
Setelah menghabiskan waktu berbicara dengan Hajar. Ibu Misra pun kembali ke lantai bawah. Ia pun menyampaikan apa yang dikatakan Hajar padanya.Ibu Misra mendudukkan tubuhnya sebelum berbicara.
"Hajar meminta Nyonya untuk mengembalikan bayarannya sebelum menikah. Dia juga meminta bayaran lagi, untuk menjadi menantumu lagi. Nyonya juga harus membayarnya yang sudah mengandung cucu untukmu. Dan selama hamil, dia tidak mau bertemu, kawatir bayinya mirip Nyonya. Jadi temui dia setelah melahirkan" jelas Ibu Misra tersenyum.
"Licik sekali otaknya" dengus Nyonya Belinda.
Sedangkan Chandra mengeraskan rahangnya, gemas mendengar persyaratan untuk berbaikan dengan Ibunya.
"Dasar matre, benar benar menantu bayaran" gumamnya.
Ibu Misra malah tergelak. Hajar adalah hasil didikannya. Dia yang membentuk karakter Hajar menjadi gadis matre.
Chandra pun berdiri dari tempat duduknya, untuk kembali ke dalam kamar. Rasanya Chandra ingin melempar istrinya itu ke kandang kambing, jika saja Hajar tidak lagi hamil.
Ceklek!
Mendengar pintu terbuka, Hajar menoleh sekilas ke arah Chandra yang baru masuk, sembari mengunyah santai makanan di mulutnya.
"Sayang! kamu benar benar ya!." Chandra lansung menyerang Hajar di bagian bibirnya. Bisa bisanya istrinya itu ingin memeras kekayaan Ibunya.
.
.
Selesai mandi pagi, Hajar yang masih memakai handuk berjalan ke arah lemari. Ia membuka pintu lemari itu dan mengambil baju kemeja milik Chandra, lalu memakainya, dan memadukannya dengan rok span yang panjangnya hanya dua ruas jari dari baju kemeja itu.
"Kenapa memakai bajuku?" tanya Chandra yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk di pinggangnya.
"Pengen aja, aku bosan memakai baju bajuku" jawab Hajar sibuk mengancing kemeja Chandra di tubuhnya.
"Kamu ke kampus dengan pakaian seperti itu?" tanya Chandra memastikan, melihat kemejanya yang di pakai Hajar kebesaran.
"Lucu 'kan Om?" Hajar memutar mutar tubuhnya di depan kaca yang menepel di pintu lemari.
"Jelek!" jawab Chandra mencari pakaian untuknya. Karna Hajar hanya sibuk mengurus dirinya sendiri. Tidak pernah menyiapkan baju kerja untuknya.
"Om gak tau gaya sih" Hajar mengambil ikat pinggang model rantai berbahan perak, melilitkannya ke pinggangnya. Kemudian memasang antik bulat sebesar gelang anak anak di telinganya.
__ADS_1
"Hei! kau apakan anakku. Buka ikat pinggangmu itu, nanti anakku bisa kecekik di dalam." Chandra mendekati Hajar, lalu membuka ikat pinggang bermodel rantai itu dari pinggang istrinya."Lagian kamu mau ke kampus, ngapain harus bergaya segala."
Chandra pun mengganti rok span Hajar dengan rok yang lebih panjang dan lebih longgar. kemudian membuka sebagian kancing baju kemeja, lalu mengikat kedua ujungnya dengan karet rambut.
"Begini lebih bagus" ucap Chandra.
Hajar memandangi penampilannya di depan kaca cermin, ternyata gaya berpakain yang di buat Chandra lebih bagus dari pada sebelumnya, meski pun perut menonjolnya sangat jelas terlihat.
"Jangan menyiksa anak kita sayang." Chandra memeluk Hajar dari belakang dan mengelus elus perut Hajar dengan lembut.
"Perutku sudah mulai terlihat besar" ucap Hajar ikut mengelus perutnya. Kini kandungannya sudah berusia tiga Bulan lebih.
"Gak apa apa, kamu terlihat tambah cantik, dan s*ksi" puji Chandra mengecup pipi Hajar dari samping.
"Awas kalau Om macan macan di luar sana" cetus Hajar cemberut.
Chandra tersenyum, semenjak Hajar hamil, istrinya itu sangat cemburuan."Ada kamu, Om gak ingin yang lain lagi."
Hajar kembali tersenyum, ia pun membalik tubuhnya ke arah Chandra dan melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu.
"Gendong" manja Hajar.
Sampai di ruang makan, Chandra mendudukkan Hajar di salah satu kursi kosong. Dan langsung pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk istrinya itu dengan tangannya sendiri. Setelah selesai, membawanya langsung ke meja makan.
