
Semenjak bangun tidur, Chandra terus memandangi wajah Hajar yang masih terlelap di dalam pelukannya. Chandra tersenyum dan sesekali mengecup bibir mungil istri kecilnya itu.
Meski mengkawatirkan Nyonya Belinda, namu Chandra sangat suka berada di tempatnya yang baru. Di sebuah Villa yang berada di pinggiran kota kecil. Disana udaranya masih sejuk dan banyak pepohonan di sekitarnya. Chandra akan menghabiskan waktu bersama Hajar di Villa itu, setidaknya sampai mereka memiliki anak. Dan tentunya bersama Amel juga.
"Ugh!" Hajar bergumam sembari menggeliatkan tubuhnya karena merasakan bibirnya terus di tempeli benda keyal. Chandra pun semakin menjadi jadi mengecupi bibir mungil itu, sehingga membuat Hajar terbangun dari tidur lelapnya.
"Pagi cinta"
Hajar yang baru membuka mata, mengerutkan keningnya saat melihat damar samar wajah pria yang tersenyum di sampingnya.
"Om" gumam Hajar kembali memejamkan matanya yang masih ngantuk.
Cup!
Satu kecupan mendarat lagi di pipinya. Chandra semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Hajar, Membuat kulit mereka menempel dengan sempurna di bawah selimut.
Sontak Hajar membuka kembali kelopak matanya, melihat kembali wajah Chandra. Dia tidak mimpi bukan?. Awalnya Hajar berpikir kalau dia hanya berhalusinasi melihat Chandra. Tapi nyatanya benar kalau Chandra ada di sampingnya.
"Ada apa? Hm..!"
Hajar tidak menjawab, bola matanya terlihat bergerak gerak, ke kiri ke kanan, ke atas dan ke bawah.
"Kenapa Om bisa berada di kamarku?" tanya Hajar.
"Karena aku suami mu" Chandra semakin mengulas senyumnya, satu tangannya pun terangkat merapikan rambut Hajar yang berantakan di wajahnya.
Seketika Hajar mengingat vidio yang menunjukkan Chandra yang sudah menikah dengan Amel. Raut wajah Hajar langsung berobah marah dan menatap Chandra, benci.
"Suami?" geram Hajar langsung mendudukkam tubuhnya." Oh my god!" gumam Hajar saat melihat tubuh polosnya.Tatapannya pun semakin tajam menghunus wajah Chandra. Om Om di sampingnya itu sangat suka membuatnya tidur tanpa pakaian.
"Om jahat!" lirih Hajar dengan bibir bergetar. Hajar pun memanjat tubuh Chandra, dan langsung menarik kuat ramput pria itu, Hajar juga mencakar cakar wajah Chandra sambil menangis.
"Hajar! sakit sayang" Chandra yang merasakan perih di wajahnya, berusaha menangkap kedua tangan Hajar, dan menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.
"Om Jahat!" Tangis Hajar semakin pecah di dalam pelukan Chandra. Dia tidak tau harus mengatakan apa lagi. Saat ini dia hanya ingin menangis, berharap kesedihannya, beban pikirannya bisa hilang.
Meski berniat meninggalkan Chandra, tapi hatinya tetap tidak rela melihat suaminya bersanding dengan wanita lain. Meski Chandra sudah tua dan kakek kakek sekali pun.
"Kamu yang jahat" balas Chandra, mengusap usap kepala Hajar sembari tersenyum.
__ADS_1
Hajar meronta ronta ingin di lepas. Dia ingin pergi, dia gak mau di gilir dengan Amel.
"Lepas Om, aku gak mau di madu" ucap Hajar, karena Chandra semakin mengeratkan pelukannya.
"Makanya jangan main kabur, jadi suaminya di embat wanita lain 'kan!." Chandra semakin mengulas senyumnya, tak ingin memberitahu Hajar soal statusnya dengan Amel, yang hanya suami istri di atas kertas.
"Aaaa...! sayang!" jerit Chandra seketika saat Hajar menggigit kuat dadanya.
Hajar benar benar marah, selain sudah di madu, ternyata Chandra yang menculiknya. Chandra sudah dua kali menculiknya dengan kejam.
Tidak terima di gigit Hajar, Chandra pun membalik tubuhnya, membuat posisi Hajar berada di bawah tubuhnya.
"Om tidak suka wanita kasar, Hajar!" Meski berbicara lembut, namun itu terdengar tegas di telinga Hajar, berhasil membuat Hajar sedikit menciut.
Bagaimana Chandra tak ingin marah, Hajar sudah membuatnya kesakitan. Kulit kepala yang terasa panas, wajah yang sudah tergores gores bekas kukunya, dan dadanya yang membiru bekas gigitan Hajar.
"Om jahat, lepaskan Hajar" lirih Hajar menundukkan pandangannya.
