
Chandra membaca pesan yang di kirim Hajar ke ponselnya. Lalu bergegas keluar dari ruang kerjanya untuk menjemput Hajar ke kampus. Di tengah perjalanan Chandra menghentikan laju kenderaannya saat melihat penjual rujak keliling. Hajar memesannya untuk Naomi, membuat Chandra semakin yakin, putrinya itu sedang hamil. Sebentar lagi dia akan menjadi kakek, Oh Tuhan! betapa bahagianya hati Chandra.
Setelah mendapatkan rujak yang di pesan Hajar. Chandra melanjutkan perjalannya menuju kampus. Di taman dekat parkiran, Hajar dan Naomi sudah menunggunya.
"Sayang!" panggil Chandra setelah turun dari dalam mobilnya.
"Om" Hajar sumiringah ia dan langsung berlari kecil ke arah Chandra.
"Jangan berlari" Chandra mengingatkan, istrinya itu sering kali lupa keadaannya yang sedang hamil.
"Hehehe..." Hajar menyengir lalu memeluk tubuh Chandra, ia sangat menyukai aroma suaminya itu. Satu kecupan pun mendarat di keningnya dari Chandra.
"Papa" Naomi yang menyusul mengerucutkan bibirnya, melihat kemesraan Hajar dan sang Papa.
"Apa kabar sayang?" Chandra pun menarik Naomi ke dalam pelukannya dan mengecup keningnya.
"Baik Pah!" wajah Naomi langsung sumiringah mendapat kasih sayang dari sang Papa.
Setelah membuka pintu kursi penumpang belakang. Hajar dan Naomi langsung masuk. Kemudian Chandra menyusul masuk duduk di kursi kemudi, dan langsung melajukannya.
"Om rujaknya mana?" tanya Hajar, mengingat tadi dia memesan rujak kepada suaminya.
"Ini sayang" Chandra yang sempat lupa, meraih kotak rujak dari kursi di sebelahnya, memberikannya pada Hajar. Kemudian Hajar memberikannya pada Naomi. Bukannya Naomi langsung memakannya, malah menyimpannya di atas pangkuannya.
"Kok gak di makan?" tanya Hajar.
"Bryan yang pengen makan rujak" jawab Naomi.
Sontak Chandra terbatuk batuk dari kursinya. Ternyata yang memesan rujak adalah Bryan, bukan Hajar ataupun Naomi. Dasar menantu sialan.
Sampai di perusahaan, Chandra membawa Hajar ke ruangannya. Sedangkan Naomi masuk ke dalam ruangan Bryan.
Setelah mendudukkan Hajar di meja kerjanya, Chandra pun mendudukkan tubuhnya di kurai kebesarannya. Dia langsung menarik baju Hajar ke atas lalu mencium perut istrinya yang mulai membuncit itu.
"Sayang Papa" sapa Chandra, mengusap usap lembut anaknya yang masih berada di dalam perut istrinya itu.
Hajar pun mengulas senyumnya sembari mengusap kepala pria yang jauh di atas usianya itu.
__ADS_1
"Mamanya lapar" ucap Hajar, semenjak hamil perutnya sangat mudah lapar.
"Pengen makan apa sayang?" tanya Chandra masih sibuk menngecup ngecup perut Hajar. Sepertinya itu lebih penting dari pada pekerjaannya.
"Nasi pake krupuk sama kecap"jawab Hajar.
Chandra sudah tidak heran lagi dengan keinginan istrinya itu. Karena Hajar memang sering kali menginginkan makanan aneh aneh.
"Itu saja?" tanya Chandra saat ia mengetik pesan di hapenya.
"He um" Hajar mengangguk anggukkan kepalanya. Dan Chandra pun mengirim pesan kepada sekretarisnya untuk mencari makanan yang di inginkan Hajar.
Setelah menurunkan Hajar ke pangkuannya, Chandra pun melanjutkan pekerjaanya sembari menunggu makanan yang di pesannya.
Tok tok tok!
"Masuk!" sahut Chandra mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar.
Pintu ruangan itu pun terbuka, nampak seorang wanita paru baya melangkah masuk.
Melihat Ibu mertuanya datang, wajah Hajar berubah muram. Entahlah, ia sangat tidak menyukai wajah wanita tua itu.
Oek!
Seketika perut Hajar terasa mual dan ingin muntah.
"Sayang! kenapa?" tanya Hajar kawatir, semenjak hamil ini pertama kali Hajar mual.
"Aku gak mau melihatnya" Hajar menyembunyikan wajahnya ke dada Chandra.
