Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
36. Kamu hanya ingin harta


__ADS_3

Turun dari dalam mobil, Hajar dan Chandra sama sama melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam gedung rumah sakit. Seperti kata Chandra tadi, mereka akan kembali ke rumah sakit setelah pekerjaannya selesai.


Sampai di ruang perawatan Naomi, Hajar langsung mendorong pintu didepannya dan langsung melangkah masuk.


"Kenapa kalian menyelamatkanku?. Aku gak mau hidup lagi. Aku ingin mati saja. Masa depanku sudah hancur." Naomi mengamuk di atas brankar. Sudah dua kali dia terbangun, dan sudah dua kali pula dia mengamuk karena tak terima dirinya masih hidup, dan ini yang ketiga kali ia terbangun dan langsung mengamuk minta dibiarkan mati.


"Naomi" Hajar yang melihatnya langsung berlari ke arah brankar dan memeluk sahabatnya itu. Namun tubuhnya langsung melayang ke belakang seperti ada yang menariknya.


"Kau memeluk Bryan, bukan Naomi" cetus pria yang datang bersamanya itu.


"Ah iya maaf" cengir Hajar melihat Bryan lah yang dia peluk bukan Naomi.


Chandra mendengus, kemudian melangkahkan kakinya ke arah sofa yang berada di ruangan itu.


"Asisten Bryan tolong menyingkir" ujar Hajar kepada Bryan yang memeluk Naomi yang meronta ronta.


"Kalau aku menyingkir, temanmu ini pasti akan bunuh diri lagi" cetus Bryan menatap Hajar malas.


"Tidak akan, cobalah, biar aku saja yang memeluknya" Hajar kembali mendekati Naomi. Perlahan mengusap kepala dan punggung Naomi dari belakang. Meski hidupnya tidak kalah miris, tetap saja Hajar kasihan melihat sahabatnya itu.


"Naomi, sabarlah, ada aku, kamu tidak sendiri" ucap Hajar dengan suara tercekat, sedih melihat sahabatnya yang terpuruk.


"Aku malu, aku jijik dengan diriku Hajar. Bagaimana aku bisa hidup dengan baik, jika aku sendiri sudah kotor?" tangis Naomi terisak.


"Bahkan kotoran bisa diolah menjadi pupuk kandang. Sangat bagus untuk tanaman" balas Hajar mengulas senyumnya. Lalu perlahan menarik Naomi ke dalam pelukannya.


"Apa lagi manusia yang punya akal dan pikiran. Manusia yang kotor bisa mengolah dirinya kembali untuk menjadi bersih, tentu dengan memperbaiki diri" tambah Hajar lagi.


Naomi terdiam mencerna apa yang dikatakan sahabatnya itu.


"Kamu tidak menginginkannya, kamu terpaksa. Jangan mau diperdaya oleh Kakakmu atau laki laki itu" lanjut Hajar lagi.


Chandra yang mendengar istrinya itu menasehati Naomi, menatap kagum pada Hajar. Dia tidak menyangka, istri materialistisnya itu memiliki pemikiran yang dewasa.


" Tidak akan ada lagi laki laki yang mau sama aku Hajar. Dan juga jika orang mengetahui aku sudah tidak suci lagi. Orang pasti akan menghinaku, memandangku sebelah mata, aku malu Hajar. Bagaimana kalau aku hamil?, siapa yang akan bertanggung jawab?."


"Sssttt..kau tidak akan hamil. Jika pun kamu hamil, Bryan yang akan menjadi Ayah bayi itu" ujar Hajar bijak dan sembarangan bicara.


Naomi langsung terdiam mendengar apa yang di katakan Hajar. Bukan Bryan yang menodainya, bagaiamana bisa Bryan yang menjadi Ayah bayi yang belum pasti ada.


"Kalau kau mau menikahi Naomi, aku akan memberimu uang yang banyak."


