
"Hajar! dengar gak Om bicara?" kesal Chandra. Sudah seminggu kesalnya belum hilang melihat istrinya itu.
"Pergi saja" jawab Hajar malas. Seminggu Chandra tidak pulang ke rumah, tidak mengabarinya sama sekali. Bahkan tidak menanyakan kabar bayi mereka. Sekarang apa suaminya itu masih perlu berpamitan atau meminta ijinnya?.
"Om akan lama di sana, tidak tau pasti berapa lama" ucap Chandra lagi. Sebenarnya berat rasanya jika harus meninggalkan Hajar. Tapi jika dia membawa Hajar, di sana Hajar akan bosan karna tak punya teman. Dan Chandra juga pasti sibuk bekerja.
"Apa Om sedang berharap aku mencegah Om pergi?. Aku rasa Om tidak membutuhkan ijinku. Dan tidak perlu berpamitan jika harus pergi." Hajar menelan susah payah sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.
"Aku tak ingin berdebat denganmu Hajar. Aku kesini untuk berpamitan." Chandra berdiri dari tempat duduknya, kembali keluar kamar dan masuk ke ruang kerjanya untuk mempersiapkan apa saja yang perlu di bawa. Dia tidak punya banyak waktu, dua jam lagi pesawat yang akan mengantarnya akan segera berangkat.
Hajar yang masih duduk di sofa, menghapus air matanya. Berpikir, Chandra sudah tak mencintainya lagi. Chandra sudah si hasut oleh Nyonya Belinda supaya tidak menyukainya lagi. Atau mungkin Chandra sudah memperbaiki pernikahannya dengan Amel.
Selesai menyusun berkas berkas yang harus di bawanya. Chandra kembali ke dalam kamar, di lihatnya Hajar masih duduk terdiam di atas sofa.
"Jaga bayi kita baik baik, akan ku usahakan cepat pulang." Chandra yang sudah duduk di samping Hajar, mengelus perut istrinya itu. Ia pun mengecup kening Hajar, lalu bibirnya.
"Cukup!" Hajar berteriak setelah berhasil melepas ciuman Chandra. Hajar berdiri dari sofa menajamkan pandangannya ke arah Chandra." Pergilah, tidak perlu berlagak seperti suami yang menyayangi istri" ucapnya.
"Seminggu ini Om gak pulang, karna kesal 'kan?. Om ingin aku berbaikan dengan Ibunya Om?. Okeh! suruh Nyonya besar datang ke rumah ini. Suruh Nyonya besar tinggal di sini. Aku ingin melihat, sebesar apa hatinya menerimaku." Hajar berbicara dengan rahang mengeras.
"Setelah memenjarakanku, kalian masih berharap semua kembali ke semula?. Masih bagus aku mau menerima Om" ucap Hajar lagi. Mencoba meredakan emosi di dadanya.
"Dan juga, kemarin aku sudah ingin pergi dari hidup Om. Om sendiri yang memaksaku tetap menjadi istri Om. Sekarang Om memintaku untuk menerima Nyonya besar?." Hajar mendengus," jika bukan takdir baik yang berpihak pada kita, mungkin aku sudah mati bersama pesawat yang menculikku."
"Aku pikir, Nyonya besar menyuruh Om ke luar Negri. Untuk menjauhkan Om dariku. Pergilah, aku dan anakku tidak membutuhkan perhatian lebih. Cukup memberiku materi, sudah. Aku gak butuh perhatian Om" lirih Hajar menghapus air matanya.
Dia sedang hamil, hatinya sensitif, namun tidak ada yang memahaminya, baik itu Chandra.
"Om minta Maaf." Chandra menarik Hajar ke dalam pelukannya, namun Hajar langsung mendorongnya.
"Gak ada kata maaf untukmu dan Ibumu" cetus Hajar.
"Aku akan memaksamu memaafkan Om, sayang." Tidak peduli Hajar menolak, Chandra pun mangangkat tubuh Hajar membawanya ke atas tempat tidur.
.
__ADS_1
.
Satu jam berlalu, Chandra mengecup kening Hajar yang terbaring di atas tempat tidur. Dia harus segera pergi meski berat rasanya meninggalkan Hajar.
"Om akan usahain cepat pulang. Om pergi dulu" pamit Chandra dan langsung berlalu.
Di depan pintu kamar, Chandra memerintahkan Oman untuk menjaga istrinya jangan sampai kabur.
"Oman, jaga istriku baik baik dan jangan ijinkan Mama menemuinya tanpa seijinnya" perintah Chandra. Melihat wajah sedih istrinya tadi, Chandra menjadi tidak tega. Biarlah dia bersabar sampai Hajar melahirkan. Mungkin setelah melahirkan, Hajar tak lagi mual melihat wajah Nyonya Belinda. Meski itu tidak masuk akal menurut Chandra.
