Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
61. membayarku


__ADS_3

Chandra mengikuti Hajar masuk ke dalam kamar dengan santai. Lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Love you sayang" rayunya dengan manis.


"Aku gak suka Om menggangguku kalau aku bersama teman temanku" rajuk Hajar yang sudah luluh hatinya mendengar kata cinta dari Chandra.


"Kamu sangat cantik dan masih muda, Om kawatir kalau kamu dekat dekat dengan pria pria ingusan itu" Chandra berbicara terdengar kesal.


"Tapi aku gak menyukai mereka" balas Hajar.


"Aku tau, kamu hanya menyukai uang Om" ucap Chandra.


"Siapa bilang?."


"Jadi kamu menyukai Om juga?" Chandra tersenyum lalu mengecup pipi Hajar dari samping. Hajar menganggukkan kepalanya, bibirnya di tekuk ke atas sambil tersenyum.


"Ayo istirahat, sepertinya bayi kita sudah lelah. Dia butuh tidur siang." Chandra mengangkat tubuh Hajar membawanya ke tempat tidur." Tubuh Om juga sangat lelah, Om juga mau istitahat." Setelah membaringkan Hajar di atas kasur, Chandra pun membuka sepatu yang melekat di kaki Hajar. Lalu membuka sepatunya dan menyusul berbaring di samping Hajar.


Baru saja memejamkan mata, suara pintu pun terdengar diketuk dari luar. Chandra membuka matanya kembali dan turun dari atas tempat tidur untuk membukakan pintu.


"Tuan, Nyonya datang bersama Ibu Misra" ucap pembantu yang mengetok pintu setelah Chandra membukanya.


Mendengar itu, Hajar turun dari atas tempat tidur, berjalan mendekati Chandra dan mendorongnya keluar kamar dan langsung menutup pintu kamar itu menguncinya rapat rapat.


"Sayang" tegur Chandra kaget.


"Aku gak mau bertemu sama Ibunya Om!" seru Hajar dari dalam kamar. Hajar masih tidak bisa memaafkan Nyonya Belinda yang pernah memenjarakannya dan menikahkan Chandra dengan Amel.


"Kalau Om memaksa, aku akan melompat dari jendela!" seru Hajar lagi. Berpikir kalau Chandra menyuruh Ibu Misra untuk membawa Nyonya Belinda ke rumah itu,Hajar tidak berani menolaknya.


"Sayang!" balas Chandra berseru.


"Lebih baik kita bercerai Om, dari pada harus berbaikan dengan Ibunya Om!" ucap Hajar lagi.


Chandra terdiam, begitu bencinyakah Hajar kepada Ibunya?. Apa iya, sifat Bruno dan Taslin menurun pada Hajar?, pendendam.


"Hajar, buka pintunya sayang, dengarin Om dulu Hajar!" bujuk Chandra.


"Bawa pergi Ibu Om dari rumah ini!."


Chandra menghela napasnya, dia tidak menyangka hati Hajar sekeras itu, tidak bisa menerima Ibunya lagi.


"Hajar" tegus Chandra.

__ADS_1


"Ibu pulang saja, kalau dia tidak menerima Mama di sini."


Mendengar suara Ibunya, Chandra langsung menoleh ke wanita tua di sampingnya. Semenjak kapan Ibunya berdiri di sampingnya?. Berarti Nyonya Belinda mendengar semua apa yang dikatakan Hajar dari dalam kamar.


"Mama" gumam Chandra menatap kasihan pada Mamanya.


Nyonya Belinda sudah menyesal, dan dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Hajar. Namun gadis kecil itu masih sakit hati.


"Gak apa apa" Nyonya Belinda mengulas senyumnya. Dia tulus ingin memperbaiki hubungannya dengan Hajar. Jika Hajar belum menerimanya, Nyonya Belinda tidak akan sakit hati.


"Maafin istriku Ma, maklum dia masih anak anak, ke egoisannya masig tinggi" ucap Chandra.


Nyonya Belinda menganggukkan kepalanya. Berpikir Hajar butuh waktu untuk bisa memaafkannya. Mungkin esok atau lusa, hati Hajar akan luluh mau memaafkannya.


"Mama pulang dulu" pamit Nyonya Belinda.


"Biar aku mengantar Mama" balas Chandra mengikuti langkah Nyonya Belinda masuk ke dalam lif untuk turun ke lantai bawah.


Hajar yang berdiri di balik pintu, menghentakkan sebelah kakinya ke lantai mendengar Chandra akan mengantar Nyonya Belinda pulang.