Refleks Bryan yang diam dari tadi menoleh ke arah sumber suara berat itu. Apa maksud Tuannya itu menyuruhnya menikahi Naomi, gadis yang tidak suci lagi, tidak!. Bryan hanya ingin menikahi gadis yang masih suci, yang belum berpengalaman seperti dirinya.


"Maaf Tuan" tolak Bryan halus.


"Menikahinya hanya untuk pormalitas saja, hanya untuk memberinya status" jelas Chandra.


Bryan terdiam, begitupun dengan Naomi dan Hajar.


"Aku akan memberimu imbalan" ujar Chandra lagi.


.


.


"Om Dewa, aku mohon nikahi Naomi" ujar Amel kepada laki laki yang sedang sibuk memungut pakaiannya di lantai.


"Tidak akan, aku sudah membayarnya mahal" tolak Dewa mentah mentah.


"Kenapa Om jahat sama kami?" marah Amel dari atas tempat tidur.


Amel baru saja selesai melayani pria yang menolongnya selama ini, semenjak dia dan Naomi di suruh pergi dari rumah. Saat itu usia Amel baru tujuh Tahun. Dan Dewa lah yang menolong mereka, membawanya ke sebuah rumah sederhana, rumah tempat tinggal salah satu pekerja di rumahnya.


Dewa membalik badannya ke arah Amel yang menangis di atas tempat tidur." Om jahat kamu bilang?" Dewa menyunggingkan bibirnya kesamping.


"Kenapa Om tega merusak hidupku dan Naomi?" tanya Amel lagi.


Dewa menatap Amel dengan wajah datarnya." Jika aku tidak membawa kalian dulu, mungkin kalian sudah terlunta lunta di jalanan. Atau mungkin saja kalian sudah mati karena tidak dapat makan."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Dewa langsung keluar dari kamar itu. Karena kam**u adik wanita yang menghancurkan adikku. Sedangkan Naomi putri dari orang yang membuat adiku mengakhiri hidupnya. batin Dewa lantas meninggalkan apartement itu.


Sampai di peralatan apartement Dewa langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya.


Ciiiiiittttt......!


Dewa terpaksa melakukan rem mendadak saat melihat kederaan lain menghadang jalannya. Dewa langsung keluar dari dalam mobil berjalan ke arah dua orang berpakaian preman yang keluar dari mobil yang menghadangnya. Tanpa aba aba langsung melayangkan tendangan ke arah dua orang itu. Namun tidak berhasil mengenai kedua orang itu, karena berhasil menghindar, dan dengan sigap menangkapnya.


"Apa apa kalian?" gertak Dewa meronta melepaskan diri.


Kedua orang itu hanya diam saja, dan langsung membiusnya membuat tubuhnya perlahan melemah. Kedua orang itu pun memasukkannya ke dalam mobil dan membawanya.


.


.


Di tempat lain, Bruno dan Taslin sama sama meronta ronta berusaha melepaskan diri dari orang yang berhasil menangkap mereka.


"Siapa kalian, kenapa kalian membawa kami?" tanya Bruno saat hendak di masukkan ke dalam mobil.


Namun kedua orang pria yang memeganginya itu diam tidak menjawab.


"Kenapa kalian diam saja? Ha!"Bruno menghardik kedua orang itu.


"Diamlah tua bangka" ujar supir yang siap melajukam kenderaan berwarna putih itu.


"Aku yakin pasti kalian suruhan Chandra atau Ibunya" Taslin berbicara merapatkan gigi giginya, berpikir kalau dugaannya itu tidak salah.


"Anda benar sekali Nyonya" jawab sang supir sembari tersenyum.


Awas saja kalian!, Taslin membatin dengan dada naik turun menahan amarahnya yang bergemuruh. Kebencian itu sangat jelas tergambar di wajahnya.


.


.


Bryan yang mendapatkan kabar dari anak buahnya dan anak buah Marco, mengajak Tuannya keluar dari ruag perawatan Naomi.


"Apa berkas berkas yang saya minta kemarin sudah selesai?" Chandra berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya mendekati Hajar yang masih memeluk Naomi di atas brankar.