"Baik, Tuan" patuh Oman.
"Hm aku pergi dulu." Chandra melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lif untuk turun ke lantai bawah.
Sedangkan Hajar yang berada di atas tempat tidur, mendudukkan tubuhnya turun dari atasnya berjalan ke arah balkon kamar. Dia memandang Chandra yang masuk ke dalam mobil, sampai mobil itu melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah.
"Om memperlakukanku seperti tahanan" gumam Hajar.
Seminggu Chandra tak pulang ke rumah, itu bukan berarti Hajar bisa bebas. Chandra menempatkan Oman untuk terus memantaunya, dan melarangnya keluar rumah selain ke kampus.
.
.
Perut Hajar sudah tambah besarnya, sedangkan Amel sudah menunggu waktu melahirkan. Namun Chandra belum ada kabar kapan akan pulang. Apa yang di kerjakan pria itu di Negara sebrang hingga tak selesai selesai.
Dua Bulan, tiga Bulan, empat Bulan dan sampai tiba Hajar melahirkan. Namun Chandra belum juga pulang.
Hajar terus merintih kesakitan di atas brankar saat saat bayinya mendesak ingin keluar. Ibu Misra dan Caroline yang menemaninya terus mengusap usap tangannya. Sehingga terdengar teriakan Hajar menggema, suara tangis bayi terdengar menyusul tidak kalah nyaringnya.
Chandra kemana?, bayinya sudah lahir. Bayi berjenis kelamin laki laki, tampan mirip dengan Bapaknya.
Nyonya Belinda masuk ke ruang bersalin itu, langsung mengambil cucunya dan memberikan Hajar sebuah map berisi berkas berkas di dalamnya.
"Pergi jauh, karna selamanya kamu tidak akan menerimamu jadi menantu. Dan juga Chandra tidak mengingatmu lagi. Dia sudah bahagia bersama Amel dan anak mereka" ujar Nyonya Belinda.
__ADS_1
Hajar yang lemah hanya bisa menangis dan Pasrah.
Terakhir mendapat kabar, di Negara lain Chandra mengalami kecelakaan sehingga lupa ingatan. Dan Nyonya Belinda pun memanfaatkan keadaan Chandra untuk memisahkannya dengan Hajar. Dan Nyonya Belinda juga mengirim Amel ke Negara dimana Chandra berada, berstatus sebagai istri sah.
"Aku sudah mengabulkan permintaanmu. Memberimu saham milikku dan membayarmu atas cucuku ini. Aku rasa urusan kita sudah beres" ucap Nyonya Belinda lagi membawa cucunya dari ruang bersalin.
Caroline dan Ibu Misra hanya bisa diam saja, tanpa bisa membantu Hajar. Nyonya Belinda sangat berkuasa. Jika mereka melawan, Nyonya Belinda akan mempersulit hidup mereka.
"Sabar ya, suatu hari nanti, kamu akan di pertemukan Tuhan dengan anakmu" lirih Caroline bisa merasakan apa yang di rasakan Hajar.
Hajar menganggukkan kepalanya mencoba untuk tetap kuat. Mungkin ini karma atas kejahatan orang tuanya, pikir Hajar.
.
.
Di tempat lain
Amel melangkahkan kakinya masuk ke ruangan kerja Chandra dengan wajah sumiringah.
"Sayang!" panggil Amel
Chandra yang sibuk dengan pekerjaannya langsung menoleh.
"Mama mendapat bayi adopsi baru. Dia akan datang mengantarnya ke sini" ucap Amel mendudukkan tubuhnya di pangkuan Chandra.
"Oh ya?" Chandra mengembangkan senyumnya melihat wajah sumiringah istrinya.
Amel menganggukkan kepalanya, dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Chandra. Saat melahirkan empat Bulan yang lalu anaknya meninggal sehingga membuatnya bersedih. Dan Nyonya Belinda pun, berinisiatif mencarikan bayi adopsi untuknya.
Bukan Amel tidak bisa hamil lagi. Tapi masalahnya, meski Chandra menjadi suami yang mencintainya. Namun mereka tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Dan setiap Chandra ingin melakukannya, juniornya tidak bereaksi sama sekali, meski Amel sudah berusaha keras membangunkannya. Kata Dokter, Juniornya bermasalah paska kecelakaan.
"Bayi dari mana?" tanya Chandra menahan tubuh Amel supaya tidak jatuh dari pangkuannya.
"Dari Indonesia" jawab Amel.
__ADS_1
Chandra terdiam mendengar kata Indonesia. Selalu seperti itu. Chandra merasa seperti ada sesuatu yang terlupakan di Negara itu, tapi Apa?.
* Bersambung