
Chandra terus mengeraskan rahangnya, menonton vidio kiriman Oman ke handphonnya. Dimana Hajar yang sedang berada di kantin kampus terus di rayu cowok cowok tampan di kampus itu. Dari segi ketampanan, jelas Chandra kalah, karena dia sudah tidak muda lagi. Tapi untung istrinya matre, jadi tidak terpengaruh dengan rayuan maut cowok cowok yang belum berpenghasilan itu. Tapi, tetap saja Chandra cemburu melihat situasi itu.
"Bryan, kamu selesaikan masalah perusahaan di sini. Saya harus pulang sekarang" ujar Chandra mematikan vidio di handphonnya. Sudah seminggu lebih dia meninggalkan Hajar, Chandra juga sudah kengen berat dengan istri kecilnya itu.
"Baik,Tuan" patuh Bryan. Seorang bawahan tidak boleh membantah atasan, bukan. Bryan juga sudah ingin pulang, kangen dengan bantal gulingnya.
.
.
"Hai cantik! boleh kenalan?"
Hajar mengulas senyumnya ke arah cowok yang menyapanya. Cowok itu sangat tampan, tapi Hajar tidak tertarik melihatnya.
"Boleh" balas Hajar
Cowok itu pun mengulurkan tangannya," Kendric."
"Hajar" balas Hajar tanpa menerima uluran tangan cowok bernama Kendric itu.
"Sudah tau, kamu kan mantan napi" cowok itu kesal karena Hajar tidak menerima uluran tangannya.
Hajar terdiam dan menatap tajam cowok bernama Kendric itu.
"Udah Hajar, gak usah di dengarin" Naomi yang duduk di samping Hajar, mengusap punggungnya dari belakang.
"Telingaku tidak bermasalah. Aku rasa mulutnya yang bermasalah, atau hatinya"balas Hajar tanpa melepas netranya dari wajah cowok itu.
"Betul sekali" tiba tiba cowok yang bernama Dhikra datang langsung menyambar ucapan Hajar.
Cowok bernama Kendric itu mendengus, dan langsung pergi. Dia sangat tidak menyukai Dhikra, karena selalu mengganggunya setiap mendekati cewek.
"Dan kau, aku rasa mulutmu yang bermasalah" ujar Hajar berdiri dari tempat duduknya.
"Hah! aku rasa tidak" Dhikra meniupkan napasnya kasar ke telapak tangannya lalu mendekatkannya ke hidung Hajar.
Oek!
Tiba tiba Hajar merasakan perutnya mual mencium bau tangan Dhikra.
Oek!
__ADS_1
lagi Hajar mengkoek dan langsung berlari ke keluar kantin.
"Hajar!" seru Naomi mengejar Ibu tirinya itu."Kamu kenapa?" tanya Naomi ngosngosan setelah menyusul Hajar ke toilet.
"Mual,parfum anak itu bau banget" jawab Hajar setelah membasuh mulutnya. Lalu menarik napasnya dalam mengeluarkannya pelan dari hidung.
Dhikra memakai parfum aroma menyengat, membuat perut Hajar mual, kepalanya pusing dan pening.
Oek!
"Kenapa lagi?" tanya Naomi melihat Hajar ingin muntah lagi.
"Bau" jawab Hajar.
"Siapa yang bau?" Naomi mengerutkan keningnya ke arah Hajar. Kemudian mencium aroma tubuhnya sendiri.
"Orang kampus ini pakai parfum apa sih?. Kenapa bau menyengat semua?." Hajar membekap mulutnya dengan tangannya sendiri.
Naomi berdecak, tidak ada yang bau, selain parfum Dhikra yang selalu bau menyengat setiap hari. Dan yang membuat Naomi Heran, beberapa hari ini Hajar tidak mual mencium aroma parfum Dhikra, kenapa tadi malah Hajar tiba tiba mual.
"Hidungmu aja kali yang bermasalah"ucap Naomi.
Setelah kelas mereka selesai, Hajar dan Naomi langsung pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Hajar menutup mulut dan hidungnya menggunakan masker. Katanya kawatir jika tiba tiba mencium bau tak sedap. Padahal di dalam mobil hanya ada mereka berdua.
Sampai di rumah, Hajar dan Naomi masuk ke dalam kamar masing masing. Hajar langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, dan memijat keningnya yang masih terasa sedikit pusing. Sepertinya maghnya lagi kumat, makanya dia mual mencium aroma menyengat.
