Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
15 Memiliki banyak wanita


__ADS_3

"Hajar!"


Panggilan suara wanita paruh baya itu berhasil menghentikan langkahnya. Hajar membalik tubuhnya ke arah Nyonya Belinda sedang berjalan mendekatinya.


"Maaf Ma" Hajar menundukkan kepalanya. Merasa bersalah dengan Ibu mertua baik hatinya, karna kabur dari rumah.


"Kenapa minta maaf sayang?" Nyonya Belinda mengusap lembut kepala Hajar dari samping.


"Hajar sudah membuat Mama khawatir"jawab Hajar.


Nyonya Belinda tersenyum."Gak apa apa, yang penting sekarang kamu sudah pulang. Tapi jangan pernah kabur lagi ya."


"Iya Ma" patuh Hajar.


"Sana istirahat ke kamar. Nanti malam Chandra akan membawamu bulan madu."


"Serius Ma?" Hajar mendongakkan wajah sumiringah ke arah Nyonya Belinda.


Nyonya Belinda menganggukkan kepalanya sembari tersenyum sebagai jawabannya.


"Aiih ! Yes !" Hajar mengepalkan tangannya meninju udara.


"Hm.. segeralah mengandung cucu untuk Mama" ucap Nyonya Belinda. Membuat senyum Hajar menghilang seketika.


"Iya Ma!" Hajar memutar tubuhnya melangkah gontai ke arah lif, menuju kamarnya dan Chandra.


Bagaimana caranya bisa hamil, kalau Om Chandra selalu membuang bibitnya di luar, batin Hajar.


"Tania!" panggil Nyonya Belinda kepada salah satu pelayan rumah itu.


"Iya Nyonya" Tania yang sudah berdiri di depan Nyonya Belinda menundukkan sedikit kepalanya.


"Buatkan jamu untuk Hajar dan Chandra" perintah Nyonya Belinda.


"Jamu seperti yang kemarin Nyonya?" tanya Tania.


"Iya, antar ke kamar Chandra." Nyonya Belinda pun berlalu dari tempatnya berdiri.


Hajar yang sudah sampai di dalam kamar langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan menghela napas lemah. Memikirkan bagaimana caranya ia bisa mengandung anak dari pria yang menikahinya. Dan Hajar juga berpikir, kenapa Chandra tidak ingin menghamilinya?.


Apa Om Chandra sudah memiliki anak dari wanita lain?, batin Hajar.


Kelamaan berpikir akhirnya Hajar pun tertidur.


.


.


"Bryan, persiapkan keberangkatanku dengan Hajar!"perintah Chandra.


"Sekarang Tuan?"


"Hm..."


"Baik Tuan" patuh Bryan memutar tubuhnya berjalan ke arah pintu.


"Satu lagi.."


Chandra yang hendak menarik pintu, menghentikan langkahnya memutar tubuhnya ke arah Chandra yang duduk di kursinya.


"Cari tau kemana kemarin Hajar bersembunyi"lanjut Chandra.


"Baik Tuan" patuh Bryan lagi, langsung keluar dari ruangan itu.


Setelah selesai membereskan pekerjaannya, Chandra pun memutuskan untuk pulang. Karna nanti malam dia akan membawa Hajar berbulan madu sesuai keinginan Ibunya yang ingin segera menimang cucu. Chandra menutup laptop di depannya dan langsung berdiri. Setelah memakai jasnya, Chandra melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Sampai di parkiran, Chandra langsung masuk ke dalam mobilnya dan langsung melaju menuju jalan pulang. Sepanjang jalan, Chandra mengulas senyumnya, mengingat sang istri sudah pulang ke rumah. Chandra menjadi tak sabaran untuk menghukumnya.


Tunggu hukumanmu gadis manis, batin Chandra menambah laju kecepatan kenderaannya.


.


.


Sedangkan Hajar yang sudah selesai membersihkan diri, mendudukkan tubuhnya di kursi meja rias. Ia akan merias wajahnya secantik mungkin, untuk menyambut kedatangan Chandra.


Setelah selesai, Hajar berdiri memutar mutar tubuhnya di depan kaca sambil memperhatikan penampilannya yang memakai gaun malam berwarna merah menerawang, di padukan dengan pakaian dalam berwarna merah juga.


Seperti ini, sepertinya udah pas untung memanjakan mata Om Chandra, batin Hajar tertawa riang.


Hajar pun kembali merapikan make up di wajahnya. Hajar harus terus berusaha untuk mendapatkan benih Chandra. Dia harus segera hamil seperti keinginan Nyonya besar rumah itu.


Ceklek!


Mendengar pintu kamar itu terbuka, Hajar langsung memutar tubuhnya. Hajar tersenyum, dan melangkahkan kakinya dengan anggun ke arah Chandra yang baru masuk.


"Hai Om" sapa Hajar menjinjitkan kedua kakinya untuk mengecup bibir Chandra.


"Ini masih sore, kenapa kamu sudah memakai gaun malam?." Chandra mengulum senyumnya melihat penampilan Hajar yang begitu menggoda. Tentu hatinya senang di suguhkan pemandangan indah seperti itu, rasa letihnya seharian langsung hilang begitu saja.


Hajar berdecak, kenapa pria matang di depannya itu pura pura tidak paham maksudnya?.


"Apa Om tidak merindukanku?" Hajar menaikkan kedua tangannya ke dada Chandra, membuka satu persatu kancing kemeja yang membungkus tubuh kekar suaminya itu.


