
Setelah menghabiskan sebatang rokok, Chandra kembali masuk ke dalam kamar. Chandra menggeleng gelengkan kepalanya, melihat batal dan selimut berserak di lantai, dan Hajar menangis di atas tempat tidur. Chandra berpikir, bagaimana bisa Ibunya memilih menantu seperti Hajar?.
"Berhentilah menangis" ujar Chandra.
"Ayo Om" Hajar merengek manja,menatap Chandra dengan bibir di tekuk ke bawah. Hajar berharap mereka jadi pergi berbulan madu. Jangan sampai gagal, Hajar pasti malu dengan ke empat sahabatnya, dan pasti dia akan mendapat ejekan dari Yona.
Chandra mendekat ke samping ranjang," Kemari" ucapnya.
Tangis Hajar langsung terhenti. Hajar berdiri di atas kasur, kemudian melompat ke tubuh Chandra dan langsung mencium bibir prianya itu.
Setelah melepas pagutan mereka, Chandra pun membawa Hajar keluar kamar. Dengan membiarkan Hajar bergelayut di dadanya.
"Kau sudah jadi istri, tapi tingkahmu masih anak anak" ujar Chandra setelah mereka di dalam lif untuk turun ke lantai bawah.
"Om saja udah tua, tapi belum memiliki anak" balas Hajar cetus.
"Tak masalah bagiku" Chandra melangkahkan kakinya keluar dari dalam lif, setelah pintu lif terbuka.
"Kalian sudah mau berangkat?."
Chandra memutar tubuhnya ke arah Nyonya Belinda yang duduk di sofa ruang tamu.
"Iya Ma"
Nyonya Belinda tersenyum lebar, melihat keromantisan Chandra pada Hajar.
"Kalian hati hati. Dan pastikan Hajar hamil sebelum kalian pulang" ucap Nyonya Belinda.
"Iya Ma" Hajar menjawab dari gendongan Chandra.
Chandra pun melangkahkan kakinya, membawa Hajar keluar rumah. Mereka harus segera berangkat. Sampai di halaman rumah, Chandra dan Hajar masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang belakang.
Bryan yang duduk di kursi kemudi, langsung melajukan kenderaan tersebut menuju bandara. Sesekali Bryan melirik Hajar dan Chandra dari kaca spion di atasnya. Bryan kesal, sepertinya pasangan suami istri itu sengaja menunjukkan keromantisan padanya dengan terus berciuman.
Sampai di bandara Bryan memarkirkan kenderaannya dan langsung turun untuk membukakan pintu untuk Tuan dan Nona nya.
"Trimakasih Bryan" ucap Hajar ramah setelah turun dari mobil.
__ADS_1
"Tak perlu kau berterima kasih padanya" cetus Chandra menarik pinggang Hajar, membawanya masuk ke dalam bandara.
Hajar mendengus.
"Bryan kamu ikut?" tanya Hajar melihat Bryan ikut masuk ke dalam bandara dengan membawa dua travel bag berukuran besar di tangannya.
"Dia nanti yang akan mengurus kebutuhan kita di sana." entah kenapa hati Chandra terasa panas jika Hajar dan Bryan bertemu. Apalagi melihat tatapan Bryan yang masih mencintai Hajar.
Sampai di dalam pesawat Hajar menutup mulutnya, takjub dengan pesawat pribadi yang akan membawa mereka berbulan madu.
"Aaah !!!" Hajar menjerit dan melompat lompat kegirangan. Hajar pun mengeluarkan handphonnya dari dalam tas kecil yang tersampir di bahunya. Kemudian mengarahkan kameranya ke arahnya. Hajar akan membuat siaran langsung di pesawat itu.
Chandra yang sudah duduk di salah satu kursi pesawat, hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya, membiarkan apa saja yang akan dilakukan Hajar.
"Aah Om ! trimakasih Om!" seru Hajar melompat ke tubuh Chandra setelah ia puas memotret dirinya.
Chandra langsung menahan tubuh Hajar supaya tidak jatuh. Kemudian mengecup kilas bibirnya."Apa kau senang gadis manis?."
Meski di dalam pernikahan mereka tidak ada cinta. Tapi entah kenapa Chandra merasa harus memperlakukan Hajar dengan baik, dan membuat gadis manis itu bahagia.
Hajar menganggukkan kepalanya sembari merekahkan senyum manisnya.
Hajar cemberut, benar dugaan Hajar, kalau suaminya itu akan selalu sibuk bekerja. Suaminya itu tidak akan bisa diajak bersantai sejenak. Buktinya di dalam perjalan pun, suaminya itu masih bekerja. Tidak ada bedanya dengan Bryan mantan kekasihnya dulu.