"Ayo sarapanlah" ucap Chandra meletakkan omelet buatannya di depan Hajar.
Hajar langsung melahapnya, semenjak hamil Hajar sangat menyukai masakan Chandra. Meski masakan itu ala kadarnya. Dan bahkan rasa masakan yang tidak enak sekali pun, Hajar menyukainya, yang penting Chandra yang memasaknya.
Chandra mengusap kepala Hajar dari lembut, kemudian mendudukkan tubuhnya menyantap sarapan yang di siapkan pembantu. Selesai sarapan, Chandra mengantar Hajar ke kampus, sekalian berangkat kerja.
Chandra mengentikan kenderaannya di parkiran kampus. Dan Hajar langsung membuka pintu di sampingnya untuk turun. Di sana sudah ada Naomi menunggunya.
"Sayang, Om langsung pergi ya, nanti kabari kalau sudah pulang" ucap Chandra mengecup kening Hajar sembari mengusap perutnya.
"Iya Papa"Hajar membalas mengecup bibir Chandra, dan pipinya. Membuat lipstik merahnya menempel di pipi Chandra.
Naomi yang melihatnya memutar bola mata. Sebentar sebentar kecup kecupan, tidak ada bosannya, pikirnya.
__ADS_1
"Sana cepat turun, tuh Naomi sudah kesal menunggumu" ucap Chandra tersenyum.
"Hm! putrimu itu memang gampang sekali kesal. Sepertinya itu sifat keturunan Neneknya" balas Hajar.
"Jangan terlalu tidak menyukai Nenekku. Nanti anakmu semakin mirip Nenek" ujar Naomi yang berdiri di sampig pintu mobil.
"Oh! Tidak!" sanggah Hajar dengan cepat. Dia tidak menyukai wajah menyebalkan si Nenek tua yang sok jagoan itu."Anakku hanya boleh mirip aku san suamiku" ucap Hajar berusaha keluar dari dalam mobil.
"Kita lihat aja nanti" ucap Naomi sambil membantu Hajar keluar.
Chandra hanya geleng geleng kepala menanggapi istrinya yang tidak mau wajah anak merekan nanti mirip Nyonya Belinda.
Setelah Hajar menutup pintu mobilnya, Chandra pun langsung melajukan mobilnya ke perusahaan. Sedangkan Hajar dan Naomi berjalan masuk ke dalam kelas.
Sampai di kantornya, Bryan sudah menunggunya di dalam. Saat Chandra melangkahkan kakinya ke arah meja kerjanya, tiba tiba Bryan merasa perutnya mual.
Oek!
Langkah Chandra terhenti mendengar Bryan ingin muntah." Kau kenapa?" tanyanya mengernyit.
"Kurang enak badan, Tuan. Sepertinya masuk angin" jawab Bryan masih menutup mulutnya dengan tangan. Bryan mual saat mencium aroma farpum Chandra masuk ke ruangan itu.
"Istrirahatlah kalau sakit" Chandra mendekati Bryan untuk memastikan asistennya itu apakah demam atau tidak.
"Jangan mendekat, Tuan" suara Bryan terdengar kumur kumur karna berbicara menutup mulutnya.
"Kenapa? Perasaan aku tidak bau" Chandra menatap heran pada Bryan.
"Ma-maaf, Tuan. Aku tidak menyukai aroma farpum Tuan" gugub Bryan kawatir tuannya tersinggung.
Chandra malah tersenyum, lalu berdecih, berpikir kalau Bryan tidak sedang sakit, tapi sedang mengidam.
"Kau bilang gak menyukai putriku, tapi kau meyentuhnya juga" cibir Chandra, lalu membuka jasnya menggantungnya di gantungan baju yang tersedia di ruangan itu. Menghadapi dua wanita hamil sekaligus, Chandra berpikir untuk mengetahui Dunia kehamilan.
Wajah Bryan langsung merah salah tingkah. Sebulan yang lalu, hubungannya dengan Naomi sudah membaik. Naomi melakukan sesuatu yang membuatnya takluk, tidak bisa menolak pesona Naomi yang berani merangkang di atas tubuhnya. Semenjak kejadian nikmat itu, Bryan menjadi kecanduan nikmat. Dan mungkin sekarang, Bryan sesang mengalami ngidam, tapi Bryan belum tau itu.
"Istirahatlah" ujar Chandra melihat Bryan sepertinya tak sanggup bekerja.
__ADS_1
"Trimakasih, Tuan" balas Bryan segera keluar dari ruangan Chandra.
*Bersambung