
Hajar bersama ke empat sahabatnya, Naomi, Yona, Katrin dan Luna, menenteng tas belanjaan masing masing dengan wajah sumiringah berjalan ke arah mobil masing masing. Setelah menyimpan semua belanjaannya, mekera kembali masuk ke dalam mall untuk mencari makanan.
"Halo Hajar, Yona, Luna, Katrin dan Naomi" sapa seorang cowok tiba tiba.
"Boy" ucap ke empat gadis itu serempak.
"Hm..ya, aku Boy" cowok berparas bule itu mengembangkan senyum menawannya.
"Selama ini kamu kemana?.Kenapa gak pernah kelihatan?" tanya Hajar antusias.
Boy adalah orang yang di taksir Hajar saat SMP, tapi sayang sebelum bunga cintanya mekar, Boy menghilang tanpa jejak. Sehingga hatinya terjatuh pada pria bernama Bryan, setelah Hajar kelas SMA.
"Aku melanjut sekolah di luar Negri" jawab Boy, menatap Hajar berbinar.
"Sepertinya ada yang akan CLBK nih. Ingat dengan status" ujar Katrin mengingatkan Hajar yang sudah menjadi seorang istri.
"Kalian baru nyampe?" tanya Boy.
"Sudah lama, tadi kami menyimpan barang belanjaan kami ke mobil. Sekarang kami mau cari makan" jawab Hajar sumiringah. Sepertinya bunga cintanya yang sempat layu, kini akan mekar kembali.
"Kebetulan sekali, aku juga mau cari makanan. Bagaimana kalau aku ikut kalian?" tanya Boy mengarahkan pandangannya ke arah kelima gadis di depannya bergantian.
"Boleh, tapi jangan dekat dekat Hajar. Dia itu sudah menikah" jawab Yona yang juga naksir kepada Boy.
"Menikah?" Boy mengerutkan keningnya ke arah Hajar.
"Ah iya, aku baru menikah" Senyum Hajar berobah masam, karna Yona mengungkit pernikahannya.
Iri aja bawaannya, batin Hajar melihat Yona di sampingnya melalui sudut matanya.
"Kapan menikah?" Boy melangkahkan kakinya mengikuti ke lima gadis itu masuk ke salah satu restoran.
"Baru dua minggu" jawab Hajar.
"Padahal aku pulang kesini untuk mengajakmu berpacaran" desah Boy kecewa. Jika saja dulu dia tidak pindah sekolah, pasti dulu mereka sudah berpacaran.
"Kita bisa berteman" balas Hajar tersenyum, senang mendengar Boy ingin mengajaknya berpacaran, meski tak mungkin lagi. Karna satatusnya yang sebentar lagi akan menjadi janda muda. Hajar yakin, Boy tidak akan menerimanya lagi.
Setelah mendudukkan tubuh mereka di salah satu meja kosong di sebuah restoran, mereka langsung memesan makanan.
.
.
ChandraTerus meneguk minuman dari botol di tangannya saat melihat Hajar berinteraksi dengan laki laki lain melalui vc orang suruhannya untuk mengawasi Hajar. Hatinya terasa panas dan bergemuruh, ingin rasanya Chandra menemui Hajar, dan membawa Hajar kembali ke atas tempat tidurnya, mengungkungnya tiada ampun. Namun Chandra menahan diri, karna tekatnya yang sudah bulat untuk mengakhiri pernikahannya dengan gadis keci itu.
Prank!!!
Chandra melempar botol minumannya ke lantai.
__ADS_1
"Bahkan surat cerainya belum sampai ke tangannya, dia sudah berani dekat dengan laki laki lain. Dia itu benar benar hanya menginginkan hartaku saja" gumam Chandra penuh emosi, melihat Hajar baik baik saja seperti tidak terjadi apa apa.
Gadis berparas cantik dan imut itu terlihat sangat menikmati hidupnya, sedikit pun tidak terlihat menderita seperti dirinya.
"Bukankah Tuan sudah menceraikan Nona Hajar?. Itu artinya Tan sudah membebaskan Nona Hajar dekat dengan laki laki manapun. Lagian untuk apa lagi Tuan menyuruh orang mengawasi Nona Hajar?" ujar Bryan yang duduk diam di sofa dari tadi.
"Kau semakin berani saja berbicara" Chandra menatap berang pada Bryan. Tak suka dengan sikap Bryan yang sudah tidak segan lagi.
"Maaf Tuan" Bryan menundukkan kepalanya.
"Bawa Hajar padaku" perintah Chandra kepada orang yang bervidio cal dengannya dan langsung mematikan sambungannya.
Chandra membuka kembali laci mejanya, mengeluarkan botol minuman lagi dari dalamnya, setelah membukanya lalu menegaknya rakus sampai minuman itu tumpah ke bajunya.
"Tuan" Bryan berdiri dari sofa berjalan cepat mendekati Chandra.
Selalu saja seperti itu, selama seminggu ini Tuannya itu selalu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk sampai tak sadarkan diri. Membuat Bryan selalu repot untuk mengantarnya pulang.
"Katakan sama suruhanmu, jangan biarkan Hajar bebas berkeliaran di luaran sana. Bawa dia ke apartemenku. Kurung dia di dalam kamar" perintah Chandra merancau, mulai tidak bisa menguasai dirinya.
