
"Apa kamu tidak menyayangi mama lagi?." Nyonya Belinda mulai terisak. Semua karena salahnya, dia terlalu mengatur hidup Chandra, sehingga Chandra menjauhinya.
"Aku menyayangi Mama, tapi aku juga menyanyangi Hajar Ma. Aku gak mau kalian saling menyakiti" jawab Chandra.
"Apa selamanya kamu tidak mau serumah dengan mama lagi?."
"Aku gak tau Ma, aku kawatir Hajar tidak nyaman lagi jika tinggal serumah dengan Mama." Chandra pun melangkahkan kakinya ke arah kursinya, lalu mendudukkan tubuhnya di sana.
Sedangkan Naomi, ia menuntun Nyonya Belinda untuk kembali duduk ke sofa, dan menghapus air mata wanita tua itu.
"Nenek sabar ya" ucap Naomi. Sekarang hati Neneknya itu sudah luluh, tapi sekarang hati Papanya yang mengeras. Tapi kuncinya ada pada Hajar. Hanya Hajar yang bisa meluluhkan hati Papanya.
"Bawa Mama bertemu Hajar, Mama yang akan bicara pada Hajar. Mama akan minta maaf padanya." Hanya Chandra yang dia punya, dia tidak mau kehilangan anak satu satunya itu.
"Nanti Ma, tidak sekarang" balas Chandra, sebenarnya ia kasihan melihat Mamanya itu. Tapi Chandra belum percaya dengan Ibunya, untuk tidak menyakiti Hajar. Dan Chandra kawatir, Ibunya menyuruh Hajar pergi dari rumah saat ia tidak di rumah.
Nyonya Belinda menangis, karena perbuatannya, dia kehilangan anaknya. Chandra lebih memilih wanita lain dari pada dirinya yang sudah melahirkannya.
"Ma, aku tidak ingin menyakiti hati Mama atau pun Hajar. Tolong Ma, jangan menangis seperti itu. Aku menyanyangi Mama, tapi aku juga punya kewajiban pada Hajar. Aku gak mau kalian saling menyakiti Ma" ucap Chandra.
"Mama janji tidak akan menyakitinya" Nyonya Belinda semakin menangis terisak, membuat Chandra tidak tega melihatnya.
"Tuan, Meetingnya akan segera di mulai" ucap Bryan yang tiba tiba datang. Ia melirik kilas Naomi yang menundukkan duduk di samping Nyonya Belinda.
"Saya akan segera ke sana" balas Chandra berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Nyonya Belinda dan Naomi.
"Ma, saya harus meeting" pamit Chandra mengecup ujung kepala wanita yang melahirkannya itu." Temani Nenekmu di sini, papa pergi dulu" ucap Chandra lagi pada Naomi, lalu pergi bersama Bryan.
"Apa kamu tidak mencintai putriku sedikit saja?" tanya Chandra pada Bryan yang berjalan di sampingnya.
"Maaf, Tuan" jawab Bryan, Chandra menghela napasnya.
"Aku rasa dia mencintaimu" ucap Chandra lagi.
Bryan diam saja, ia pun membukakan pintu ruang rapat untuk Tuannya.
.
.
__ADS_1
"Nona mau buat apa?" tanya pembantu Villa itu.
Hajar yang sedang sibuk mengiris iris jahe, menoleh ke arah wanita paru baya di sampingnya.
"Membuat jamu ramuan cinta" jawab Hajar tersenyum.
Membuat si Bibi ikut tersenyum," mau dibantuin Non?" tanyanya.
"Jangan Bi, nanti rasa cintanya bisa berobah rasa" gurau Hajar. Jamu itu di buatnya khusus untuk Chandra. Kalau si Bibi ikut membantu, bisa bisa nanti rasa cinta si Bibi tercampur di jamu itu.
"Bibi usianya berapa?" tanya Hajar pandangannya pokus ke arah pisau dan jahe di tangannya.
"Empat puluh empat Tahun Non" jawab si Bibi.Hajar langsung berhenti mengiris jahe di tangannya dan memperhatikan wajah si Bibi.
"Masa sih Bi?" Hajar tidak percaya melihat wajah si Bibi terlihat tua, ternyata usianya hanya enam Tahun di atas suaminya. Hajar pikir si Bibi di sampingnya sudah berusia lima puluh ke atas.
"Masih terlihat muda ya Non?" tanya si Bibi tersenyum manis.
'Pantasan si Bibi sering senyum senyum melihat Om Chandra. Ternyata si Bibi masih merasa pantas untuk Om Chandra' batin Hajar.
