Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
49.Kelemahan dan kekuatan


__ADS_3

Setelah Amel pergi, Chandra memindahkan Hajar duduk ke kursi, kemudian duduk di samping Hajar.


"Makanlah" Chandra menarik satu piring makanan yang sudah di siapkan Amel. Tanpa menjawab Hajar menerima makanan itu dan langsung melahapnya. Perutnya sangat lapar, tidak sanggup lagi jika harus jual jual mahal untuk menolak makanan itu.


Chandra mengusap lembut kepala Hajar, kemudian ia pun menikmati makanan di depannya.


"Ini Tuan minumnya" tiba tiba seorang pembantu datang meletakkan segelas air putih untuk Chandra, dan segelas jus untuk Hajar.


"Trimakasih" balas Chandra


"Sama sama, Tuan" pembantu itu pun langsung undur diri ke belakang.


Setelah menghabiskan makanan di piringnya, Chandra berdiri dari tempat duduknya, meninggalkan Hajar yang masih menikmati jus buah anggurnya, setelah terlebih dahulu sempat mengusap kepala Hajar. Melihat itu, Hajar hanya melirik Chandra saja yang berjalan semakin menjauh, masuk ke salah satu ruangan di lantai bawah Villa itu.


Sebenarnya aku sedang berada dimana?, batin Hajar.


Boy pasti sudah kehilanganku. Om sungguh keterlaluan, kenapa dia selalu menyuruh orang untuk menculikku. Dan juga dari mana Om tau kalau aku berada di hotel itu?. Apa Boy yang memberitahu Om Chandra atau Bryan?, batin Hajar lagi sambil menggigit gigit sedotan jus di tangannya.


Chandra yang sudah masuk ke dalam salah satu ruangan di Villa itu, mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa. Di sana sudah ada beberapa anak buahnya.


"Antoni, bagaimana, apa sudah ada kabar dari Bryan?" tanya Chandra kepada salah satu anak buahnya. Dia sengaja tidak memakai handphon supaya keberadaannya tidak terlacak anak buah Nyonya Belinda.


"Nyonya Belinda sudah mengetahui kalau kita selamat,Tuan" jawab Antoni.


Chandra menghela napasnya, dia tidak heran jika Mama kesayangannya itu bisa mengetahui kabarnya secepat itu.


"Bagaimana kabar Mama?." Biar bagaimana pun Chandra pasti kawatir dengan Ibunya, telah membuat kabar yang tidak baik.


"Sempat pingsan, Tuan.tapi setelah mendapat kabar baik Nyonya langsung membaik" jawab Antoni, pria yang ahli dengan propesi terjun payung itu.


"Selidiki kenapa helikopter itu bisa tiba tiba rusak" perintah Chandra.


"Baik, Tuan" jawab Antoni.


"Oman, bebaskan si Boy Boy itu. Ganti rugi uangnya yang sudah membayar sewa hotel istri saya" perintah Chandra bernada kesal kepada anak buahnya bernama Oman.


"Baik, Tuan" balas Oman.


"Dan kamu Hasan, beli perlengkanpan untuk saya dan istri istri saya" perintah Chandra lagi kepada pria yang berdiri di samping Oman.

__ADS_1


"Siap,Tuan" patuh Hasan


"Dan kamu Ibra, pulanglah" suruh Chandra kepada seorang pilot yang membawa mereka terbang.


"Trimakasih, Tuan" balas Ibra tersenyum.


"Beri penjelasan sesuai pakta kepada para wartawan" ucap Chandra lagi.


"Baik, Tuan" balas Ibra lagi.


"Kalian bubarlah" Chandra pun berdiri dari kursinya, melangkahkan kakinya keluar, di ikuti ke empat pria itu. Karena sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan.


"Tuan, anda bisa memakai handphon ini, untuk sementara waktu."


Chandra menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Oman yang berbicara padanya.


"Sim cardnya menggunakan data diri saya, anak buah Nyonya Belinda tidak akan bisa melacaknya" jelas Oman.


"Hm baiklah" Chandra mengambil handphon itu dari tangan Oman, berpikir kalau dia juga membutuhkan benda itu . Ia pun menyuruh Oman untuk membeli ponsel baru untuk Hajar dan Amel.


"Kalian boleh istirahat, tapi jangan lupa untuk tetap memastikan keamana Villa ini. Aku pergi dulu." Chandra pun melangkahkan kakinya ke arah tangga, ia ingin mencari Hajar ke dalam kamar mereka. Sampai di kamar, ternyata Hajar tidak ada.


Setelah memastikan di kamar mandi Hajar tidak ada. Chandra kembali ke lantai bawah Villa itu. Chandra mencari Hajar ke meja makan, mungkin Hajar masih di ruang makan. Tapi ternyata Hajar tidak ada di sana.