"Aku memiliki banyak wanita" Jawab Chandra menarik pinggang Hajar sampai menempel ke tubuhnya.


Hajar mendengus, Hajar percaya jika itu benar. Tapi untuk saat ini Hajar tidak peduli. Bukankah dia lebih mencintai harta dari pada orangnya?.


"Tapi akulah wanita yang di tunjuk Nyonya Belinda untuk melahirkan keturunan di keluarga ini." kedua tangan Hajar sudah berada di ikat pinggang Chandra.


"Kalau kamu berhasil mengalahkanku" Chandra memelepas jas dan kemejanya dari tubuhnya, melemparnya ke arah sofa. Dan langsung mengangkat tubuh Hajar melemparnya kasar ke atas kasur.


Chandra menghiraukannya, ia pun merangkak di atas tubuh Hajar, menarik ikat pinggangnya mengikatkannya ketangan Hajar yang sudah berada di atas kepala.


"Om!" Hajar seketika panik. pikirannya menjelajah ke vidio adegan gila yang pernah di tontonnya.


Chandra menyeringai lebar," beraninya kamu keluar rumah tanpa seijinku. Rasakan hukumanmu gadis manis."


Chandra berpindah ke kaki Hajar, memberinya hukuman setelah menarik kain yang menerawang dari dalam baju. Membuat Hajar terus berteriak teriak kesurupan seperti kemasukan jin.


Namun Chandra tidak peduli itu, dia masih terus memberi Hajar hukuman.


"Ampun Om, Hajar janji gak kabur lagi!" isak tangis Hajar. Benar benar sudah tak kuat menahan kenikmatan yang di berikan Chandra.


Mendengar Hajar terisak, akhirnya Chandra menghentikan hukumannya dan memperhatikan Hajar menangis sambil memghapus air matanya.


"Jangan di ulangi lagi!" tekan Chandra. Bukan karna cinta, Chandra tidak ingin Hajar berani berbuat sesuka hati padanya.


Hajar tidak menjawab, karna ia sibuk menangis sampai cigukan. Membuat Chandra kasihan melihatnya. Chandra lupa kenyataan kalau istrinya itu masih anak remaja.


Chandra membuka ikat pinggang yang mengikat kedua tangan Hajar dan langsung turun dari atas kasur, melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera siap siap untuk berangkat liburan.


Apa seperti itu cara Om Chandra marah?. Batin Hajar mendudukkan tubuhnya.


Hajar meraih handphonnya dari atas meja nakas dan membuka aplikasi grub wa. Hajar mengetik sesuatu di grup itu. Menginformasikan kepada ke empat sahabatnya kalau dia akan pergi berbulan madu. Hajar juga menyuruh ke empat temannya itu untuk menyusul.


Di sana Hajar akan bermain dengan teman temannya. Karna menurut Hajar, suaminya itu tidak akan bisa di ajak seru seruan layaknya remaja seusianya.


Yona


'Kalian bulan madunya kemana?'

__ADS_1


Hajar


'Pulau Nikoi'


Katrin


'Dimana itu?'


Hajar


'Gak tau, cari di google'


Katrin


'Ck!'


Naomi


'Aku gak punya uang'


Hajar


'Aku yang bayarin'


Luna


'Kapan berangkatnya?'


Hajar


'Malam ini'


krik krik krik...!


Hajar berdecak, karna grup mendadak sunyi.


Hajar


'Gimana? kalian datang 'kan?'


Namun grup itu masih sunyi tak ada jawaban sama sekali.


Ceklek!


Buru buru Hajar menyimpan handphonnya ke bawah bantal. Dan langsung membaringkan tubuhnya meringkuk membelakangi Chandra yang baru keluar dari kamar mandi.


"Bersiaplah, kita akan segera berangkat."


Hajar diam membeku, berpura pura tidak mendengar ucapan Chandra. Karena ceritanya dia sedang marah dan merajuk pada Chandra.


Chandra melangkahkan kakinya mendekati Hajar dan menyentuh lengan Hajar. Namun Hajar langsung menepisnya kasar.


"Om minta maaf"


Hajar malah menangis terisak.


"Ya sudah acara liburannya di batalkan" Chandra meninggalkan Hajar di atas tempat tidur, melangkahkan kakinya ke ruangan walk in closet untuk mengganti pakaian.Setelah selesai Chandra langsung keluar dari ruang walk in closet dengan pakaian santai.


"Ayo Om kita berangkat."


Sontak Chandra mengalihkan pandangannya ke arah Hajar yang sudah berdiri di dekat pintu, dengan koper di depannya. Chandra geleng geleng kepala, heran dengan sifat istri kecilnya itu. Bukankah Hajar tadi sedang merajuk?. Kini Hajar sudah rapi dengan celana potong berwarna coklat muda yang menampakkan seluruh pahanya, dipadukan dengan dress pendek berwana kuning.


"Bukankah saya sudah bilang, liburannya di-ba-tal-kan!." Candra melangkahkan kakinya ke arah teras balkon kamar, mendudukkan tubuhnya di kursi, lalu menyalakan sebatang rokok.


Melihat itu langsung saja bibir Hajar mengerucut. Hajar menghentakkan kedua kakinya kelantai dengan bergantian.

__ADS_1


"Om !" Teriak Hajar memanggil Chandra sambil menendang travel bag di depannya sampai terbalik. Kemudian Hajar melangkahkan kakinya ke arah kasur dan menjatuhkan tubuhnya di sana, menangis meraung raung.


*Bersambung


__ADS_2