
Chandra turun dari atas ranjang setelah melihat Hajar terlelap di sampingnya. Setelah pergulatan panas mereka barusan, Chandra harus kembali bekerja.
Maafkan Om Hajar, belum saatnya kamu harus mengandung anak Om. Nanti setelah Om bisa menjawab teka teki di balik pernikahan kita. Batin Chandra lalu mengecup kening Hajar yang terasa hangat.
Tadi saat puncak pertempuran mereka, Chandra masih tak ingin membuat Hajar mengandung anaknya, sehingga membuat Hajar marah padanya.
Selesai membersihkan diri dan berpakaian, Chandra keluar dari kamar yang berada di ruangan kerjanya dengan wajah lelah namun nampak segar. Tanpa sadar wajah Chandra nampak tersenyum bahagia. Sepertinya dia memang benar jatuh cinta kepada gadis kecilnya itu.
Setelah berkutat satu jam lebih di depan laptopnya, Chandra kembali ke dalam kamar yang berada di ruangannya untuk melihat keadaan Hajar. Ternyata Hajar masih terlelap di atas tempat tidur, Chandra pun melangkahkan kakinya.
Chandra mendudukkan tubuhnya di samping Hajar, menempelkan punggung tangannya di kening dan di leher Hajar. Merasakan suhu tubuh Hajar semakin hangat, Chandra menghela napasanya. Seharusnya mereka tidak melakukan pencampuran, tapi melihat Hajar kekeh memintanya, Chandra terpaksa melakukannya.
"Jika kamu tidak terlibat, Om berjanji akan mencitaimu sepenuhnya Hajar. Meski kamu adalah anak Bruno dan Taslin,Om tidak perduli" guma Chandra sambil tangannya mengusap lembut kepala Hajar.
Tentu menerima Hajar menjadi orang yang di cintainya tidaklah mudah. Mengingat Hajar adalah anak musuh keluarganya. Tapi melihat wajah cantik dan polos Hajar, hatinya luluh ingin memiliki Hajar.
"Om" guma Hajar terusik dengan tangan Chandra yang bergerak gerak di kepalanya.
"Kamu demam, apa kamu membawa obatmu?"tanya Chandra.
"Ada di tas, sepertinya tadi aku lupa meminumnya, aku juga belum makan siang, lapar" jawab Hajar tanpa membuka kelopak matanya.
"Bangunlah, Om akan pesankan makanan" ujar Chandra, ternyata ia juga belum makan siang. Chandra pun segera memesan makanan melalui handphonnya.
"Bagaimana keadaan Naomi, apa Bryan sudah memberi kabar?" tanya Hajar masih enggan untuk membuka mata.
"Sudah membaik dan sudah sadar" jawab Chandra.
"Kita ke rumah sakit ya Om" ajak Hajar lalu membuka mata menatap Chandra duduk disampingnya. Hajar lega karena sahabatnya sudah sadar.
"Hm segeralah mandi, setelah makan kita ke sana."
"Om belum menjelaskan siapa Amel bagi Om?."
"Om rasa kamu bukan orang bodoh untuk menilai. Tanpa Om jelaskan pasti kamu sudah tau" jawab Chandra santai.
"Apa Om tidak pernah punya perasaan padanya?. Dan apa benar dia mengandung anak Om?. Jika benar, apa Om tidak memikirkan masa depannya atau anak itu?. Atau jangan jangan Om masih menjalin hubungan dengannya. Bisa saja Om sudah menikah diam diam. Pantas saja Om masih tak menginginkan aku mengandung anak Om" cerca Hajar bernada marah.
"Kenapa kamu marah?, jika dia hamil itu terjadi sebelum kita menikah. Dan aku juga sudah memutuskan hubungan dengannya, dan tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Soal anak itu, tak perlu kau pikirkan, biar itu menjadi urusanku. Yang perlu kau pikirkan, bagaimana caranya menjadi istri yang baik dan pintar menyenangkan hati suami, hm!." Chandra gemas, ia pun mencubit dagu Hajar.
Chandra berdiri dari pinggir kasur dan langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh polos Hajar dan membuangnya ke lantai.
__ADS_1
"Om !!!" Hajar memekik refleks menutupi bagian sensitif tubuhnya yang terpangpang nyata.
"Cih! gak usah berpura pura malu" cibir Chandra dan langsung mengangkat tubuh Hajar membawanya ke kamar mandi ruangan itu.
Sampai di kamar mandi, Chandra menurunkan Hajar di bawah shower.
"Ya Tuhan, apa ini?" ujar Chandra saat melihat lengan baju kemejanya berwarna merah.
Hajar memutar tubuhnya ke arah Chandra, melihat lengan baju Chandra seperti terkena darah. Lalu Hajar tertawa cekikikan setelah meraba pantatnya dan menunjukkan tangannya yang terkena darah halangannya.
Melihat itu Chandra menghela napasnya dan langsung membuka kemejanya."Kenapa kamu tidak memakai pembalut?" tanyanya.
"Aku gak tau kalau hari ini aku akan datang Bulan. Lagian gak ada tanda tandanya. Makanya Om bikin aku hamil, biar aku gak datang bulan lagi" cerocos Hajar sambil membersihkan dirinya di bawah guyuran shower.
"Kamu masih kecil sudah mikirin mau hamil. Mending kamu pikirin sekolahmu, belajar yang rajin biar pintar."