"Hajar!" panggil Chandra mulai kawatir. Padahal Hajar tidak akan bisa kabur dari Villa itu, karena di jaga sangat ketat oleh penjaga.


"Nona kecil di halaman belakang, Tuan" ucap seorang pembantu membawa sepiring buah yang sudah di potong potong.


Chandra mengulas senyumnya," apa buah itu untuknya?."


"Iya, Tuan" jawab pembantu itu.


Chandra melangkahkan kakinya mendekati pembantu itu." Biar saya yang membawanya. Dan tolong buatkan saya kopi, antar ke halaman belakang."


"Baik, Tuan" pembantu itu pun memberikan piring di tangannya kepada Chandra, dan segera kembali ke dapur untuk membuatkan kopi.


Saat menapakkan kakinya di halaman belakang, Chandra mengulas senyumnya melihah Hajar sedang duduk di Ayunan yang terbuat dari besi seperti kursi panjang yang berhadapan. Gadis itu nampak melamun.


Cup!

__ADS_1


Hajar langsung menoleh ke arah pria yang baru saja mengecup ujung kepalanya.


"Kenapa melamu? Hm.." Chandra ikut bergabung naik ke atas ayunan itu. Ia pun menyuapkan sepotong buah ke mulut Hajar, sambil kakinya menganyun ayunan itu.


"Mikirin bagaimana caranya nyingkirin si pelakor murahan itu" cetus Hajar sambil mengunyah buah di mulutnya.


Chandra tersenyum melihat kecemburuan Hajar. Itu artinya Hajar benar mencintainya.


"Makanya jangan suka main kabur" cibir Chandra, Hajar mendengus.


"Sebenarnya aku lagi dimana?" tanya Hajar. Dia benar benar tidak tau sekarang lagi berada dimana. Karena saat Chandra membawanya dia dalam keadaan tertidur pulas.


Hajar melihat di sekitar Villa sangat banyak pepohonan. Jarak Villa yang satu ke yang lain, sangat jauh.


"Di hutan" jawab Chandra menyuapkan lagi potongan buah ke mulut Hajar.


"Di sini udaranya sangat sejuk" ucap Hajar tersenyum. Berpikir kalau Chandra sedang membawanya bersembunyi di tempat terpencil. Yang membuat Hajar heran, kenapa Chandra membawa Amel?.


"Kalau kamu menyukainya, kita bisa tinggal lebih lama di sini" Chandra meletakkan piring di tangannya di sampingnya, lalu menarik Hajar untuk duduk di pangkuannya, melingkarkan kedua tangannya ke perut gadis itu, dan meletakkan dagunya di bahu istri kecilnya itu. Chandra pun mengusap usap lembut perut Hajar, berharap hasil usahanya sudah tumbuh di dalamnya.


"Biarkan Om hidup bahagia bersamamu, Hajar, Om mencintaimu" ucap Chandra. "Mama biar menjadi urusanku. Cukup kamu setia padaku, itu sudah cukup untuk memberiku kekuatan dalam menghadapi setiap masalah" ucap Chandra lagi semakin memeluk erat tubuh Hajar.


"Kamu adalah kelemahan Om dan sekaligus kekuatan Om, Hajar. Kamu adalah pengobat hatiku yang pernah rapuh. Om mohon, jangan tinggalin Om apapun alasannya" Chandra menelan air ludahnya dengan susah, merasa ada yang mengganjal di tenggorokannya. Chandra sangat takut jika Hajar benar benar meninggalkannya.


"Mencintaiku, lalu bagaimana dengan Kak Amel?" tanya Hajar.


"Aku hanya sekedar menikahinya demi status bayi itu. Kami tidak sedang berumah tangga, atau menjalin kasih selayaknya suami istri" jelas Chandra.


"Yakin!" cibir Hajar dengan mata memicing. Amel adalah wanita Chandra sebelumnya. Tidak menutup kemungkinan mereka mengulagi perbuatan mereka di tempat tidur, apa lagi status mereka sudah menjadi suami istri.


"Yakin Hajar Nataya Callista Isti..!" Chandra mengecup gemas pipi Hajar. Panjang sekali nama istrinya itu, siapa kira kira yang memberi namanya?.


Hajar tersenyum, Chandra selalu memperlakukannya dengan sayang. Hajar sangat menyukai itu.


"Kalian itu gak di mana mana selalu bermesraan. Sampai si Bibi gak berani untuk mengantar kopi ini" gerutu Amel cemberut, memberikan segelas kopi di tangannya pada Chandra.


Hajar berdecak melihat Amel datang mengganggu mereka.


* Bersambung

__ADS_1


__ADS_2