Hajar sering melihat si Bibi pengurus Villa itu sering senyum senyum sendiri setelah melihat Chandra. Tingkahnya pun aneh seperti ABG yang lagi kasmaran.
Senyum wanita paro baya itu pun langsung memudar.
"Suami Bibi mana, kok gak pernah datang ke sini?" tanya Hajar lagi. Setelah selesai mengiris iris bahan ramuan cintanya, Hajar pun memasukkannya ke dalam panci, dan merebusnya dengan air.
"Saya masih gadis Non" jawab si Bibi malu malu.
"Uhuk uhuk uhuk...!" Hajar langsung terbatuk batuk. Ternyata oh ternyata....
Dimana jodoh si gadis berkulit eksotis itu?.
"Kalau di jodohin sama si Oman, mau gak?" tanya Hajar. Menurut Hajar, si Bibi cocok di jodohkan ke si Oman, salah satu anak buah Chandra. Orangnya tinggi, tubuhnya kekar dan gagah, kulitnya eksotis, rambutnya kriting dan panjang, dan wajahnya ada manis manisnya.
Si Bibi senyum senyum sendiri," mau Non" jawabnya malu malu."Tapi sebenarnya, saya lebih suka Tuan Chandra Non" ucap si Bibi lagi cengengesan.
Hajar mengulum senyumnya, si Bibi sangat lucu.
"Boleh Non saya jadi istri ke tiga Tuan Chandra."
__ADS_1
Bukannya marah, malah Hajar tertawa terbahak bahak sampai memegangi perutnya. Si Bibi sangat lucu sekali, dan juga kepercayaan dirinya sangat tinggi.
"Coba tanya Om Chandra, mau gak dia sama Bibi" ucap Hajar masih tertawa tawa.
"Ada apa sih! ribut ribut" si Amel datang dengan wajah kesal. Dia sedang menonton di ruang tamu sambil menunggu Chandra pulang. Malah Hajar brisik tertawa tawa menimbulkan polusi suara, sampai suara tv tidak terdengar.
"Si Bibi mau jadi istri ke tiga Om Chandra" ucap Hajar masih tidak bisa menghentikan tawanya. Membuat si Bibi wajahnya memerah salah tingkah.
Amel menelisik penampilan si Bibi, lalu geleng geleng kepala sembari tersenyum. Dia yang cantik aja, hanya jadi istri pajangan. Gimana nasib si Bibi jadi istri ketiga Chandra?.
Hadeh! ada ada aja si Bibi.
Jamu ramuan cinta Hajar pun sudah mendidih, Hajar mematikan kompornya, dan langsung menuang jamu itu ke dalam gelas kaca.
Duarr!
"Aaaa...!!!" Hajar, si Bibi dan Amel sama sama menjerit, kaget. karena gelas itu pecah, air dan serpihannya kemana mana.
"Aw" ringis Hajar merasakan panas di kakinya.
"Ish...!" si Bibi juga ikut meringis, dia berdiri di dekat Hajar, sehingga tumpahan ramuan cinta itu pun mengenai sedikit kakinya.
"Ada apa Nona?" seorang penjaga Villa itu datang ke dapur karena mendengar suara kaca pecah.
"Kakiku kena air panas" ringis Hajar menunduk menyentuh kakinya yang sudah melepuh.
"Hajar!, kamu kenapa sayang?." Chandra yang baru pulang langsung berlari ke arah Hajar, dan mengangkat tubuh Hajar membawanya ke sofa ruang tamu."Kamu ngapain di dapur?, kenapa kakimu bisa tersiram air panas?" tanya Chandra lagi menyentuh kulit kaki Hajar yang sudah melepuh.
"Buatin jamu untuk Om" jawab Hajar, Chandra mengeruka keningnya.
"Jamu?" ulang Chandra, untuk apa istrinya itu repot repot membuatkan jamu untuknya?. Sekarang jaman sudah modren dan janggih. Kalau pengen minum jamu, sudah ada yang praktis. Dan juga ada pembantu di Villa itu, Hajar bisa meminta tolong sama si Bibi.
"Aku lihat Om beberapa hari ini kecapean. Makanya aku pengen buatin Om jamu" ucap Hajar.
Chandra mengulas senyum, ini pertama kali Hajar perhatian padanya."Kenapa gak minta tolongin sama si Bibi?."
"Itu jamu ramuan cinta, aku gak mau ada campur tangan orang lain" jawab Hajar mengerlingkan sebelah matanya. Membuat Chandra geleng geleng kepala, istrinya itu sangat cantik dan menggemaskan.
*Bersambung
__ADS_1