Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
07. Taruhan


__ADS_3

"Hajar !"


Nyonya Belinda dan Ibu Misra langsung naik ke atas pelaminan. Mereka kawatir melihat Hajar yang pingsan dan jatuh ke lantai.


Sedangkan Chandra, ia berdecak kemudian mengangkat tubuh Hajar dan memangkunya.


"Hajar kenapa bisa pingsan?" tanya Ibu Misra


"Saya gak tau" jawab Chandra.


"Sepertinya kamu keterlaluan menciumnya!" gemas Nyonya Belinda.


Chandra mencebik, kemudian berdiri berjalan membawa Hajar turun dari atas pelaminan. Ia akan membawa Hajar ke kamar pengantin mereka untuk istirahat.


Selagi menunggu Hajar sadar dan membaik. Para tamu undangan pun memilih untuk menikmati hidangan yang tersedia.


"Pesta pernikahan yang sangat mewah!" Naomi memutar pandangannya ke setiap sudut aula pesta pernikahan Hajar dan Chandra.


"Sangat mewah dan meriah" sambung Luna. Karna mereka di hibur oleh penyanyi penyanyi terkenal. Dan hidangannya pun sangat memanjakan lidah mereka.


"Tapi sayang, pengantin prianya Om om" komentar Yona.


"Iya juga sih, tapi 'kan kaya" timpal Katrin.


"Suaminya lebih cocok jadi Ayahnya. Kalau aku sih ogah nikah sama Om om" Yona mencibir Hajar sembari bergidik ngeri.


"Sstt jangan bicara seperti itu. Kita tidak tau siapa jodoh kita nanti. Bisa saja pria yang lebih tua dari suami Hajar" Luna mengingatkan Yona, untuk tidak mengejek Hajar sahabat mereka.


"Om om nya tampan dan kaya" puji Naomi, kemudian menyuapkan satu sendok pudding rasa strawbery ke mulutnya.


Kenapa sih Hajar selalu lebih unggul dari aku?. Cantik..cantikan aku. Kaya lebih kaya aku. Kenapa dia bisa menikah dengan pria tampan dan kaya?. Batin Yona tak suka.


.


.


Sampai di kamar pengantin yang di siapkan pihak hotel untuk mereka. Chandra meletakkan tubuh Hajar dengan sangat hati hati di atas tempat tidur.


"Ini Ibu sudah bawakan minyak kayu putih" ucap Ibu Misra yang ikut menyusul Hajar dan Chandra dari belakang.


Tanpa menjawab, Chandra mengambil minyak kayu putih itu dari tangan Ibu Misra. Setelah menuangkannya sedikit ke hujung jarinya. Chandra mengoleskannya ke ujung hidung Hajar.Namun Hajar masih bergeming, tak ingin tersadar dari pingsannya.


"Apa Hajar sakit?, dia tidak demam 'kan?" tanya Ibu Misra.

__ADS_1


"Tidak" jawab Chandra, kembali mengoles minyak kayu putih ke ujung hidung Hajar lagi.


Tidak tidak tidak, aku gak mau membuka mata. Aku ingin pingsan aja. Aku malu punya suami Om om. Yona pasti sudah mengejekku, batin Hajar masih setia di dalam pingsannya.


Chandra menahan senyum, melihat bola mata Hajar bergerak gerak di dalam kelopak matanya.


Ternyata kamu hanya berpura pura gadis manis. Baiklah, kita lihat, sampai dimana kamu bisa berpura pura pingsan, batin Chandra.


Chandra mengarahkan pandangannya ke arah Ibu Misra Yang berdiri di sampingnya. Mengusir Ibu Misra dari kamar lewat menggerakkan kepalanya ke arah pintu.


Ibu Misra mengulas senyumnya paham dengan maksud Chandra. Ibu Misra pun keluar dari kamar pengantin itu, membiarkan Chandra melakukan apa yang ingin di lakukannya.


Setelah pintu kamar itu tertutup, Chandra membalik tubuh Hajar, mengarahkan punggungnya ke hadapnya. Chandra membuka perlahan resleting gaun yang di kenakan Hajar, sehingga punggung mulus Hajar terpangpang nyata.


Dan benar saja, Hajar langsung membalik tubuhnya. Menyembunyikan punggungnya yang terbuka.


"Om mau apa?" Hajar menarik selimut, menutup tubuhnya sampai ke leher.


"Kau pikir aku mau apa?" tanya balik Chandra." Kamu pikir aku tertarik melihat tubuh kurusmu itu?. Aku yakin tubuhmu itu tidak ada apa apanya" cibir Chandra, menarik sebelah sudut bibirnya ke samping.


Membuat Hajar membolakan mata ke arah pria yang dua puluh Tahun di atasnya itu. Tidak terima di hina seperti itu. Hajar membuka kembali selimutnya. Hajar turun dari atas tempat tidur dan langsung menurunkan gaunnya sampai jatuh ke lantai.


"Om bilang aku gak ada apa apanya?. Apa Om gak lihat ini?." Hajar memengak kedua gunung kembarnya di depan Chandra yang duduk di pinggir kasur sambil mempehatikan tubunya.


