Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
42. Talak satu


__ADS_3

"Papa!" seru Naomi masuk ke dalam rumah yang di tempati Hajar dan Chandra.


"Tuan masih di atas Non" ujar salah satu pelayan yang sedang menyapu di ruang tamu rumah itu.


"Oo" Naomi mengurungkan niatnya untuk naik ke lantai tiga rumah itu, tak ingin mengganggu Papanya dan Hajar. Begitu juga dengan Bryan yang datang bersamanya.


"Nona, kamarmu ada di lantai dua rumah ini. Anda bisa istirahat di sana" ujar Bryan kepada Naomi.


Naomi berdecak kesal melihat Bryan yang sudah menjadi calon suaminya masih bersikaf formal padanya.


"Sebentar lagi kita akan menikah, tapi kamu memperlakukanku tidak seperti calon istrimu" cetus Naomi.


"Maaf, tapi pernikahan kita hanya simbol untuk memberimu status" balas Bryan tanpa melihat wajah Naomi. Bryan sangat keberatan untuk menikahi Naomi, namun ia tidak bisa menolak permintaan Tuan Chandra.


"Aku tau, setidaknya kita bisa berteman baik" balas Naomi menatap kecewa pada Bryan.


Bryan memilih diam saja dan mendudukkan tubuhnya di sofa untuk menunggu Tuannya.


Tak lama menunggu, Chandra keluar dari dalam lif rumah itu dengan pakaian yang sudah rapi, siap untuk bekerja. Wajahnya nampak berbinar seperti orang yang sedang jatuh cinta. Tidak seperti hari hari sebelumnya,kusut dan frustasi.


"Selamat pagi Tuan" sapa Bryan berdiri dari tempat duduknya.


Sedangkan Naomi langsung melangkah ke arah Chandra, menyalam pria yang berstatus Ayah biologisnya itu dengan hormat.


"Apa kabar sayang" Chandra pun menjatuhkan satu kecupan di kening Naomi.


"Baik Pah" balas Naomi.


"Ajak Mama kamu sarapan, papa harus segera pergi" ujar Chandra, Naomi menganggukkan kepalanya.


"Dan jangan katakan apapun tentang pernikahanku dengan Amel" ucap Chandra lagi.


"Iya Pah" Naomi menatap teduh wajah Chandra.


Naomi bingung, jika harus di suruh membela siapa. Hajar temannya yang sangat baik. Amel juga sudah menjadi kakak yang baik selama ini. Tentu Naomi ingin kedua wanita itu tidak ada yang tersakiti oleh Papanya.


"Tante Amel sudah menjagaku selama ini Pah" lirih Naomi menundukkan pandangannya.


Chandra menghela napasnya, ia pun menarik Naomi ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Papa akan tetap memberikannya status. Tapi maaf, Papa tidak bisa memperlakukannya sebagai istri" ujar Chandra.


Naomi diam.


"Ya sudah, Papa berangkat dulu." terpaksa Chandra melepas pelukannya dan meninggalkan Naomi.


Setelah Chandar menutup pintu di sampingnya. Bryan yang duduk di kursi kemudi langsung melajukan kenderaannya menuju perusahaan.


.


.


"Hajar!" seru Naomi masuk ke dalam kamar orang tuanya. Berlari ke arah Hajar yang masih terbaring di atas kasur.


"Kata Papa, Mama belum sarapan" ucap Naomi tersenyum mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur.


Sedangkan pembantu yang mengikutinya, meletakkan nampan yang berisi sarapan di atas meja sofa.


"Ayo Naomi, bantu aku keluar dari sini" ucap Hajar dengan wajah memohon.


"Kenapa" senyum Naomi langsug menghilang dan menatap tajam wajah Hajar.


Naomi menatap Iba pada Hajar, ia pun menarik Hajar ke dalam pelukannya. Meski hidupnya juga tidak berjalan mulus selama ini. Tapi Naomi tidak pernah menghadapi hidup serumit hidup Hajar.


"Aku mengerti, tapi percayalah, nanti semua akan baik baik saja. Kamu tidak sendiri, ada aku, Mama Caroline dan Papa. Kami akan slalu ada untukmu" ucap Naomi menenagkan Hajar.


"Nyonya Belinda pasti tidak akan membiarkan hidupku baik baik saja."


Naomi melepas pelukannya, tangannya terangkat menghapus air mata yang mengalir di pipi Naomi.


"Suatu saat hati Nenek pasti akan luluh. Cepatlah mengandung Adik untukku" ujar Naomi mengulas senyumnya.


