Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
66. Kerinduan yang mendalam


__ADS_3

Hajar yang masih lemah duduk termenung di atas brankar. Sakit di bagian dadanya sudah tak seberapa sakit dia rasakan di banding sakitnya berpisah dari anak yang baru di lahirkannya. Bahkan belum sempat Hajar melihat dan menyentuh bayinya, Nyonya Belinda sudah merampasnya begitu saja.Tapi Hajar harus kuat seperti kata Caroline. Harus kuat demi anaknya.


Ceklek


Mendengar pintu ruang perawatan itu terbuka, refleks Hajar langsung menoleh. Caroline melangkah masuk mendekatinya.


"Bayimu bersama Ayahnya, tenanglah, Chandra pasti akan mengurusnya dengan baik" ucap Caroline menghapus cairan bening yang mengalir di pipi Hajar.


"Aku merindukan putraku, entah kapan aku bisa bertemu dengannya" lirih Hajar, air matanya tak bisa berhenti keluar.


"Pasti ada saatnya, ini hanya masalah waktu. Bersabarlah, kamu tidak sendirian menghadapinya. Naomi, Bryan, Oman, Hasan dan yang lainnya tidak pernah berhenti mencari dimana keberadaan Chandra" ucap Caroline menarik Hajar ke dalam pelukannya.


Semenjak kecelakaan yang menimpa Chandra, Nyonya Belinda mengambil alih semua yang berurusan dengan Chandra. Bahkan memecat orang orang yang berpihak pada Hajar. Dan Nyonya Belinda pun menyembunyikan keberadaan Chandra, memberinya pengawasan yang sangat ketat. Sehingga tidak sembarang orang bisa menemuinya.


"Anakku!" lirih Hajar.


"Ibu mengerti perasaanmu. Bersabarlah, kuatlah demi anakmu. Suatu saat jika kalian bertemu, di bahagia melihat Ibunya baik baik saja" ucap Caroline lagi, ikut meneteskan air matanya.


"Kamu tidak boleh terpuruk Hajar. Kamu harus kuat, supaya kamu bisa mencari anakmu. Supaya kamu bisa mencari suamimu. Yakinlah, Tuhan tidak pernah tidur. Dia akan membantu hambanya yang teraniaya, selagi kamu mau berusaha mendapatkan yang kamu inginkan" ucap Caroline, berbicara merapatkan gigi giginya, gemas dengan apa yang sudah dilakukan Nyonya Belinda. Tega memisahkan Anak yang baru lahir dari Ibunya.


"Kamu tidak boleh terpuruk, kamu harus kuat" Tekan Caroline di setiap katanya, memberi semangat Hajar.


Hajar pun berhenti menangis dan menghapus air matanya. Benar, dia tidak boleh lemah apa lagi sampai terpuruk. Dia harus mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.


Bagaimana pun caranya, Om Chandra dan Anakku harus kembali kepadaku, batin Hajar bersemangan.


.


.


Di tempat lain


Amel terus tersenyum memandangi wajah bayi di gendonyannya, begitu juga dengan Chandra yang duduk di samping Amel. Bayi itu baru sampai di kirim Nyonya Belinda kepada mereka.


"Kenapa wajahnya mirip denganku?" ucap Chandra memperhatikan bayi yang masih merah itu dengan kening mengerut.


Selain mirip dengannya, bayi itu juga mirip dengan seseorang yang Chandra kenal sepertinya, tapi siapa?.


"Baguslah kalau mirip dengan Om. Jadi tidak akan ada yang mengetahuinya, kalau bayi ini bayi adopsi" balas Amel.

__ADS_1


Chandra mengulas senyumnya, dia pun mengambil bayi itu dari pangkuan Amel, membawanya ke dekapannya.


"Sekarang sampai selamanya, kamu menjadi anak Papa ya" ucapnya kepada bayi itu, lalu mengecup keningnya dengan lembut.Bayi yang tidak tau apa apa itu, tiba tiba menggerakkan kakinya, memberi respon pada sang Papa.


"Apa dia sudah punya nama?" tanya Chandra lagi, mengarahkan pandangannya ke wajah Amel.


Amel menggeleng gelengkan kepalanya." Kata Mama, Om yang akan memberinya nama" jawabnya.


Chandra mengulas senyumnya dan memikirkan nama yang bagus untuk Bayi itu.


"Om akan memberinya nama, Calixto Yadid Kurniawan. bagaimana menurutmu?."


Amel awalnya terdiam, lalu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Calixto, itu sesikit mendekati nama Hajar, Callista. Amel kawatir jika bayi itu di panggil Calixto, lama kelamaan Chandra salah sebut menjadi Callista, bisa mengingatkanya pada Hajar.


