
"Aaa !" Chandra menjerit saat merasakan sesuatu menusuk lengannya. Seketika tubuhnya melemah dan kesadarannya berangsur menghilang.
"Papa!" panggil Naomi berusaha keluar dari dalam mobil, namun di tahan oleh pria yang menjaganya.
"Bawa dia" perintah Nyonya Belinda langsung masuk ke dalam mobilnya.
Tapi tidak semudah itu, ke empat anak buah Chandra berusaha merebut Chandra dari anak buah Nyonya Belinda. Akhirnya baku hantam pun terjadi kembali. Chandra di biarkan terkapar begitu saja di pinggir jalan.
Kemenangan pun di raih anak buah Nyonya Belinda. Sehingga Chandra berhasil di bawa oleh Nyonya Belinda pulang ke rumahnya. Chandra yang belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang di suntikkan ke tubuhnya. Di kurung di dalam kamarnya dan di jaga ketat oleh penjaga.
.
.
Di tempat lain, Boy membawa Hajar bersembunyi dari kejaran Bryan dan orang suruhannya.
"Sssst!" Boy membekap mulut Hajar yang bernapas ngosgosan dengan telapak tangannya, saat mendengar suara kaki Bryan mendekat ke arah mereka.
"Hajar!" Bryan tau Hajar dan pria yang bersamanya bersembunyi di sekitar kumpulan barang rongsokan di tempat itu.
"Keluarlah, Tuan Chandra tak sengaja di lukai anak Buah Nyonya" seru Bryan memancing Hajar untuk keluar.
Mendengar Chandra terluka, raut wajah Hajar langsung berubah kawatir. Namun tekatnya untuk pergi dari hidup Chandra membuatnya tetap bersembunyi.
Hajar mencintai Chandra, namun ia ingin hidup damai dan tenang. Tidak seperti sekarang ini, harus menerima kemarahan Nyonya Belinda.
Maaf Om, batin Hajar
Tak terasa air matanya pun mengalir begitu deras. Hajar semakin membekap kuat mulutnya supaya isak tangisnya tidak sampai keluar.
Boy yang berada di samping Hajar, menarik Hajar ke dalam pelukannya. Meski ia tidak paham apa sebenarnya yang di hadapi gadis yang pernah di taksirnya itu.
"Hajar!" panggil Bryan lagi. Dia harus berhasil membawa Hajar. Kasihan Tuannya nanti jika kehilangan wanitanya sekali lagi.
Namun panggilan telepon dari perusahaan mengharuskan Bryan segera pergi. Dan Bryan pun menugaskan pria yang datang bersamanya untuk mengawasi Hajar.
Setelah mendengar Bryan dan anak buahnya pergi. Boy pun membawa Hajar keluar dari persembunyian dan segera meninggalkan tempat itu.
"Boy bawa aku pergi jauh, aku mohon!" pinta Hajar mengiba. Sungguh ia tidak mau menjadi bulan bulanan Ibu mertuanya jika harus tetap menjadi istri Chandra.
"Aku tidak tau masalah apa yang kamu hadapi Hajar. Aku gak bisa membawamu sembarangan" tolak Boy.
__ADS_1
"Aku mohon Boy"
.
.
Chandra yang sudah terbangun dari tidur lelapnya duduk termenung bersandar ke kepala ranjang. Memikirkan apakah Hajar behasil di kejar Bryan atau tidak. Chandra tidak bisa menghubungi Bryan atau siapa pun untuk mengetahui kabar Hajar, kerena Nyonya Belinda mengambil handphon dan laptopnya.Dan sepertinya, Nyonya Belinda juga menutup akses Bryan masuk untuk menemuinya.
Ibunya sungguh keterlaluan.
Tok tok tok!
Mendengar suara pintu kamarnya di ketok, Chandra langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu, melihat siapa yang akan masuk.
"Tuan, saya di suruh Nyonya mengantar makan siang ke sini." pembantu itu berbicara dengan sedikit menundukkan kepalanya, dan berjalan perlahan ke arah sofa, dan meletakkan nampan di tangannya di atas meja.
Chandra diam saja dan hanya memperhatikan kilas pembantu itu.
"Permisi Tuan" sebelum meninggalkan kamar Tuannya itu, pembantu itu menggoyangkan dagunya ke arah nampan, tepat saat Chandra menoleh ke arahnya, lalu meninggalkan kamar itu.
Chandra mengerutkan keningnya, apa maksud kode pembantu itu?. Penasaran, Chandra pun turun dari atas tempat tidur, berjalan ke arah sofa. Di bawah piring terselip selembar kertas. Chandra langsung menarik kertas kecil itu.
