Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
71. Aku berjanji


__ADS_3

Tak bisa mengatakan apa pun lagi, Amel meninggalkan apartement Caroline. Dan Chandra melangkahkan kakinya mendekati Hajar dan Calix, langsung memeluknya. Meski tak mengingat bagaimana mereka menikah, tapi Chandra yakin Hajar adalah istrinya, dan Calix adalah anak mereka.


Tadi siang Hajar sudah menunjukkan bukti bukti yang akurat. Dari buku nikah, photo photo mereka, beserta sebuah vidio di saat Hajar melahirkan Calix. Dan sebuah rekaman cctv saat mereka tinggal bersama.


"Benarkah kamu istriku yang sebenarnya?. Kamu wanita yang melahirkan anakku?" tangis Chandra terharu.


Hajar mengangguk anggukkan kepalanya sambil menangis. Meski Chandra belum mengingatnya, setidaknya Chandra percaya, kalau dia istrinya.


"Aku minta maaf sudah melupakan semua tentangmu. Sungguh aku tidak mengiginkan itu" ujar Chandra.


"Om tidak bersalah, ini hanya cobaan" balas Hajar.


.


.


Amel yang sudah berada di dalam mobilnya, melaju dengan kecepatan tinggi.


"Aaaaakh !!!" teriaknya frustasi.


Amel sangat mencintai Chandra dari dulu. Dia sudah mendapatkan Chandra meski hanya memanfaatkan keadaan Chandra yang lupa ingatan. Namun kini dia kehilangan Chandra lagi.


"Kamu milikku Om, aku harus mendapatkanmu kembali bagaimana pun caranya" geram Amel menambah kecepatan kenderaannya. Dia harus cepat sampai di rumah. Tidak ada cara lain, dia harus memanfaatkan Nyonya Belinda. Amel akan mengancam Chandra. Dengan membunuh Nyonya Belinda jika Chandra menolak permintaannya.


Setelah memarkirkan mobilnya di depan pintu rumah. Amel bergegas masuk berlari ke kamar Nyonya Belinda. Lalu Amel melakukan panggilan vidio pada Chandra. Belum sempat panggilannya tersambung, dua orang laki laki langsung masuk untuk menangkapnya.


"Anda ingin melakukan apa Nona?" tanya salah satu pria itu.


"Bukan urusan kalian!, lepas!" marah Amel memberontak.


"Nona tidak boleh tinggal di rumah ini lagi" ujar pria itu menyeret Amel keluar dari rumah itu.


"Kenapa? aku Nyonya di rumah ini sekarang" ujar Amel melawan.


"Kamu bukan istri sah Tuan Chandra. Jadi kamu bukan nyonya di rumah ini" jelas Pria yang satunya tersenyum mengejek.


Mereka pun memasukkan Amel ke dalam mobil, lalu membawanya jauh, sejauh mungkin.


.


.

__ADS_1


Sedangkan Hajar, dia membawa Chandra ke rumah mereka yang dulu. Hajar berharap ingatan Chandra bisa kembali setelah mereka tinggal di sana.


"Ini rumah kita Om. Om membelinya untukku." Hajar merekahkan senyumnya memutar pandangannya ke seluruh ruang tamu rumah itu. Meski sudah di tinggalkan bertahun tahun, tidak ada yang berobah di dalam rumah itu. Karna Hajar menjaganya dengan sangat baik. Rumah itu miliknya, sehinga Nyonya Belinda tidak bisa menguasainya.


Chandra pun memutar pandangannya ke seluruh ruangan itu. Namun tidak ada yang dapat membuat ingatannya kembali.


Hajar pun menarik tangan Chandra masuk ke dalam lif. Membawa Chandra ke kamar mereka di lantai tiga rumah itu.


"Terakhir Om meninggalkanku di kamar ini" ucap Hajar saat membuka pintu kamar mereka, melangkah masuk menarik tangan Chandra." saat itu Calix berusai tiga bulan di kandungan. Waktu itu kita sedang marahan. Tapi Om pergi setelah memaksaku bercumbu mesra" ucap Hajar lagi, mengingat saat Chandra berpamitan untuk pergi.


"Setelah kepergian Om yang tak kunjung datang" Hajar melangkahkan kakinya ke arah dinding kaca kamar itu, lalu menyibak hordennya." Pagi, siang, malam, aku selalu menunggu Om di sini. Memandang ke arah gerbang. Berharap gerbang itu terbuka. Berharap mobil yang masuk lewat gerbang itu adalah mobil Om. Tapi sampai bayi kita lahir, Om tidak pernah masuk lewat gerbang itu" lirig Hajar dengan suara tercekat. Mengingat bagaiamana susahnya dia menjalani hidup dalam keadaan hamil tanpa ada suami.


"Aku dan bayi kita sangat merindukanmu Om." Hajar memutar tubuhnya ke arah Chandra yang berdiri di belakangnya." Tapi Om malah melupakan kami. Ini semua gara gara Ibu Om!, ini semua gara gara Nenek tua Itu!" teriak Hajar tiba tiba tak mampu menahan emosinya selama ini.


Hajar menghamburkan tubuhnya memeluk Chandra yang diam di tempatnya berdiri." Coba saja Om membawaku, aku rasa kita tidak akan terpisah lama. Tapi Om gak mau mengajakku. Om gak mau menjemputku" isak tangis Hajar.


