Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
06. Pingsan


__ADS_3

Brank !!!


Karna kesal Bryan mencuri ciumannya, Hajar melajukan kenderaannya dan sengaja menyerpet motor milik Bryan hingga terjatuh.


"Dasar cewek matre" maki Bryan.


Bryan melangkahkan kakinya tertatih ke arah motornya tanpa melepas tangannya dari senjata pusakanya yang masih terasa ngilu.


"Lihat saja Hajar, aku akan menertawakanmu, saat kamu kaget melihat pria yang akan menikahimu. Aku yakin kamu akan menyesal, dan saat itu aku tidak akan mau kembali padamu lagi." Bryan bergumam sambil mendirikan motornya, dan segera meninggalkan tempat itu.


.


.


Sedangkan Hajar yang masih melajukan kenderaannya menuju jalan pulang. Bersiul siul dengan wajah ceria. Ah ! dia memang selalu ceria, meski ada beban berat di hatinya yang di rahasiakannya selama ini.


Ya, dia dan keluarga yang mengasuhnya merahasiakan keberadaan Ibunya. Karna Keluarga yang mengasuhnya tak ingin dia malu, apa lagi sampai menjadi bahan olok olokan teman temannya karna dia terlahir dari wanita yang menderita gangguan jiwa.


Sampai di halaman rumahnya, Hajar memarkirkan mobilnya langsung ke dalam garasi. Hajar turun dari mobil dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Dari mana? kenapa baru pulang?."


Hajar berdecak, mendengar pertanyaan yang membosankan itu."Mengunjungi Ibu."


Ibu Misra menghela napas beratnya." Setelah kamu menikah, jangan sering sering lagi mengunjungi Ibumu. Jangan sampai suami dan mertuamu curiga. Kamu harus hati hati."


"Iya Ma" patuh Hajar dengan wajah sedih.


"Itu untuk kebaikanmu sayang!" ucap Ibu Misra mengusap kepala Hajar.


Hajar menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Sana istirahat ke kamar, besok kamu tidak boleh keluar lagi. Karna besoknya kamu harus menikah" ucap Ibu Misra lagi.


"Iya mamaku sayang, Hajar ingat" Hajar mencubit kedua pipi Ibu Misra, dan langsung berlari ke arah tangga.


Ibu Misra mengulas senyumnya. Meski Hajar bukan anak kandungnya, tapi ia sangat menyayangi gadis itu.


.


.


Esok harinya, di ruang kerja Chandra. Bryan berdiri di depan meja Chandra, untuk menyampaikan laporannya. Kalau dia tidak berhasil mengajak Hajar untuk balikan. Dan Bryan juga mengatakan kalau dia ikhlas melepas Hajar untuk menikah dengan tuannya.


"Saya ikhlas melepas Nona Hajar untuk Tuan!" ucap Bryan.


"Saya yang tidak ikhlas untuk menikah dengannya. Karna gadis itu bekas pacarmu" cetus Chandra.


Lantang sekali Asistennya itu mengatakan ikhlas melepas mantan pacarnya untuk dia nikahi. Seorang olah dirinya sudah merebut wanita matre itu dari Bryan.

__ADS_1


"Itu urusan Tuan" Bryan menundukkan sedikit kepalanya, tidak berani membalas tatapan Chandra yang memperhatikannya.


"Hm baiklah, itu urusanku. Sekarang kembali ke kantor!" usir Chandra mengibaskan sebelah tangannya ke arah Bryan.


"Baik Tuan" Bryan langsung memutar tubuhnya dan meninggalkan ruangan itu.


Chandra menghela napasnya,mengingat besok adalah hari pernikahannya dengan menantu bayaran pilihan Ibunya. Ya, Chandra mengetahui itu, karna pada saat Chandra menyuruh seseorang mengikuti Ibuya mengunjungi rumah sahabatnya. Chandra menyuruh orang itu untuk menyadap pembicaraan Ibunya dan pemilik rumah.


Caroline, aku tidak tau, apakah aku bisa mencintainya atau tidak. Tapi kali ini aku harus menuruti keinginan Ibuku. Aku minta maaf, karna tak bisa menunggumu lagi, batin Chandra.


.


.


Hari ini adalah hari yang di tunggu tunggu Nyonya Belinda dan Ibu Misra. Kedua wajah wanita paruh baya itu sama sama berbinar senang. Karna hari ini adalah hari pernikahan anak anak mereka.


Berbeda dengan kedua calon mempelai yang masih berada di ruangan masing masing. Jika Hajar dengan perasaan penasarannya. Berbeda dengan Chandra, yang dari tadi tidak tenang karna gugub.


"Jeng Misra, apa masih lama?" tanya Nyonya Belinda. Kini mereka sudah berada di aula sebuah Hotel bersama para keluarga dan tamu undangan.


"Saya periksa dulu ya Jeng" jawab Ibu Misra, dan Nyonya Belinda menganggukkan kepala. Ibu Misra segera memeriksa Hajar ke ruangan rias pengantinnya.


Meski wajah nyonya Belinda nampak tenang dan senang. Sebenarnya dia sangat khawatir. Khawatir anak perjaka tuanya itu kabur dari pernikahan.


Tiba tiba ruangan itu mendadak riuh dengan para tamu undangan yang sudah memenuhi aula Hotel. Nyonya Belinda langsung mengalihkan pandangannya ke arah red karpet yang terbentang memanjang dari pintu lif sampai ke tempat akan di langsungkannya pernikahan.


Nyonya Belinda bernapas lega, melihat anaknya berjalan di atas red karpet tersebut dengan di kawal dua orang bodyguard di samping kiri dan kanannya.