Entah apa yang ada dalam pikirannya, meski dia menceraikan Hajar, namun sepertinya hatinya tidak rela Hajar menjadi milik orang lain.
"Buat apa Tuan?" Bryan mengambil botol minuman dari tangan Chandra dan membuangnya ke lantai. Karna seminggu ini Tuannya itu sudah kebanyakan minum.
"Lakukan saja perintahku !!!" bentak Chandra marah.
"Baik Tuan" patuh Bryan, tak ingin tuannya marah lagi, apa lagi sampai dia dipecat.
.
.
Mendengar kabar Hajar yang tidak tinggal di rumah Chandra lagi, murka. Dia pun menarik kuat rambut wanita berusia hampir empat puluhan di depannya.
"Aku tidak mau tau, putriku harus kembali menjadi menantu keluarga Kurniawan" geram wanita itu berbicara merapatkan gigi giginya.
"Kembalikan dulu anakku" ucap Caroline meringis kesakitan, sambil memegangi tangan kedua Tantenya yang semakin menarik kuat rambutnya.
"Berani kau melawan sekarang? Ha !" bentak wanita tua itu marah.
"Aku sudah menuruti keinginan Tante selama ini.Tapi tante tidak juga mengembalikan anakku."
Wanita tua itu pun melepaskan rambut Caroline dengan menghempaskannya kasar." Aku dulu meletakkan anakmu di depan rumah permukiman warga di daerah X" jawabnya.
Mendengar itu Caroline langsung keluar dari rumah Tantenya dengan wajah berbinar. Caroline akan pergi mencari anaknya mulai dari daerah yang di katakan Tantenya. Berharap bisa menemukan anaknya di daerah itu, meski dia tidak bisa membayangkan seperti apa wajahnya, mungkin mirip wajahnya atau wajah Ayah biologis anaknya, atau mungkin perpaduan wajah mereka.
"Aaa.." jerit Caroline kaget saat tiba tiba ada yang menarik tangannya, membawanya masuk ke dalam sebuah mobil saat dia akan memasuki sebuah angkutan umum di pinggir jalan. Dan kesadarannya langsung menghilang saat pria di sampingnya membekap mulutnya.
.
__ADS_1
.
"Halo" ucap Bryan saat menerima telepon yang masuk ke handphon Tuannya yang terletak di atas meja.
" Bos, kami menemukan wanita yang mirip dengan photo wanita yang bos berikan" lapor seorang pria dari dalam telepon.
"Bawa wanita itu ke apartemen, saya akan kirimkan alamatnya" perintah Bryan.
"Baik bos" jawab pria di dalam telepon.
"Trimakasih, saya akan segera menyusul" balas Bryan kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
.
.
Keluar dari dalam mall, Hajar masuk ke dalam mobilnya, di ikuti Naomi duduk di sampingnya. Hajar akan mengantar sahabatnya itu pulang ke rumahnya terlebih dahulu, baru ia akan pulang ke rumahnya.
"Jangan mengatakan apa pun pada mereka" ujar Hajar saat akan melajukan kenderaannya keluar dari parkiran mall.
"Aku tau" jawab Naomi.
"Terutama pada Yona, pasti dia nanti akan semakin meremehkanku, mengetahui kalau aku sebentar lagi akan menjadi janda."
"Apa pernikahanmu sudah tidak bisa di perbaiki lagi?" Naomi menatap kasihan pada Hajar yang sibuk menyetir.
Hajar menggelengkan kepalanya dengan mata yang berkaca kaca. Mengingat seminggu ini dia dan suaminya tidak pernah bertemu. Dan suaminya sama sekali tidak pernah menanyakan kabarnya, apa lagi menemuinya.
"Sabar ya" ucap Naomi lembut." kan sekarang ada Boy" ucapnya lagi tersenyum.
Hajar pun menoleh sebentar ke arah Naomi, kemudian kembali pokus dengan jalan di depannya.
"Apa menurutmu Boy masih menyukaiku setelah mengetahui aku seorang janda nantinya?" tanya Hajar.
"Gak tau pasti sih, yang jelas tadi Boy selalu memperhatikanmu, sepertinya dia gak peduli dengan statusmu" jawab Naomi.
"Hm baiklah, kalau nanti aku sudah resmi menjadi janda, aku sudah punya incaran baru" Hajar tersenyum untuk menghilangkan kegundahan hatinya, meski sebenarnya dadanya sesak mengingat akan berpisah dengan Chandra.
Sampai di depan rumah Naomi, Hajar pun menghentikan laju kenderaannya. Naomi yang duduk di sampingnya langsung turun, kemudian mengambil barang belanjaannya dari kursi penumpang belakang.
"Trimakasih banyak" ucap Naomi sebelum Hajar berlalu dari depannya.
"Sama sama" balas Hajar.
Begitulah Hajar, meski dia matre, tapi dia sangat dermawan. Dia tidak akan perhitungan untuk membelanjai sahabatnya itu.
Setelah Hajar berlalu, Naomi pun melangkahkan kakinya masuk ke sebuah rumah sederhana.
"Dari mana kamu?"
__ADS_1
* Bersambung