Hajar berdecak kesal, kan dia yang akan hamil dan melahirkan, suaminya itu tugasnya hanya menanam benih, apa susahnya?.
"Dingin Om" keluh Hajar mempercepat cara mandinya.
"Kenapa kamu gak mandi air hangat?" Chandra langsung meraih mengambil handuk dan melilitkannya ke tubuh Hajar yang sudah selesai membilas tubuhnya.
"Tapi kamu lagi sakit, mandi air hangat bisa membantu menurunkan demam" terang Chandra menggendong Hajar keluar dari kamar mandi dan mendudukkan Hajar di pinggir kasur kemudian membalut tubuh Hajar dengan selimut tebal.
"Om, aku butuh pembalut" ucap Hajar.
"Tunggu sebentar, aku akan menyuruh sekretarisku untuk membelinya" Chandra pun menghubungi sekretarisnya lewat telepon untuk membeli pembalut untuk Hajar.
Sambil menunggu, Chandra memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya di ruang kerjanya. Sedangkan Hajar kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur, karena tubuhnya yang sedikit lemah.
Tak berselang lama pintu ruangan Chandra kerja Chandra pun terbuka setelah di ketuk dari luar. Seorang wanita berparas cantik dan berpakaian ketat melangkah masuk.
"Permisi Pak" sapa wanita berpakaian ketat itu tersenyum menggoda, kemudian meletakkan paper bag di tangannya di atas meja kerja Chandra dengan cara membungkukkan sedikit tubuhnya sampai gunung kembarnya terlihat oleh Chandra.
"Trimakasih" ucap Chandra mengambil paper bag itu dari atas meja, dan menaik turunkan jakunnya karena jiwa lelakinya meronta melihat tonjolan dada wanita di depannya. Aduh ! Hajar datang bulan lagi, kepala Chandra mendadak pening di buatnya.
"Om mana pembalutnya?"
Chandra tersadar dari lamunannya dan refleks menoleh ke arah Hajar yang keluar hanya memakai handuk dari kamar ruangan itu. Begitu juga dengan sekretaris itu, terpaksa mengurungkan niatnya untuk menggoda Chandra.
"Aduh Om, tiba tiba perutku sakit. Bisa cariin aku jamu pereda nyeri datang Bulan?" risngis Hajar memegangi perutnya.
__ADS_1
Chandra langsung berdiri dari kursinya, berjalan ke arah Hajar." Naina, tolong carikan jamu yang dikatakan istriku" perintahnya kepada sekretarisnya itu.
"Tapi Pak, pekerjaanku sedang menumpuk. Dan aku baru datang dari luar" bantah Naina kesal menatap Hajar tak suka.
"Cepat carikan Naina, jangan membantah" tegas Chandra, sebelah tangannya mengusap usap perut Hajar.
"Ba- baik Pak" patuh Naina tak berani lagi membantah atasannya itu.
Melihat Naina sudah keluar dari ruangan Chandra. Hajar yang tadinya sedikit membungkuk kini menegakkan tubuhnya.
"Baru saja tadi Hajar memberi Om jatah, sudah tergoda melihat wanita liar" cetus Hajar kembali masuk ke dalam kamar, berjalan dengan menghentak hentakkan kakinya.
Tadi saat Naina masuk keruangan Chandra, saat itu juga Hajar keluar dari dalam kamar. Hajar melihat semua tingkah Naina yang akan menggoda Chandra. Yang membuat kesal Hajar adalah, Chandra yang tergoda sampai menaik turunkan jakunnya.
Chandra menggarut leher belakangnya, lalu menyusul Hajar masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar terlihat Hajar berdiri tanpa sehelai benang pun. Hajar sengaja melakukan itu, biar suaminya puas melihat barang berharga wanita. Supaya Chandra tidak lupa kalau dia memiliki istri yang bebas untuk di pandang dan dinikmatinya.
Hajar pun meliuk liukkan tubuhnya sambil kedua tangannya meraba halus kedua gundukannya yang besarnya tak seberapa itu. Membuat adik kesayangan Chandra mengamuk di dalam celana.
"Apa tadi aku masih kurang liar?" tanya Hajar.
"Apa yang kamu lakukan?, jangan menggodaku seperti ini, jika kamu tak ingin kuberi tugas menenangkan adik kecilku dengan mulutmu" ujar Chandra, mengingat Hajar tidak mau melakukan hal itu saat mereka bercinta.
Hajar langsung menghentikan aksinya menggoda Chandra. Kemudian Hajar menatap marah pada Chandra, lalu berbicara." Jangan jangan gadis liar itu juga wanita simpanan Om."
"Apa kau cemburu?" Chandra mendekati Hajar sembari tersenyum.
"Untuk apa aku cemburu kalau aku bisa mencari pria yang lebih tampan dan muda dari Om" cetus Hajar.
"Lantas?"
"Ah Om" refleks Hajar mend*sah, saat sebelah tangan Chandra menyentuh sebelah gunung kembarnya.
"Aku gak mau ketularan penyakit karena Om gonta ganti pasangan."
"Kamu sedang datang bulan, siapa yang akan bertanggung jawab dengan adikku ini?" tanya Chandra masih memain mainkan gundukan Hajar.
Hajar terdiam dan berpikir.
Tanpa aba aba Chandra pun menyambar bibir Hajar, menciumnya dalam dan menuntut.
*Bersambung.u-
__ADS_1