Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
22. Dua wanita


__ADS_3

Chandra turun dari dalam mobilnya, setelah memarkirkan sempurna kenderaannya di parkiran perusahaannya, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung. Sampai di dalam ruangannya, di sana sudah ada Bryan menunggu kedatangannya.


Melihat Tuannya datang, Bryan langsung berdiri dari sofa dan langsung menyapa.


"Selamat pagi Tuan"


"Kenapa tadi malam Hajar bisa berada di kamarku?" Chandra menajamkan pandangannya ke arah Bryan. Membuat Bryan langsung menunduk.


"Temannya menghubungi saya Tuan, tadi malam Hajar mabuk berat di dalam club. Jadi saya membawanya ke kamar hotel Tuan" jawab Bryan.


"Bukankah saya sudah katakan, kalau saya akan menceraikannya?. Seharusnya kamu paham, kalau kami tidak seharusnya tidur di kamar yang sama. Dan tadi malam.." Chandra menjeda kalimatnya semakin menajamkan pandangannya ke arah Bryan." Apa yang kau masukkan ke dalam minumanku?."


Tadi malam, karna tak pokus pada pekerjaannya, Chandra memutuskan untuk menenangkan diri ke club, dengan meminum minuman yang bisa membius otak sementara. Karna kepalanya yang sakit tak juga reda memikirkan masalah hidupnya, Chandra pun terus meneguk minuman di depanya sehingga membuatnya terkapar.


"Maaf Tuan, aku tidak memasukkan apa apa ke dalam minuman Tuan."


"Apa kau juga terlibat permainan keluarga Hajar?" Chandra memicingkan matanya ke arah Bryan.


"Sumpah, tidak Tuan" jawab Bryan mencoba memberanikan diri menantang tatapan Chandra. Biar Chandra bisa melihat apakah di matanya ada kebohongan atau tidak.


"Jika kau sampai terlibat, jangan harap kau bisa menghirup udara lagi"ancam Chandra melangkahkan kakinya ke arah kursi kebesarannya, mendudukkan tubuhnya di sana.


"Apa Tuan sangat yakin ingin menceraikan Nona Hajar?. Bagaimana jika Nona Hajar tidak terlibat. Dan Apa Tuan tidak ingin menyelidiki masalah yang sebenarnya?. Bisa saja Nona Hajar juga tidak mengetahui apapun."


Chandra mengerutkan keningnya, berpikir dengan apa yang dikatakan Bryan.


"Menurutku, tidak mungkin Nyonya Hajar sampai terpuruk seperti itu, jika semua yang di lakukannya hanyalah permainan untuk menguras harta Tuan."


"Baru pertama kali ini aku melihatnya sekacau itu Tuan" lanjut Bryan setelah sempat menjeda kalimatnya sebentar.


Chandra terdiam, mengingat tadi pagi Hajar sempat mengatakan akan mengembalikan semua pemberian Ibunya sebelum meninggalkan kamar hotel.


"Bahkan Nona Hajar tidak tau siapa orang tua kandungnya. Itu artinya Nona Hajar tidak tau apa apa. Bisa saja dia hanya bayi malang untuk di jadikan umpan" ucap Bryan lagi, tak ingin Tuannya itu menyesal nantinya karna sudah menceraikan Hajar.


"Kembalilah ke ruanganmu" Chandra mengibaskan tangannya untuk mengusir Bryan. Karena tak ingin Bryan terus menceramahinya, membuat kepalanya tambah sakit.


"Baik Tuan"


Sepeninggal Bryan, Chandra membuka laci meja kerjanya. Mengeluarkan sebuah bingkai photo dari dalamnya.


Caroline, nama itu langsung terlintas di benak Chandra, saat tangannya menyentuh wajah photo itu.


Aku tau kamu sakit hati, tapi tidak seharusnya kamu membenciku sedalam itu. Sampai kamu mengirim seorang gadis untuk mempermaiankanku. Batin Chandra menatap wajah di dalam photo itu.


.


.

