
Chandra menghela napasnya, dia bingung menghadapi kedua wanita itu. Hajar yang terus cemburu dan tidak menyukai Amel. Amel yang terus meminta perhatian dirinya karena bayi di perutnya. Chandra tidak bisa mengabaikan salah satu perasaan kedua wanita itu.
"Sayang, sebentar ya aku kawanin Amel dulu" pamit Chandra pada Hajar.
"Silahkan!" balas Hajar menatap Amel yang tersenyum kecil ke arahnya. Percuma juga jika Hajar melarangnya, Chandra akan selalu mengatakan.' Amel sedang hamil, dia butuh perhatian lebih, kasihan dia.'
"Sebentar saja" ucap Chandra kemudian membawa Amel ke kamar yang berada di lantai bawah Villa itu.
Sampai di dalam kamarnya, Amel naik ke atas tempat tidur dan langsung membuka bajunya. Katanya dia tidak bisa tidur pakai baju. Gerah meski ruangan itu memakai AC.
Tentu itu membuat cakun Chandra selalu naik turun setiap melihatnya. Amel terlihat sangat cantik dengan perutnya yang semakin membesarnya. Rasanya Chandra sangat penasaran menikmati wanita yang sedang hamil. Tapi Chandra harus bersabar menunggu Hajar memiliki perut besar.
"Lihat Om, bayinya langsung bergerak" ucap Amel tersenyum saat tangan Chandra mengelus perutnya.
Chandra juga ikut tersenyum, takjub dengan bayi yang masih berada di dalam perut Amel. Chandra semakin yakin, jika bayi itu adalah miliknya. Oh Tuhan! dia akan punya anak lagi.
Perlahan lahan Amel pun mulai ngantuk seiring bayi di perutnya mulai tenang. Namun yang namanya hamil, tidur Amel tidak pernah nyaman. Amel terus menukar posisinya ke kiri dan ke kanan membuat tidurnya tidak bisa terlelap. Chandra jadi kasihan melihatnya. Amel juga sering mengeluh tulang punggungnya pegal, sehingga Chandra sering memijat mihatnya. Itu sebabnya Chandra tidak bisa mengabaikan Amel.
Setelah melihat Amel tertidur, Chandra langsung kembali ke kamarnya dan Hajar. Saat membuka pintu, di lihatnya Hajar belum tidur dan sibuk memainkan ponsel di tangannya. Hajar diam, sepertinya malas melihatnya.
Chandra melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum bergabung bersama Hajar ke tempat tidur.
Namun yang membuat Hajar mengernyit bingung. Kenapa suaminya itu lama sekali di kamar mandi?. Bukan kah suaminya itu hanya sikat gigi dan mencuci muka?.Keluar dari dalam kamar mandi, ternyata suaminya itu mandi keramas.
"Wah! sepertinya sudah terjadi sesuatu" cibir Hajar. Istri mana yang tidak curiga, keluar dari kamar wanita lain, suaminya langsung keramas.
"Apa yang kamu pikirkan? Hm..!" Chandra melangkahkan kakinya ke araha Hajar dan langsung...
Tak!!
menyentil kening istri kecilnya itu.
"Sakit Om!" keluh Hajar kesal.
"Aku tau kamu curinga sama Om" ucap Chandra lagi.
Hajar mendengus.
__ADS_1
"Aku belum mandi dari tadi, karena tidak sempat" jelas Chandra. Malam Chandra baru pulang setelah dari semalam pergi menemui klienya di kota lain. Istri kecilnya itu langsung saja curinga karena dia mandi keramas.
Hajar hanya cemberut sampai membuat matanya menyipit.
Setelah memakai baju, Chandra langsung bergambung ke tempat tidur. Ia pun membuka laptopnya, mulai sibuk dengan pekerjaannya. Membuat bibir Hajar semakin memanjang ke depan.
Mungkin suaminya itu sudah puas melihat Amel tak memakai baju. Sehingga tidak ingin melihat tubuh polosnya lagi. Tapi jangan salah, setelah menutup laptopnya kembali, Chandra langsung menarik kain yang melekat di tubuh Hajar tanpa sisa, kemudian membuka pakian bagian atasnya sendiri. Dia pun memeluk tubuh itu, membawanya ke alam mimpi. Chandra sangat menyukai tidur seperti itu.
Amel pun tau itu sejak tiga Tahun menjadi wanita pria berusia tiga puluh delapan Tahun itu. Chandra tidak suka wanitanya tidur pakai baju.
"Ayo tidur, jangan cemberut" gumam Chandra dengan mata terpejam, tau kalau bibir istrinya itu masih memanjang.
.
.
Pagi hari
Hajar menuruni anak tangga ke lantai bawah, ia ingin ke dapur untuk sarapan. semenjak bangun tidur, dia tidak melihat Chandra di sampingnya lagi. Entah kemana pria itu pergi.