"Sudah Tuan"


"Hajar, ayo ikut Om sekarang" ajak Chandra kepada istrinya.


Hajar yang paham langsung menganggukkan kepalanya. Karena sebelumnya Chandra sudah mengatakan apa yang harus mereka lakukan.


"Tapi Om, bagaimana dengan Naomi?" tanya Naomi memikirkan sahabatnya itu, kasihan jika tak ada yang menemani.


"Bryan yang akan menjaganya di sini" jawab Hajar.


"Iya Nona, jangan kawatir, saya akan menjaga calon istri saya dengan baik" gemas Bryan menatap kesal pasangan suami istri yang menyebalkan itu, karena sudah memaksanya untuk bersedia menikahi Naomi dengan berbagai ancaman dan bujukan Hajar, gadis yang masih dicintainya sampai sekarang.


"Ah baiklah, aku percaya sama kamu" Hajar melepas pelukannya dari tubuh Naomi, dan berpamitan untuk meninggalkan sahabatnya itu sementara.


"Naomi aku tinggal dulu ya, nanti aku kesini lagi. Ingat, gak boleh bunuh diri lagi. Kalau kamu masih mencoba bunuh diri, maka aku juga akan melakukannya, biar kita sama sama masuk neraka" bujuk Hajar sekaligus mengancam.


Naomi hanya diam saja dan kembali membaringkan tubuhnya membelakangi Hajar, Chandra dan Bryan.


"Ayo Om" Hajar turun dari atas brankar, dia yakin sahabatnya itu akan baik baik saja. Karna Hajar juga perlu membantu suaminya untuk menemukan putrinya. Dan juga Hajar sangat ingin mengenal seperti apa orang tua kandungnya yang tega membuangnya.


"Naomi, Om bawa Hajar dulu ya" pamit Chandra tangannya terulur mengusap lembut kepala Naomi dari belakang.


Naomi tidak menjawab, Hajar dan Chandra pun keluar dari ruangan itu.


.


.


Sampai di tempat tujuan mereka, tepatnya di depan sebuah bangunan kosong. Chandra dan Hajar sama sama turun dari dalam mobil. Chandra mendekati Hajar yang berdiri menatung. Perpikir kenapa suaminya itu membawanya ke bagunan tua dan kosong itu.

__ADS_1


"Ayo" Chandra menarik tangan Naomi berjalan ke arah pintu masuk bangunan itu.


Terlihat bangunan itu adalah sebuah pabrik yang sudah tinggal. Terlihat dari mesin mesin yang sudah karatan di dalamnya.


"Om untuk apa kita kesini ?" tanya Hajar menelan air ludahnya bersusah payah. Gedung itu terlihat angker, pencahayaan pun sangat minim. Hajar yakin di dalam gedung itu sangat banyak hantunya.


"Jangan bilang Om membawaku kesini ingin memperkosaku."


Takk!


"Aw!" keluh Hajar mengusap usap keningnya yang di sentil Chandra.


"Aku tidak suka bermain di tempat yang kotor seperti ini. Tapi kalau kamu ingin mencobanya gak apa apa, kita bisa melakukannya berdiri" ujar Chandra. Ada ada saja istrinya itu, berpikir melakukan pemerkosaan, untuk apa?, Chandra bebas melakukannya kepada Hajar.


"Tapi sekarang kita perlu melakukan adegan itu" ujar Chandra lagi.


"What? Om bercanda?" Hajar berpikir tubuhnya akan gatal gatal jika bercinta di atas lantai kotor gedung itu.


"Tentu tidak" tanpa aba aba Chandra langsung menarik lengan baju Hajar hingga koyak.


"Om!" pekik Hajar tanpa sadar.


"Kenapa?"


Sreeeek....!


Lagi Chandra mengoyak sebelah lengan baju Hajar.


"Om !" pekik Hajar lagi


Namun lagi lagi Chandra menyobek baju bagian depannya hingga menampakkan pakaian dalamnya.


