Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
26 Lepaskan dia


__ADS_3

Sampai di perusahaan, Chandra masuk ke dalam ruangannya.


Bukh bukh bukh !


"Dimana Hajar? aku tau kamu yang mencurinya."


Chandra yang tidak siap mendapat serangan mendadak, terjatuh ke lantai. Chandra melap sudut bibirnya yang terasa perih, ternyata sudah berdarah. Chandra pun langsung berdiri menatap tajam orang yang tiba tiba memukulnya.


"Apa ada seorang suami mencuri istrinya sendiri?" Chandra menatap sinis laki laki yang berstatus iparnya itu.


"Suami? Istri?" Pria bernama Shakil itu berdecih. Dia adalah kakaknya Hajar, anak dari Ibu Misra.


"Kau sudah menceraikannya."


Chandra melangkahkan kakinya ke arah mejanya, mendudukkan tubuhnya di kursi kebanggaannya. Chandra membuka laci meja di sampingnya, mengeluarkan dua lembar kertas dari dalamnya dan langsung merobeknya berkeping keping.


"Ibuku yang mengurus surat perceraian ini lewat kuasa hukumnya, bukan aku" Chandra melempar sembarangan kertas di tangannya.


Shakil berdecis dan mencibir Chandra."Dan kau menyetujuinya, dasar anak mami, hidup di bawah ketiak Ibunya."


"Apa kau sudah merasa jentel, hidup menjadi anak dari wanita penipu?" balas Chandra menarik satu sudut bibirnya ke samping.


Shakil mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud Chandra mengatakannya anak dari wanita penipu.


"Apa maksudmu?"


"Tanyakan saja Ibumu, dan pergilah. Aku harus bekerja, pekerjaanku sangat banyak, aku tidak memiliki waktu yang panjang untuk bertamu, apa lagi itu tidak penting" Chandra mengusir Iparnya dengan santai, namun berhasil membuat Shakil mengeram.


"Lepaskan Hajar"ujar Shakil menghiraukan Chandra yang mengusirnya.


"Kalau tidak?" balas Chandra santai tanpa menatap Shakil dan memilih sibuk dengan laptop di depannya, membuat Shakil mengeraskan rahangnya, ingin meninju kembali wajah Chandra.


"Kau tidak mencintainya, lepaskan dia" ujar Shakil lagi.


Sontak membuat jari tangan Chandra berhenti di atas keyboard laptopnya. Bertanya pada diri sendiri, apakah dia mencintai Hajar atau tidak.


"Kau tidak mencintainya, kau hanya mencintai wanita bernama Caroline, Hajar itu terlalu muda untukmu. Dan juga Ibumu sudah tidak menerimanya menjadi menantu. Dia akan menderita nantinya jika kau tetap mempertahankannya. Lepaskan dia" tambah Shakil lagi.


.


.


Di tempat lain, seorang wanita berparas cantik melangkahkan kakinya ke arah pintu rumah yang terlihat seperti istana setelah penjaga di depan membukakan gerbang untuknya. Wanita itu kesana untuk meminta pertanggung jawaban Chandra atas kehamilannya, dia adalah Amel.


Bagaimana pun caranya, aku harus menjadi Nyonya di rumah ini, batin Amel saat melangkah masuk ke rumah mewah itu.


Amel pun memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan tamu yang sangat luas dan tentunya megah.


"Anda siapa?"


Mendengar suara seorang wanita, Amel langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara itu. Mimik wajah Amel langsung berubah dramatis. Amel pun berlari kecil ke arah wanita tua yang di perkirakan pemilik rumah itu, dan menjatuhkan tubuhnya tepat di kakinya.

__ADS_1


"Hei kau kenapa?" Nyonya Belinda menjauhkan kakinya dari Amel, namun Amel menangkap kakinya dan memeluknya sambil menangis.


"Aku ini kekasihnya Om Chandra Tante, aku sedang mengandung anaknya, tapi Om Chandra tidak mau bertanggung jawab" jawab Amel terisak.


Nyonya Belinda mengerutkan keningnya, kenapa dia tidak mengetahui selama ini kalau anaknya memiliki kekasih.


"Berdirilah"


Amel melepas kaki Nyonya Belinda dan langsung berdiri sembari menghapus air matanya.


"Tani!"


"Iya Nyonya!"


Tania yang di panggil majikannya gegas berjalan menghadap Nyonya Belinda di ruang tamu.


"Siapkan kamar tamu untuknya, dan bawa dia" perintah Nyonya Belinda kepada pelayannya.


"Baik Nyonya" patuh Tania sedikit menundukkan kepalanya.


"Maksud Tante?." Amel bingung dengan sikap Nyonya Belinda yang menaggapinya biasa saja, dan menyuruh pembantunya menyiapkan kamar untuknya. Itu artinya dia di ijinkan tinggal di rumah istana itu. Tapi yang menjadi pertanyaan Amel, bagaimana dengan statusnya, apakah dia akan di nikahkan dengan Chandra seperti keinginannya?.


"Saya harus memastikan dulu, apakah bayi di perutmu itu benar anak Chandra atau bukan" jawab Nyonya Belinda dan langsung berlalu ke kamarnya.