"Nama panggilannya?" tanya Amel.


"Calix" Chandra tersenyum.


Amel hanya bisa pasrah, dia tidak boleh protes. Dia harus tetap menjadi istri yang penurut, baik dan lembut. Supaya Chandra nyaman bersamanya.


Chandra terus memandangi wajah bayi itu dengan tersenyum, sambil cari telunjuknya mengelus ulus lembut pipi gembul bayi itu. Entah kenapa, Chandra merasakan perasaan sayang yang membuncah pada bayi itu. Sampai dia meneteskan air matanya. Ada kerinduan yang mendalam, seperti sudah sangat tidak bertemu bayi itu.


Selama ini, Chandra selalu merasakan rindu kepada seseorang, tapi Chandra tidak tau kepada siapa. Mungkin pada bayi yang berada di dekapannya.


"Siapa pun wanita yang melahirkanmu, pasti dia wanita yang hebat Nak" ucapnya lagi." Suatu saat Papa pasti akan mempertemukanmu dengan wanita itu."


Amel terdiam dengan wajah pias mendengar apa yang baru diucapkan Chandra. Jangan, jangan sampai Chandra mengenal wanita yang melahirkan bayi itu.


.


.


"Bagaimana? apa orang suruhanmu sudah bisa melacak dimana Papa dan Tante Amel berada?" tanya Naomi kepada Bryan.


"Belum, si Nenek lampir itu sangat ketat menjaganya" jawab Bryan menghela napasnya. Jika saja bukan karna ingin membantu Hajar mencari Chandra. Bryan sudah malas mengurus perusahaan Chandra yang berada di bawah kekuasaan Nyonya Belinda.


"Aku gak nyangka Nenek bisa sekejam itu" desah Naomi sambil mengelus elus perut besarnya.


"Semoga saja Nenek lampir itu cepat mati."

__ADS_1


Pluk!


Naomi yang mendengar Bryan mendoakan Neneknya cepat mati, langsung memukul lengan pria itu.


"Dia itu Nenekku" cetus Naomi.


"Aku tau" balas Bryan mengulas senyumnya, tangannya pun ikut mengelus elus perut Naomi."Yuk kita jenguk Hajar" ajaknya.


Naomi langsung menajamkan pandangannya ke wajah Bryan.


"Gak usah cemburu, ayok!. Aku sudah mencintai kalian, kamu gak perlu kawatir" ujar Bryan melihat wajah cemburu Naomi.


"Kalian, jadi kamu masih mencintai Hajar?." Naomi menekuk bibirnya ke bawah.


Bryan berdecak, ia pun mengusap perut buncin Naomi lagi." Kalian...kamu dan anakku" jelasnya.


Wajah Naomi langsung sumiringah, senang setiap Bryan mengatakan cinta padanya.


Sampai di rumah sakit, mereka langsung masuk ke ruang perawatan Hajar. Naomi langsung memeluk Hajar, untuk memberinya kekuatan.


"Aki juga sangat merindukan Papa. Aku juga korban dari keegoisan Nenek. Baru setahun mengenal Papa, aku sudah harus kehilangannya" isak Naomi. Semenjak hamil besar dia sangat mudah menangis.


"Sudah sudah sudah, kalian jangan menangis lagi. Kalian percayalah, nanti semua akan baik baik saja." Caroline mengusap usap punggung kedua putrinya itu bersamaan.


"Dia tidak sadar, kalau usianya sudah tua, dan tak lama lagi di Dunia ini" desah Ibu Misra dari sofa ruangan itu."Amel lagi, kenapa dia tidak berperasaan dan sangat egois" lanjutnya.


Caroline menghela napasnya, kecewa dengan adiknya namun dia bisa memakluminya." Bagiamana dia bisa punya perasaan. Dari kecil dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Dia menghadapi kerasnya kehidupan tanpa ada orang yang menyayanginya."


Semua orang di ruangan itu diam, tidak ada yang bisa berkomentar apa apa. Karna yang di katakan Caroline itu ada benarnya. Tapi ya sudahlah, semua yang terjadi itu adalah kehendak Tuhan. Tidak ada yang perlu di sesalkan atau di salahkan.


Melihat Hajar yang masih diam termenung. Naomi menarik tangan Hajar membawanya ke perutnya.


"Nanti kamu yang akan menjadi Ibunya, kamu yang akan menjaganya. Karna aku akan sibuk kuliah dan mengurus perusahaan Papa" ucap Naomi tersenyum untuk menghibur Hajar.


Hajar menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyum, namun air matanya mengalir merasakan kerinduan yang mendalam pada bayinya.


"Aku akan membunuh Nenek tua itu" geramnya lirih.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2