"Sebentar saja" Chandra mengusap kepala Hajar yang cemberut.
Hajar tidak menjawab, ia memilih mengambil majalah di depannya dan membukanya.
Tak lama kemudian, pesawat itu pun mendarat di sebuah pulau. Dari sana mereka akan menempuh jalur laut untuk sampai di tempat tujuan mereka. Karna hari masih malam, mereka pun menginap sementara di sebuah hotel yang ada di pulau itu untuk menunggu pagi.
"Istirahatlah, Om harus pergi sebentar, ada sedikit pekerjaan" ucap Chandra setelah mengantar Hajar ke dalam sebuah kamar hotel.
"Jadi Om kesini mau kerja?" Hajar menatap Chandra kesal.
"Sebentar saja" Chandra mengecup kilas kening Hajar dan segera berlalu dari kamar itu. Menghiraukan Hajar yang cemberut.
Chandra menghentikan langkahnya di depan pintu kamar hotel yang masih berada di lantai yang sama. Chandra mengetuk pintu hotel itu. Dan tak lama kemudian pintu itu terbuka dari dalam menampakkan seorang wanita berpakaian s*ksi. Chandra langsung masuk dan menutup pintunya.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Chandra menatap tajam wanita di depannya.
"Aku menginginkan Om" jawab wanita itu mengalungkan tangannya ke leher Chandra.
Chandra langsung melepas tangan wanita itu dari lehernya."Aku sudah katakan, aku tidak bisa menjadi priamu lagi."
"Aku sedang hamil mengandung anak Om" wanita itu melangkahkan kakinya ke arah kasur, mendudukkan tubuhnya di sana.
Chandra menajamkan pandangannya ke arah wanita itu, kemudian turun ke perutnya. Ya ! wanita itu sepertinya benar hamil, terlihat perutnya yang sedikit membesar.
"Yakin itu anakku?. Dan kenapa baru mengatakannya sekarang?" Chandra memicingkan matanya ke arah wanita itu. Bukankah wanita itu wanita penghibur?. Bisa bisanya wanita itu ingin meminta pertanggung jawaban padanya.
"Bagaimana kalau ini benaran anak Om?" Amel berdiri kembali dan berjalan mendekati Chandra.
Chandra diam berpikir, bagaimana kalau yang di kandungan Amel itu benar anaknya?. Jelas Amel tidak akan memberikannya padanya, jika dia tidak bertanggung jawab.
Bertanggung jawab?, bagaimana jika itu bukan anaknya?.
"Buktikan"jawab Chandra.
Dia perlu buktikan?, mengingat Amel adalah wanita penghibur, bisa jadi wanita itu mengandung anak pria lain.
"Aku baru mengetahuinya kalau aku sedang hamil. Ternyata usianya sudah dua Bulan." Amel mengusap lembut perutnya."Aku tidak mengenal semua pria yang pernah meniduriku. Yang jelas Om lah yang paling sering selama tiga Tahun ini. Jika Om perlu bukti, tunggu anak ini lahir. Tapi jika anak ini terbukti anak Om, jangan memintanya dariku. Jika Om ingin anak ini, nikahi aku sekarang juga."
Chandra membeku dan berpikir, kalau wanita itu sekarang ingin berusaha menjebaknya.
"Aku tidak akan menikahimu. Tapi jika itu benar anakku, akan kupastikan anak itu menjadi milikku."
"Bagaimana jika aku memberitahu istri Om Kalau aku adalah wanita Om yang sedang mengandung anak Om?" Amel kembali melingkarkan tangannya ke leher Chandra.
Chandra tersenyum sinis mendengar ancaman wanita di depannya."Aku yakin istriku tidak akan terpengaruh dengan ancamanmu." Lagi Chandra menepis tangan Amel dari lehernya, dan langsung pergi meninggalkan kamar itu.
"Kita lihat saja" Amel memicingkan matanya menatap Chandra penuh dendam. Bagaimana pun caranya, Chandra harus kembali menjadi prianya.
"Lihat saja Om, aku akan mengirim vidio vidio percintaan panas kita kepada Ibu dan istrimu. Kau harus kembali menjadi priaku Om..Chandra Wahid Kurniawan" gumam Amel penuh emosi di dadanya.
Amel sengaja membuat dirinya hamil, namun Chandra sudah lebih dulu menikah dengan wanita lain. Sebelum terlebih dahulu ia mengetahui kalau dirinya sudah hamil.
__ADS_1
Keluar dari kamar Amel, Chandra melangkahkan kakinya masuk ke dalam lif untuk turun ke lantai bawah. Chandra akan menemui rekan bisnisnya di restoran yang berada di sekitar hotel.
*Bersambung