Melihat itu Chandra menyeringai, membuat Hajar seketika ketakutan.


"Jangan Om" Hajar menatap Chandra memohon, matanya nampak memerah dan berkaca kaca, sambil tangannya menahan bajunya supaya tidak sampai melorot.


"Kamu hanya ingin harta Om kan Hajar?" tanya Chandra menatapa Hajar intens.


Hajar menggeleng gelengkan kepalanya.


"Om akan memberikannya, tapi katakan pada mereka untuk mengembalikan putri Om."


Seketika lampu di ruangan itu menyala, Hajar langsung mengalihkan pandangannya ke arah orang orang yang duduk berbaris di bangku, dengan tangan dan kaki terikat, dan mulut di lakban.


"Mama, Papa, Kak Shakil, Ibu Caroline, Kak Amel" gumam Hajar mengabsen nama yang hanya di kenalnya saja, karna sebagian orang tidak di kenalnya.


"Kedua orang lanjut usia itu adalah orang tua kandungmu Hajar. Dan pria yang di sebelahnya adalah orang yang membantu mereka selama ini, namanya Dewa Arguna. Dialah yang merusak Naomi sahabatmu, dan yang membantu kehidupan mereka selama ini" jelas Chandra tanpa menatap Hajar, pandangannya tertuju pada Bruno dan Taslin.


Chandra pun mejentikkan jari telunjuk dan jempolnya, seketika lampu yang mengarah ke arahnya dan Hajar langsung mati. Dan Chandra langsung mencium Hajar secara brutal, sehingga membuat Hajar berteriak teriak kesakitan.


"Om! hentikan! sakit Om !" Hajar terus meronta berusaha melepaskan diri, namun tenaga Chandra sangat kuat memegangi kedua pundaknya.


Maafkan Om Hajar, Om ingin melihat di antara mereka, siapa yang lebih marah batin Chandra.


Dia ingin membuktikan apakah Hajar terlibat oleh rencana kedua orang tuanya. Ataukah Hajar sebenarnya bukan putri kandung Taslin dan Bruno. Chandra juga ingin membuktikan apakah Caroline, Shakil, Ibu Misra dan suaminya terlibat. Chandra ingin membuktikan apakah seluruh anggota kekuarga itu terlibat permainan Bruno dan taslin.


"Papa ! Mama ! Kakak! Ibu !, tolong Hajar" tangis Hajar meringis kesakitan, karna ciuman ciuman kasar Chandra di leher dan dadanya.


"Chandra!!!"


Suara menggelegar itu langsung berhasil menghentikan ciuman Chandra. Chandra mengalihkan pandangannya ke arah orang yang hampir tua renta itu dengan tersenyum. Di antara delapan orang yang terikat di bangku itu, Bruno yang paling bereaksi dari tadi, sehingga orang yang berdiri di belakangnya membuka lakban mulutnya.


"Hajar istriku bukan?, aku berhak memperlakukannya seperti apa" ujar Chandra.


Bruno mengeraskan rahangnya, menatap murka pada Chandra. Hajar adalah putrinya, tentu dia marah melihat putrinya dilecehkan di depan matanya, meski itu suami Hajar sendiri yang melakukannya.


"Aku bukanlah suami yang baik, sama sepertimu yang suka memaksa seorang wanita. Oh ! maksudku bermain dengan keponakan sendiri" Chandra langsung meralat ucapannya, melihat Caroline dari sudut matanya. Terlihat Caroline menggeleng gelengkan kepalanya dengan air mata terus mengalir dari sudut matanya, tidak terima dengan tuduhan Chandra.


Chandra sengaja menangkap keluarga Hajar, karena ia sudah tidak percaya lagi dengan orang orang itu, termasuk Hajar. Dan Chandra juga sekarang percaya tidak percaya kalau dia memiliki putri dari Caroline. Chandra berpikir, kalau alasan itu hanyalah politik mereka.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2