
"Om akan tetap pergi bekerja?"tanya Hajar melihat Chandra sudah rapi dengan pakaian kantornya. Entah kenapa, Hajar begitu kawatir jika Chandra tertangkap anak buah Nyonya Belinda. Lalu Hajar hidup dengan siapa?.
"Hari ini ada meeting yang tidak bisa di tunda. Jangan kawatir, Mama tidak mungkin menyakitiku. Dia hanya ingin rencananya berjalan lancar" Chandra mengusap kepala Hajar yang duduk di pinggir kasur." Dan juga ada Bryan dan yang lainnya untuk menjagaku" tambah Chandra.
"Hm..baiklah" pasrah Hajar tak bisa menghentikan Chandra untuk tidak keluar rumah.
Satu kecupan pun mendarat di kening Hajar. Mereka keluar dari dalam kamar dengan bergandengan tangan.
Sampai di lantai bawah, di sana Bryan dan Naomi sudah menunggu, begitu juga bodyguard yang akan menjaga Chandra. Hari ini Naomi akan pulang ke apartement yang di tempati Caroline. Dan juga Naomi akan menemui Nyonya Belinda nanti. Membujuk Neneknya untuk menerima Hajar menjadi istri Papanya.
"Sayang, aku berangkat dulu. Kalau ada apa apa hubungi aku. Dan ingat, jangan mencoba untuk kabur lagi. Karena itu percuma, kamu tidak akan bisa keluar dari sini."
Hajar memutar bola matanya malas, karena Chandra memperlakukannya seperti tawanan.
Naomi tersenyum
Sedangkan Bryan mendengus, masih belum ikhlas kalau Hajar sudah menjadi istri Tuannya.
"Aku berpikir lebih nyaman dan tenang jika menikah dengan pria yang biasa biasa saja" ucap Hajar.
"Tapi sayangnya, kita sudah terlanjur menikah dan jatuh cinta" Chandra tersenyum dan menarik pinggang Hajar sampai menempel ke tubuhnya.
"Om yang jatuh cinta, aku gak" cetus Hajar.
"Terserah padamu, tapi jangan berharap kamu bisa lepas dari Om lagi. Ya sudah aku pergi dulu sayang." Chandra pun melepas pinggang Hajar setelah mengecup kilas bibir mungil gadis itu.
Keluar dari dalam rumah, Chandra langsung masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi penumpang belakang bersama Naomi. Sedangkan Bryan berada di kursi kemudi, dan di sampingnya salah satu bodyguard.
"Pastikan rumah ini di jaga dengan ketat, jangan sampai orang orang Mama bisa masuk." Chandra lebih mengkawatirkan Hajar dicuri Mamanya dari pada dirinya.
"Sudah Tuan" Bryan pun melajukan kenderaannya keluar dari gerbang rumah Tuannya itu, di ikuti satu kendaraan yang berisi empat Bodyguard di dalamnya.
Namun seperti dugaan mereka, di tengah jalan sebuah mobil menghadang jalan mereka. Dengan terpaksa Bryan melalukan rem mendadak, begitu juga dengan mobil anak buah Chandra yang mengikuti mereka dari belakang.
Saat melihat sosok yang keluar dari dalam mobil, Chandra mengerutkan keningnya dan bergumam.
"Mama, Hajar"
Bagaimana bisa?, itulah yang ada di pikiran Chandra. Sudah pasti ada penghianat di antara orang orang yang di tugaskan menjaga rumahnya dan Hajar. Terpaksa Chandra keluar dari dalam mobil. Begitu juga dengan Naomi, Bryan dan anak buah yang ikut bersama mereka.
"Om" lirih Hajar menangis meringis kesakitan saat Nyonya Belinda menarik kuat rambutnya.
__ADS_1
"Ma" tegur Chandra mendekati Hajar dan Nyonya Belinda.
"Ceraikan Hajar, atau Mama akan menyiksanya" ancam Nyonya Belinda.
Sebenarnya Nyonya Belinda tidak ingin menyakiti Hajar, namun dia juga tak ingin Hajar menjadi menantunya lagi. Nyonya Belinda ingin Chandra memutuskan hubungan dengan Hajar.
Chandra menggeleng gelengkan kepalanya, tak ingin menuruti permintaan Mamanya. Dia mencintai Hajar, bagaimana bisa ia menceraikan gadis itu.
"Sakit Om" ringis Hajar lagi, rasanya kulit kepalanya hampir mau lepas, sangking kuatnya cengkraman di rambutnya.
