Menantu Bayaran

Menantu Bayaran
38. Kabur


__ADS_3

Chandra mengecup bibir Hajar. Naomi yang berada di sebelah brankar langsung berdehem. Membuat Chandra mengurungkam niatnya melu*** bibir manis itu.


"Maaf" ucap Chandra kikuk menggaruk leher belakangnya.


"Seharusnya Papa tidak perlu menyiksa diri Papa. Kalau Papa sendiri mencintai Hajar, ops! maksudku Mama Hajar" Naomi langsung meralat panggilannya kepada istri papanya itu.


Hajar mendengus,Sedangkan Chandra tersenyum.


"Katakan pada Papamu itu kalau aku sudah tidak sudi menjadi istri pria tua sepertinya" Hajar berbicara cetus kepada Naomi sembari melirik Chandra.


Hajar benar benar kesal dan tak terima dia dipenjarakan suaminya, menjadi tersangka bekerja sama melakukan tindak balas dendam. Tanpa ada bukti apapun yang mendasar ditemukan suaminya itu


"Tapi aku masih mau menjadi suamimu" ujar Chandra tidak peduli dengan penolakan Hajar padanya, memberi kode kepada Naomi lewat tatapannya, supaya meninggalkan mereka saja di ruang perawatan itu.


Naomi tersenyum mengangguk pahan dan langsung berlalu dari ruangan itu. Meski Hajar bukan Ibu kandungnya, Naomi lebih memilih Hajar menjadi istri Papanya, dibanding Caroline, wanita yang sudah melahirkannya.


Sepeninggal Naomi, Chandra langsung mencium dalam bibir hajar, membuat Hajar meronta ronta menolak ciumannya. Chandra terpaksa menghentikannya.


"Jangan membenciku apa lagi menghilang dari hidupku" Chandra menatap dalam manik mata Hajar yang berkaca kaca. Chandra pun mengecup kening Hajar penuh perasaan.


Dia mencintai Hajar, tapi dia ragu untuk percaya kepada Hajar. Seminggu tanpa Hajar disampingnya, Chandra merasa hidupnya hampa.


"Semua keluargaku telah menyakiti hati Om" lirih Hajar menunduk.


Setelah polisi melakukan penyidikan, Ibu Misra dan suaminya ternyata terlibat untuk mempermainkan Chandra. Begitu juga dengan Dokter pemilik rumah sakit jiwa tempat Caroline berpura pura gila.


"Tapi kamu tidak" Chandra menarik Hajar pelan ke dalam dekapannya, membuat Hajar terisak. Hajar bingung dengan apa yang dirasakannya saat ini. Rasanya Hajar ingin gila saja karena selama ini hidup dalam kebohongan keluarganya. Dan telah menjadikannya alat untuk balas dendam. Hajar mengetahuinya setelah jatuh cinta kepada pria yang sedang memeluknya itu.


Di tambah lagi Hajar kesal dan marah pada Chandra saat ini karena membuatnya nara pidana. Sekaligus malu dan sungkan kepada Chandra karena perbuatan keluarganya. Hajar merasa tidak pantas lagi menjadi istri dari seorang Chandra.


"Jangan menghilang seperti Caroline, aku sudah jatuh cinta padamu" ucap Chandra lagi dengan suara tercekat.


Sangat sulit baginya jatuh cinta, jika Hajar pergi menghilang. Entah berapa puluh Tahun lagi ia bisa jatuh cinta lagi, mungkin takkan pernah jatuh cinta lagi. Seperti saat kehilangan Caroline, bahkan sampai dua puluh Tahun baru ia bisa berpindah hati. Mungkin jika Hajar pergi, Chandra akan sendiri menunggu ajal menjemputnya.


"Nyonya Belinda pasti tidak menerimaku menjadi menantunya lagi" ujar Hajar bertambah terisak mengingat dia tidak punya keluarga sebagai sandaran hidupnya lagi. Keluarganya jelas akan mendekam di penjara. Kembali menjadi istri Chandra, Hajar berpikir akan mendapat perlakuan tidak baik dari Nyonya Belinda.


"Aku akan membuatmu melahirkan cucu untuknya. Aku rasa dengan cara itu hati Mama akan luluh. Dia sangat menyukai anak anak. Dan dia tidak akan mungkin tega melihat cucunya menderita." Chandra kembali membaringkan tubuh Hajar dan ikut membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


"Tapi aku tidak yakin dengan cara itu. Dan juga bukankah kak Amel sedang mengandung anak Om?. Pasti Kak Amel sangat membutuhkan Om berada di sampingnya" Hajar berkata lirih tanpa melihat wajah Chandra yang berbaring sambil mendekap tubuhnya.


Chandra terdiam, selama seminggu ini dia melupakan mantan wanitanya itu. Karna pikirannya terlalu pokus pada nasib hubungannya dan Hajar. Benarkah? bayi yang berada di kandungan adik dari Caroline itu anaknya?.


Chandra pusing jadinya, memikirkan ternyata Amel mantan wanita ranjangnya itu ternyata adik kandung Caroline yang dulu di kabarkan sudah meninggal. Ternyata masih hidup di bawah permainan Bruno dan Taslin.