__ADS_1


Hajar turun dari dalam taxi dan langsung masuk ke dalam pekarangan rumah orang tuanya. Saat di depan pintu, Hajar memperlambat langkahnya mendengar suara Nyonya Belinda marah marah dari dalam rumah.


"Lihat saja, aku akan melaporkan kalian kepolisi. Kalian sudah melakukan penipuan dan pemerasan" ancam Nyonya Belinda terdengar murka.


"Kami tidak menipu anda Nyonya Belinda. Kamu sendirilah yang manawarkan uangmu, asalkan putriku mau menjadi manantumu" balas Ibu Misra dengan suara lembut.


Meski Ibu Misra pernah menawarkan Hajar secara iseng untuk menjadi menantu Nyonya Belinda. Tapi Ibu Misra tidak berniat menipu atau memeras kekayaan keluarga Kurniawan itu. Ibu Misra hanya meminta sedikit uang jaminan hidup untuk Hajar. Jika sewaktu waktu terjadi masalah di pernikahan Hajar. Hajar memiliki uang untuk menunjang kehidupannya di kemudian hari.


"Apa yang kau rahasiakan dengan Caroline?. Kenapa kamu menikahkan Hajar dengan Chandra. Jika kamu sendiri tau kalau Caroline mantan kekasihnya Chandra. Aku yakin semua itu permainan Caroline. Aku yakin kamu pasti tau Hajar itu anak siapa" ujar Nyonya Belinda lagi.


Hajar yang berdiri di ambang pintu, meneteskan air matanya. Mengingat kalau dia bukan anak siapa siapa.


"Aku akan mengurus perceraian Chandra dan Hajar. Aku tidak mau lagi berurusan dengan orang seperti kalian. Dan aku juga tidak sudi punya menantu yang tidak jelas asal usulnya." Nyonya Belinda pun memutar tubuhnya melangkahkan kakinya ke arah pintu. Namun langkahnya terhenti saat melihat Hajar berdiri menangis di ambang pintu.


"Aku sudah memblokir semua kartu yang kuberikan. Karna kamu tidak pantas menjadi menantuku lagi" setelah mengatakan itu, Nyonya Belinda langsung melongos keluar dari rumah itu.


"Bagaimana dengan perawanku?. Bisa gak anak Nyonya mengembalikannya?."


Nyonya Belinda mengurungkan niatnya memabuka pintu mobil di depannya, dan membalik tubuhnya ke arah Hajar, karena mendengar seruan Hajar dari belakang.


"Aku juga tidak menerima uang itu cuma cuma. Aku juga merelakan tubuhku untuk memuaskan nafs* anakmu yang sudah tua itu di atas ranjang" seru Hajar lagi.


"Ambillah uangmu itu kembali. Dan katakan sama anakmu itu, berjanjilah untuk tidak pernah menyesal. Atau berjanjilah untuk tidak pernah menampakkan diri di depanku. Apa lagi sampai ikut campur dengan hidupku!" lanjut Hajar.


Nyonya Belinda berdecih, menurutnya Hajar berbicara sangat sombong. Emang gadis ingusan itu siapa, sampai menyuruh anaknya berjanji untuk tidak menyesal?. Dan berjaji untuk tidak menampakkan diri di depannya. Tanpa ingin membalas ucapan gadis itu, Nyonya Belinda memilih untuk segera meninggalkan tempat itu.


Hajar memutar tubuhnya dan masuk ke dalam rumah." Menenangkan diri Ma" jawabnya.


"Maafin Mama" ucap Ibu Misra menyusul Hajar duduk di sofa ruang tamu.


"Siapa sebenarnya orang tuaku Ma?"tanya Hajar, menatap Ibu Misra berlinang air mata.


"Mama gak tau" jawab Ibu Misra berbohong.


"Apa hubungan Mama dengan Ibu dan dengan Dokter yang mengurus Ibu selama ini?. Pasti Mama tau asal usulku dari mana."


Ibu Misra hanya bisa menghela napas, tanpa bisa menjawab atau menjelaskan pertanyaan Hajar.