"Silahkan Nona" ucap Tania ramah setelah membuka kamar untuk di tempati Amel.


"Trimakasih" Amel tersenyum hambar kepada Tania.


Sepeninggal Tania, Amel yang di dalam kamar, berjalan mondar mandir, gelisah. Dia juga tidak tau, siapa sebenarnya Ayah di dalam kandungannya. Tapi mengingat siapa pria yang paling sering menidurinya adalah Chandra, Amel yakin Chandra lah Ayah dari bayi di dalam perutnya.


Aku yakin ini adalah anak Om Chandra. Amel mendesah frustasi.


Seharusnya aku tidak menerima tawaran dari pria lain, jika aku ingin mengandung anak Om Chandra. kamu bodoh Amel. Amel merutuki kebodohannya di dalam hati.


Dia memang sengaja membuat dirinya hamil, mengandung anak dari Chandra.Tapi Amel melakukan kesalahan besar, dengan menerima tawaran uang dari pria lain, melayani pria itu di atas ranjang.


.


.


Sepeninggal Shakil dari ruangannya, Chandra mengeluarkan botol minuman dari laci mejanya, dan langsung meneguknya. Kepalanya pusing dan tidak bisa pokus bekerja karna perasaannya yang tidak menentu. Di tambah lagi banyaknya teka teki yang harus di selesaikannya setelah menikah dengan Hajar.


Siapa Hajar sebenarnya?, apa hubungannya dengan Caroline?, ada apa dengan Caroline selama ini?, kenapa dia bersembunyi dan berpura pura gila?. Apa yang di rencanakan Caroline sebenarnya. Kenapa Caroline mengirim seorang gadis untuk menikah dengannya.


Chandra meneguk minuman di tangannya kembali, karna hampir saja kepalanya meledak memikirkan itu. Hatinya bergemuruh ingin marah pada Caroline, namun di tahannya karna tak ingin menyakitinya lagi.


Hajar, kenapa hatinya tidak rela melepas Hajar?. Apa lagi melihat Hajar dekat dengan pria lain, hatinya begitu marah. Sehingga ia menyuruh orang untuk menangkap Hajar dan mengurungnya.


Tok tok tok!


Chandra mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang di ketuk.

__ADS_1


"Tuan, Nyonya Belinda menyuruh Tuan untuk pulang ke rumah sekarang" ujar Bryan sembari melangkah mendekati Chandra yang berdiri di dekat jendela.


"Untuk apa?" Chandra mengerutkan keningnya ke arah Bryan. Kenapa bukan Ibunya sendiri yang menghubunginya langsung?.


"Saya tidak tau Tuan, Nyonya Belinda sudah beberapa kali mengubungi ponsel Tuan, tapi tuan tidak mengangkatnya" Bryan menjawab pertanyaan yang tersirat di kening mengerut Tuannya.


Chandra pun melangkahkan kakinya ke arah meja, membuka laci tempat menyimpan ponselnya tadi. Benar, Ibunya sudah menghubunginya beberapa kali.


"Iya Ma, ada apa?"


Chandra pun memutuskan untuk menghubungi Ibunya.


"Pulang sekarang!" tegas Nyonya Belinda, terdengar mengeram di balik telepon.


"Chandra banyak pekerjaan, nanti saja pulangnya Ma" tolak Chandra bernada lembut.


"Sekarang !" gemas Nyonya Belinda, dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Bagaimana tidak gemas dengan anaknya yang tak ingin menikah selama ini, ternyata bermain wanita di belakangnya, sampai membuat wanita muda itu bunting di luar nikah.


Tidak bisa membantah Ibunya, Chandra pun memutuskan untuk pulang ke rumah, ingin tau apa yang terjadi di rumah orang tuanya.


"Bryan urus perusahaan, saya harus pulang" Setelah mengambil jasnya dan memakainya, Chandra melangkahkan kaki keluar dari ruangannya.


.


.


"Buka pintunya !"


Dari tadi Hajar tidak berhenti berteriak karna pintu kamar yang di tempatinya tak kunjung dibuka. Hajar tidak tau siapa sebenarnya orang yang mengurungnya di ruangan itu.


Sampai Hajar lelah sendiri, ia pun menjatuhkan tubuhnya ke lantai, Hajar menangis duduk meringkuk memeluk kedua lututnya. Hajar berpikir, sepertinya dia berada di perangkap seorang agen penjualan wanita. Pantas saja tadi saat dia terbangun keadaannya sudah polos.


"Buka pintunya" lirih Hajar memukul pelan pintu di belakangnya.


"Mama, Kakak, bantu Hajar. Mereka mengurung Hajar Ma" tangis Hajar.


Meski dia adalah gadis yang ceria, tapi siapa yang tau kalua hatinya sangat mudah rapuh.


.


.


Sedangkan Caroline yang berada di kamar sebelah, terus berjalan mondar mandir, gelisah karna tidak bisa keluar dari dalam kamar itu.


Apa yang harus kulakukan, aku harus mencari anakku Tuhan, batinnya frustasi.


Dia harus menemukan anaknya, tapi bagaimana caranya jika Chandra mengurungnya. Dan sepertinya Chandra sangat marah padanya, dan tidak akan mau membantunya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2