Ya Tuhan!, lirih Chandra dalam hati. mengingat Caroline dan Amel pernah dia sentuh tubuhnya.


Merasakan Hajar diam tak bergerak, Chandra tersadar dari lamunannya. Chandra melonggarkan pelukannya melihat Hajar ternyata sudah tidur.


"Ya ampun, anak ini kok bisa bisanya tertidur, padahal baru saja bicara" gumam Chandra memandangi wajah polos Hajar yang terlelap. Tangannya terulur membelai lembut wajah gadisnya itu. Kedua sudut bibir Chandra pun melengkung ke atas. Benarkah ia sudah mencintai gadis kecil itu?.


Chandra membaringkan tubuh Hajar dengan sangat hati hati. Kemudian ikut membaringkan tubuhya di atas brankar, memeluk tubuh kurus itu posesif. Sehingga Chandra sendiri ikut tertidur pulas.


Hajar yang merasakan tidak ada pergerakan Chandra lagi. Membuka sedikit matanya untuk mengintip Chandra. Melihat Chandra seperti tertidur pulas. Perlahan Hajar mencoba memindahkan tangan Chandra yang melingkar di tubuhnya.


Aku harus pergi dari sini, batin Hajar menarik infus yang tertancap di tangannya. Kemudian perlahan turun dari atas brankar, meninggalkan ruang perawatan itu, meninggalkan Chandra yang sedang terlelap.


"Mama, Kak Amel" seru Naomi berlari kecil menyambut Caroline dan Amel yang datang untuk menjenguk Hajar.


"Papa" jawab Naomi.


Hajar langsung menghentikan langkahnya saat melihat Naomi, Caroline dan Amel berada di dekat lif. Hajar memutar tubuhnya mencari jalan lain untuk bisa keluar dari rumah sakit itu, Hajar harus pergi jauh dari hidup Chandra.


Saat Naomi membuka pintu ruang perawatan Hajar. Kening Naomi mengerut melihat di atas brankar tidak ada Hajar, dan hanya ada Papanya.


"Kok Hajar gak ada Ma?" tanya Naomi sembari melangkah masuk diikuti Caroline dan Amel dari belakang.


"Ma, sepertinya Hajar kabur Ma. Lihat ini Ma" Naomi menunjukkan jarum infus yang di lepas masih tergantung di tiangnya.


"Sepertinya begitu, ayo cepat bangunin Papa kamu" ujar Caroline bernada kawatir.


Bagus deh kalau Hajar kabur. Jadi aku bisa lebih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Om Chandra.Batin Amel mengikuti langkah Caroline dan Naomi mendekati brankar.


"Pah bangun pah, Hajar kabur Pah" seru Naomi mengguncang kasar tubuh Candra. Sontak membuat Chandra terbangun dan langsung duduk melihat kasur di sebelahnya ternyata kosong.


"Hajar" lirih Chandra, tak terasa air matanya luruh begitu saja. Baru saja hatinya mulai tenang dan bisa tertidur karena berada di samping Hajar. Kini Hajar pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Hajarrr...!" teriak Chandra frustasi. Ia tak mau kehilangan wanitanya lagi.


"Chandra, ayo kita cari Hajar"Caroline menarik Chandra turun dari atas brankar.


"Iya Pa" sambung Naomi


Chandra menganggukkan kepalanya dan berlari dari ruangan itu. Saat memasuki lif, Chandra menghubungi orang suruhannya untuk mencari Hajar.


Sedangkan Caroline dan Naomi yang ketinggalan melaporkan masalah itu ke pihak rumah sakit supaya ikut membantu mencari Hajar. Mungkin Hajar masih berada di sekitar rumah sakit.


Keluar dari dalam lif di lantai bawah rumah sakit itu. Chandra langsung berlari ke arah parkiran sambil berteriak teriak memanggil Hajar. Tidak peduli dengan dirinya yang menjadi pusat perhatian pengunjung rumah sakit itu.


"Haja ! kamu dimana sayang?. Hajar !!! Hajar!."


Chandra memutar mutar tubuhnya ke seluruh arah parkiran, mencari Hajar yang mungkin bersembunyi di balik kenderaan yang terparkir.


"Hajar aku mohon, jangan pergi. Jangan tinggalin Om, sayang."


"Ada apa Pak?" tanya security yang berjaga di sekitar rumah sakit.


"Istriku hilang Pak, tolong tutup gerbangnya Pak. Mungkin dia masih bersembunyi di sekitar sini. Dan juga tolong periksa cctvnya Pak" perintah Chandra.


"Baik Pak" Security itu pun bergegas kembali ke pos satpam, untuk melakukan tugas yang diperintahkan pemilik rumah sakit itu.


"Hajar jangan pergi, aku mohon" gumam Chandra lirih. Sadar menjadi pusat perhatian, ia pun menyusul masuk ke ruangan pos satpam.


"Biar aku yang periksa" ucap Chandra.


Security itu langsung berdiri dari tempat duduknya. Membiarkan Chandra memeriksa sendiri cctv rumah sakit itu.


"Tutup semua akses keluar rumah sakit ini. Tidak ada yang boleh keluar sebelum istriku ditemukan" perintah Chandra lagi.


"Siap Pak"


.


.

__ADS_1


__ADS_2