"Ma" Chandra mendekati Nyonya Belinda, menarik wanita lanjut usia itu ke dalam pelukannya. Namun wanita yang melahirkannya itu langsung mendorongnya.
Sedangkan Hajar yang sempat terlepas dari pegangan Nyonya Belinda, langsung berlari kencang menjauhi kedua kubu keluarga yang saling bertentangan itu.
"Hajar!" Naomi dan Chandra yang melihatnya refleks sama sama berteriak memanggil Hajar dan mengejarnya.
Bryan yang tanggap pun bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar Hajar.
"Bang Bang Bang, tolong. Aku di kejar sama preman" ujar Hajar saat ia berhasil menghentikan pengendara sepeda motor. Tanpa ijin Hajar langsung naik, duduk di belakang pria yang wajahnya tertutup kaca helm.
"Cepat bang!" suruh Hajar saat melihat mobil yang di kenderai Bryan semakin mendekat. Si pengendara motor itu pun langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, sehingga membuat Hajar terpaksa memeluk erat pria itu dari belakang.
"Gak jadi pacar, gak jadi mantan, kau bikin repot aku aja" gerutu Bryan kesal. Setelah putus dari Hajar, hidupnya masih saja seputar Hajar dan Hajar.
"Nenek kasihan Papa Nek. Bukankah Papa anak Nenek satu satunya?. Kenapa Nenek gak biarin Papa bahagia?. Hajar orang yang baik Nek. Percaya deh Nek" bujuk Naomi kepada Nyonya Belinda, berdiri melipat tangan di dada sambil memperhatikan pertarungan di depannya.
"Santo! masukkan anak ini ke dalam mobil" perintah Nyonya Belinda kepada salah satu anak buahnya yang berdiri di belakangnya.
"Baik Bos"
"Nek kenapa Naomi di tangkap?" Naomi memberontak untuk di lepas saat pria bertubuh kekar itu menyeretnya masuk ke dalam mobil Nyonya Belinda.
"Kamu juga tidak boleh berhubungan dengan Hajar lagi."
"Tapi Nek..."
"Patuh sama Nenek!" tegas Nyonya Belinda menatap tajam pada Naomi.
.
.
__ADS_1
Ciiiiiiiiiiit.....!
"Aaaa.....!" Hajar berteriak saat pria yang membawanya melakukan rem mendadak kerena ada pengendara motor lain berhenti di depan mereka. Pria itu yakin, jika pengendara motor itu komplotan preman yang megejar gadis di belakangnya.
"Kita harus berlari" ucap Pria itu
Hajar menganggukkan kepalanya dan segera turun dari atas motor, begitu juga dengan pria itu.
"Nona! jangan kabur!" teriak Bryan saat keluar dari dalam mobil.
Melihat Hajar terus berlari bersama pria yang membawanya. Terpaksa Bryan dan orang suruhan Bryan yang datang membantu mengejar Hajar, ikut berlari mengejar Hajar dan pria itu masuk ke gang sempit sebuah permukiman warga.
"Nona!" panggil Bryan
Tanpa lelah, Hajar terus berlari bersama pria itu. Ini adalah kesempatan Hajar untuk bisa lepas dari Chandra. Jika dia tertangkap, Chandra akan semakin ketat untuk menjaganya.
"Nona?" tanya pria yang menarik tangan Hajar dari tadi, mendengar orang yang mengejar Hajar memanggil Nona.
"Nanti aku jelasin" ucap Hajar bernapas ngosngosan.
"Kamu kabur dari rumah?" tanya Pria itu lagi.
"Nanti aku jelasin"
"Baiklah, tapi sepertinya kita harus melompat" ujar pria itu melihat jalan buntu dan jurang di depan mereka.
"Ha!"
Belum sempat Hajar membuat ancang ancang untuk melompat, pria itu sudah menariknya melompat ke jurang berkedalaman kira kira dua meter.
Duk!
"Aw" Hajar mengeluh sambil mengusap usap kepalanya yang terbentur dengan helm pria itu.
"Sory" pria itu pun membuka helmnya dan melemparnya begitu saja.
"Boy"
Pria berwajah bule tertawa cekikikan, lalu menarik kembali tangan Hajar untuk berlari. Ternyata pria yang membantunya itu adalah Boy, cowok yang pernah di taksir Hajar waktu SMP dulu.
"Nona!" teriak Bryan dari pinggir tebing.
__ADS_1
*Bersambung.