
Sampai di apartemend tempat tinggal Caroline. Hajar dan Naomi langsung masuk, begitu juga dengan Chandra.
Di ruang tamu terlihat Amel sedang memakan buah yang sudah di potong potong. Melihat itu wajah Hajar langsung muram. Ia pun menatap Chandra supaya tidak mendekati Amel.
"Di perutku ini ada anaknya, jangan menjauhkan anak dengan Ayahnya."
"Amel" tegur Caroline, bagaimana Hajar tidak menyukainya. Amel selalu memancing mancing kemarahan.
"Anak yang tidak jelas Bapaknya. Kalau yang di dalam perutku ini. Seratus persen dijamin anak Om Chandra" balas Hajar tersenyum sebari mengusap usap perutnya.
"Hajar, kamu sudah hamil?" wajah Caroline sumiringah. Ia senang mendengar Hajar sudah hamil.
"Iya Bu, kami baru pulang periksa. Usianya memasuki lima minggu" jawab Hajar mendekati Caroline.
"Bagaimana kabar anakku?" tanya Chandra pada Amel.
Hajar langsung menatap tajam Chandra yang mengelus perut Amel. Hajar tidak suka melihat adegan itu.
"Kangen sama Bapaknya" Amel tersenyum melihat Hajar dari sudut matanya.
Caroline dan Naomi sama sama menghela napas. Chandra dan Amel sama saja, sudah tau Hajar tidak suka mereka berdekatan. Eh! malah masih sama sama memanas manasi Hajar.
Hajar marah, ia pun berlari keluar dari apartement itu tanpa mengatakan apapun.
"Hajar!" seru Naomi dan Caroline serentak.
Naomi pun langsung mengejar Hajar, kawatir terjadi apa apa dengan kandungannya.
"Kamu Chandra!" geram Caroline menatap marah pada Chandra yang sudah berdiri dari samping Amel.
Chandra menghiraukannya, ia pun segera menyusul mengejar istri kecilnya itu. Sebenarnya bukan maksud Chandra untuk memanasi Hajar. Murni, Chandra kangen dengan bayi di perut Amel. Chandra kangen merasaka pergetakan bayi itu, makanya ia mengelusnya.
"Kamu juga Amel, selalu saja memancing mancing kemarahan Hajar" marah Caroline pada Adiknya.
"Aku heran aja, kenapa Om Chandra lebih memilih anak penjahat itu dari pada aku atau Kakak?" balas Amel menatap Caroline menantang.
"Sudahlah Amel, apa kamu tidak lelah?. Cukup! jangan menciptakan permusuhan lagi" nasehat Caroline.
Amel mendengus, Kakaknya itu terlalu baik. Seharusnya mereka membalas perbuatan Tante dan Om mereka yang sudah membuat hidup mereka sengsara.
"Kakak gak mau, permusuhan itu terus turun temurun. Dan juga Hajar tidak bersalah, dia tidak tau apa apa. Jangan melampiaskan kesalahan Tante Taslin dan Om Bruno pada Hajar" ucap Caroline lagi.
__ADS_1
Amel diam saja, malas menanggapi ucapan Caroline.
Hajar yang berlari berhasil di tangkap Chandra. Hajar meronta ronta minta dilepas dari dekapan pria itu.
"Lepas Om!"
"Kamu cemburuan sekali" Chandra tak sadar diri kalau dia lebih cemburu jika Hajar dekat dengan pria lain. Dan juga istri mana yang tidak cemburu melihat suaminya dekat dengan wanita masa lalunya.
"Aku gak cemburu, tapi marah" sanggah Hajar.
"Jangan marah sayang, aku hanya mencintaimu, tapi bayi di perut Amel juga butuh perhatianku" Chandra mengecup bibir istri kecilnya itu, lalu menggendongnya membawanya kembali masuk ke apartement Caroline.
"Papa sih!" kesal Naomi berjalan duluan masuk ke dalam apartement. Papanya itu sering kali tidak memahami perasaan Hajar. Untung tadi Hajar belum sempat masuk lif, jadi masih mudah di kejar.
Sampai di dalam apartement Hajar dan Amel saling bertatapan sengit saling mengibarkan permusuhan. Melihat itu Caroline pun menyuruh Chandra membawa Hajar ke dalam kamar.
"Chandra bawa Hajar ke kamar."
"Besok Om gak boleh ikut ke sini lagi" cetus Hajar dari gendongan Chandra. Hajar ke rumah Caroline karena kangen dengan wanita itu.