Hajar melirik Amel, lalu mengambil sendok dari atas piring. Ia pun menyuapkan nasi goreng itu ke mulutnya tanpa mengatakan apapun pada Amel.
Dua hari ini, Amel selalu membuatkan sarapan untuknya, meski mereka tidak pernah akur.
" Kau jadi istri hanya berguna di atas kasur aja. Kau tidak tau tugasnya sama sekali. Seharusnya kamu mengurus suami mu yang akan berangkat kerja. Mulai dari menyiapkan pakaiannya, sarapannya dan keperluan yang harus di bawanya. Ini malah aku yang harus melakukannya."
Meski suara Amel terdengar lembut, tapi Hajar tau kalau Amel tidak sedang menasehatinya, tapi sedang menghina dan mencibirnya. Hanya berguna di atas tempat tidur, apa maksudnya?.
"Om Chandra aja tidak keberatan, kenapa aku harus memikirkannya. Dan kenapa kamu sibuk mengurusi rumah tanggaku?" balas Hajar sengit.
"Oh iya, benar juga sih!. Kenapa aku sibuk ngurusin rumah tangga kalian ya?" tanya Amel kembali. "Aku kan juga punya rumah tangga dengan Om Chandra" tambah Amel lagi sengaja memansi manasi Hajar.
"Tapi aku yakin barangmu itu tidak pernah di tusuk" cibir Hajar tersenyum mengejek.
"Siapa bilang?, Om Chandra selalu membuka bajuku setiap kami masuk kamar. Dia sangat menyukai perutku dan kedua gunung kembarku yang membesar ini. Dia juga sangat menyukai bok*ngku yang semakin bahenol ini. Katanya aku semakin seksi dan bohai. Oh my God!" balas Amel, berhasil membuat dada Hajar naik turun.
"Lihat tubuhmu, tidak ada apa apanya. Aku rasa Om Chandra sering ketulangan saat memakanmu"tambah Amel mencibir.
__ADS_1
"Cih! kamu bilang s*ksi, gak lihat tuh! ketiakmu hitam, lehermu juga terlihat jorok seperti orang gak mandi setahun. Wajahmu juga terlihat kusam dan ada bercak bercak kecoklatan" ejek Hajar.
Setelah menghabiskan nasi gorengnya, Hajar pun menegak air putih di depannya, lalu berdiri menghadap Amel yang berdiri di sampingnya.
"Trimakasih makanannya, dari penampilanmu... kamu memang terilihat cocok jadi pembantu Hahaha....!." Hajar tertawa dan langsung meninggalkan Amel yang mengeram kesal padanya.
"Dasar anak penjahat!" gumam Amel.
.
.
Chandra keluar dari dalam mobil yang mengantarnya ke perusahaan. Setelah tiga bulan, ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki kembali di kantornya.
"Papa!"
Suara nyaring gadis kesayangannya itu langsung menaglihkan pandangannya. Chandra mengulas senyumnya dan merangkul bahu gadis itu lalu mengecup ujung kepalanya.
"Apa kabar putri Papa?" tanya Chandra.
"Sangat baik Pah"jawab Amel tersenyum. Tapi Chandra yakin putrinya itu tidak baik baik saja. Karena sebentar lagi Naomi akan bercerai dengan Bryan.
Mereka pun sama sama masuk ke gedung perusahaan. Sampai di ruangannya, ternyata Nyonya Belinda sedang menunggunya di dalam.
"Chandra, akhirnya kamu kembali juga ke kota ini." Nyonya Belinda berdiri dari tempat duduknya, menghampiri anak satu satunya itu. Dia sudah sangat merindukan buah cintanya dengan mendiang suaminya itu.
"Kembali ke rumah ya, Mama janji akan menerima Hajar menjadi menantu Mama" bujuk Nyonya Belinda mengelus wajah Chandra.
Jika saja takdir baik tidak berpihak pada Chandra. Mungkin Nyonya Belinda tidak akan pernah melihat anaknya itu lagi, untuk selamanya. Nayonya Belinda pasti menyesal dan merasa bersalah, karena sudah memaksakan kehendaknya pada Chandra, sehingga Chandra kabur menggunakan helikopter.
"Maaf Ma, tapi Chandra belum percaya sama Mama" tolak Chandra.
Sebulan yang lalu, Nyonya Belinda mengalami sakit sampai di rawat di rumah sakit. Sehingga Chandra terpaksa harus mengunjungi Mamanya. Chandra meminta Nyonya Belinda untuk tidak mengusik rumah tangganya, saat Nyonya Belinda memintanya untuk pulang, dan mereka berdamai.
Dan Nyonya Belinda pun membuktikannya, dia tidak lagi menyuruh anak buahnya mengawasi Chandra. Dan tidak mencari tau dimana Chandra dan istri istrinya tinggal.
*Bersambung
__ADS_1