"Lebih baik aku membunuhmu dari pada harus melepaskanmu."
"Ya sudah! bunuh aja aku" mendengar perkataan Chandra yang lebih baik membunuhnya, membuat Hajar ingin menangis kembali. Kejam sekali suaminya itu.
"Baiklah!"
"Hahahaha.....!" Chandra tertawa terbahak bahak, ia pun menghujani wajah Hajar dengan kecupan." Aku akan membunuhmu dengan cintaku, sayangku."
.
.
"Bagaimana keadaan kandungannya?" tanya Chandra kepada Dokter yang baru selesai memeriksa kandungan Amel.
"Baik, tapi jangan membuat Ibunya shok lagi. Itu bisa membahayakan janinnya" jawab Dokter kandungan itu.
Setelah melewati hal yang mengerikan tadi malam. Siang hari Chandra membawa Amel untuk periksa kandungan ke sebuah tempat praktek Dokter kandungan. Kawatir dengan keadaan Amel dan kandungannya.
"Kamu juga terlalu gila, membawa istrimu melakukan hal yang konyol." Teman Chandra yang membawa mereka ke tempat praktek itu menggeleng gelengkan kepalanya setelah mendengar apa yang telah dialami Chandra dan yang lainnya.
Chandra memutar bola matanya malas, ia pun tak segila itu jika bukan karena keadaan terpaksa. Siapa yang menduga, helikopter yang membawa mereka kabur, tiba tiba mengalami kerusakan. Membuat mereka terpaksa melakukan terjun panyung dari udara. Untung saja teman yang membantu mereka kabur ahli dalam bidang itu. Dan Chandra pun memanfaatkan keadaan itu untuk menghilang. Biarkan saja Ibunya menangis histeris, Ibunya terlalu egois.
__ADS_1
Selesai memeriksa kandungan, Chandra dan Amel langsung pulang ke Villa.
Hajar yang baru selesai mandi, langsung keluar dari dalam kamar. Perutnya sudah lapar sekali, entah kapan dia terakhir makan, Hajar pun lupa.
"Sayang, sudah bangun?"
Hajar langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara itu. Tatapannya berobah kesal dan marah saat melihat Amel datang bersama Chandra. Entah dari mana sepasang pengantin baru itu.
"Kamu pasti lapar, ayo makan, ini kami membeli makan siang untuk kita" tawarAmel tersenyum melangkahkan kakinya ke arah dapur.
Bukannya senang di tawarin makan, malah Hajar semakin kesal melihat sikap Amel yang sok baik padanya.
"Kenapa? Hm!" Chandra merangkul pinggang Hajar yang masih berdiri di bawah tangga, mengiringnya ke arah dapur.
"Awas! Aku gak lapar" Hajar menepis kasar tangan Chandra hingga terlepas, dan langsung melongos kembali menaiki tangga Villa itu.Chandra langsung mengejarnya dan menangkap tubuh Hajar.
"Lepas Om! aku benci Om!" teriak Hajar memukuli dada Chandra dengan mata berkaca kaca. Hatinya sakit melihat Chandra jalan berdua dengan Amel.
"Hei ! kenapa kamu marah?" tanya Chandra tersenyum. Ia pun mendudukkan Hajar dibatas meja makan." Hm!" Chandra menepis cairan bening yang sempat mengalir di pipi Hajar, lalu mengecup keningnya. Ia tau akhir akhir ini hati Hajar sedang rapuh, jadi mudah menangis.
"Hei ! kalian membuatku cemburu" cetus Amel meletakkan makanan yang sudah di tuangkannya ke dalam mangkok di atas meja. Ada ada saja suami istri itu, main kecup kecupan di depannya. Bikin hati Amel panas aja.
" Pergi dari sini" usir Hajar menatap Amel rak suka.
"Aku juga istrinya, kita punya hak yang sama di sini" balas Amel santai, membuat Hajar mengeraskan rahangnya. Jika saja Amel tidak Hamil, sudah pasti Hajar menghajarnya.
"Dasar wanita murahan" maki Hajar tanpa perasaan.
"Wanita murahan milik suami mu" balas Amel mulai terpancing emosi.
"Yakin! Hanya suamiku yang menyentuh tubuhmu. Aku rasa sudah banyak pria hidung belang yang mencicipi tubuhmu itu" cibir Hajar." Sangat menjijikkan"tambah Hajar lagi.
"Hajar!" tegur Chandra
"Kenapa Om?, Om membelanya?" marah Hajar pada Chandra.
"Amel, kamu bawalah makananmu ke kamar" suruh Chandra, tak ingin kedua wanita itu nanti saling menyakiti.
Amel mendengus dan langsung meninggalkan meja makan.
__ADS_1
*Bersambung
# Gak ada yang komen😢😢😢.