Nyonya Belinda melangkahkan kakinya mendekati Chandra yang sudah duduk di kursi yang akan mengikat dirinya dengan tali pernikahan dengan seorang gadis. Nyonya Belinda menyentuh bahu anaknya dengan mata berkaca kaca. Membuat Chandra sontak menoleh ke arahnya.


"Trimakasih sudah mengabulkan permintaan Mama" ucap Nyonya Belinda.


"Ma..." hanya dua huruf itu yang mampu Chanda ucapkan.


"Melangkahlah terus ke depan, untuk menata masa depanmu" ucap Nyonya Belinda lagi, tangannya mengusap lembut kepala anaknya itu.


Chandra menganggukkan kepalanya." Demi Mama aku akan melakukannya."


"Bagaimana?, apa pernikahannya sudah bisa kita mulai?"tanya seorang Bapak yang akan meminpin jalannya pernikahan.


"Sudah Pak!" Nyonya Belinda yang menjawab.


"Pengantin wanitaku belum datang Ma!" protes Chandra.


Bagaimana bisa ia menikah, kalau calon istrinya belum terlihat batang hidungnya. Dan bahkan calon istrinya belum mengenal wujudnya seperti apa.


"Tidak masalah, sebentar lagi dia akan menyusul" balas Nyonya Belinda. "Ayo Pak !, kita mulai saja pernikahannya" suruhnya kepada si Bapak yang akan meminpin pernikahan itu.


"Ma" protes Chandra.

__ADS_1


"Sssttt! ayo mulai" Nyonya Belinda memutar kepala anaknya ke arah peminpin pernikahan. Tidak menerima bantahan anaknya.


Acara pernikahan pun di mulai.


Chandra mengucapkan jaji sucinya kepada seorang gadis bernama Hajar Nataya Callista Isti. Berjanji akan bertanggung jawab, hidup dan mati gadis itu. Menerima segala sikap baik dan buruknya. Sehingga kata Sah dari para saksi dan tamu undangan terdengar bergemuruh di ruangan itu. Pertanda, Chandra sudah resmi menjadi seorang suami dari gadis bernama Hajar.


Setelah rangkaian upacara pernikahan selesai, Para tamu undangan kembali bergemuruh dan bertepuk tangan saat melihat seorang gadis cantik berjalan ke arah pentas pernikahan. Dengan memakai gaun panjang dan mengembang berwarna putih, wajah di rias dengan make up tidak terlalu tebal. Dan rambut di sanggul rapi dan di beri mahkota kecil di atas kepalanya. Dan gadis itu membawa sebuket bunga mawar berwarna putih becampur dengan pink di pelukannya.


Chandra yang melihatnya terdiam dan terus memperhatikan gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu berjalan dengan senyum menawan di bibirnya.


Cantik dan Imut, batin Chandra. tidak di pungkiri Chandra, gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu memang cantik dan imut.


"Ayo berdiri, sambut istrimu" bisik Nyonya Belinda ke telinga Chandra. Melihat Chandra hanya diam saja di tempat duduknya.


Chandra pun berdiri, melangkahkan kakinya untuk menjemput pengantinnya yang sibuk membalas setiap senyuman para tamu undangan yang tersenyum padanya.


Bruk !


"A..aa..aa...!"


Hajar yang merasakan tubuhnya oleng karna habis menabrak sesuatu, memejamkan matanya. Berpikir tubuhnya akan terjatuh ke lantai.


Sedangkan para tamu undangan, seketika terdiam, dan menutup mulut masing masing dengan tangan. Kawatir dengan pengantin wanitanya yang hampir menyentuh lantai.


Namun itu tidak sampai terjadi, karna pria bertubuh tinggi dan gagah yang memakai pakaian pengantin, dengan sigap menangkap tubuh Hajar dan mengangkat tubuh kurus itu ala bridal style membawanya ke pelaminan.


Para tamu undangan langsung bersorak dan bertepuk tangan meliatnya. Dan ada juga yang bersuit suit dengan cara menasukkan jari telunjuk dan jempolnya ke mulut.


Hajar yang merasa tubuhnya melayang, perlahan membuka kelopak matanya, dan mengarahkan pandangannya ke wajah pria yang membawanya. Hajar membolakan matanya, memperhatikan wajah pria itu dengan intens.


"Ti..ti..tidak" gugub Hajar melihat wajah suaminya sudah tidak muda lagi, dan Hajar langsung meronta untuk turun.


" Apa yang tidak ?" Chandra menurunkan Hajar dari gendongannya.


Hajar bergidik ngeri melihat wajah tua suaminya. Dia tidak menyangka ternyata dia dinikahkan dengan pria yang sudah om om. Pantas saja Ibunya dan calon mertuanya tidak memperkenalkan mereka.


Mengingat Hajar pernah mencuri ciumannya saat pertemuan pertama mereka di club. Tanpa permisi,Chandra langsung menyambar bibir Hajar, melum*tnya tanpa ampun. Membuat riuh para tamu undangan, bersorak dan bertepuk tangan.


Nyonya Belinda dan Ibu Misra pun saling berpelukan. Mereka berpikir, perjodohan yang di lakukan mereka berhasil. Dan tidak akan lama menunggu, sepertinya mereka akan segera menimang cucu.


Setelah seperkian detik berlalu, akhirnya Chandra melepaskan ciuman brutalnya karna Hajar terus memukul mukul dadanya.


Tiba tiba..


Brukk !


Hajar jatuh pingsan.


Suara riuh para tamu undangan langsung terdengar memenuhi aula hotel itu.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2