


"Sama sama Ma" balas Hajar mengambil piring Bryan untuk mengisinya.


"Tak perlu kau melayaninya."


Sontak tangan Hajar berhenti menyendok nasi ke piring di tangannya.


"Biarkan saya sendiri yang mengambilnya Nona." Bryan mengambil piring itu dari tangan Hajar.


"Baiklah" Hajar memberikan piring itu kepada Bryan. Kemudian Hajar melangkahkan kakinya untuk duduk di samping Chandra.


Setelah Hajar mengambil makanan untuknya, mereka pun mulai menikmati makanan di piring masing masing.


"Kapan rencana kalian berbulan madu?" tanya Nyonya Belinda di selah selah makannya.


"Untuk apa?"tanya balik Chandra.


"Ck kau itu" kesal Nyonya Belinda.Untuk apa lagi berbulan madu? kalau bukan untuk memproses cucu untuknya."Apa kamu tidak berniat memberikan Mama cucu?."


"Iya Om, mumpung Hajar belum masuk kuliah" sambung Hajar dengan wajah berbinar.


"Kita bisa melakukannya di kamar sebanyak yang kamu mau. Buat apa harus pergi jauh jauh?"ucap Chandra santai, mengunyah pelan makanan di mulutnya."Pergi jauh jauh,tetap juga kita melakukannya di dalam kamar" lanjutnya tanpa melihat lawan bicaranya.


Hajar memutar bola mata malas. Kalau tidak melakukannya di kamar, trus dimana lagi?. Di kolam renang, di pinggir pantai, atau pusat perbelanjaan?, pikir Hajar.


"Apa salahnya kamu membawa istrimu liburan. Membuat hatinya senang, supaya kalian cepat di karuniai momongan"sambar Nyonya Belinda menatap kesal anak satu satunya itu.


Chandra diam tidak menjawab, memilih pokus untuk menikmati makanan di piringnya. Menghiruakan tatapan Nyonya Belinda, dan Hajar yang memberenggut dan menghentakkan kakinya di bawah meja.


Dasar Om om,batin Hajar.


Setelah selesai makan, Chandra langsung berdiri dari kursinya. Melangkahkan kakinya setelah memberi isyarat kepada Bryan, supaya Bryan mengikutinya.


"Permisi Nyonya, Nona trimakasih untuk makan malamnya" pamit Bryan, segera berdiri dari kursinya dan mengikuti langkah Chandra.


"Sampaikan pada bosmu itu, kalau aku tidak akan memberikannya lagi jatah ranjang" seru Hajar, kesal karna Chandra pergi tanpa berpamitan padanya. Tidak ada basa basi untuk memperlakukannya layaknya istri.


Bryan yang belum jauh dari meja makan, menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, tersenyum pada Hajar.


"Baik Nona"


Hajar mendengus melihat senyum Bryan yang manis yang mampu memikat hatinya. jika saja Bryan lebih banyak duit, pasti Hajar sudah memilih Bryan untuk menjadi suaminya.


Sedangkan Hajar dan Nyonya Belinda, mereka memilih menghabiskan waktu di meja makan, sambil menikmati makanan penutup yang di siapkan pelayan rumah itu.


.


.


"Ini tuan, surat pemindahan sahamnya" ucap Bryan setelah berada di ruangan kerja Chandra.

__ADS_1


Chandra meraih berkas tersebut dan membacanya.


"Hm baiklah" Chandra menyimpan surat itu ke dalam laci mejanya." Kau urus liburanku bersama Hajar" perintahnya kepada Bryan.


"Baik Tuan, tapi Tuan ingin liburan kemana?"tanya Bryan.


"Kamu pasti tau tempat tempat yang di sukai Hajar" Chandra menatap Bryan dengan malas.Kenapa ia harus menikahi mantan pacar asisten pribadinya itu?. Chandra berpikir, Bryan pasti sudah sering menikmati bibir mungil istrinya itu.


"BaikTuan" patuh Bryan lagi.


"Hm keluarlah"


Bryan yang di usir Tuannya, pun langsung keluar dari ruangan itu.


Saat akan masuk ke dalam lif untuk turun ke lantai bawah. Bryan berpapasan dengan Hajar. Bryan menghentikan langkahnya, memperhatikan Hajar yang membawa secangkir minuman berwarna kuning kecoklatan.


"Oh ya Bryan, apa bosmu masih di ruang kerjanya?" tanya Hajar dengan wajah berbinar.


"Masih" jawab Bryan singkat.


"Oh" Hajar mengangguk pelan.


Bryan pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lif. Tak ingin Tuannya menaruh curiga jika berlama lama berbicara dengan Hajar.


Coba kamu gak matre Hajar, saat ini kamu masih menjadi kekasihku,Batin Bryan.


Hajar sangat cantik dan wajahmya imut, jika ingin mencari penggantinya, sangat sulit mencari yang lebih cantik dari Hajar.


Hajar yang sudah sampai di depan pintu ruag kerja Chandra. Mengetuk pintu itu sebelum memutar knopnya.


"Om" Hajar tersenyum, melangkahkan kakinya ke arah meja Chandra dengan membawa secangkir minuman di tangannya.


Dan Chandra, ia mengerutkan keningnya melihat minuman yang di letakkan Hajar di atas mejanya.


"Jamu Om"


Chandra semakin mengerutkan keningnya, untuk apa Hajar membawa jamu untuknya?.


"Untuk apa?"


Hajar berdecak, kemudian mendudukkan tubuhnya di pangkuan Chandra.


"Itu jamu alami yang terbuat dari rebusan rimpang rimpangan. Berkasiat untuk menambah stamina dan menyuburkan pria dan wanita" jawab Hajar.


