Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
14.Biarkan saja


__ADS_3

Pak security itu belari masuk ke dalam pos security di dekat gerbang, untuk melaporkan kalau istri kecil Tuannya itu melarikan diri dari rumah.


"Ha..halo tuan" gugub security itu.


"Ada apa?" tanya dari balik telephon.


"I..itu tuan a..anu, Nona..Nona Hajar kabur dari rumah tuan."


"Biarkan saja" Chandra yang berada di balik telephon mematikan sambungannya.


Biarkan saja???, batin security itu berpikir.


Buat apa dia bicara gugub dan terbata, jika Tuannya membiarkan istrinya kabur dari rumah.


Chandra yang memperhatikan Hajar dari kaca jendela ruang kerjanya. Menghela napasnya, biarkan saja Hajar pergi, Chandra yakin Hajar takkan bisa meninggalkan kekayaannya, pikir Chandra. Dan Chandra tidak perlu kawatir, karna dia sudah menugaskan seseorang untuk mengawasi pergerakan Hajar kemana pun pergi.


.


.


Di tempat lain, Hajar menyuruh supir ojek online itu berhenti. Karna curiga dengan motor yang mengikuti mereka dari tadi.


"Kan belum sampai dek" ucap tukang ojek itu.


"Sampai di sini aja" Hajar memberikan uang kepada tukang ojek itu, kemudian melangkahkan kakinya ke arah pusat perbelanjaan yang berada di depannya.


Untung mallnya belum tutup, batin Hajar.


Sampai di dalam mall, Hajar melangkahkan kakinya ke arah kios penjual baju model tertutup. Hajar pun memilih satu stel baju lengkap dengan cadarnya. Setelah membayarnya, hajar melangkahkan kakinya ke salah satu ruang pas, untuk mengganti pakaianya dengan pakaian tertutup. Malam ini Hajar berencana akan menemui Ibunya, dan akan tidur di sana.


"Aduh! kok orang itu masih menungguku di situ sih?" gumam Hajar, mengintip pria yang terus mengikutinya dari tadi berdiri di depan kios.


Hajar menggigit ujung kukunya, Hajar Bingung bagaimana caranya lolos dari pengawasan pengawal yang di tugaskan suaminya itu. Untung tadi Hajar mengetahui gelagat pria yang mengikutinya. Kalau tidak? Mungkin keberadaan Ibunya bisa diketahui orang lain. Terutama Nyonya Belinda, bisa bisa dia dipecat jadi menantu.


Saat melihat pria itu lengah, Hajar pun menyempatkan diri untuk kabur.


Untung tadi aku sempat membawa uang, batin Hajar setelah dia masuk ke salah satu taxi yang mangkal di depan mall.


"Kemana mbak?" tanya supir taxi itu.


"Jalan aja Pak, akan kutunjukin jalannya" jawab Hajar.


.


.


"Halo bos" sapa dari sebrang telepon saat Chandra menerima panggilan telepon di Hpnya.


"Hm"balas Chandra.


"Saya kehilangan jejak Nona" lapor pria yang mengikuti Hajar dari tadi.


"Biarkan saja" ucap Chandra santai.


"Baik bos"

__ADS_1


Chandra pun mematikan sambungan teleponnya, memutar mutar handphon itu, sambil berpikir kemana Hajar akan bersembunyi.


Kau ingin mengujiku anak manis?. kita lihat saja berapa lama kamu sanggup bersembunyi. Aku rasa, kamu tidak akan menyia nyiakan harta miliku. Batin Chandra menarik sebelah sudut bibirnya ke samping.


Chandra tidak akan mencari Hajar, dia yakin Hajar pasti akan pulang dengan sendirinya.


.


.


Esok paginya, mendengar Hajar kabur dari rumah. Membuat Nyonya Belinda heboh, menangis sambil mengoceh marah marah kepada Chandra.


"Kau menyakitinya 'kan? makanya dia kabur. Kau pasti sudah mengatakan sesuatu yang membuatnya sakit hati. Kau itu sudah tua, Hajar itu masih anak anak. Kenapa kamu tidak mau mengalah sedikit saja. Kau memperlakukannya hanya wanita ranjangmu. Istri mana yang tidak sakit hati. Dulu Papamu selalu menyayangi Mama. Meski kami menikah karna di jodohkan."


"Tenanglah Ma, pasti Hajar akan kembali sendiri. Bukankah menantu bayaran Mama itu mata duitan. Dia tidak akan meninggalkan harta Papa yang Mama janjikan." Chandra berbicara sambil mengancing lengan kemejanya. kemudian menyisir rambutnya ke belakang setelah terlebih dahulu memberinya minyak rambut.


"Kalau Hajar tidak kembali ke rumah ini, hari ini juga. Mama akan pergi dari rumah ini. Mama akan kembali kalau Hajar sudah kembali" ancam Nyonya Belinda.


"Terserah Mama saja" Chandra melangkahkan kakinya medekati sang Mama. Setelah mengecup kening wanita lanjut usia itu, Chandra langsung berlalu dari kamarnya.


"Chandra" teriak kesal Nyonya Belinda, melihat sikap tidak peduli anaknya itu.


Nyonya Belinda pun meninggalkan kamar itu, dia akan menelepon besannya. Menanyakan Hajar apakah pulang ke rumahnya.


.


.