"Baiklah Ma, jika mama tidak ingin memberitahu. Maaf Ma, Hajar akan pergi mencari orang tua kandung Hajar Ma." Hajar berdiri dari sofa melangkahkan kakinya ke arah tangga untuk naik ke lantai dua rumah itu.


Caroline, kamu kemana?. Aku tidak tau harus menjelaskan apa pada Hajar. Batin Ibu Misra, memandangi punggung Hajar yang semakin menghilang.


Tak lama kemudian,Hajar kembali menuruni tangga ke lantai bawah rumah itu, dengan pakaian yang sudah berganti.


"Hajar kamu mau kemana sayang?" tanya Ibu Misra berdiri dari tempat duduknya, mendekati Hajar.


"Mencari Ibu Caroline dan orang tua kandungku Ma" jawab Hajar.

__ADS_1


"Ibu sudah menyuruh orang lain untuk mencarinya sayang. Istirahatlah, kamu pasti lelah. Bahaya jika kamu mencarinya sendirian" Ibu Misra menarik Hajar ke dalam pelukannya. Kasihan dengan gadis yang di jadikan umpan oleh kedua orang tuanya.


"Aku gak bisa istirahat dengan temang Ma" lirih Hajar terisak.


"Mama mengerti perasaanmu sayang. Tapi Mama tidak akan mengijinkanmu pergi mencari orang tuamu sendirian. Istirahatlah, tenangkan pikiranmu." Ibu Misra menuntun Hajar untuk kembali ke kamarnya. Supaya Hajar istrirahat saja menunggu hasil dari orang suruhannya.


Dan juga mencari Caroline bukanlah hal yang mudah. Karena Caroline bisa saja bersembunyi, atau melakukan penyamaran supaya tidak ada yang mengenalnya. Dan Ibu Misra juga bisa menebak, kemana Caroline pergi.


.


.


Seorang wanita berpakaian hitam dan tertutup, masuk ke dalam sebuah bus.


Aku harus bisa menemukan anakku. Ya Tuhan, berikan aku petunjukmu. Ke arah mana aku harus mencarinya. Batin wanita itu mendudukkan tubuhnya di salah satu kusri kosong di bus itu.


" Mau kemana Bu?"


Caroline mengarahkan pandangannya ke arah pria yang berdiri memengang uang di sampingnya.


"Ke daerah X" jawab Caroline mengeluarkan selembar uang dari saku bajunya, memberikannya kepada kernek bus itu.


"Ini kurang seribu lagi Bu" ucap pria itu, menunjukkan uang tukaran lima ribu yang di berikan Caroline.


"Oh maaf" ucap Caroline mengambil kembali uang seribu dari sakunya, memberikanya kepada pria itu lagi.


"Sepertinya Ibu bukan orang daerah ini" ucap Pria itu, memperhatikan mata Caroline. Menurutnya, penumpang yang biasa di daerah itu sudah mengetahui tarif ongkos naik bus itu.


"Ya, aku bukan orang daerah sini. Aku juga sangat jarang menaiki bus" balas Caroline, mengulas sedikit senyumnya di balik penutup wajahnya.


.


.


Chandra berdiri dari kursinya, melangkahkan kakinya ke arah kaca jendela di ruang kerjanya. Chandra memandang jauh ke depan, seperti melihat bagaimana kehidupannya di masa depan. Hajarkah atau Caroline?.


Kedua nama itu terus berseteru merebut tempat yang paling luas di hatinya. Tidak ada yang mau kalah, kedua nama itu terus berperang untuk menguasai hatinya.


Meski kedua wanita itu sudah mempermainkannya. Namun tetap saja Chandra tidak bisa membenci kedua wanita itu.


Dan juga Chandra berpikir, yang di katakan Bryan ada benarnya juga. Bagaimana kalau Hajar tidak terlibat dalam permainan Caroline. Kasihan sekali gadis itu jika di campakkan tanpa kasihan.


Tentang Caroline, Chandra memaklumi jika Caroline membalas sakit hati padanya. Mengingat dulu ia pernah menyakitinya.


Kenapa aku bisa terjebak pada dua wanita yang memiliki hubungan dekat?, batin Chandra menghembuskan napasnya kasar dari hidung.


*Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2