Kemudian Hajar membalik tubuhnya membelakangi Chandra, dan memengang kedua pantatnya" Apa Om gak lihat juga pantatku yang padat berisir ini?." Hajar membalik tubuhnya kembali ke arah Chandra, dengan gaya berkacak pinggang.


Hajar membolakan matanya dengan mulut menganga, tidak terima mendengar hinaan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.


"Kita bisa mencobanya?. Kalau aku masih perawan, Om harus memberikan saham Om, 20% sebagai taruhannya..."


"Jika tidak?" potong Chandra menatap Intens gadis yang hanya memakai celana pendek dan bra di depannya. Meski gadis di depannya tidak bohai seperti wanita idamannya. Tapi gadis di depannya berhasil membuat jakunnya naik turun.


Gadis ini benar benar matre, batin Chandra. Belum apa apa, gadis itu sudah berani ingin menguras kekayaannya.


Sedangkan Hajar terdiam dan berpikir, kira kira apa yang bisa dibuatnya taruhan. Dan sepertinya dia tidak memiliki harta yang bisa di buat taruhan.


"Jika kamu tidak perawan lagi..makan uang yang di berikan Mama, sebagai taruhanmu. Dan.." Chandra menjeda kalimatnya, matanya intens menatap dalam manik mata Hajar." Satu cucu, satu persen saham di batalkan!."


Dari mana dia tau itu?, tanya Hajar dalam hati.


"Gak gak gak, Di Dunia ini tidak ada yang gratis. Itu sudah kesepakatanku dengan Nyonya Belinda. Jika semua itu di batalkan, itu artinya pernikahan kita juga di batalkan"


Hajar tidak terima, jika taruhannya adalah uang yang di dapatnya dari Nyonya Belinda di cabut. Hajar pasti akan mendadak miskin lagi, Hajar tidak mau itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, berusaha keraslah untuk mendapatkan benihku" Chandra berdiri dari pinggir kasur berjalan mendekati Hajar. Sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Hajar, sebelah tangan Chandra pun terangkat menyentuh bagian menonjol tubuh Hajar dan meremasnya."Ini terlalu kecil di tanganku" bisik Chandra dan langsung berlalu keluar kamar.


Apa maksudnya harus berusaha keras untuk mendapatkan benihnya?. What? ini terlalu kecil. Oh my Good! dia memegang sus*ku. Dia meremasnya!. batin Hajar, memegang sebelah gunung kembarnya yang di remas Chandra.


Melihat tubuhnya hanya memakai pakaian dalam, sontak Hajar menjerit dan melompat ke atas kasur dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Oh my Good! pria tua itu sudah melihat tubuhku!, batin Hajar.


Kenapa pula dia langsung terpancing emosi karna dikatakan tubuhnya tidak ada apa apanya?, sampai dia menurunkan gaunnya.


"Bodoh bodoh bodoh !" Hajar memaki dirinya sendiri, sambil tangannya memukul mukul kepalanya.


Tok tok tok !


Mendengar pintu di ketuk, Hajar langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


"Nona saatnya ganti baju" sahut seorang wanita dari luar.


Ganti baju?.Seketika Hajar lupa kalau saat ini resepsi pernikahannya dan Chandra sedang berlangsung di aula hotel tempat mereka sekarang.


Oh ! ya ampun ! aku lupa kalau hari ini aku menikah. Batin Hajar lagi.


"Ya silahkan masuk" balas Hajar dan langsung turun dari atas kasur.


Pintu kamar itu terbuka dari luar, nampak dua orang perias pengantin masuk ke dalam kamar, membawa gaun berwarna baby pink.


Setelah selesai mengganti pakaian, dengan gaun pengantin bermodel lain. Tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka dari luar. Nampak Chandra melangkah masuk dengan pakaian yang berwarna senada dengannya. Chandra melangkahkan kakinya ke arah Hajar yang masih duduk di depan cermin.


"Ayo berdiri, atau kau ingin di gendong?" Chandra mengulurkan tangannya ke arah Hajar, supaya Hajar meraihnya.


"Ogah di gendong sama Om om" ujar Hajar


Membuat Chandra berdecak."Jika tak ingin bersama Om om, seharusnya kamu menerima tawaran Bryan untuk balikan."


"Bryan?" Hajar mengerutkan keningnya.


"Sekarang sudah terlambat jika kamu menyesalinya. Ayo cepat berdiri, para tamu undangan sudah menunggu dari tadi."


"Aku memang menyesalinya, Nyonya Belinda harus membayar mahal penyesalanku ini. Karna menikahkanku dengan anaknya yang sudah Om om." Hajar berdiri dari tempat duduknya, melongos mengabaikan tangan Chandra.


Chandra berdecis, kemudian mengikuti langkah kaki Hajar keluar dari kamar pengantin mereka."Jika kau menyesal, kau bisa mundur dan mengembalikan uang yang diberikan Ibuku."


"Tidak akan, sudah terlanjur. Dan aku rasa kita akan menjadi suami istri di dalam rumah saja. Jika diluaran, kita masing masing"ujar Hajar tanpa berpikir.

__ADS_1


"Baiklah, kau jangan menyesali perkataanmu itu." Chandra mensejajarkan langkahnya dengan Hajar. Menggandeng tangan Hajar karna mereka akan memasuki aula tempat pesta pernikahan mereka berlangsung.


*Bersambung


__ADS_2