"Om jahat!" teriak Hajar memukul dada Chandra."Om membiarkan aku menjalani kehamilanku sendiri. Om membiarkan aku merasakan sendiri sakitnya melahirkan. Om gak melihat bagaimana rasanya aku ingin mati saat melahirkan" tangis Hajar lagi."Bahkan seluruh harta kalian tidak cukup membayar rasa sakitku itu. Tapi malah Nyonya Belinda mengambil anakku!. Dia memisahkan aku dan anakku!" teriak Hajar lagi.


Meski Chandra tak mengingat apa pun. Hajar ingin meluapkan segala yang menyesakkan di dadanya selama ini pada laki laki itu.


Chandra hanya bisa diam, bahkan tak membalas pelukan Hajar.


"Malah Om melupakanku" lirih Hajar menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Sepertinya energinya sudah habis saat mengeluarkan segala yang membuat sesak di dadanya.


Sontak Hajar mendongakkan kepalanya. Meski Chandra tak ingat apa apa, rasanya sakit mendengar kata kata yang keluar dari mulut suaminya.


"Kalau begitu Om pergi dari sini. Sampai Om mengingat semuanya, baru Om menjumpaiku. Dan jangan harap Om bisa bertemu dengan Calix. Aku akan menggugat hak asuk Calix. Kalian sudah menjauhkannya dari Ibu kandungnya" gemas Hajar.


"Calix anakku" tandas Chandra.


"Kapan Om melahirkan sampai bisa punya anak?. Anakmu dan Amel sudah mati" geram Hajar, ingin rasanya ia memukul kepala suaminya itu.Jika sudah membahas kesalahan Nyonya Belinda. Dari dulu, Chandra selalu membela Ibunya.


"Hajar, percuma kamu membahas masa lalu, aku sama sekali tidak mengingatnya. Bukankah aku sudah percaya kamu itu istriku. Aku rasa itu sudah cukup. Ayolah, kita bina rumah tangga kita kembali. Dengan seperti itu, mungkin bisa mengembalikan ingatanku" ujar Chandra, ia pun menurunkan tubuhnya menarik Hajar untuk berdiri.


"Aku gak percaya kalau Om itu lupa ingatan. Buktinya Om tidak lupa dengan uang. Masih kenal tukaran uang dari lima ratus perak sampai tukaran seratus ribu. Apa iya, orang amnesia cuma bisa lupa sama orang?" gerutu Hajar.


Chandra memeluk Hajar dari belakang." Tapi hariku tidak pernah lupa jatuh cinta sama kamu" ucapnya tersenyum.


Hajar memutar bola mata.


Chandra mengecup leher Hajar dari samping,lalu berbisik."Aku mencintaimu Hajar Nataya Callista isti. Selamanya kamu di dalam hatiku."

__ADS_1


Hajar memutar tubuhnya ke wajah Chandra, memandangi wajah pria itu dengan mata berkaca kaca.


"Om sudah mengingatku?" lirih Hajar.


Chandra mengulas senyumnya lalu mengecup lama kening Hajar, membuat Hajar meneteskan air matanya kembali, begitu pun dengan Chandra.


"Sedikit" jawab Chandra menghapus air mata Hajar.


Bukh!


Hajar memukul dada Chandra, masa mengingatnya hanya sedikit.


Chandra semakin melebarkan senyumnya." Aku mengingat gadis kecil yang sangat pandai menggodaku" ucapnya." Dia sangat mirip sepertimu. Tapi gadis kecilku itu lebih imut di banding yang ini" Chandra merapikan anak anak rambut Hajar yang berantakan di wajahnya." Yang ini lebih cantik dan dewasa, tubuhnya lebih berisi" lirih Chandra dengan bulir air mata mengalir deras di pipinya. Lalu menarik Hajar ke dalam pelukannya.


"Aku mengingatmu kembali sayang" isak tangis Chandra. Setelah mengulangi percintaan mereka tadi siang saat di Villa. Seketika Ingatan Chandra kembali saat meneriakkan nama Hajar di ujung permainan mereka. Tanpa sadar Chandra memanggilnya 'Hajar sayangku.' Dan mengucapkan trimakasih dan mengecup mesra kening Hajar.


"Benaran Om" Hajar ikut terisak.


"Iya sayang"


"Kapan, kenapa baru bilang?."


"Tadi siang, tapi Om masih ingin membereskan Amel. Tapi ternyata Amel pulang liburab lebih cepat dari waktunya" jawab Chandra.


Chandra pun melepas pelukannya, dan langsung menyerang bagian bibir Hajar.


Ehem!


Refleks kedua bibir itu berbisah. Hajar dan Chandra menoleh ke arah pintu yang ternyata tidak di tutup. Di ambang pintu Naomi sedang menggendong tubuh Calix yang ketiduran.


"Anak kalian" ucap Naomi.


Hajar langsung menghanpiri Naomi, mengambil Calix dari gendongannya. Hajar mengecupi wajah pulas anaknya itu sampai membuat tidur anak itu terganggu.


Naomi pergi dan menutup pintu kamar itu. Membiarkan kedua orang tuanya melepas rindu.


"Trimakasih sudah menjaganya dengan baik semasa aku gak ada. Minta sesuatu sama Om sayang." Chandra memeluk Hajar kembali, lalu mengecup pipi wanita itu dari samping.


"Jangan pergi sendirian lagi. Bawa kami kemana pun Om pergi. Apa pun yang terjadi, kita harus tetap sama sama. Aku gak mau terpisah lagi dari Om, kecuali mati" ucap Hajar.


"Aku berjanji" balas Chandra.

__ADS_1


* Tamat


#Trimakasih yang sudah membaca novel ini sampai tamat. Khususnya pembaca setia otor yang sudah membaca semua karyaku. Trimaksih banyak.


__ADS_2