"Aku tidak yakin itu" sanggah Hajar kembali meneteskan air matanya.


Awalnya dia adalah menantu kesayangan, namun dalam sekejap berubah menjadi menantu yang tak di inginkan. Tentu Hajar sedih dan merasa kehilangan kasih sayang dari Ibu mertuanya.


"Tapi Papa sangat mencintaimu, itu yang perlu kamu ingat." Naomi kembali menghapus air mata Hajar." Ayo kita sarapan, setelah itu kita berenang. Coba saja kita bisa mengajak Yona, Katrin dan Luna ke sini, pasti seru" desah Naomi lalu menarik tangan Hajar untum turun dari atas kasur.


"Bagaimana kabar mereka?, aku rasa pasti Yona terus membicarakanku" Hajar mengikuti Naomi ke arah sofa. Kedua gadis beranjak dewasa itu pun sarapan bersama di iringi dengan obrolan ringan.

__ADS_1


.


.


Chandra yang sudah selesai mengerjakan pekerjaannya. Menguap sembari mengangkat kedua tangannya ke atas. Chandra menatap jam di pergelagan tangannya, ternyata sudah menunjukkan jam sembilan malam.


Chandra menghela napasnya, karena kesibukannya ia sampai lupa menanyakan kabar istrinya seharian.


Chandra mengambil ponselnya dari atas meja, mencoba menghubungi Naomi. Namun orang yang di hubungi di sebrang telephon sedang sibuk menonton Drakor kesukaannya, sehingga tidak menyadari hendphonnya berbunyi.


"Kemana mereka?" gumam Chandra.


Sudah jelas Hajar dan Naomi tidak bisa keliar dari rumah itu. Tentu kedua gadis yang di sayanginya itu tidak kemana mana, melainkan berada di sekitar rumah.


Chandra pun bergegas keluar dari ruangannya. Sebelum pulang ke rumahnya dan Hajar. Chandra terlebih dahulu mengunjungi rumah Ibunya. Tentu maksud kedatangannya kesana bukan untuk memberi nafkah Amel, melainkan....


"Om Chandra" Amel yang berada di kamar Chandra, merekahkan senyumnya melihat Chandra datang.


"Siapa yang mengijinkanmu tidur di kamarku?." Chandra menapat Amel dengan kilat kemarahan. Itu kamarnya dan Hajar, selamanya akan seperti itu.


"Ma- mama" gugub Amel tak berani melihat kemarahan di wajah Chandra.


Chandra menghela napasnya, menahan diri supaya tidak menyakiti Amel. Bagiamana pun juga Amel adalah wanita hamil. Tidak layak jika harus diperlakukan kasar. Dan juga Amel pernah menjadi wanitanya, di tambah Amel juga adalah Adik dari Caroline.


"Amel, mengertilah. Kita tidak bisa hidup bersama. Aku tidak mau menyakitimu Amel." Chandra melembutkan suaranya berharap hati Amel akan luluh. Chandra pun melangkahkan kakinya ke arah Amel yang berdiri di samping kasur, Lalu menarik Amel ke dalam pelukannya." Aku kesini untuk menalak kamu Amel.Maaf aku tidak bisa memiliki dua istri. Tapi tenang saja, di mata hukum kamu tetap berstatus istriku sampai anak itu lahir. Dia anakku atau bukan, kupastikan dia menjadi cucu dikeluarga ini. Dia akan menjadi salah satu pewaris keluarga ini."


Amel langsung menangis terisak mendengar penuturan Chandra.


"Maafkan aku Amel" ucap Chandra sembari mengusap kepala Amel dari belakang.


"Aku mencintai Om" lirih Amel menghapus air matanya dengan jari tangannya. Bukan hanya status, Amel juga butuh pria yang dicintainya tetap berada di sampingnya. Dia benar benar jatuh cinta kepada Chandra.


"Maaf" ucap Chandra.


Chandra pun mengecup ujung kepala Amel, lalu melepas pelukannya menjauhi Amel.


"Maaf Amel, kujatuhkan kamu talak satu. Mulai saat ini kamu bukan istriku lagi. Maafkan Om." Chandra langsung pergi meningkalkan kamar itu. Jangan sampai hatinya luluh karena merasa Iba melihat Amel.


Amel yang di tinggalkan Chandra, menjatuhkan tubuhnya ke lantai, menangis terisak menahan rasa sakit hati dan marah terhadap Chandra. Namun ia tidak bisa melakukan apa apa untuk menaklukkan hati pria itu.

__ADS_1


* Bersambung


__ADS_2