Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
50. Terlalu perhatian


__ADS_3

"Hei ! itu buah untukku!" seru Hajar melihat Amel mengambil buah yang berada di samping Chandra.


Amel berdecak," kau pelit sekali."


"Itu urusanku" cetus Hajar merampas piring berisi buah itu dari tangan Amel.


"Om, ayo kita ke dalam" ajak Hajar sengaja ingin membuat hati Amel panas.


"Kasihan Amel baru datang sudah di tinggal. Kenapa tidak akur aja dengan Amel?."


"Ogah!" cetus Hajar cepat. Akur sama madu, ntar lebahnya menyengat, apa gak sakit nanti?.


"Takut?" cibir Amel menatap remeh ke arah Hajar.


"Om, Ayo!" manja Hajar menukar posisi duduknya ke arah Chandra, lalu melingkarkan kedua kakinya ke pinggang pria itu.


"Hm..baiklah" Sebelum berdiri Chandra pun meraih gelas kopi di sampingnya, ingin meminum kopi itu sebelum masuk ke dalam Villa.


"Gak usah di minum. bisa aja dia sudah memasukkan sesuatu ke dalamnya." Hajar meraih gelas kopi itu dari tangan Chandra, lalu menumpahkannya ke tanah. Sengaja ingin membuat Amel sakit hati.


"Aku akan membuatkan kopi buat Om"ucap Hajar lagi.


"Hajar" tegur Chandra, lalu menghela napasnya menahan amarah. Hajar sangat keterlaluan, sudah membuat Amel sakit hati.


Sepertinya kau ingin benar benar aku merebut Om Chandra darimu Hajar. Batin Amel


Dia sudah berbaik hati ikut memperjuangkan rumah tangga Hajar dan Chandra. Malah Hajar malah bersikap tidak menghargainya.


"Ayo Om, aku gak mau kalian meghirup udara yang sama. Napas yang di keluarkannya bisa membuat Om keracunan." Hajar berbicara cetus dan manja, dan menatap marah pada Chandra yang juga marah padanya.


Chandra sangat mencintainya bukan, jadi Hajar tak perlu takut melihat kemarahan Chandra.


"Baiklah, tapi kamu harus belajar untuk menghargai orang lain." Chandra menghela napasnya pasrah, dan segera turun dari ayunan. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam Villa bersama Hajar berada di gendongannya. Hajar masih kecil, Chandra harus memaklumi sikap kekanak kanakannya.


Amel meneteskan air matanya setelah Chandra dan Hajar masuk ke dalam Villa. Menghapus rasa cinta, tidaklah mudah. Apa lagi Chandra selalu bersikap baik padanya. Jika bukan demi masa depan anak di dalam perutnya, Amel tidak akan mau membantu hubungan Chandra dan Hajar.


Bayi itu yang akan di jadikan Chandra salah satu pewarisnya.


Seperti kata Hajar, dia akan membuatkan kopi untuk Chandra. Hanya membuat kopi saja, Hajar yakin pasti bisa meski ia tidak pandai memasak.


Hajar yang sudah memasak air, pun memasukkan kopi dan gula ke dalam gelas, lalu menyeduhnya dengan air panas. Tidak lupa Hajar mengaduk kopinya dengan sendok.


"Silahkan Om" ucap Hajar saat meletakkan kopi buatannya di atas meja makan dengan senyum percaya diri.


Hm...Chandra yang duduk menuggu dari tadi, memandangi kopi hitam buatan istri tercintanya itu, curiga. Tidak yakin untuk mencicipi kopi itu.

__ADS_1


"Gulanya berapa sendok?" tanya Chandra memandang wajah cantik istrinya itu.


"Satu"


"Kopinya?"


"Dua"


"Yakin yang kamu masukin ke sini gula dan kopi?" tanya Chandra lagi.


"Yakinlah" jawab Hajar begitu yakin.


"Coba kamu cicip" Chandra menggeser gelas di depannya ke depan Hajar yang masih berdiri di sampingnya.


Hajar mencebikkan bibirnya, lalu meraih sendok kecil yang berada di atas piring kecil gelas itu."Om gak percaya aja"


Setelah menyendok satu sendok kopi dari dalam gelas, Hajar meniup niupnya sebelum menyesapnya.


"Uek! uhuh uhuk uhuk...!"


Chandra tersenyum, dari awal dia sudah yakin, istri bodohnya itu tidak bisa membedakan mana gula, mana yang bukan.


"Enak?" tanya Chandra mencibir.