Sedangkan Hajar yang duduk di pinggir kasur menghadap jendela. Dari tadi memaju mundurkan bibirnya, berpikir apakah Chandra mencarinya atau tidak. Dan Hajar pun tidak mempunyai akses untuk mengetahuinya. Karena saat kabur tadi malam, Hajar sengaja meninggalkan Hp.


Tok tok tok!


"Permisi!"


Hajar mengalihkan pandangannya ke arah pintu, melihat siapa yang datang.


"Ibunya sudah waktunya sarapan ya" ucap perawat yang meletakkan nampan berisi semangkok bubur dan segelas air di atas meja.


"Trimakasih Sus" balas Hajar ramah.


Setelah perawat itu pergi, Hajar pun membantu Ibunya duduk bersandar di kepala ranjang. Kemudian menyuapinya memakan bubur.


"Sampai kapan Ibu seperti ini?. Bahkan Hajar sudah besar Bu" ucap Hajar, melap bibir wanita gangguan jiwa itu dengan tissu.


"Seharusnya Ibu membalas perbuatan orang yang menyakiti Ibu. Bukan malah Ibu lemah tak berdaya seperti ini. Ibu tidak sendiri, Ada Hajar, Mama Misra yang selalu ada buat Mama. Kita bisa menghadapinya sama sama" ucap Hajar lagi, sambil menyuapkan bubur ke mulut wanita yang di panggilnya Ibu itu.


Namun wanita itu hanya diam membisu, seperti patung bernyawa.


"Bicaralah Bu, katakan sama Hajar, apa yang mengganjal dihati Ibu. Apa yang membuat Ibu membisu. Bangkit Bu,buang semua rasa sakit itu. Ada Hajar untuk Ibu" Hajar menghapus air matanya yang sempat mengalir di pipinya, sedih melihat Ibunya yang tak kunjung sembuh.


Ceklek !


Refleks Hajar mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan menghapus air matanya, karna tiba tiba terbuka dari luar.


"Ya ampun Hajar! ternyata kamu di sini!. Ibu mertuamu sudah menangis nangis menelepon Mama karna kamu kabur. Gak bawa handphon lagi" tiba tiba Ibu Misra datang mengoceh dan langsung menjewer telinga Hajar.

__ADS_1


"Ampun Ma" keluh Hajar


"Katakan sama Mama, kenapa kamu kabur ? Hm!" gemas Ibu Misra.


"Ck Hajar lagi kesal dengan pria tua itu" cetus Hajar cemberut.


"Kenapa?" Ibu Misra berdiri bertolak pinggang ke arah Hajar.


"Lagi kesal aja" jawab Hajar.


"Alasannya Hajar !"


"Dia gak mau mengajak Hajar berbulan madu. Padahal 'kan uangnya banyak." Hajar menjawab dengan mengerucutkan bibirnya." Mama sih, menikahkan Hajar sama Om om. Jadi taunya cuma kerjaaaaa mulu."


Ibu Misra mengangkat satu tangannya untuk mencomot bibir Hajar yang meruncing."Bagus dong, jadi dia bisa memberimu uang yang banyak. Dari pada si Bryan Bryan itu, kamu dapat apa darinya?."


Ah! ternyata ini dia orangnya yang membentuk karakter Hajar menjadi gadis matre.


Hajar tidak menjawab, ia masih setia mengerucutkan bibirnya.


"Pulanglah"suruh Ibu Misra kepada Hajar.


"Jangan dulu dong Ma, pancingan Hajar belum dapat ikan."


Ibu Misra memutar bola mata malas." Terserah kau saja."


.


.


Hajar berjalan mondar mandi di pinggir kaca di ruangan perawatan Ibunya. Sudah tiga hari Hajar bersembunyi di sana. Namun kabar dari Ibu Misra, Chandra tidak mencarinya sama sekali.


"Apa aku pulang aja ya?" gumam Hajar bertanya kepada cicak cicak di dinding yang menertawakannya dari tadi.


Hajar kesal, Hajar mengerucutkan bibirnya sambil memberenggut, dan menghentakkan kedua kakinya bergantian. Suami macam apa itu?, istri kabur menghilang dari rumah tidak di cariin.


"Pulang-tidak-pulang-tidak-pulang-tidak-!" Hajar terus menghitung ruas jarinya seperti orang yang sedang berzikir. Untuk memastikan apakah dia pulang atau tidak.


"Pulang aja deh, entar kelamaan sembunyi, di embat sama pelakor dah semua harta Om Chandra" monolog Hajar, setelah berpikir tiga puluh tiga kali.


Hajar memutar tubuhnya, berjalan mendekati wanita yang duduk mematung di pinggir kasur. Hajar memeluk wanita itu, dan mencium kedua pipinya.


"Bu Hajar pulang dulu ya, nanti Hajar kesini lagi" Haja pun keluar dari kamar Ibunya, untuk segera pulang ke rumah suaminya.


.


.


Setelah taxi yang mengantarnya berhenti tepat di depan rumah tempat tinggalnya saat ini. Hajar masuk secara diam diam, lewat pintu dadurat gerbang itu yang kebetulan terbuka. Hajar pun memilih masuk lewat pintu belakang, supaya tidak ada yang mengetahuinya pulang.


Tanpa Hajar sadari, Chandra tersenyum menghadap laptopnya di kantor perusahaannya.


Akhirnya kamu pulang juga gadis manis, batin Chandra. Pasti nanti Chandra akan memberikan istri nakalnya itu hukuman, tentunya hukuman yang membuat tubuh Hajar lemah tak berdaya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2