Tenang Pa, Hajar aman. Papa bisa menemuinya nanti setelah semua aman terkendali.
Ternyata seperti ini rasanya punya putri yang sudah besar. Batin Chandra
Merasakan perutnya lapar, Chandra pun mendudukkan tubuhnya di sofa dan melahap makanan di atas meja.
.
.
"Tinggallah di sini untuk sementara waktu. Maaf! aku gak bisa membawamu ke rumah. Apa kata orang tuaku nanti, membawa kabur istri orang" ucap Boy setelah membuka pintudi depannya dan melangkah masuk.
Untuk sementara waktu, Boy menyewakan kamar hotel untuk Hajar. Supaya Hajar bisa istirahat dan menenangkan diri dengan nyaman.
"Berapa hari?, kamu tau sendiri aku tidak punya uang untuk membayar sewa kamar hotel ini. Bagaimana kalau kamu tidak datang datang?" ucap Hajar, dan Boy tersenyum.
"Apa kamu memintaku untuk menemanimu di sini. Ayolah! Aku tidak memiliki iman yang kuat untuk menahan diri" goda Boy bergurau.
"Kamu bisa menitipkan kartu atm mu untukku. Itu maksudku Mr Boy." Hajar tersenyum dan menaik turunkan alisnya ke arah Boy.
__ADS_1
"Hm...ternyata tidak salah dengan informasi yang kudengar. Kalau kau sangat cerdik dengan uang. Tapi tidak masalah."
Hajar berdecak. Boy pun mengeluarkan dompetnya dan memberi satu kartu atmnya untuk Hajar.
"Untung aku kaya" ucap Boy setelah Hajar menerima kartu atmnya.
"Seharusnya aku menikah denganmu. Sudah kaya, tampan, dermawan lagi" desah Hajar seperti orang yang menyesali takdirnya.
"Tidak bagus menyesali takdir" ucap Boy.
"Kamu benar" Hajar menoleh ke arah Boy." Trimakasih sudah menolongku. pulanglah, tidak bagus kita berlama lama berdua di kamar ini. Aku masih istri orang loh!" usir Hajar tersenyum.
"Hm..baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Boy langsung keluar dari kamar itu setelah sempat mengacak acak ujung kepala Hajar.
Tuhan, apa ini kesempatanku untuk mendapatkan Hajar?. Tapi aku takut terlalu berharap, karena Hajar masih menjadi istri pria lain. Dan juga aku rasa Momy tidak akan mengijinkanku menikah dengan wanita bekas pria lain. batin Boy berjalan masuk ke dalam lif untuk turun ke lantai bawah.
Ah..! apa apaan sih kamu Boy?. umur masih kecil juga, sudah mikirin nikah" rutuknya sendiri dalam hati.
.
.
Sepeninggal Boy, Hajar berjalan ke arah jendela kamar hotel itu. Hajar menyibak horden yang menutupi kaca dan membukanya. Memandang lurus ke depan, tak terasa air matanya mengalir begitu saja, bibirnya bergetar menahan isak tangis.
Benarkah dia akan meninggalkan Chandra suaminya?. Benarkah pernikahan mereka akan benar benar berakhir?. Benarkah kisah cinta yang baru di mulai akan usai?.
"Om..." lirih Hajar, dadanya terasa sesak.
Semuanya begitu cepat dan singkat, namun kenangan bersama Chandra sangat melekat di hatinya.
Hajar melangkahkan kakinya keluar ke teras balkon kamar itu dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Duduk meringkung, memeluk kedua kakinya.
Kepada siapa dia mengadu?, Hajar tidak punya keluarga atau orang tua tempatnya bersandar saat ini.
Untuk memanggil nama Mama,Ayah, Kakak,Ibu, Papa, lidahnya kelu. Semua membohonginya, mempermainkan hidupnya tanpa memikirkan perasaannya. Selama ini ternyata hidupnya penuh dengan kebohongan, Hajar kecewa dengan keluarganya.
"Om" lirih Hajar lagi. Hanya Chandra yang tulus menerimanya, menyayanginya, mencintainya. Namun Hajar harus meninggalkan laki laki itu demi hidup damai. Tak ingin ada pertikaian antara Chandra dan Ibunya. Tak ingin terus menerus menerima kebencian dan kemarahan dari Nyonya Belinda.
"Aku mencintaimu Om" Meski sempat ingin mempertahankan pernikahan mereka. Karena menerima kemarahan Nyonya Belinda tadi pagi, membuat niat Hajar berubah.
"Om"
__ADS_1
*Bersambung