"Iya sayang" balas Chandra membawa masuk Hajar ke salah satu kamar apartement itu setelah Naomi membuka pintunya.
Chandra duduk bersandar di kepala ranjang, ia pun menarik Hajar untuk bersandar ke dadanya, mendongakkan kepala Hajar ke arahnya, lalu mencium mesra bibir mungil milik istrinya itu.
Tok tok tok!
Ciuman itu langsung terlepas, Chandra pun berseru menyuruh masuk si pelaku dan pintu kamar itu langsung terbuka, nampak Caroline membawa nampan berisi dua mangkok bubur kacang merah yang di pesan Hajar tadi pagi.
"Apa itu?" tanya Chandra
"Bubur kacang merah" jawab Caroline meletakkan nampan di tangannya di atas meja nakas.
Chandra langsung meraih semangkok bubur tersebut, dan langsung mencicipinya." Aku pikir kamu gak akan bisa masak karena kelamaan gila."
Mata Caroline langsung berputar mendengar sindiran mantan kekasihnya itu."Jaman sudah canggih, semua bisa dipelajari, apa lagi hanya soal memasak" balasnya.
"Apa rencanamu ke depannya?, apa kamu tak ingin menikah?" tanya Chandra setelah menelan bubur di mulutnya. Ternyata bubur buatan sang mantan sangat enak.
"Apa masih ada laki laki yang berminat menikahi aku?" tanya balik Caroline tersenyum miring.
"Kenapa tidak? Kamu masih terlihat cantik dan s*ksi."
__ADS_1
Bukh!
Satu pukulan pum mendarat di dadanya, hampir saja bubur di tangannya tumpah. Caroline pun tersenyum melihat kecemburuan Hajar. Emang akhir akhir ini Hajar semakin cemburuan.
"Dari tadi Om makan bubur sendiri, aku gak di suapin. main gombal gombalan lagi. Enak ya bubur masakan sang mantan?" cetus Hajar menatap marah pada Chandra.
"Sini, Ibu yang suapin" Caroline mengambil semangkok bubur yang di bawanya, lalu mendudukkannya di pinggir kasur. Bagaimana ia tidak menyayangi Hajar?, selama ini Hajar juga menyayanginya.
Hajar pun berpindah duduk di depan Caroline dan langsung menerima suapan bubur dari tangan wanita yang sudah menjadi Ibu baginya itu. Hajar meneteskan air matanya menerima suapan itu. Seperti ini yang di harapkan Hajar selama ini dari wanita itu.
"Hei! kenapa menangis?" tanya Caroline dengan suara lembutnya.
Pantas saja Chandra susah move on dari wanita itu. Caroline wanita yang lembut dan keibuan.
"Kenapa bukan Ibu aja wanita yang melahirkanku?" lirih Hajar.
Caroline pun menghapus air mata Hajar dengan jari tangannya sembari tersenyum." Ibu yang melahirkanmu, melahirkanmu dari hati Ibu."
"Hajar! kenapa kamu cengeng seperti itu sekarang?" Chandra meletakkan mangkok di tangannya, kemudian menarik Hajar ke dalam pelukannya.
"Jangan pikirkan dari mana kamu berasal. Yang perlu kamu pikirkan bagaimana kamu ke depannya, menjadi orang yang lebih baik dan berguna pada banyak orang" ucap Chandra mengusap usap kepala Hajar.
"Iya sayang, semua itu masa lalu, kamu tidak perlu memikirkannya lagi" sambung Caroline.
"Aku cemburu!"
Sontak tatapan mereka ke arah Naomi yang baru masuk ke dalam kamar. Naomi cemberut melihat Hajar berada di tengah tengah Chandra dan Caroline.
"Seharusnya Papa menikahi Mama juga, biar kita menjadi keluarga berencana. Dua istri satu anak" ucap Naomi lagi.
Pluk! prank!
"Aw!" keluh Naomi merasakan benda keras mendarat di keningnya. Hajar melemparnya dengan sendok.
"Dasar anak tiri durhaka!" maki Hajar.
"Dari pada situ, cewek matre terjebak nikah dengan Om om tua" balas Naomi mencibir.
"Om omnya tampan dan kaya, gak apa apa dong." Hajar memeluk Chandra dengan bangga. Meski tak muda lagi, tapi Chandra masih tampan dan tentunya gagah. Apa lagi yang di cari, coba?.
* Bersambung
__ADS_1