Chandra mengulum senyumnya mendengar penjelasan istri kecilnya itu. Kemudian Chandra pun meraih dagu Hajar.


"Katakan gadis manis, apa menurutmu aku kurang berstamina? Hm!."


"Sepertinya begitu" Hajar tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Chandra.


"Tapi aku tidak percaya, aku bisa melihat buktinya, kau selalu kalah" Chandra mengecup singkat bibir Hajar.


Hajar pun meraih gelas tadi dari atas meja, mendekatkannya ke bibir Chandra. Dan Chandra menjauhkan bibirnya.


"Apa ini salah satu caramu untuk mengalahkanku?" tanya Chandra curiga. Bisa saja 'kan Hajar memberi sesuatu ke dalam jamu itu.


"Ck! aku takkan bergairah menikmati tubuh yang tidak sadar." Hajar kembali mendekatkan gelas di tangannya ke bibir Chandra.


"Baiklah, tapi kamu jangan menyesal jika membuatmu tidak tidur semalaman." Chandra meraih gelas itu dari tangan Hajar, dan menyesap sedikit jamu itu, kemudian meletakkannya di atas meja.


"Istirahatlah ke kamar, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu" ucap Chandra memperhatikan wajah cantik Hajar.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku menunggu Om di sini?" Hajar menyandarkan kepalanya ke dada bidang Chandra. Hajar memejamkan matanya,Jujur, Hajar sangat merasa nyaman.


Chandra diam tidak menjawab, dan membiarkan Hajar berada di pangkuannya.


"Om, bagaimana kalau kita akhiri saja pernikahan ini?" gumam Hajar dengan mata terpejam.


Sontak Chandra menghentikan gerakan jarinya di atas keyboard laptopnya.


"Bagaimana bisa kita berada di kamar yang sama, dengan tujuan yang berbeda" lanjut Hajar.


"Apa karna aku ini Om om?"Chandra berdecih, dan tersenyum miring.


"Aku yakin Om punya alasan sampai tak ingin membuatku hamil. Bisa saja Om mencintai wanita lain di luar sana. Atau Om sudah memiliki anak dari wanita lain."


Chandra terdiam, membenarkan tebakan Hajar.


"Gak apa apa Om, aku akan mengembalikan semua uang yang diberikan Nyonya Belinda untuk Hajar. Hajar tidak akan membawanya sepersen pun" ucap Hajar lagi, terdengar isak tangis dari bibirnya.


"Ya, aku memang cewek matre Om. tapi aku juga ingin memiliki masa depan, memiliki rumah tangga yang bahagia, dan juga memiliki anak."


"Tapi kalau Om gak sudi, Hajar mengandung anak Om. Mending kita sudahi pernikahan ini!" Hajar semakin menangis terisak, namun sebelah matanya melirik wajah Chandra.


Chandra menghela napasnya, tanpa berbicara, ia berdiri dari kursinya, membawa Hajar keluar dari ruang kerjanya,masuk ke kamar mereka.


"Istirahatlah" Chandra meletakkan tubuh Hajar dengan hati hati di atas kasur. Setelah menarik selimut untuk Hajar, Chandra langsung berlalu keluar kamar, masuk ke ruang kerjanya kembali.


Chandra mendudukkan tubuhnya kembali di kursi kerjanya, duduk termenung tanpa melakukan apa pun.


Di dalam kamar, Hajar mendudukkan tubuhnya setelah Chandra menghilang di balik pintu. Hajar berdecak, karna usahanya gagal untuk meluluhkan hati seorang Chandra.


Apa aku mencoba kabur aja ya?, kira kira di cariin gak ya?. Batin Hajar


Hajar berpikir, jika ia semakin mengejar Chandra, maka akan semakin sulit untuk mendapatkannya. Dan bagaimana jika dia menjauh, maksud Hajar pura pura menjauh. Sayang dong lumbung duit segede itu di tinggalin.


Tapi jujur, selain karna uang, tentu Hajar juga menginginkan kehadiran anak di dalam pernikahannya dan Chandra.


Ah! mumpung Om Chandra di ruang kerjanya, mending aku pergi dari sini, bati Hajar lagi.


Gegas Hajar langsung turun dari atas kasur dan keluar kamar. Malam ini Hajar akan melakukan adegan istri minggat dari rumah. Untuk melihat kira kira seperti apa reaksi suaminya.


Sampai di depan rumah, Hajar berjalan mengendap ngendap di balik bunga. Supaya Pak security yang berjaga tidak melihatnya keluar gerbang.


"Nona!, Nona mau kemana?, Nona tidak boleh keluar rumah."


Duh!,


Hajar memejamkan matanya karna ketahuan, kemudian Hajar membalik badannya ke arah security yang berdiri di belakangnya.


"Buka gerbangnya sebentar ya Pak!, teman saya mau datang sekarang. Dia sudah mau sampe katanya" jawab Hajar tersenyum.


"Oh! kirain tadi Nona mau kabur, jalannya ngendap ngendap." balas security itu.


"Hehehe...sebenarnya tadi sih mau ngagetin Bapak. Malah Bapak yang ngagetin saya" cengir Hajar.


Security yang berjaga itu pun membuka gerbang untuk Hajar.


"Trimakasih Pak!" seru Hajar berlari cepat keluar dari gerbang.


"Nona! Nona tidak boleh keluar!" seru security itu mencoba mengejar Hajar. Namun percuma, Hajar sudah kabur bersama ojek online yang di pesannya.


"Mampus, Pak Bos pasti memarahiku" gumam Pak security itu lemah.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2