.
.
Chandra turun dari dalam mobil, berjalan buru buru masuk ke dalam rumah, tak sabar untuk bertemu istri kecilnya yang kabarnya kurang sehat sejak tadi siang mual di kampus.
Setelah membuka pintu kamarnya, Chandra melihat Hajar tertidur pulas di atas tempat tidur. Wajar saja, Chandra sampai di rumah sudah jam satu malam.
Chandra melangkahkan kakinya ke arah ranjang dan mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur. Lembut mengusap kepala Hajar dan mengecup keningnya.
"Om, sudah pulang hiks!."
Ternyata istrinya itu terusik dengan sentuhan lembutnya. Yang membuat Chandra heran, kenapa istrinya itu tiba tiba terisak.
"Kenapa? Hm!" Chandra menghapus cairan bening yang keluar dari sudut mata Hajar yang masih terpejam.
__ADS_1
"Lama sekali perginya" gumam Hajar mengambil tangan Chandra, lalu memeluknya. Tentu Hajar kangen dengan suaminya itu, lebih dari seminggu tidak bertemu, setelah tiga Bulan tinggal bersama.
Chandra pun menempelkan punggung tangannya ke kening Hajar dan berpindah ke lehernya. Mengira Hajar demam lagi, mengingat istrinya itu gampang sekali terserang demam. Ternyata istrinya itu tidak hangat, suhunya terasa normal. Lalu istrinya itu sakit apa?.
"Kengen sama Om?" tanya Chandra tersenyum.
Hajar tidak menjawab, malah mengerucutkan bibirnya, imut."Dedek bayinya yang kangen"ucapnya.
Berhasil membuat Chandra mengerutkan keningnya.
Dedek bayi????????, batin Chandra. Tanda tanya berputar putar mengelilingi kepalanya.
Hajar meletakkan tangan Chandra di atas perutnya." Di sini ada dedek bayi" Hajar membuka kelopak matanya tersenyum ke arah Chandra.
Chandra membeku menatap Hajar dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Ini tengah malam, mungkin istrinya itu sedang mengigau.
"Aku belum tau usianya berapa?. Tapi aku sudah telat bulan lima hari. Saat aku iseng iseng mengecheknya dengan tespek. Gak nyangka garisnya dua. Aku sengaja tidak memberitahu siapa pun dulu. Aku ingin Om yang harus mengetahuinya lebih dulu, baru orang lain" jelas Hajar mengelus elus lembut perutnya.
"Kapan kamu mengecheknya?" tanya Chandra suaranya terdengar parau, dan jakunnya juga naik turun.
"Kemarin pagi" Hajar mengulas senyumnya.
Oh ternyata penyebab istrinya itu mual saat di kampus, karena bayi di dalam perut rampingnya.
Tak sadar Chandra meneteskan air matanya, yang di dalam perut Hajar, sudah pasti bayinya. Tidak ada keraguan sama sekali di hati Chandra. Ya Tuhan! begini rasanya mendengar kabar istri hamil.
"Kenapa tidak memberitahu Om kemarin?. Om akan pulang lebih cepat." Chandra mengecup kening Hajar dengan bibir bergetar, dan air matanya sampai jatuh ke kening Hajar. Kemudian kecupan itu pun berpindah mengecup kedua pipi Hajar, lalu mencium dalam bibir gadis itu penuh cinta, tapi hanya sebentar.
"Aku kesal karena Om menambah waktu di Luar Negri. Katanya seminggu, malah berminggu minggu." Hajar berbicara dengan bibir mengerucut."Apa iya, junior Om gak pengen jajan di luar kalau lama lama gak pulang?."Hajar tambah cemberut, dan menatap Chandra penuh selidik.
Cup!
Chandra mengecup bibir itu sembari tersenyum melihat kecurigaan Hajar padanya. "Demi kamu, Om bisa menahannya sayang. Jangan menatap Om seperti itu."
"Aku gak percaya!" bagaimana Hajar bisa percaya. Jika sebelumnya hati Chandra saja yang bisa setia, tapi tidak dengan juniornya.
Chandra pun membuka pakaiannya, menggantinya dengan celana potong saja. Lalu naik ke atas tempat tidur, berbaring di samping Hajar, membawa tubuh itu ke dekapannya.
"Kamu harus percaya sama Om. Karna tidak mudah bagi Om menahan diri untuk itu." Chandra mencium gemas pipi Hajar dari samping.
*Bersambung
__ADS_1