"Dulu aja datang merayu rayu supaya aku mau jadi menantunya. Setelah itu langsung memecatku jadi menantu setelah mengetahui siapa aku, bahkan memenjarakanku. Sekarang semudah itu dia mau baikan?. Enak saja! dia pikir semua bisa suka suka duit dia?" gerutu Hajar melangkahkan kakinya ke arah sofa di kamar itu.


.


.


Setelah Ibu Misra, suami dan anaknya tidak terbukti bersalah, atas kesaksian Caroline. Mereka pun di bebaskan oleh polisi. Setelah itu, hubungan Nyonya Belinda dan Ibu Misra pun kembali membaik. Tadi pagi, Nyonya Belinda mendatangi rumah Ibu Misra, meminta tolong supaya membawanya bertemu dengan Hajar.


"Hajar tidak mau bertemu Mama" jawab Chandra.


"Kalian tunggulah di sini, biar aku mencoba membujuknya" ujar Ibu Misra langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam lif.


Chandra dan Nyonya Belinda pun mendudukkan tubuh mereka di sofa ruangan itu. Mereka akan menunggu Ibu Misra turun, semoga saja Hajar luluh jika Ibu Misra yang membujuknya.


"Mama keterlaluan dalam bertindak. Mama selalu berpikir semua bisa di bereskan dengan uang" ucap Chandra pada Ibunya.


"Mama hanya ingin melindungi kita" balas Nyonya Belinda.


"Tapi tidak sembarangan bertindak Ma. Lihatlah sekarang Hajar sakit hati, dia sulit untuk memaafkan Mama" ucap Chandra lagi.


"Itu karna kamu bodoh. Coba saja kamu mau menikah dari dulu, pasti semua itu tidak akan terjadi. Kamu jangan menyalahkan Mama terus dong!. Kesalahan juga berasal dari kamu" bantah Nyonya Belinda tak terima.


Chandra diam dan menghela napasnya, tak ingin berdebat panjang dengan Ibunya.

__ADS_1


Ibu Misra yang sudah sampai di depan pintu kamar Hajar dan Chandra, mengetok pintu itu sambil memanggil Hajar.


"Hajar! ini Mama!" seru Ibu Misra.


Hajar yang berada di dalam kamar mengerutu tidak jelas. Pasti Chandra yang menyuruh Mamanya untuk membujuknya ke kamar.


"Bilang sama Nyonya Besar untuk memindahkan semua sahamnya atas namaku Ma!"balas Hajar berseru.


Mampus Nyonya Belinda, pikir Ibu Misra.


"Iya, tapi buka pintunya dulu!" seru Ibu Misra lagi.


"Lagi mala gerak Ma."


"Mama mau lihat kamu sayang. Kata Caroline kamu susah hamil."


"Iya Ma!"


"Ayo dong sayang, buka pintunya!. Mama kangen tau sama kamu!."


Ceklek


Pintu itu pun terbuka dari dalam, Hajar langsung menarik Ibu Misra masuk dan kembali menutup pintunya dan tidak lupa menguncinya.


"Aku gak mau ketemu Nenek lampir itu Ma. Aku takut wajah anakku mirip dengannya. Mama bilang sama dia nanti, kalau mau bertemu denganku tunggu anakku lahir" ucap Hajar melangkahkan kakinya kembali ke sofa.


"Ada ada aja kamu" Ibu Misra mengecup kening putri manjanya itu, lalu mengelus perutnya.


"Kamu gak mengalami ngidam?" tanya Ibu Misra melihat Hajar baik baik saja, seperti orang tidak hamil.


"Ngidam duit Ma" jawab Hajar mengambil cemilannya dari atas meja dan langsung menyuapkannya ke mulut.


"Kamu, gak usah hamil pun, semua orang ngidam duit." Ibu misra mengulas senyumnya, ada ada aja putrinya itu." Kamu mau ya baikan dengan Ibu mertuamu."


"Gak Ma" tolak Hajar cepat.


"Kasihan dia Hajar, Ibu mertuamu sudah tua. Gak bagus menyimpan dendam" nasehat Ibu Misra.


"Aku gak dendam Ma" balas Hajar." Dulu dia membayarku untuk jadi menantunya. Jika dia masih ingin aku menjadi menantunya, dia juga harus membayarku. Dan mengembalikan uang bayaranku yang sudah kukembalikan" jelas Hajar.


"Dan kembali ke perjanjian awal, dia harus membayar bayi di perutku ini. Jika dia ingin bayi ini menjadi cucunya" lanjut Hajar lagi.


"Hei! kenapa kamu bodoh?. Bayi di perutmu itu jelas anak Chandra, sudah jelas bayi itu cucu dari Nyonya Belinda. Di bayar atau tidak di bayarnya" gemas Ibu Misra menjewer telinga Hajar.

__ADS_1


"Sakit Ma"


*Bersambung


__ADS_2