"Kenapa? Dia Ibuku. Dan juga Nenek dari anak kita." Chandra tetap berusaha mencoba untuk bersabar menghadapi istrinya yang belum bisa menerima Nyonya Belinda menjadi mertuanya.
"Perutku mual melihat wajahnya, bahkan mengingat wajahnya saja aku sering akan muntah." Alasan yang tidak masuk akal. Tapi Chandra tidak bisa berbuat apa apa. Jika Chandra memaksakan keinginannya, ia takit Hajar akan kabur membawa anaknya.
"Jika bukan karena aku, kau tidak akan menikah dengan anakku." Lama kelamaan Nyonya Belinda gerah dengan Hajar yang tak mau melihatnya. Bahkan tidak mengakuinya sebagai Nenek dari bayi di dalam perutnya.
"Kalau Nyonya menyesal, suruh anakmu meninggalkanku" balas Hajar. Ia sengaja mengatakan seperti itu, supaya Chandra takut kalau dia akan kabur.
__ADS_1
"Sayang" tegur Chandra. Kepalanya pusing, ia bingung harus memihak siapa di antara kedua wanita itu.
"Antar aku pulang" ucap Hajar, matanya nampak berkaca kaca ke arah Chandra.
"Aku gak suka kamu bicara seperti itu, tidak ada kata kata cerai lagi di antara kita. Kasihan anak kita nanti, apa kamu gak memikirkannya?."
Hajar terdiam dengan air mata meleleh di pipinya. Gak bohong, perut Hajar mual setiap melihat wajah Ibu mertuanya itu. Tapi tidak ada yang percaya satu orang pun.
"Kamu terlalu memanjakannya, sehingga dia melunjak. Padahal aku sudah berbaik hati menerimanya kembali, tapi dia masih berkeras hati tidak mau berbaikan" ujar Nyonya Belinda yang sudah duduk di sofa ruangan itu.
"Aku sudah bilang, kamu boleh menemuiku setelah aku melahirkan. Tapi Nyonya masih saja sering menampakkan diri di depanku" cetus Hajar tanpa melihat Nyonya Belinda.
"Lihatlah, bahkan dia tidak mau memanggilku Mama. Dia tidak menganggapku mertuanya." Kalau di bilang suka, Nyonya Belinda tidak menyukai Hajar, karna Hajar adalah anak dari musuh keluarganya. Hanya saja, demi kebahagiaan Chandra, Nyonya Belinda mengalah.
"Ma! sudahlah" ucap Chandra lembut, tak ingin perdebatan di antara Hajar dan Ibunya berlanjut.
Nyonya Belinda menghela napasnya. Sebenarnya tujuannya datang ke perusahaan Chandra bukan untuk mengganggu suami istri itu, melainkan untuk membahas masalah perusahaan suaminya. Nyonya Belinda ingin menyerahkan sepenuhnya kepada ChandraN karena ia tak mau lagi memikirkan perusahaan. Dia ingin menikmati hari tua dengan tenang dan santai.
Tapi melihat menantu matrenya ada di ruangan itu, Nyonya Belinda mengurungkan niatnya. Mungkin Nyonya Belinda akan menyuruh Chandra datang ke rumahnya untuk membicarakan itu.
"Sebenarnya ada yang ingin Mama bicarakan. Tapi melihat istrimu di sini, sebaiknya kita bicarakan di rumah. Mama tunggu nanyi malam" ucap Nyonya Belinda berdiri dari sofa.
Melihat Ibunya akan pulang, Chandra menurunkan Hajar dari atas pangkuannya. Chandra akan mengantar Ibunya turun ke bawah.
"Sayang, aku mengantar Ibu sebentar" pamit Chandra mengusap kepaka Hajar lembut, lalu pergi.
Hajar menganggungkan kepalanya dengan bibir cemberut. Ia pun mendudukkan tubuhnya di kursi kerja Chabra.
Tak lama kemudian, pintu terdengar di ketuk dari luar. Hajar menguruh orang itu untuk masuk. Dan nampaklah wanita berpakaian ketat masuk ke dalam ruagan menenteng sebuah plastik berisi makanan.
"Letakkan di meja ini" ucap Hajar menatap tak suka ke arah sekretaris suaminya itu.
"Baik Ibu Presdir cilik" Sekretaris Chandra itu meletakkan kantong plastik ditangnnya dengan sedikit membungkuk, sampai Hajar melihat tato di dadanya yang bergambar....
"Huaahahaha.....!" tawa Hajar terbahak bahak melihat sedikit gambar tato milik lelaki itu.
*Bersambung
__ADS_1