Hajar mengerucutkan bibirnya, Kenapa kopi buatannya rasanya aneh. Bahkan Hajar sendiri mau muntah mencicipinya. Padahal dia yakin, yang di masukinnya ke dalam gelas adalah kopi dan gula.


Chandra mengedikkan bahunya, lalu berdiri dari tempat duduknya meninggalkan Hajar begitu saja.


"Om!"


Mendengar suara Hajar berteriak memanggilnya, Chandra menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya ke arah Hajar.


"Aku kabur lagi kalau Om gak mau nyicipin kopinya" ancam Hajar.


"Kabur saja, aku pasti berhasil menculikmu" balas Chandra memutar tubuhnya kembali.


Hajar kesal, ia pun menendag kaki meja di depannya.


"Aw, ya ampun sakit banget" Hajar meringis kesakitan, mengangkat satu kakinya untuk melihat jempol kakinya yang ternyata sudah mulai bengkak.


"Hahahaha....mampus! kualat sendiri" Amel tertawa terbahak bahak melihat Hajar kesakitan karena menendang kaki meja, tanpa berniat untuk membantu Hajar.


"Om!" pekik Hajar kencang, membuat penghuni Villa itu sampai menutup telinga masing masing.Hajar kesal, Chandra pergi begitu saja, dan Amel menertawakannya.


.

__ADS_1


.


"Bi, tolong buatkan jus untuk istriku?" suruh Chandra saat ia manapaki kakinya di dapur. Hajar sedang malas turun ke bawah, tapi dia pengen meminum Jus, jadilah Hajar membujuknya.


"Jus apa Tuan?" tanya pembantu yang sedang membersihkan dapur.


"Jus apa saja, dia menyukai semua jenis jus" jawab Chandra.


"Baik, Tuan"


Chandra pun segera kembali ke dalam kamar, jangan sampai dia kelamaan di bawah. Bisa nanti Hajar curiga padanya. Hm...istri kecilnya itu sangat posesif sekarang. Meski terkadang jengkel, tapi itu juga membuatnya senang.


"Mana?" tanya Hajar saat Chandra masuk ke dalam kamar.


"Sebentar lagi si Bibi akan mengantarnya" jawab Chandra mendudukkan tubuhnya di samping Hajar yang sedang duduk menonton tv di atas sofa.


Chandra menarik Hajar untuk bersandar ke dadanya. Ia pun mengelus elus perut Hajar, berharap sudah mengandung anaknya, dan mereka bisa cepat kembali ke kota. Namun, sudah tiga Bulan mereka bertahan di Villa itu, Hajar belum mengalami tanda tanda hamil.


"Perasaan Om sudah sering menanam benih di dalam sini. Kenapa kamu belum hamil juga ya?" tanya Chandra.


"Mana kutau" jawab Hajar santai.


Meski awal pernikahan Hajat sempat ingin cepat hamil demi mendapatkan uang. Namun saat ini Hajar belum siap untuk hamil, sebelum benar benar mendapat restu dari Nyonya Belinda.


"Aku gak sabar menanti moment dimana anakku berada di dalam sini" ucap Chandra lagi.


Tok tok tok !


"Om!" panggil dari luar.


Mendengar suara Amel, Hajar langsung berdecak. Amel sering kali mengganggu mereka, dengan alasan kehamilannya. Perutnya yang gatallah, pengen makan ini itu, minum ini itu, pengen anaknya di elus bapaknya, dan masih banyak alasan lain lagi.


"Gak boleh masuk!" seru Hajar kesal.


"Sayang, mana tau Amel butuh sesuatu, atau pengen makan sesuatu. Dia lagi hamil sayang."


Sikap Chandra seperti itu membuat Hajar semakin tidak menyukai Amel. Chandra terlalu perhatian pada Amel.Hajar pun berdiri dari sofa, berpindah duduk ke atas tempat tidur, Hajar tau suaminya itu akan menuruti permintaan Amel.


Dan yang benar saja, Chandra pergi membukakan pintu untuk Amel.


"Ada apa Mel?" tanya Chandra setelah membuka pintu kamarnya dan Hajar.


"Gak bisa tidur, bayi nya pengen di elus elus Papanya" manja Amel mengusap usap perut buncitnya.


"Aku harap setelah anak itu lahir, tidak ada drama lagi" ucap Hajar sengit dari atas tempat tidur.

__ADS_1


Meski setiap malam Chandra tidur bersamanya. Di luar itu, Amel selalu ingin menguasai suaminya.


* Bersambung


__ADS_2